Kamis, 12 Juli 2012

Kalau Semua Orang Lulus S1....

Ada perbedaan pandangan antara paradigma neolib dan biososioekonomi dalam hal pembiayaan pendidikan.  Paradigma neolib berpendapat bahwa biaya pendidikan harus ditanggung masing-masing konsumen. Sementara menurut pandangan teori ekonomi makro biososioekonomi pembiayaan pendidikan adalah salah satu sarana untuk meredistribusikan aset pribadi secara fair (adil) dan besar-besaran dari generasi sebelumnya kepada generasi mendatang, sehingga selain tercipta keadilan juga tercipta gairah ekonomi riil.

Karena dibiayai secara besar-besaran oleh pihak lain alias gratis maka secara finansial seharusnya semua anak bisa menjadi sarjana. Lantas timbul pertanyaan usil yang pernah saya baca dari account twitter seseorang:"Kalau semua orang menjadi sarjana, lantas siapa yang mau jadi sopir, petani padi dll?" Pemilik account twitter itu kemudian bersikap sinis dan menganggap goblok orang yang mempunyai obsesi agar pendidikan tinggi bisa diakses semua orang.

Kekhawatiran dan penolakan seperti itu sudah saya antisipasi ketika saya merumuskan teori ekonomi makro biososioekonomi. Bahkan dalam makalah yang diseminarkan dalam seminar bulanan ke-22 di PUSTEP-UGM 2 November 2004 hal itu sudah saya singgung. Secara teknis pemberian beasiswa dalam paradigma biososioekonomi berbeda dengan paradigma neolib.  Teknis pemberian beasiswa dalam paradigma biososioekonomi mengusulkan pembiayaan itu ke dalam suatu paket beasiswa sampai dengan lulus S1 kepada semua anak usia sekolah. Kalau ternyata kemampuan otak seorang anak hanya sampai SMP atau memang seorang anak ingin segera bekerja atau berwiraswasta selepas SMA/SMK  maka ia tetap tidak kehilangan hak atas sisa dana beasiswa yang bisa diambilnya saat memasuki usia pensiun kelak. Ini berbeda dengan pembiayaan pendidikan dalam paradigma neolib di mana kalau seorang anak berhenti sekolah ia tidak berhak lagi mendapat dana sisa beasiswa.

Dengan cara biososioekonomi di atas tidak perlu khawatir bahwa tidak ada lagi orang yang menjadi petani dan pekerjaan fisik sejenisnya.

Semoga tulisan sederhana ini mengingatkan kita perbedaan antara paradigma biososioekonomi dengan paradigma neolib.
  

Artikel Terkait

Bioekonomi, Ekonomi Masyarakat, dan Kependudukan. http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/My%20Web/sembul22.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar