Kamis, 19 Juli 2012

Percuma Memberi Pancing....(Perihal Beasiswa Neolib dan Redistribusi Aset)

Beberapa program CSR (corporate social responsibility) yang dijalankan suatu perusahaan sering memberi beasiswa kepada mahasiswa cerdas yang berasal dari keluarga kurang mampu. Tentu beasiswa semacam itu berbeda dengan paket beasiswa dalam paradigma teori ekonomi makro biososioekonomi. Perbedaannya jelas bahwa paket beasiswa biososioekonomi ditargetkan menjangkau semua anak usia sekolah sementara beasiswa ala CSR hanya dinikmati beberapa gelintir mahasiswa. Perbedaan lainnya kalau siswa/mahasiswa berhenti tidak menuntaskan pendidikannya maka pemberian dana beasiswa dihentikan, sementara paket beasiswa biososioekonomi masih bisa memberikan dana beasiswa yang tidak terpakai sebagai jaminan pensiun yang bisa diambil saat memasuki usia pensiun.

Beasiswa ala CSR di atas bisa disebut sebagai beasiswa ala neolib sementara paket beasiswa biososioekonomi adalah beasiswa yang sesuai demokrasi ekonomi karena merupakan bagian dari redistribusi aset pribadi besar-besaran. Mengapa beasiswa ala CSR atau kebanyakan beasiswa di luar paradigma biososioekonomi hanya menjangkau sebagian anak usia sekolah? Ada dua hal yang menjadi penyebabnya. Beasiswa di luar paradigma biososioekonomi biasa menggunakan kerangka berpikir neolib bahwa pembiayaan pendidikan seharusnya ditanggung masing-masing konsumen (orang tua). Kedua, secara matematis beasiswa di luar paradigma biososioekonomi terkendala terbatasnya dana. Suatu perusahaan paling-paling hanya mampu menyumbang 2,5% dari laba untuk kegiatan CSR. Dari persentase itu tidak semuanya untuk beasiswa.

Berbeda dengan paradigma neolib,  menurut paradigma biososioekonomi laba berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen atau publik yang berarti menyangkut semua orang. Oleh karena itu wajar bagi biososioekonomi untuk memberi paket beasiswa sampai dengan S1 bagi semua anak karena hal itu merupakan bagian dari pengembalian laba kepada konsumen. Konsumen pendidikan, dalam hal ini anak usia sekolah, adalah sasaran tepat penerima pengembalian laba kepada konsumen. Menurut paradigma biososioekonomi yang dikembalikan itu harus mendekati 100% bukan hanya 2,5% laba sebagaimana praktek yang dilakukan CSR. Dalam paradigma biososioekonomi yang mengembalikan akumulasi laba itu adalah orang bukan perusahaan. Etos sosial perusahaan terbatas, persentase laba yang dikembalikan perusahaan tidak akan besar paling hanya 2,5%. Sementara etos sosial orang tidak terbatas karena orang tidak hanya bersifat homo economicus tapi juga homo socius.

Pembiayaan pendidikan adalah bagian dari redistribusi aset pribadi ke sektor riil. Itulah paradigma biososioekonomi. Selain terdistribusi ke bidang pendidikan   kekayaan daur ulang juga terdistribusi kepada/melalui:

1. Sektor moneter dengan menjadi aset bank sentral sehingga memperkuat aset bank sentral dan mencegah inflasi atau mencegah depresiasi permanen mata uang.
2. Perbankan, yaitu terdistribusi sebagai bunga tabungan bagi penabung kecil (non triple six).
3. Publik/pemerintah, sehingga meningkatkan tax ratio, yang kemudian dipakai untuk menyediakan infrastruktur, layanan administrasi publik, hukum, keamanan dan penyelenggaraan negara pada umumnya.
4. Jaminan sosial lainnya: kesehatan, pensiun, dan food stamps/ketahanan pangan.

Selain itu, secara deduktif logis dapat dikatakan bahwa aplikasi biososioekonomi akan membuat harga rumah terjangkau rakyat kebanyakan. Properti tidak dijadikan ajang spekulasi karena secara makro, biososioekonomi menjamin mampu membayar laba sehingga tidak perlu menjadikan properti sebagai obyek spekulasi yang membuat harganya tak terjangkau rakyat.

Cara mendistribusikan kekayaan daur ulang di atas sudah saya pikirkan ketika saya merumuskan biososioekonomi sehingga tidak dituduh membuat orang malas atau hanya memberi ikan tidak memberi pancingnya. 

Dalam kondisi tertentu pun memberi pancing tidak banyak gunanya kalau memancing di kolam pemancingan di mana ikannya telah dibuat kenyang oleh pemilik kolam atau oleh mafia. Tidak akan mudah memancing ikan yang sudah kenyang. Dalam kondisi seperti itu percuma memberi pancing.

Biososioekonomi dengan nilai aset bersih rekening T publik nol atau aset publik sama dengan liabilitasnya (untuk pertumbuhan penduduk 0%) akan membuat rakyat mudah mencari rejeki, mudah "memancing" karena dalam kondisi makro seperti itu biososioekonomi menjamin mampu membayar kewajiban sistem: laba, bunga, gaji, dan jaminan sosial (pendidikan, kesehatan, food stamps/ketahanan pangan, dan pensiun).

Kapitalisme (agregat) atau neoliberalisme tidak menjamin mampu membayar kewajiban sistem. Neolib membiarkan liabilitas publik jauh di atas asetnya atau nilai aset bersih rekening T publik minus luar biasa. Itulah sebabnya sejarah kapitalisme (agregat) sering diwarnai jatuhnya laba,  kemiskinan, utang pemerintah yang besar, pengangguran, bunga tabungan yang nyaris 0% atau minus bila dipotong inflasi, dan putus sekolah karena faktor ekonomi. Sudah saatnya paradigma neolib itu ditinggalkan dan diganti. Secara akuntansi neolib itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Dengan biososioekonomi tak perlu ragu bicara redistribusi aset pribadi. Kerangka berpikirnya jelas, akuntansi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar