Kamis, 10 Desember 2009

Tidak Ada Kiamat di Dalam Film 2012

Popularitas film 2012 membuat saya penasaran untuk menontonnya. Popular memang belum tentu bagus. Tetapi tidak pula harus menjadi korban popularitas dengan ikut berdesakan antri. Saya menunggunya sampai tidak terlalu banyak yang nonton.

Tidak seperti yang diributkan beberapa orang mengenai kiamat. Ternyata dalam film itu tidak ada kiamat (besar) dan juga tidak bercerita tentang kiamat.

Kiamat (besar) itu artinya kehancuran total dan muncul "dunia" baru yang abadi. Sementara yang ada dalam film itu tidak ada dunia baru. Sebagian orang memang lolos dari bencana itu dengan cara sekuler dan hidup di bumi yang lama.

Film itu pun tidak bercerita tentang awal jaman keemasan yang saya pribadi meyakini akan diawali dengan hukuman atau bencana dahsyat. Film itu terlalu simple untuk berbicara awal jaman keemasan yang bagi banyak orang adalah sesuatu yang rumit.

Menurut hemat saya film itu adalah film fiksi tentang tahun 2012 dengan kerangka berfikir atau setting cerita kisah bahtera Nuh dalam Kitab Kejadian (kitab pertama Perjanjian Lama) yang simple. Saya tidak tahu apa alasan Roland Emmerich, sutradara film itu, menggunakan kerangka pikir kisah bahtera Nuh. Mungkin karena tidak memahami gambaran awal jaman keemasan seperti dijelaskan Injil dan Kitab Wahyu (kitab terakhir Perjanjian Baru) atau karena alasan komersial karena kisah bahtera Nuh itu selain simple (tak ada penjelasan mengenai triple six) juga dipercaya kalangan yang lebih luas sehingga pangsa pasarnya luas. Kisah bahtera Nuh itu memang simple. Dahulu Tuhan menyelamatkan manusia melalui bahtera Nuh itu. Tetapi menjadi tanda tanya kalau dibawa ke abad 21 Masehi ketika penduduk bumi mencapai milyaran orang. Apakah Tuhan akan menyelamatkan manusia dengan cara seperti film 2012 itu? Wah, nanti hanya yang mampu membeli tiket yang selamat. Rasanya Tuhan tidak akan melakukan penyelamatan dengan cara seperti itu.

Sebagai sebuah peringatan film itu juga tidak memadai. Terlalu simple, tidak memberi penjelasan mengenai triple six. Film itu hanya bernilai sebagai hiburan dengan teknik grafis komputer yang bagus.

Jumat, 04 Desember 2009

Tidak Menyesal

Tanggal 28 November saya menghadiri reuni FTP (Fakultas Teknologi Pertanian) UGM angkatan 85, 86, dan 87 di Auditorium FTP UGM Yogyakarta. Hampir 20 tahun tidak pernah ketemu. Kami telah menyebar ke berbagai kota dengan berbagai profesi dan dengan berbagai kesuksesannya masing-masing. Dua orang teman datang dari Singapura. Mereka bekerja di dua perusahaan esence yang saling berkompetisi.

Saya tidak pernah menyesal mengambil jurusan itu meskipun apa yang saya tekuni saat ini berbeda dengan apa yang saya pelajari di bangku kuliah dulu.

Saya mujur mengambil jurusan eksakta di saat orde baru berkuasa. Saya menikmati kebebasan akademik sepenuhnya tanpa represi. Kontrol ketat dan represi sering dialami mereka yang mengambil jurusan non eksakta.

Dengan kebebasan itu otak saya terasah. Keberanian menciptakan prosedur analisa sendiri dalam skripsi termasuk kebebasan akademik yang saya nikmati. Dan saya mendapat nilai A untuk skripsi saya. Mahasiswa S1 yang berani menciptakan prosedur analisa sendiri termasuk sosok langka.

Dosen pembimbing skripsi menekankan pentingnya akal sehat atau logika.
Data setinggi langit tetapi kalau logikanya kacau, maka hasilnya juga kacau. Prinsip ini masih relevan dalam hidup saya saat ini.

Maka saya tidak pernah menyesal. Dengan latar belakang seperti itulah teori ekonomi makro biososioekonomi dirumuskan. Kebebasan akademik dan akal sehat.

Sabtu, 21 November 2009

Tak Perlu Rekayasa

Akhir-akhir ini aktivitas penyelenggara negara sedang menjadi sorotan publik. Pembicaraan Anggodo dengan aparat negara ditayangkan televisi dan kasusnya merambat ke mana-mana. Tidak sedikit penyelenggara negara yang mendapat kritikan.

Menjadi pemangku kepentingan publik sebenarnya tidak terlalu sulit selama para pemangku kepentingan publik itu tidak memiliki keinginan aneh-aneh yang bertentangan dengan kepentingan publik. Yang sering terjadi justru tidak sedikit penyelenggara negara (pemangku kepentingan publik) itu memiliki kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan publik tetapi menyembunyikan dan membungkusnya dengan berbagai macam trik dan rekayasa. Rekayasa tidak hanya dipakai untuk menutupi interes pribadi (kelompok) tetapi juga untuk mencapai kekuasaan atau untuk menduduki jabatan tertentu. Kelambanan menyelesaikan berbagai persoalan publik sebenarnya tidak perlu terjadi kalau pejabat yang bersangkutan tidak memiliki keinginan aneh-aneh dan tidak sedang merencanakan suatu rekayasa atau sedang berusaha menyembunyikan rekayasa atau kesalahan di masa lalu. Kerumitan dan kesulitan itu sering diciptakan sendiri dengan berbagai keinginan atau nafsu yang aneh-aneh yang
bertentangan dengan kepentingan publik.
Reformasi seharusnya mengubah sikap dan perilaku generasi tua yang pikirannya dijejali berbagai keinginan aneh, rencana rekayasa, trik, dan akal-akalan. Bahwa di masa lalu sikap dan cara-cara seperti itu berhasil membawa orang pada kekuasaan dan popularitas tidak berarti bahwa sikap dan cara-cara seperti itu boleh diteruskan dalam kehidupam publik baik dalam kehidupan berbangsa-bernegara maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Rakyat sudah terlalu lelah dan muak dengan aneka keinginan aneh (nafsu) dan cara-cara tak elok seperti itu.

Saya memperoleh wahyu keprabon pada usia 35 tahun (7 tahun lalu) bukan dengan rekayasa, trik, atau akal-akalan. Apa yang dibayangkan sebagian generasi tua itu mengenai wahyu keprabon pun tidak sama dengan apa yang saya pikirkan dan saya jalani. Sebagian generasi tua itu membayangkan bahwa orang yang telah memperoleh wahyu keprabon harus menduduki jabatan struktural (memiliki kekuasaan) dan menikmati segala privilege-nya. Sementara yang saya pikirkan dan saya jalani adalah bahwa orang yang telah menerima wahyu keprabon justru harus menjalani berbagai macam pantangan (asketisme) demi kepentingan publik (dan rakyat) serta siap menanggung resiko pekerjaannya itu. Salah satu pantangannya adalah tidak menduduki jabatan struktural seperti jabatan presiden, meskipun tetap peduli pada kepentingan publik dan rakyat kebanyakan.

Marilah kita meringankan beban rakyat, janganlah membebani publik dengan berbagai keinginan aneh dan rekayasanya.


Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com

Sabtu, 14 November 2009

Lima Tahun Biososioekonomi dan Satu Tahun Blog "Satrio Piningit"

Postingan ini seharusnya di-post-kan bulan Oktober 2009. Namun karena beberapa hal yang harus di-post-kan terlebih dahulu maka postingan yang berkaitan dengan ulang tahun kelima publikasi biososioekonomi dan ulang tahun pertama blog "Satrio Piningit" ini baru bisa di-post-kan bulan Nopember 2009 ini.

Teori ekonomi makro biososioekonomi dipaparkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia yang terbit sekitar Oktober 2004. Blog ini dipublikasikan pertama kali 18 Oktober 2008 setahun yang lalu. Seminar pertama biososioekonomi diadakan tanggal 2 Nopember 2004 dalam seminar bulanan ke-22 yang diselenggarakan PUSTEP UGM.

Bulan Oktober-Nopember adalah bulan istimewa bagi teori ekonomi makro biososioekonomi di mana pada bulan-bulan tersebut biososioekonomi memperoleh akses publik yang lumayan. Berbagai peristiwa dan reaksi terjadi pasca publikasi biososioekonomi. Ada yang menyambutnya dengan antusias, ada yang takut-takut (mungkin dalam hati mengakui bahwa biososioekonomi benar tetapi tidak berani memperjuangkan), ada pula yang masa bodoh dan lebih senang tetap berada pada zona nyaman dengan prinsip business as usuala-nya.

Berbagai peristiwa juga saya lihat (baik langsung atau melalui laporan media massa) atau saya alami dalam memperjuangkan biososioekonomi. Jatuh bangun dan pahit getir telah saya alami. Saya menjalaninya dengan mengalir begitu saja.

Sulitnya akses publik yang dialami biososioekonomi membuat saya menumpangkan paparan biososioekonomi pada blog "Satrio Piningit&amp" ini. Membuat blog biososioekonomi (bioekonomi) secara terpisah belum menjadi prioritas. Membuat banyak blog akan menguras waktu, tenaga, dan biaya, serta merepotkan perawatannya. Sedikit blog tetapi terawat lebih baik dari pada banyak blog tetapi tidak terawat.

Melalui postingan ini saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi mempublikasikan dan menyebarluaskan biososioekonomi (termasuk menyebarluaskan URL blog ini) melalui berbagai media termasuk sms. Kepada Anda yang telah berpartisipasi saya berdoa agar Anda dan keluarga Anda diluputkan dari kutukan atau hukuman Tuhan yang akan dijatuhkan ke bumi manakala biososioekonomi "dianiaya." Kelaparan yang mengancam satu miliar penduduk bumi membuat kita berada pada titik kritis di mana Tuhan mungkin akan memperpendek batas waktu kesengsaraan rakyat dan segera menjatuhkan hukuman untuk segera memasuki jaman baru, jaman keemasan. Saya mohon maaf karena belum bisa membuat blog biososioekonomi secara terpisah. Tuhan memberkati kita semua.


Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Minggu, 08 November 2009

Mendukung Upaya Pemberantasan Korupsi

Pertama-tama saya mohon maaf karena postingan ini terlambat. Terutama bukan disebabkan kesibukan saya sehari-hari yang meningkat, tetapi terutama karena permasalahan teknis sebagai akibat alat bantu aktivitas blogging yang selama ini saya pakai mengalami perbaikan.

Dalam postingan ini saya mendukung sepenuhnya upaya pemberantasan korupsi. Perseteruan antara KPK dan Polri telah menyita banyak perhatian anggota masyarakat. Dukungan dan protes digalang di sana-sini. Upaya pemberantasan korupsi perlu kita dukung bersama. Memang seperti yang pernah saya kemukakan dalam blog ini bahwa persoalan besar global yang kita hadapi adalah krisis ekonomi yang dampaknya memberatkan rakyat kecil. Dan itu terjadi juga di negara-negara yang relatif bersih dari korupsi. Akan tetapi pemberantasakan korupsi tetap perlu mendapat perhatian terutama karena beberapa anggota legislatif atau eksekutif menyuarakan pemberantasan korupsi pada saat kampanye. Bahkan saya pernah membaca sebuah spanduk di dalam kompleks town house di Lenteng Agung Jakarta Selatan yang kurang lebih menyatakan bahwa "Kalau Anda koruptor pasti tidak memilih calon ini." Selain itu juga karena korupsi adalah perbuatan kriminal atau ilegal.

Kita semua berharap agar upaya pemberantasan korupsi tidak hanya menjadi bahan jualan saat kampanye tetapi sulit ditagih janjinya. Marilah kita menjadi negarawan yang baik, marilah kita menjadi anggota masyarakat yang baik.

Kamis, 29 Oktober 2009

Di Mana Posisi Kaum Muda Dalam Perubahan Kini?

Peran kaum muda dalam perubahan sering tidak bisa diabaikan. Sumpah pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober merupakan salah satu bukti peran tersebut. Semangat, keberanian, dan intelektualitas muda mendobrak kebuntuan dan status quo yang tidak adil. Demikian juga pemuda-pemuda anak jaman 81 tahun yang lalu menyatakan sumpahnya untuk bertanah air satu yaitu Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Peristiwa ini mendorong persatuan dan kemerdekaan Indonesia.

Kini situasi dan kondisi berbeda dengan 81 tahun yang lalu. Kini Bahasa Indonesia termasuk bahasa ketiga terbanyak yang dipakai oleh blog worpress di bawah bahasa Inggris dan Spanyol, di mana Indonesia adalah satu-satunya negara yang bukan penjajah. Di tengah kegembiraan seperti ini memang masih ada keprihatinan dengan adanya ideologi radikal dari luar yang menafikan Indonesia sebagai tanah airnya. Kita berharap agar para penganut ideologi radikal itu bertobat. Memang sejarah mencatat bahwa karena posisi geografisnya yang strategis dan tanahnya yang subur Indonesia banyak didatangi orang luar, tidak sedikit yang bermotif ekonomi. Ada yang datang ke Indonesia karena di negaranya sedang terjadi revolusi besar dimana mencari kekayaan pribadi dilarang atau di negaranya mencari rejeki begitu sulit karena sistem yang amat sangat feodal di tengah tanah yang gersang Mereka yang datang dan sudah menjadi WNI seharusnya menghargai sejarah persatuan Indonesia sebagaimana dicetuskan para pemuda dalam Sumpah Pemuda juga menghargai sejarah terbentuknya NKRI dan Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika-nya sebagai konsensus nasional yang sudah final.

Kaum muda kini menghadapi tantangan yang berbeda meskipun ada kemiripan dimana kurang-lebih 80 tahun lalu AS dilanda depresi besar. Perubahan ke arah yang lebih baik membutuhkan kaum muda. Krisis ekonomi global dan krisis kapitalisme mendorong kaum muda untuk berpikir kritis dan kreatif tanpa harus menghancurkan Persatuan Indonesia dan tanpa harus mengubah konsensus nasional sebagaimana disebut di atas. Biososioekonomi menawarkan perubahan ke arah yang lebih baik, lebih stabil, lebih adil-sejahtera dalam harmoni dengan alam dan lingkungan hidup. Namun tantangan biososioekonomi juga ada yaitu yang berasal dari status quo. Oleh karena itu biososioekonomi membutuhkan banyak kaum muda yang berani, cerdas, dan mau berjuang dalam jalan damai. Itu diperlukan untuk mengkritik, mengembangkan, ataupun menyebarluaskan biososioekonomi. Kalau biososioekonomi salah tunjukkan letak salahnya, kalau benar bergabunglah untuk mengembangkan dan menyebarluaskannya.

Kaum muda perlu menyadari bahwa kegagalan reformasi 1998 (dimana kaum muda punya peran besar) terjadi antara lain karena gerakan reformasi tidak memiliki konsep untuk ditawarkan sebagai solusi. Teori biososioekonomi yang baru terbit tahun 2004 belum dikenal sama sekali waktu itu. Neoklasik masih bercokol sebagai status quo padahal dalam paradigma neoklasik memperbaiki satu segi berarti memperburuk segi lain. Ini berbeda dengan paradigma biososioekonomi yang menawarkan perbaikan serentak.

Pada awal saya memperjuangkan biososioekonomi justru dari kaum tua sambutan itu datang (antara lain dari Prof. Dr. Mubyarto) sementara yang muda-muda justru masih takut-takut. Memang memprihatinkan kalau kondisi ini berlanjut. Padahal yang muda justru dituntut untuk lebih berani. Kondisi krisis dan kelaparan yang mengancam satu miliar penduduk bumi seharusnya mengetuk hati kaum muda untuk berani berjuang bersama biososioekonomi tanpa harus mengorbankan sikap kritisnya kalau biososioekonomi salah.