Jumat, 18 September 2009

Krisis Ekonomi: Ketika Sistem Tidak Mampu Membayar

IMF memperingatkan bahwa krisis ekonomi belum akan berakhir dalam waktu dekat kendati sudah ada tanda positif dari sejumlah negara yang memiliki perekonomian terbesar di kawasan Eropa. Demikian diungkapkan Managing Direktur IMF Dominique Straus Kahn menjelang pertemuan G20 yang akan digelar di Pittsburg AS 24-25 September. "Dia menambahkan, tidak banyak yang bisa diharapkan dari adanya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara Eropa. 'Krisis ekonomi global akan terus berlangsung meskipun faktanya Jerman dan Perancis berhasil mencetak angka pertumbuhan ekonomi yang positif pada kuartal terakhir,' katanya. Hanya saja Sttauss menyayangkan, kondisi itu tak membuat lapangan kerja baru di kedua negara tersebut akan terbuka lebar. Ia malah memperkirakan angka pengangguran akan terus meningkat, setidaknya selama satu tahun ke depan." (Sumber http://m.kompas.com/news/read/data/2009.09.15.15370914)

Sementara itu jumlah orang yang kelaparan akan melampaui angka 1 miliar pada tahun ini. "Bantuan pangan dunia mencapai tingkat terendah dalam 20 tahun terakhir. Di sisi lain, jumlah orang yang menghadapi kelaparan parah meningkat tahun ini. Jumlah warga kelaparan untuk pertama kali akan melampaui angka 1 miliar orang pada tahun 2009. " Demikian dikatakan dalam berita di koran Kompas (cetak) 18 September 2009.

Pertumbuhan PDB, yang sering disebut pertumbuhan ekonomi, bukan suatu tanda bahwa krisis ekonomi atau kesengsaraan rakyat akan segera berakhir. Orang yang memahami konsep PDB dan pertumbuhan PDB serta biososioekonomi pasti tahu bahwa peningkatan PDB bisa berarti peningkatan liabiltas publik (makro) yang berarti peningkatan masalah. Demikian juga kalau ekonom konvensioanal (neo liberal atau keynesian) mengatakan indikator makro membaik atau stabil itu sebenarnya bukan jaminan bawa kondisi makro tidak ada masalah (menurut biososioekonomi). Lantas bagaimana mengetahui kondisi makro sehat atau tidak kalau teori ekonomi konvensional sudah tidak relevan?

Perekonomian bisa dipandang sebagai suatu sistem dengan input atau output yang jelas dan tunduk pada hukum alam mengenai akuntansi (keseimbangan) dan ekonomi (kelangkaan), oleh karenanya bisa didekati dengan cara deduktif matematis. Hal itu mirip dengan sistem pemabayaran bonus (marketing plan) pada usaha multi level marketing (MLM) yang sehat dan benar, bukan MLM palsu. Perancang
Marketing plan MLM harus menguasai matematika dengan baik. Adanya perusahaan MLM yang sehat menunjukkan bahwa otak manusia mampu merancang sistem yang baik pula, karena merancang sistem pemberian bonus pada MLM jauh lebih rumit dari pada single level marketing. Tetapi mengapa hal itu belum menginspirasi ekonom lain untuk merancang sistem ekonomi yang sehat?

Perancang marketing plan MLM harus tahu berapa margin laba riil setiap produk. Bonus yang dijanjikan akan dibagikan kepada jaringan (seperti tertulis dalam marketing plan) tidak boleh melebihi laba riil. Oleh karena itu sampai level tertentu harus dipotong (cut). Apabila bonus yang dijanjikan melebihi margin laba setiap produk maka sistem tidak akan mampu membayar bonus atau tidak mampu memenuhi janjinya dan perusahaan bangkrut. Dalam MLM palsu laba riil tidak ada, bonus yang dibayarkan diambil dari iuran atau investasi anggota yang bergabung belakangan sehingga bebannya semakin berat dan tidak sanggup membayar bonus atau "hasil investasi" yang dijanjikan.

Demikian juga dengan sistem ekonomi. Kita harus merinci apa saja yang harus dibayar sistem ekonomi. Inilah yang harus dibayar sistem ekonomi:
(1) Laba
(2) Bunga
(3) Gaji pegawai negeri dan swasta
(4) Jaminan sosial untuk pendidikan, kesehatan, dan pangan (food stamp atau untuk kebijakan ketahanan pangan)

Memang yang menggaji pegawai swasta adalah perusahaan atau yayasan akan tetapi secara makro bisa dipandang yang membayar adalah sistem. Banyaknya pengangguran menunjukkan bahwa sistem tidak mampu membayar gaji. Demikian juga dengan jatuhnya laba, kejadian ini juga merupakan indikasi bahwa sistem tidak lagi mampu membayar laba. Suku bunga rendah belum tentu merupakan indikasi sehatnya keadaan makro ekonomi. Suku bunga (riil) deposito atau tabungan nol atau minus bila dikoreksi dengan inflasi menunjukkan bahwa sistem tidak mampu membayar bunga. Demikian juga dengan tingginya angka putus sekolah karena ketidakmampuan orang tua siswa, juga menjadi indikasi bahwa sistem tidak mampu membayar jaminan sosial. Begitu pula dengan kelaparan yang menimpa 1 miliar orang di seluruh dunia.

Krisis ekonomi bisa dipandang sebagai ketidakmampuan sistem membayar beberapa atau semua kewajiban yang seharusnya dibayar sistem seperti dirinci di atas. Berulangya krisis ekonomi atau gejolak moneter jatuhnya laba yang terjadi berulang-ulang menunjukkan bahwa perekonomian konvensional yang didasarkan pada teori ekonomi neo klasik (neo liberal) atau keynesian itu tidak mampu membayar kewajiban yang seharusnya dibayar sistem seperti dirinci di atas. Dalam perekonomian konvevsional itu, konsumen (rakyat kebanyakan) dan lingkungan hidup mendapat tekanan dan menanggung beban yang amat berat.

Sebagaimana dalam MLM ada pemotongan demikian juga dalam biososioekonomi ada pemotongan untuk menjamin bahwa sistem mampu membayar kewajibannya. Itulah yang disebut daur ulang kekayaan pribadi Dengan kekayaan daur ulang itu, sistem mampu membayar kewajibannya sesuai dengan hukum akuntansi dan kelangkaan serta hukum II termodinamika. Pendekatan deduktif matematis bisa meminimalkan jumlah korban akibat krisis ekonomi.

Marilah kita menjadi negarawan dan anggota masyarakat yang baik Marilah menjalankan dharma ksatria seperti yang saya jelaskan dalam postingan terdahulu:"Dharma Ksatria: Antara Satrio Piningit dan Ksatria Luhur." Hindari jatuhnya korban akibat krisis ekonomi. Pastikan bahwa sitem mampu membayar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar