Senin, 16 Februari 2009

Antara Ponari dan Rencana Cetak Uang

Hari ini saya membaca berita di harian Kompas cetak yang berjudul:"G-7 Desak Reformasi" di halaman 11. Dalam sub judul "Cetak Uang" dikatakan:"Mencetak uang merupakan langkah selanjutnya. Cetak uang berarti membuat surat utang lebih banyak lagi dan akan ditebus pada saat perekonomian membaik." Paradigma lama inilah yang dipakai G-7 (Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, dan AS) dalam mengatasi krisis ekonomi global dan kawasan.

Sementara itu beberapa waktu belakangan ini baik oleh media televisi atau cetak, kita disuguhi berita tabib cilik M Ponari yang menimbulkan pro kontra. Tulisan ini tidak akan menghakimi apakah peristiwa Ponari adalah takhayul atau bukan. Saya meninjaunya dari aspek publik-kemanusiaan. Secara pribadi saya ikut gembira apabila ada seseorang (dewasa atau kanak-kanak apapun etnis atau agamanya) yang diberi karunia penyembuhan. Menurut hemat saya yang menjadi masalah adalah: pertama, membludaknya pasien sehingga harus antri, bahkan ada yang meninggal dalam antrian sebelum diobati. Kedua, Ponari masih kanak-kanak sehingga waktu bermain dan belajarnya bisa terbengkalai. Ketiga, saya tidak tahu pasti apa efeknya bagi kanak-kanak kalau menghadapi pasien yang dalam kondisi menjelang ajal atau mempunyai penyakit menular. Banyak yang berobat ke Ponari adalah mereka yang tidak memiliki uang untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan secara modern. Maka solusi yang harus dikedepankan adalah pendekatan sosioekonomi agar mereka yang sakit mampu mendaptakan pengobatan dan perawatan modern sampai sembuh di satu sisi tanpa menghilangkan "rejeki" keluarga Ponari kalau memang praktek penyembuhannya terbukti.

Masalah ekonomi global atau kesehatan rakyat yang mencuat pada peristiwa Ponari sebenarnya memiliki solusi yang sama. Seorang ekonom dimanapun berada seharusnya memiliki akal sehat dan logika akutansi yang jernih meskipun tidak menguasai atau tidak mengetahui teori ekonomi makro rumusan saya, biososioekonomi. kalau lembaga publik seperti pemerintah atau bank sentral sudah mulai meningkat utangnya maka seharusnya seseorang yang memiliki akal sehat perlu bertanya apakah nisbah pajak dan nisbah kedermawanan yang selama ini ada sudah memadai persentasenya? Kalau akal sehat dimiliki memang akan bertemu dengan masalah kepentingan. Tetapi justru itulah bukankah mereka digaji tinggi untuk membela kepentingan publik?

Rakyat sudah susah, marilah kita mengutamakan kepentingan publik. Janganlah kiranya kita menindas lagi biososioekonomi. Mungkin suatu saat kelak mereka yang menindas biososioekonomi akan dicatat oleh sejarah sebagai orang yang kolonialis mirip Belanda yang menghambat Soekarno tampil di hadapan publik.

Selasa, 10 Februari 2009

Apakah Harga Emas Tidak Bisa Jatuh?

Hari ini saya membaca sebuah tulisan di harian Kompas (hlm 25). Saya tidak tahu apakah ini advetorial atau opini. Yang jelas tulisan tersebut di bawah semacam Rubrik atau kolom Info Investasi. Di situ dikatakan: Di tengah krisis, harga emas menjadi tinggi dan diperkirakan akan naik. Apakah harga emas akan selalu naik, tidak mungkin turun?

Hal yang perlu diwaspadai adalah mitos. Mitos tentang apa yang disebut sebagai hanya kertas (uang fiat dan saham) dilawankan dengan barang riil (properti dan emas). Mitos itu mengatakan bahwa uang dan saham bisa jatuh harganya karena dianggap bukan barang riil tetapi hanya kertas. Mitos ini jelas salah karena harga properti pernah jauh di Jepang sebagaimana ditulis oleh Richard Susilo dalam tulisan yang berjudul: "Takut Perekonomian Anjlok Masyarakat Jepang (masih) Kaya tetapi 'Pelit' "(Kompas 11Januari 2003). Harga properti melambung kemudian jatuh. Juga pernah terjadi di AS.

Tetapi bukankah emas tidak sama dengan properti? Lebih mudah dibagi dan dijual? Emas memang tidak sama dengan properti, tetapi harganya bisa jatuh karena overinvestment atau ditemukan tambang baru. Investasi berlebih atau overinvestment bisa menjatuhkan harga atau nilai apapun, apakah barang riil atau kertas. Suatu saat investor yang lebih awal pasti akan melepas atau menjual stok emasnya karena akan berinvestasi pada instrumen investasi lain atau akan melakukan profit taking. Pada saat itulah harganya jatuh. Kapan? Tidak mudah diprediksi, tetapi pasti suatu saat harganya jatuh.

Kalau tulisan ini salah tunjukkan letak salahnya dengan menulis komentar di tempat yang disediakan. Kalau benar mohon beritahukan pada orang lain. Saya menulis di blog ini dengan itikad baik dan kejujuran untuk mengatakan kebenaran. Semoga bermanfaat.

Minggu, 08 Februari 2009

Pisau Tumpul Paradigma Jadul

Di tengah pemberitaan media massa terhadap masalah ekonomi dan sosial, ada hal-hal mendasar yang perlu saya sampaikan dalam blog saya ini. Berbagai berita mengenai Forum Ekonomi Dunia di Davos, Forum Sosial Dunia di Belem, rencana Program "Beli Produk AS", koreksi prediksi pertumbuhan PDB oleh IMF, dan reaksi pemerintah atas prediksi IMF telah membuka mata kita mengenai persoalan ekonomi dan sosial. Termasuk bagaimana persoalan-persoalan itu dicoba untuk diatasi. Beberapa tanggapan juga disampaikan melalui media konvensional.

A Prasetyantoko misalnya menanggapi dengan tulisan yang berjudul "Risiko Stimulus Ekonomi" (Kompas, 06/02/2009 hlm 6). Pada hari yang sama harian Kompas juga menurunkan tulisan Sri Hartati Samhadi pada Rubrik Fokus yang mempertanyakan kedigdayaan stimulus fiskal. Sebelumnya niat AS untuk mencanangkan program "Beli Produk AS" juga mendapat kritik karena akan memicu perang dagang (Kompas, 05/02/2009 hlm 11). Dari berbagai peristiwa, reaksi, dan tanggapan atas stimulus tersebut saya masih menangkap dipakainya paradigma lama dalam menganalisis maupun menyelesaikan krisis ekonomi global. Belum ada niat untuk keluar dari paradigma lama. Meskipun pejabat otoritas moneter mengingatkan kemungkinan adanya "gempa kedua" tetapi tanda-tanda untuk keluar dari paradigma lama tidak signifikan baik dari pemerintah, pengamat, atau media konvensional.

Itu tercermin dari beberapa hal berikut. Pertama, masih dipakainya pertumbuhan GDP sebagai tujuan atau sebagai sesuatu yang harus dicapai untuk keluar dari krisis (Sri Hartati Samhadi Kompas 06/02/2009 hlm 33). Kedua, otoritas fiskal berbagai negara (termasuk Indonesia) tidak bisa menunjukkan suatu rencana tindakan dimana stimulus fiskal tidak memperbesar defisit. Ketiga, baik pengamat (A. Prasetyantoko, Kompas 06/02/2009 hlm 6) maupun pejabat publik (Bambang Prijambodo, Direktur Perencanaan Makro Bappenas) sebagaimana dikutip Sri Hartati Samhadi (Kompas 06/02/2009 hlm33) masih menganggap kunci perekonomian adalah kepercayaan. Keempat, kalimat A. Prasetyantoko (Kompas 06/02/2009 hlm 6) yang menyatakan:"Memang tidak pernah ada yang tahu pasti krisis macam apa yang akan terjadi. Bahwa krisis akan tetap terjadi, hampir semua mengamini. Namun mekanisme dan pemicunya apa, hal itu sulit diprediksi. Dan lagi, bila pemicu krisis bisa dideteksi, boleh jadi, krisis tak akan pernah terjadi. Justru, krisis selalu datang lewat pintu yang dianggap paling aman. Kemudian pada kalimat terakhir alinea berikutnya dikatakan:"Benar, sumber instabilitas adalah stabilitas itu sendiri."

Agar krisis ekonomi global bisa diatasi tuntas, tidak berdampak buruk pada Indonesia, serta tidak membebani atau mengorbankan rakyat banyak maka hal-hal berikut perlu saya sampaikan melalui blog saya ini. Pertama, pisau bedah yang dipakai untuk menganalisis masalah ekonomi sebenarnya sudah tumpul bahkan rapuh tidak bisa mendeteksi potensi krisis dan mengantisipasinya secara tepat. Kedua, paradigma lama yang sudah tidak relevan lagi dengan ekonomi publik kerakyatan seharusnya sudah ditinggalkan oleh siapa pun dan di mana pun berada.

Dalam berbagai kesempatan baik dipublikasikan secara luas maupun tidak, saya selalu memakai metode berpikir biososioekonomi untuk membedah dan menganalisis persoalan ekonomi. Secara deduktif-logis bisa dipertanggungjawabkan bahwa perangkat tersebut lebih tajam untuk mendeteksi potensi krisis dan mengantisipasinya bagi pejabat publik. Harian Suara Merdeka Semarang 9 Nopember 2004 mengutip makalah saya yang saya sampaikan dalam seminar bulanan ke-22 di PUSTEP-UGM 2 Nopember 2004. Berikut ini saya tampilkan kutipan Suara Merdeka "Meskipun indikator-indikator makro cukup bagus, tetapi bukan berarti kondisi ekonomi Indonesia menggembirakan. Berbagai tantangan dan masalah di masa depan tetap berat. Masalah yang dihadapi Indonesia adalah pengangguran, kemiskinan, daya beli rendah, jatuh tempo utang dan obligasi pemerintah yang harus segera dibayar, gejolak harga minyak dan biaya pendidikan mahal" (Suara Merdeka 9 Nopember 2009 "Masalah Ekonomi Tetap Berat"). Indikator makro cukup bagus itu tentu menurut paradigma lama sebagaimana saya nyatakan dalam makalah yang tidak dikutip Suara Merdeka.

Demikian juga yang saya sampaikan dalam lomba karya tulis pengentasan kemiskinan yang diselenggarakan oleh LP3ES tahun 2005. Dalam karya tulis itu saya katakan:"Kalau neraca ini (neraca herucakra society-pen) dipakai sebagai perangkat untuk menganalisis perekonomian masyarakat maka kelihatanlah saat ini karena individu-individu manusia tidak mendaur ulang kekayan individunya maka liabilitas masyarakat jauh lebih tinggi dari asetnya" Selama liabilitas publik (masyarakat dan pemerintah) lebih itnggi dari asetnya maka potensi krisis dan masalah itu selalu ada. Perangkat analisis biososioekonomi juga saya pakai dalam "Lomba Karya Tulis 2025" yang diselenggarakan Bank Indonesia tahun 2006.

Kunci perekonomian sebenarnya bukan kepercayan tetapi kepentingan. Kepentingan siapakah yang kita bela? Kepentingan individu atau publik-kerakyatan? Hanya biosoioekonomi rumusan saya yang benar-benar membela kepentingan publik-kerakyatan. Untuk kesejahteraan publik secara berkesinambungan dalam jangka panjang yang harmonis dengan alam.

Paradigma jadul (jaman dulu) harus segera ditinggalkan. Maka dalam blog ini saya mohon kepada semua pihak baik media konvensional, pejabat publik, cendekiawan, maupun komponen civil society yang lain untuk tidak lagi memakai paradigma lama yang tidak membela kehidupan rakyat kebanyakan.

Minggu, 01 Februari 2009

Satrio Piningit "Menyanyi": Kisah Sedih Saya

Inilah kisah sedih saya dua tahun lalu yang perlu diketahui publik. Waktu itu menjelang akhir tahun 2006 saya melihat pengumuman yang disampaikan Panitia Lomba "Karya Tulis 2025" yang diselenggarakan BI (Bank Indonesia). Dalam pengumuman yang ditayangkan situs resmi BI itu dberitahukan kepada peserta lomba bahwa pengumuman pemenang lomba ditunda samapai paling lambat akhir Januari 2007. Saya sebagai peserta lomba tentu agak kecewa.

Saya tidak tahu persis, apa sebenarnya yang terjadi antara BI dan Pemerintah. Rencana awalnya pengumuman pemenang lomba akan diberitahukan akhir Desember 2006 dan para pemenang akan diundang dalam sebuah government gathering di Bali akhir tahun itu juga. Kemudian saya mendengar kabar bahwa pidato akhir tahun Presiden SBY juga ditunda sampai akhir Januari 2007.

Tahun 2006 adalah tahun yang sangat berat bagi saya. Kenaikan harga BBM mulai akhir Oktober 2005 selain meningkatkan harga pangan juga biaya transportasi. Mobilitas saya menjadi terbatas. Satu-persatu rekan marketing di kantor saya keluar. Ini tentu melemahkan jejaring antar marketing sehingga kemungkinan closing (transaksi) juga menurun. Itu juga berarti pemasukan saya sebagai marketing associate dari kantor property agent juga berkurang. Penghematan biaya hidup terus saya lakukan. Sehari jatah makan saya maksimum hanya Rp10.000,- Pagi empat ribu, siang lima ribu, dan malam seribu rupiah saya belikan biscuit. Kondisi seperti itu terjadi selama berbulan-bulan.

Sudah lebih dari sepuluh tahun saya bekerja sebagai salesman yang hidup dari komisi. Mula-mula sebagai agen asuransi jiwa kemudian sebagai marketing asociate dari sebuah kantor property agent. Pekerjaan seperti itulah yang bisa menghidupi saya selama ini. Bisa mandiri, bisa kost di Jakarta dan bisa memiliki handphone. Saya termasuk agen asuransi jiwa di lingkungan kantor saya yang pertama memiliki hp. Sudah sejak tahun 1996 saya sudah mempunyai hp ketika belum banyak orang memilikinya. Tetapi kondisi tahun 2006 itu benar-benar berat bagi hidup saya. Amat sangat berat.

Penghasilan saya dari menulis tidak banyak. Total hanya Rp 2.000.000,- Sebanyak Rp1.000.000,- dari memberikan seminar di PUSTEP-UGM dan Rp 1.000.000,- dari hasil masuk babak final lomba karya tulis pengentasan kemiskinan yang dislenggarakan LP3ES dan Yayasan Damandiri. Tulisan saya mengenai biososioekonomi yang saya kirimkan ke koran tidak pernah dimuat. Ternyata meskipun saya telah menyeminarkan teori biososioekonomi ( 2 Nov 2004) tidak ada koran yang memuatnya. Padahal untuk membuat tulisan itu perlu waktu, tenaga, dan biaya. Biaya rental komputer, biaya membeli buku-buku dan sebagainya. Benar bahwa menghasilkan uang atau tidak, saya tetap menggeluti teori rumusan saya. Tetapi saya kan bukan pegawai yang memiliki penghasilan tetap. Justru kalau saya pegawai tidak mungkin bisa menghasilkan pemikiran yang revolusioner seperti itu.

Maka pengumuman pemenang lomba "Karya Tulis 2025" itu pun saya tunggu dengan harap-harap cemas. Tidak usah juara tiga, masuk nominasi pun sudah bisa menyelamatkan ekonomi saya yang sudah dalam kondisi parah. Tetapi saya juga menyiapkan alternatif lain kalau seandainya saya tidak masuk nominasi lomba itu.

Ternyata yang terburuk yang terjadi. Nama saya tidak tercantum sebagai peserta yang minimal masuk nominasi. Uang saya sudah hampir habis, saya tidak bisa kost di Jakarta. Ini yang terberat dalam hidup saya. Selama lebih dari sepuluh tahun saya hidup di Jakarta (kost di Cipete) sebagai salesman, tidak pernah hidup saya seberat akhir Januari 2007 itu.

Sebelumnya saya sudah menghubungi Pak Anton kenalan saya di Cipete untuk menjual TV saya. Saya kemukakan terus terang kesulitan saya. Ternyata beliau sangat baik dan dermawan yang mau membantu kesulitan saya. Karena Pak Anton hanya mau membantu tetapi tidak mau TV-nya maka TV itu saya berikan pada kenalan baik saya, Syamsul, seorang pegawai toko di Jl Cipete Raya.

Demikianlah setelah banjir besar menghantam Jakarta dan kantor BI awal Februari 2007 itu, saya berkemas-kemas meninggalkan tempat kost saya di Kramat Batu. Kepada Bu Totok, ibu kost saya, saya tidak terus terang bahwa saya kehabisan uang. Saya katakan kepadanya bahwa untuk sementara saya tidak bertugas di Jakarta.

Tumpukan kliping koran, buku-buku, dan berkas-berkas saya, yang telah saya kemas ke dalam karton bekas aqua, saya angkat satu persatu ke atas taksi yang membawa saya ke Bogor untuk menumpang di tempat adik perempuan saya, Ning. Kehidupasn saya setback lagi seperti seorang mahasiswa. Saya secara fisik terisolir dengan teman-teman muda saya di Jakarta. Agenda pribadi saya untuk mendekati salah seorang di antaranya pun berantakan....

Memang sejak Juli 2008 saya sudah bisa kost lagi di Jakarta. Bisa menulis di blog ini sehingga mulai banyak orang tahu apa itu teori biososioekonomi. Teori biososioekonomi itu ditemukan dan diperjuangkan bukan dari lembaga penelitian mewah seperti sebuah menara gading. Tetapi dari tengah masyarakat dengan cucuran keringat, tetesan air mata, dan menghadapi penindasan oleh paradigma neoliberalistik. Dimana teori yang neoliberalistik itu saat ini sudah terbukti gagal.








Minggu, 25 Januari 2009

Ketika Rupiah dan Dollar Bertemu di Triple Six

Belum lama saya memasang papan pemantau popularitas postingan saya. Saya tidak memeriksanya setiap hari memang. Tetapi dari beberapa kali saya lihat, tulisan saya"Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa" termasuk yang kurang popular, meskipun saya telah memberi label khusus sehingga mudah ditemukan. Mungkin karena tulisan spiritual tersebut berisi peringatan dan hukuman sehingga tidak semua orang nyaman membacanya. Mungkin juga karena kebiasaan atau kecenderungan kita yang mempunyai keinginan tersembunyi: kalau bisa tidak ada hukuman, kalau bisa apa saja boleh dilakukan.

Namun demikian akan popular atau tidak suatu tulisan tetap akan saya sampaikan seandainya berisi informasi yang sangat penting untuk dibagikan. Idealnya memang informasi yang penting itu menjadi popular. Dalam kondisi tertentu kalau harus memilih, tidak popular pun tidak masalah bagi saya. Tidak sedikit informasi penting tidak diketahui publik, yang mengetahuinya hanya saya dan redaksi media konvensional. Misalnya sebelum gempa Yogya-Klaten, saya memberi peringatan akan adanya hukuman Tuhan melalui gempa, air, api atau bisul. Meskipun tulisan saya dimuat pada edisi 4 Juni 2006 tetapi hal-hal yang saya anggap penting itu dihilangkan oleh redaksi. Sangatlah tidak sehat kalau suatu informasi penting hanya diketahui oleh segelintir orang.

Sebagaimana postingan saya yang lain dalam blog ini, yang diberi label spiritual maka postingan ini pun seyogyanya tidak dibaca dengan kacamata eksakta seperti membaca peringatan dari BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) atau badan pengawas kegunungapian. Tulisan ini saya postingkan karena saya pribadi_secara spiritual_ mempercayai kebenarannya. Dan peristiwa-peristiwa yang dilaporkan media massa mendukung keyakinan saya itu.

Ketika harga emas masih sekitar Rp 267.000,- per gram, saya pernah menyampaikan peringatan kepada teman-teman dan kenalan saya. Apa yang terjadi kalau harga emas mencapai Rp 292.397,66 per gram? Ini bukan sekedar hitung-hitungan matematis, bukan klenik, bukan pula takhayul.

Begini penjelasannya. Dahulu kala ada seorang raja. Tidak penting siapapun namanya. Sebut saja Mr. X. Pendapatannya per tahun adalah 666 talenta emas (1 Raj 10:14). Berapa rupiahkah pendapatannya itu? Satu talenta emas sama dengan 3.000 syikal atau kurang lebih 34 kilogram (34,2Kg). Kalau harga emas Rp 292.397,66 per gram, maka 666 talenta emas sama dengan Rp6,66 trilyun. saat ini harga emas sudah melebihi itu (Rp 300.000-an). Dan kalau Rp 10.000,- sama dengan US $ 1 maka inilah yang akan terjadi: 666 talenta emas=Rp6,66 trilyun=666 juta Dollar AS!

Dari manakah raja itu memiliki kekayaan sebesar itu? Dari korupsi? Dari berdagang? Tidak! Tetapi dari warisan. Kita tidak hidup di massa 3.000 tahun lalu tetapi di tahun 2009 Masehi, di mana saat ini kita mengetahui bahwa triple six adalah kejahatan besar di mata Tuhan. Dan triple six itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan berlimpah, secara nominal tidak harus mencapai Rp 6,66 triliun.

Apakah Tuhan akan menjatuhkan hukuman pada saat talenta emas, rupiah, dan dollar bertemu di titik triple six itu? Tidak ada orang yang tahu. Karena hal ini menyangkut batas waktu pertobatan yang menjadi wewenang mutlak Tuhan. Kita hanya bisa berjaga-jaga.

Ada sekelompok orang yang menduduki jabatan penting pada suatu institusi yang seharusnya melarang umat mengikuti triple six. Namun tidak melarangnya secara tegas.

Kita yang tidak termasuk triple six dan tidak melakukan hal-hal yang membuat Tuhan marah seperti yang saya uraikan dalam postingan "Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa" bisa berdoa mohon keselamatan seperti doa Raja Daud:"Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!" Yang dimaksud keselamatan di sini adalah keselamatan di bumi. Terhindar dari hukuman yang dijatuhkan TUHAN ke bumi sehingga kita bisa memasuki jaman keemasan dimana kita hidup dalam damai sejahtera dan dalam terang Tuhan.

Kamis, 22 Januari 2009

Pertama Kali Saya Mengenal Kata Mataram...dan Mangir

Setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda ketika pertama kali mengenal kata mataram dan mangir. Sebagian orang mengenal kata itu ketika telah dewasa, sebagian lagi mengenalnya lewat pelajaran sejarah atau cerita ketoprak. Bayangan yang menyertai kedua kata itu tentu berbeda pada masing-masing orang.

Ketika membuat tulisan ini, saya harus mengingat-ingat kembali kapan saya pertama kali mengenal kedua kata tersebut. Yang jelas saya mengenalnya ketika saya masih kecil di bawah 10 tahun atau 5 tahun malah.

Mengenai kata mataram, saya agak kesulitan mengingatnya kapan pertama kali mengenalnya. Hal ini karena kata mataram telah menjadi realitas hidup sehari-hari sejak lahir dan masuk dalam alam bawah sadar. Sama seperti ikan, kalau saja ikan bisa berpikir dan bisa diajak berdialog pasti akan kesulitan kalau ditanya kapan pertama kali mengenal air. Air adalah realtas hidupnya sehari-hari.

Waktu saya kecil, setiap kali sebelum tidur, saya sering mendengar aneka dongeng atau cerita dari ayah saya Sumarji Siswosuwarno. Aneka cerita saya dengar, mulai dari cerita wayang, kancil, atau kisah nyata bagaimana desa kelahiran saya dibangun dari hutan belantara. Mungkin saat itu kata Merbau Mataram telah saya dengar.

Pada saat usia saya kurang lebih tiga tahun, saya beserta adik perempuan saya Ning, diajak berkunjung ke Yogyakarta. Saya tak bisa mengingat kata-kata apa yang diucapkan kepada saya. Mungkin kata-kata seperti ini yang diucapkan:"Ayo neng nJowo tilik Pakde Juki" (Ayo ke Jawa menengok Pakde Juki). Yang jelas kata-kata yang diucapkan tentu bukan ayo ke Mataram.

Selain menginap di Blunyah (Yogyakrta) tempat Pakde Juki tinggal, saya diajak pula ke Mangir (Kab. Bantul). Mungkin kata-kata yang diucapkan kepada saya adalah:"Ayo...neng Mangir, tilik mBah." Tentu yang dimaksud bukan kakek-nenek kandung, tetapi kakak-kakaknya kakek-nenek. Saya tidak ingat benar telah mendengar kata mangir waktu itu. Yang saya ingat adalah suatu pemandangan yang bagi anak kecil sangat luar biasa karena pemandangan itu tak pernah saya jumpai di desa kelahiran saya. Pemandangan yang luar biasa itu adalah pemandangan tentang Kali Progo yang besar dan airnya melimpah.

Setelah saya bisa membaca dan menulis tentu pengalaman saya bertambah. Kakek saya, Panggiyo Suwarno, adalah seorang Kepala Dusun. Di tempat kami disebut kepala suku. Kepala Dusun Hargo Binangun di bawah Desa Merbau Mataram. Pada saat menjelang perayaan RI 17 Agustus punya kesibukan menggerakkan orang-orang dusun untuk membuat gapura. Sehingga saya secara visual, saya juga bisa membaca dan menangkap kata-kata Merbau Mataram pada gapura. Merbau Mataram adalah nama tempat di mana saya lahir dan menghabiskan masa kecil saya.

Karena SD Hargo Binangun tempat saya sekolah ditutup maka pada saat menginjak kelas 3, saya pindah ke SDN Mataram 1 (demikian nama SD itu disebut seperti tertulis dalam ijazah saya). Pengalaman saya bertambah. Mataram adalah nama sekolah tempat saya belajar. Selain membaca dari papan nama sekolah, saya membaca dari kaos olah raga yang dikenakan teman-teman atau kakak-kakak kelas sewaktu melakukan kegiatan olah raga atau Senam Pagi Indonesia.

Jadi, Mataram yang saya kenal pertama kali adalah tempat atau desa (Merbau Mataram) di mana sudut-sudut desa itu dihiasi kebun singkong, sawah tempat saya mancing dan mencari ikan, ladang, bahkan juga ilalang di mana saya kadang-kadang bisa menemukan sarang burung terkuak (srimbombok) yang indah beserta telurnya. Selain itu Mataram adalah sebuah sekolah dimana saya belajar yang juga dikelilingi kebun singkong milik sekolah. Itulah pengenalan dan pengakraban saya dengan kata mataram di mata seorang bocah.

Mengenai kata mangir, karena di desa kami tidak ada tempat dengan nama itu maka kata mangir hanya saya dengar kadang-kadang. Meskipun terdengar kadang-kadang, tetapi mempunyai kesan tersendiri karena biasanya kata mangir diucapkan kalau ada kerabat datang dari Mangir bawa oleh-oleh seperti geplak atau kalau mBah Panggiyo baru saja pulang dari Mangir, juga bawa oleh-oleh.

Baru ketika saya duduk di bangku kelas 4 saya tahu bahwa ternyata Mataram itu adalah nama kerajaan di masa lalu. Itu dari pelajaran sejarah yang mengisahkan Kerajaan Pajang dengan tokohnya Joko Tingkir dan Mataram....



Sabtu, 17 Januari 2009

Tidak Antisipatif Menghadapi Overinvestment

Tahun 2009 sudah berjalan dua pekan. Dalam dua pekan ini tampak kebijakan yang diambil otoritas fiskal dan moneter tidak antisipatif dengan adanya overinvestment yang notabene adalah akar krisis ekonomi global. Sebagian pejabat pemerintah mengatakan bahwa kita aman karena jauh dari pusat tsunami keuangan global.

Sebelum Kwik Kian Gie (dalam Koran Internet) mengulas masalah krisis keuangan global dan menunjukkan adanya overinvestment di Indonesia, tulisan-tulisan saya di blog ini sudah mengingatkan adanya gejala overinvestment tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global. Misalnya dalam postingan saya yang berjudul:"Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa." Apa yang saya maksud dengan overinvestment tentu agak berbeda dengan overinvestment dalam textbook ekonomi pada umumnya. Overinvestment dalam paradigma biososioekonomi bukan hanya terjadi akibat investasi besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan (besar) tetapi juga oleh perorangan baik besar maupun kecil. Oleh karena itu tabungan dan deposito juga dianggap sebagai investasi. Seseorang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menggunakan pesangonnnya untuk menjadi pedagang kaki lima (PKL) juga disebut melakukan investasi. Overinvestment tidak hanya bisa terjadi pada manufaktur atau perkebunan besar, tetapi juga pada sektor informal karena banyaknya pelaku yang masuk sektor informal itu sebagai akibat PHK besar-besaran.

Gejala yang bisa dilihat untuk menandai adanya overinvestment adalah jatuhnya laba atau bunga. Jatuhnya indeks harga saham global merupakan salah satu indikator jatuhnya laba. Jatuhnya suku bunga deposito bank juga bisa menjadi indikator adanya overinvestment. Tentu yang dimaksud dengan jatuhnya suku bunga deposito ini bukan berarti suku bunga turun mendekati nol persen, tetapi secara riil mendekati nol atau minus karena sama atau lebih kecil dari tingkat inflasi. Di Indonesia meskipun suku bunga deposito secara nominal masih tinggi tetapi bila dikoreksi dengan tingkat inflasi maka hasil riilnya nol. Beberapa bank malah bunga riilnya minus.

Karena akar permasalahannya adalah overinvestment maka solusinya tidak bisa diatasi dengan investasi ekonomi seperti pengucuran kredit perbankan ke berbagai bidang usaha. Suku bunga rendah di AS juga menjadi pemicu terjadinya bencana sub prime mortgage. Suku bunga rendah membuat banyak orang (rumah tangga) dan perusahaan berhutang. Kredit bank diobral.

Tidak hanya otoritas fiskal dan moneter yang tidak antisipatif terhadap overinvestment. Sebagian pengamat yang dikutip media konvensional (cetak) pun tak menyadari adanya overintvestment. "Namun, para pengamat memperkirakan, stimulus tidak akan mendorong pertumbuhan tanpa laju kredit yang memadai" demikian Kompas 8 Januari 2009 halaman 17.

Otoritas moneter kemudian merespon dengan akan merelaksasi sejumlah aturan untuk mendorong penyaluran kredit (Kompas 15 Januari 2009 hlm 19). Di tengah daya beli rakyat yang anjlok atau paling tidak belum pulih sepenuhnya, "investasi" seperti itu tetap saja riskan.

Overinvestment tidak bisa diatasi dengan investasi ekonomi. Membiarkannya saja memang bisa pulih dengan sendirinya, tetapi akan menyakitkan dan memakan korban dengan jangka waktu pemulihan yang tidak mudah diprediksi. Kalau biososioekonomi diterapkan tidak akan ada overinvestment.

Sayangnya tidak banyak media konvensional yang membicarakan biososioekonomi. Setahu saya hanya harian Suara Merdeka Semarang yang memberitakan paparan seminar saya di PUSTEP UGM November 2004. Tulisan saya yang saya kirim di media cetak tak pernah dimuat. Terakhir majalah HIDUP memang memuat surat pembaca saya pada edisi 11/01/2009 yang berkaitan dengan overinvestment dan biososioekonomi. Namun biososioekonomi, yang notabene adalah ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah, belum banyak dikenal dan didiskusikan. Apakah overinvestment ini akan dibiarkan memakan korban? Marilah kita menjadi negarawan dan anggota civil society yang baik. Civil society sudah menunjukkan tanda-tanda kesanggupannya untuk ikut mengatasi krisis ini. Tidak selayaknyalah kalau masih ada pihak-pihak atau anggota civil society yang lain yang menghambat upaya menyelamatkan orang-orang yang bakal terancam kelaparan karena termasuk kategori ninja (no income, no job dan no asset). Semoga diperhatikan.