Selasa, 16 November 2010

Prinsip-prinsip Biososioekonomi untuk Pejabat Pemerintah (4):Penyediaan Energi dan Pengendalian Pertumbuhan Populasi Penduduk

Setelah tertunda beberapa minggu, akhirnya tulisan keempat "Prinsip-prinsip Biososioekonomi untuk Pejabat Pemerintah" ini bisa diposting hari ini.

Berbeda dengan teori ekonomi konvensional (neoklasik maupun keynesian) yang hanya menggunakan kurva penawaran-permintaan, biososioekonomi selain menggunakan kurva penawaran-permintaan juga menggunakan prinsip daur ulang untuk menjelaskan dan mengelola kelangkaan. Kelemahan kurva penawaran-permintaan adalah tidak memasukkan variabel waktu. Kurva tersebut bukan merupakan fungsi waktu. Kalau variabel waktu mau dimasukkan maka bentuk kurvanya menjadi tidak sederhana sehingga kurang nyaman atau kurang tepat dipakai menjelaskan dan mengelola kelangkaan. Selain itu kurva tersebut berjangka pendek. Untuk menjelaskan dan mengelola kelangkaan yang berjangka panjang perlu memperhatikan prinsip daur ulang.

Prinsip daur ulang ada di alam. Tubuh manusia setelah meninggal juga akan terdaur ulang. Bahan-bahan organik tubuh manusia akan terurai menjadi bahan anorganik seperti CO2, H2O (air), nitrogen, dan lain-lain yang kemudian oleh tanaman dengan klorofilnya dan bantuan sinar matahari akan tersintesa kembali menjadi bahan organik seperti pati, gula, minyak, dan protein. Daur ulang adalah salah satu faktor yang akan membuat penawaran dan permintaan berada pada titik keseimbangan yang sama sepanjang waktu. Dengan daur ulang, kelangkaan bisa teratasi atau paling tidak dapat diminimalisir.

Berdasarkan prinsip daur ulang tersebut dan berdasarkan rumusan dasar teori ekonomi makro biososioekonomi ("kelahiran adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian") maka pertumbuhan populasi penduduk harus dipertahankan maksimum nol persen per tahun. Angka nol adalah angka yang netral. Pertumbuhan populasi penduduk kurang atau lebih dari nol persen akan menggeser titik keseimbangan kurva penawaran-permintaan. Pertumbuhan populasi penduduk lebih dari nol persen akan meningkatkan beban alam (ekologi). Dalam kondisi over populasi, cara yang manusiawi untuk mengurangi populasi penduduk adalah pertumbuhan negatif melalui pengurangan kelahiran, di mana setiap keluarga tidak boleh mempunyai anak lebih dari satu. Ini adalah cara yang manusiawi dibandingkan peperangan, bencana alam, pembiaran kemiskinan-kelaparan dan cara destruktif lain yang meningkatkan kematian. Pengurangan kelahiran adalah cara yang paling manusiawi di alam yang memang terbatas ini. Untuk mempertahankan pertumbuhan penduduk nol persen maka setiap keluarga harus mempunyai dua orang anak.

Dengan memperhatikan prinsip daur ulang itulah penyediaan energi serta kebijakan terkait mengenai energi dibuat. Diperlukan energi alternatif yang bisa diperbaharui seperti energi dari minyak nabati ataupun energi alternatif lain. Energi surya memang tidak bisa diperbaharui karena proses pembentukannya bersifat ireversibel artinya matahari tidak bisa menyerap dan memproses kembali energi yang telah dipancarkan ke alam raya. Akan tetapi karena matahari masih berumur panjang maka energi matahari bisa dipakai sebagai energi alternatif bagi penduduk bumi. Apalagi Indonesia adalah negara yang berada di jalur katulistiwa. Kebijakan mengenai energi tidak hanya terkait dengan suplai energi tetapi juga penghematan energi. Penghematan energi bisa dilakukan dengan kebijakan sistem transportasi masal serta pengendalaian pertumbuhan populasi penduduk maksimum nol persen per tahun.

Demikian tulisan singkat ini, pada dasarnya prinsip daur ulang dan rumusan dasar biososioekonomi dapat dipakai sebagai pedoman untuk menjelaskan dan mengelola kelangkaan yang berjangka panjang tidak hanya sesaat. Prinsip ini tidak hanya bisa digunakan untuk mengelola penyediaan energi tetapi juga kelangkaan lain. Dalam tulisan ini, energi saya bahas karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Semoga bermanfaat.

Jumat, 12 November 2010

Mengenang dan Menghargai Jasa Pahlawan

Setiap tanggal 10 November kita memperingati hari pahlawan. Dalam momentum seperti itu tidak ada jeleknya hening sejenak dari segala hiruk-pikuk dan rutinitas untuk mengenang para pahlawan bangsa yang dikenal, diangkat resmi sebagai pahlawan maupun yang tidak dikenal.

Mengahargai dan mengapresiasi jasa pahlawan merupakan tindakan yang luhur mulia. Pahlawan sejati adalah orang-orang yang telah mengubur kepentingan dan kenikmatannya sendiri serta berjuang menghadapi tantangan dan marabahaya untuk sesuatu yang lebih besar di luar dirinya. Entah demi kepentingan umum atau kepentingan orang lain. Para pahlawan kita kenang dan kita apresiasi untuk kita ambil hal-hal baik yang ada padanya sebagai inspirasi hidup kita apakah kita sudah mengutamakan kepentingan umum atau belum.

Jiwa-jiwa mereka, para pahlawan itu, sangatlah berharga untuk dikenang. Juga pahlawan lain yang masih segar peristiwanya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu. Relawan PMI yang mau memaksa mbah Marijan meninggalkan dusunnya pada saat letusan Merapi 26 Oktober 2010 juga layak disebut pahlawan. Hidup mereka punya arti. Semoga hidup kita juga punya arti bagi sesama.

Selasa, 09 November 2010

Surat Terbuka untuk Presiden Obama (dan Amerika)


Dear Mr President Obama
Pertama-tama saya ucapkan selamat datang ke Indonesia, suatu negeri kepulauan yang telah ber-revolusi menjadi negara demokrasi modern berbentuk republik dari asal-usulnya yang terdiri dari berbagai kerajaan di wilayah Nusantara. Semoga kunjungan dan perjalanan Anda ke Indonesia aman dan nyaman.

Ketika Anda terpilih menjadi presiden, November 2008, saya memposting tulisan di blog ini November 2008 bahwa pergantian presiden saja tidak cukup. Tema seperti itulah yang ingin saya sampaikan kali ini dalam surat terbuka untuk Anda (dan Amerika).

Sebelumnya saya perlu mohon maaf kalau pendapat yang saya sampaikan (dalam bahasa Indonesia) ini berbeda dengan pendapat umum yang sudah Anda kenal. Saya memerlukan banyak waktu dan tenaga kalau harus menulis surat ini dalam bahasa Inggris. Selain itu saya mohon maaf kalau saya menyampaikan pendapat saya ini dengan bahasa yang lugas.

Krisis ekonomi global hanya bisa diatasi secara global. Celakanya negara terlalu kecil untuk mengurusi hal-hal besar dan terlalu besar untuk mengurusi hal-hal kecil. Selain diperlukan kerja sama antara negara dengan civil society juga diperlukan perubahan paradigma dari ekonomi yang bercorak kapitalistik-neoliberalistik mengarah kepada ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah. Untuk itu diperlukan grand theory ekonomi baru sebagai pedomannya. Saya memberanikan diri untuk merumuskan grand theory itu dan menyebutnya sebagai teori ekonomi makro biososioekonomi (bioekonomi) yang selain bisa dibaca di blog ini, juga bisa dibaca dalam buku saya "Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia" (2004), atau di web site-nya Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM). Meskipun masih bersifat embrional, sebagai kerangka dasar berpikir biososioekonomi sudah cukup memadai, karena biososioekonomi jelas dan tidak rancu.

Secara khusus saya memposting tulisan di blog ini yang menjelaskan mengapa bioekonomi (biososioekonomi) disebut sebagai ekonomi jalan ketiga. Tulisan itu saya posting 2 Nopember 2010. Saya berharap agar semua pihak di seluruh dunia bisa berpartisipasi mengaplikasikan dan mewujudkan paradigma ekonomi jalan ketiga yang pro publik, pro rakyat dan pro ekologi (kelestarian lingkungan hidup).

Untuk bisa memahami biososioekonomi, orang harus membedakan antara individu dan perusahaan dimana individu selain berlaku sebagai homo economicus seharusnya juga berlaku sebagai homo socius. Sementara perusahaan atau institusi bisnis tidak bisa berubah menjadi institusi sosial. Tidak membedakan individu dengan institusi bisnis itulah kelemahan utama teori ekonomi makro keynesian.

Teori ekonomi makro biososioekonomi berusaha meningkatkan income publik melalui pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu serta mengelolanya dengan baik agar terjadi keseimbangan antara aset individu
(yang notabene adalah liability bagi publik) dengan aset publik. Kalau liability publik lebih tinggi dari asetnya, krisis tetap terjadi delam beberapa bentuk seperti kemiskinan dan rendahnya daya beli rakyat.

Kekayaan daur ulang adalah kekayaan melimpah milik individu atau perorangan bukan perusahaan yang tidak diwariskan kepada anak keturunannya sendiri tetapi dihibahkan untuk publik. Secara praktis dan sederhana bisa dikatakan bawa biososioekonomi menentang pewarisan kekayaan berlimpah dan pro demokrasi ekonomi. Jalan damai untuk mewujudkan itu sudah saya usulkan dalam buku saya hlm 73 dan sering saya ulang dalam blog ini khususnya dalam artikel yang berlabel "herucakra society." Mungkin bagi kebanyakan orang di Indonesia biososioekonomi itu tidak mudah dijalankan karena menentang pewarisan kekayaan berlimpah Beberapa orang yang saya beri buku saya, di kemudian hari juga kelihatan takut-takut berbicara biososioekonomi.

Namun demikian saya tidak gentar karena saya menaruh harapan pada TUHAN semesta alam. Saya memiliki keyakinan pribadi bahwa triple six yang akan dihancurkan TUHAN itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan dan (atau) kekuasaan berlimpah. Saya memiliki keyakinan itu setelah pada tahun 2005, saya menemukan suatu ayat dalam Alkitab (Holy Bible) bahwa di masa lalu ada seorang raja yang income per tahunnya adalah 666 talenta emas (1Raj10:14 atau 2 Taw 9:13). Semua orang tahu raja itu terlahir sebagai anak raja.

Mengenai orang-orang yang lahir sebelum Kristus, Tuhan kita Yesus Kristus telah membuat suatu kebijaksanaan yang luar biasa sebagaimana dicatat Injil Yohanes 10:7-9 yang berbunyi: "..Aku berkata kepadamu, akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput."

Umat kristiani boleh tidak sependapat dengan saya, tetapi saya pribadi meyakini bahwa triple six yang akan dihancurkan TUHAN dan para penghuni Surga itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan berlimpah dan (atau) pewarisan kekuasaan berlimpah. Saya tidak percaya akan pandangan sebagian orang bahwa TUHAN akan menghancurkan negara demokrasi modern dan menggantinya dengan negara teokratis. Yang saya percayai adalah bahwa TUHAN dan penghuni Surga akan menghancurkan triple six. Untuk itu saya terpanggil untuk menyampaikan peringatan itu kepada semua orang melalui blog ini. Sekali lagi mohon maaf kalau kata-kata ini lugas dan keras. Maklum hidup rakyat kebanyakan juga susah.

Demikian surat ini saya tulis, banyak hal di antaranya juga sudah saya tulis di blog ini. Semoga Anda dan bangsa Amerika terhindar dari murka TUHAN. TUHAN memberkati.

Jumat, 05 November 2010

Ampunilah Ya TUHAN....

Ampunilah ya TUHAN atas kekuranganku dan ketidaksempurnaanku dalam melayani-Mu dalam menjalankan tugas yang Engkau percayakan kepadaku di Divisi Kesejahteraan Umum ini.

Ampunilah juga mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Semoga tidak ada lagi yang menghalangi apa yang seharusnya muncul demi kesejahteraan umum dan orang banyak.

Semoga Gunung Merapi tenang kembali, demikian juga alam semesta yang bergejolak semoga segera tenang kembali.

Segala kuasa dan kemulian hanya ada pada-Mu. Segalanya ada di tangan-Mu seturut rencana dan kehendak-Mu.

Kami hanya manusia biasa yang hanya bisa berdoa:"Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! "

Selasa, 02 November 2010

Tiga Alasan Mengapa Biososioekonomi adalah Ekonomi Jalan Ketiga

Hari Selasa tanggal 2 Nopember 2004 adalah hari dan tanggal bersejarah bagi teori ekonomi makro biososioekonomi. Untuk pertama kalinya biososioekonomi (bioekonomi) dipresentasikan dalam seminar. Seminar itu adalah seminar bulanan ke-22 yang diselanggarakan Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada (PUSTEP-UGM) Yogyakarta. PUSTEP sekarang berganti nama menjadi Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan. Jadwal postingan hari ini bersamaan dengan hari dan tanggal bersejarah itu. Postingan hari ini saya buat khusus untuk mengenang hari dan tanggal bersejarah itu.

Dulunya ekonomi jalan ketiga atau ekonomi jalan tengah atau ekonomi Pancasila dianggap sebagai sistem ekonomi yang tidak jelas karena hanya sekedar bukan ini bukan itu. Karena bukan ini atau bukan itu maka dianggap sebagai bukan apa-apa atau tidak ada. Anggapan seperti itu kemudian digemakan oleh media massa konvensional baik cetak maupun televisi melalui narasumber-narasumber yang ditampilkannya yang rata-rata berpendidikan formal ilmu ekonomi. Tindakan media massa konvensional itu membutakan mata banyak orang mengenai keberadaan ekonomi jalan ketiga. Bahkan ketika bioekonomi (biososioekonomi) dipublikasikan pada triwulan keempat tahun 2004 pun mata dan pikiran banyak orang masih tertutup. Tidak mudahnya menyadarkan publik akan adanya ekonomi Pancasila atau ekonomi jalan ketiga ini, rekan-rekan di PUSTEP UGM sering berkomentar: gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak. Saya sendiri lebih senang memlesetkan menjadi: Borobudur di pelupuk mata tidak tampak, gubuk reyot di seberang lautan tampak. Setahu saya hanya harian Suara Merdeka Semarang yang memberitakan seminar bioekonomi di PUSTEP itu.

Inilah tiga argumen mengapa teori ekonomi makro biososioekonomi dikatakan sebagai ekonomi jalan ketiga:


(1) Pandangannya Mengenai Laba

Seperti pernah saya tulis di blog ini khususnya pada postingan tanggal 1 Juni 2010 saat peringatan hari lahirnya Pancasila bahwa biososioekonomi mempunyai pandangan yang jelas berbeda dengan ekonomi jalan pertama (kapitalis) dan ekonomi jalan kedua (komunis-sosialis). Dalam pandangan kapitalis laba adalah pengembalian yang sah atas modal, titik. Pandangan komunis mengatakan laba adalah hasil eksploitasi buruh yang diambil alih oleh kaum kapitalis. Sementara pandangan biososioekonomi mengatakan bahwa laba berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Perbedaan ini nyata benar. Jadi ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga itu nyata.


(2) Biososioekonomi Tidak Menuntut Rekening T Publik Bernilai Plus

Inilah argumen utama bahwa biososioekonomi adalah ekonomi jalan ketiga. Rekening T atau neraca herucakra society (global civil society yang terbuka dan adil) dan rekening T pemerintah setiap negara tidak dituntut menghasilkan nilai plus. Sudah cukup bila aset publik sama dengan liabilitasnya atau dengan kata lain nilainya nol. Angka nol adalah angka netral yang merupakan jalan tengah. Dalam kondisi seperti itu jumlah aset publik sama dengan jumlah aset individu_sebagai catatan menurut biosoioekonomi semua aset individu adalah liabilitas bagi publik. Ini jelas berbeda dengan kapitalisme yang membiarkan jumlah aset individu jauh melampaui jumlah aset publik sampai berlipat ganda, dan jelas berbeda dengan komunisme yang menuntut penghapusan hak milik individu. Dalam kondisi di mana jumlah aset publik sama dengan jumlah liabilitas publik itu, sistem ekonomi sudah mampu membayar kewajibannya yaitu: laba, bunga, gaji pegawai, dan jaminan sosial (food stamps/ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, tunjangan pensiunan atau orang lanjut usia). Meskipun nilai rekening T publik adalah nol, secara mikro tetap ada dinamika sirkulasi kepemilikan.


(3)Tidak menuntut pertumbuhan PDB tetapi juga tidak melarang individu meningkatkan aset pribadinya.
Perekonomian yang menuntut pertumbuhan PDB atau pertumbuhan agregat adalah perekonomian yang kapitalistik yang melawan alam. Efek buruk pertumbuhan PDB sama dengan pertumbuhan populasi penduduk. Dalam paradigma biososioekonomi, tanpa pertumbuhan PDB pun aset setiap orang (rumah tangga) bisa meningkat. Ukuran yang dipakai teori ekonomi makro biososioekonomi bukan pertumbuhan PDB tetapi PIT (persentase individu yang tumbuh). Biososioekonomi menginginkan angka PIT-nya 100% atau mendekati itu. Hal ini memang mirip dengan perikanan. Kalau kita menebarkan benih lele misalnya berapa persen yang berhasil tumbuh dan tidak mati. Dengan PIT ini biososioekonomi jelas bukan komunis tetapi juga bukan kapitalis karena tidak menuntut pertumbuhan PDB.


Semoga postingan ini bisa memberi penjelasan.


Jumat, 29 Oktober 2010

Harapan Bangsa

Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini bersamaan dengan situasi bangsa dan negara sedang bersedih karena berbagai bencana seperti banjir di Wasior Papua, tsunami Mentawai 25 Oktober, dan letusan Gunung Merapi 26 Oktober yang memakan korban jiwa serta harta benda. Kita prihatin. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berbagai bencana. Semoga, berkat kerahiman TUHAN, korban meninggal diperkenankan istirahat dalam kedamaian abadi di Sorga. Sementara keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, yang terluka disembuhkan, yang mengungsi diberi kesehatan dan kekuatan Semoga TUHAN memberi kekuatan dan berkat bagi siapa saja yang menolong korban. Kita berempati dan membantu sesuai kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Perlu diperhatikan bahwa tidak sedikit harta benda yang hancur atau ternak yang mati. Semua itu perlu biaya untuk memulihkannya kembali agar derita para korban menjadi ringan.

Sumpah Pemuda adalah momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk bersatu sebagai bangsa Indonesia dalam keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Peran kaum muda dalam kehidupan bangsa terasa nyata dalam Sumpah Pemuda. Mereka adalah generasi cerdas yang terdidik yang memenuhi harapan bangsa dan panggilan sejarah. Saat ini persatuan harus tetap dipertahankan. Komunikasi harus tetap terjaga melalui berbagai media seperti telepon, internet atau jejaring sosial.

Di tengah situasi bangsa dan permasalahan global saat ini kaum muda harus tetap menjadi harapan bangsa. Kaum muda seharusnya memiliki keberanian, kecerdasan, energi, dan keluwesan untuk mengatasi berbagai persoalan baik lokal, nasional, atau global. Kaum tua sering susah berubah. Kepeloporan untuk berubah ke arah yang lebih baik harus datang dari kaum muda. Semua orang muda bisa dan perlu berpartisipasi, bukan hanya aktivis saja yang bisa berpartisipasi

Permasalahan utama yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak saat ini baik lokal atau global dan menuntut banyak perhatian untuk diselesaiakan adalah tiadanya demokrasi ekonomi. Kemapanan dan anti demokrasi ekonomi masih mencengkeram hidup rakyat. Bahkan cengkeraman itu sering hadir bersama media massa konvensional (cetak dan tv). Semua kaum muda dipanggil untuk mendemokrasikan ekonomi yang otomatis membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan.

Untuk membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan atau mendemokrasikan ekonomi, semua kaum muda bisa bekerja, berkiprah, dan berkarya pada tiga pilar keadaban publik yaitu negara, pasar (bisnis), dan masyarakat (society). Di ranah state (negara) kaum muda bisa berkarya di eksekutif, legislatif, atau yudikatif, di ranah society kaum muda bisa berkarya atau berkiprah sebagai rohaniwan, blogger, pekerja media termasuk pers mahasiswa, pekerja yayasan sosial, pekerja LSM, pekerja organisasi konsumen sosial, pengajar, pengembang etika, budayawan, seniman, dan pekerja bank sentral (dalam paradigma baru).

Ranah bisnis atau pasar pun yang sering dianggap binatang ekonomi bisa dijadikan tempat untuk berkarya dan berkiprah. Ranah ini memerlukan kaum muda yang berhati mulia yang sadar akan tanggung jawab publik atau income publik melalui pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu. Pebisnis yang dperlukan adalah pebisnis yang mentransformasi diri menjadi "ksatria luhur" sebagaimana saya jelaskan dalam postingan berjudul "Dharma Ksatria: Antara Satrio Piningit dan Ksatria Luhur" yang berlabel Dharma Ksatria di blog ini.

Semua pilar keadaban publik bisa diterjuni dan ditekuni untuk memperjuangkan kesejahteraan publik melalui demokrasi ekonomi dan paradigma ekonomi publik kerakyatan. Kalau demokrasi ekonomi terwujud di samping demokrasi politik, maka banyak persoalan lain bisa diselesaikan. Kita fokus mencurahkan 80% waktu dan tenaga untuk sedikit (20%) item yaitu demokrasi ekonomi maka 80% persoalan rakyat telah teratasi. Ini membutuhkan peran kaum muda. Pers mahsiswa melalui media internet bisa ikut berperan di tengah pers konvensional yang dikuasai kaum tua dan pemilik modal.

Kaum muda tahun 1928 telah menuhi harapan bangsa dan memenuhi panggilan sejarah. Semoga kaum muda saat ini tetap menjadi harapan bangsa dan mau memenuhi panggilan sejarah menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Salam Indonesia.

Selasa, 26 Oktober 2010

Dua Tahun Blog Satrio Piningit, Membangun Paradigma Ekonomi Publik Kerakyatan

Tak terasa dua tahun sudah usia blog ini. Sebuah blog yang saya pakai untuk memperkenalkan teori ekonomi makro baru yang merupakan suatu grand theory yang saya namakan biososioekonomi (bioekonomi). Tentu saja suatu teori tidak sekedar dipublikasikan, diseminarkan, kemudian didiamkan menumpuk di perpustakaan. Masih banyak ketidakpahaman, masih ada penyelewengan/pelacuran intelektual, masih ada ketidakberanian memperjuangkan biososioekomi, masih ada mafia Berkeley atau OTB (menurut istilah Kwik Kian Gie), masih ada kepura-puraan (pura-pura tidak tahu adanya grand theory baru), masih ada penenggelaman terhadap biososioekonomi, masih ada pragmatisme pejabat publik dan berbagai hambatan lain yang terjadi di tengah masyarakat dan negara. Untuk itu menurut hemat saya suatu hal yang perlu ditekankan dan ditekuni adalah "Membangun Paradigma Ekonomi Publik Kerakyatan." Membangun adalah suatu proses yang memerlukan waktu. Tidak semalam jadi. Proses ini memerlukan partisipasi banyak pihak, sementara berbagai pihak yang diharapkan berperan serta belum sepenuhnya pro aktif.

Seperti pernah saya kemukakan dalam karya tulis pengentasan kemiskinan tahun 2005, kita sebaiknya membagi ekonomi atau ilmu ekonomi berdasarkan sudut pandang kepentingannya di mana ada tiga kategori yaitu: ekonomi individu atau privat, kelompok, dan publik. Yang termasuk ekonomi individu adalah ekonomi rumah tangga atau individu, sementara yang termasuk ekonomi kelompok adalah ekonomi perusahaan, klan (dinasti), koperasi, dan negara sedangkan yang termasuk ekonomi publik adalah ekonomi global society yang berpedoman pada biososioekonomi. Memang ekonomi negara bisa menjadi ekonomi publik dalam teritori tertentu sepanjang ia tunduk pada prinsip-prinsip biososioekonomi. Dengan membagi ekonomi berdasarkan sudut pandang kepentingannya maka akan mudah didefinisikan suatu unit-unit ekonomi yang selanjutnya akan mudah pula didefinisikan apa yang termasuk pemasukan-pengeluaran kemudian juga aset-liabilitas bagi unit ekonomi tertentu itu. Hal ini penting karena pemasukan bagi unit ekonomi yang satu bisa menjadi pengeluaran bagi unit ekonomi yang lain. Demikian pula suatu aset bagi unit ekonomi yang satu bisa menjadi liabilitas bagi unit ekonomi yang lain. Dengan pendekatan seperti ini permasalahan yang ada akan mudah terlihat dengan jernih serta tidak rancu sehingga solusinya juga jelas.

Membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan tidak lepas dari membangun paradigma biososioekonomi di tengah himpitan neoliberalisme dan fundamentalisme pasar. Hal itu tidak mudah tetapi saya meyakini bahwa paradigma biososioekonomi bisa dibangun, diwujudkan, dan diimplementasikan. Biososioekonomi adalah keniscayaan kalau kita ingin membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan karena hanya biossioekonomi yang benar-benar ekonomi publik dan bersifat kerakyatan karena menentang pewarisan kekayaan berlimpah.

Tantangan dan hambatan memang ada. Salah satu contoh adalah keterbelengguan berbagai pihak pada peningkatan PDB dengan investasi ekonomi. Dalam hal ini patut dipahami bahwa PDB atau pertumbuhan PDB bukan ukuran suatu ekonomi publik (makro) karena PDB adalah penjumlahan pendapatan individual tahunan di suatu negara. Jumlah pendapatan individual tidak otomatis menjadi pendapatan publik seperti dijelaskan teori ekonomi makro biososioekonomi di mana yang menjadi pendapatan publik adalah pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu. Mengapa banyak orang terbelenggu pada upaya peningkatan PDB? Di suatu negara berkembang yang tingkat PDBnya masih rendah, peningkatan pendapatan publik akan otomatis meningkatkan PDB. Oleh karena itu fokus pada peningkatan pendapatan publik serta pengelolaannya yang baik (bukan fokus pada peningkatan PDB) otomatis akan menyelesaikan persoalan. Selain itu perlu dipahami bahwa pertumbuhan PDB nol persen atau mendekati nol persen yang berlangsung lama bukan merupakan kondisi krisis ekonomi selama aset publik sama dengan liabilitasnya. Oleh karena itu keterbelengguan berbagai pihak pada peningkatan PDB seharusnya diakhiri. Keterbelengguan pada peningkatan PDB atau yang diistilahkan sebagai pertumbuhan ekonomi ini adalah suatu contoh adanya hambatan di masyarakat. Oleh karena itu membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan merupakan proses yang tidak sekali jadi perlu upaya terus-menerus dan ketekunan. Saya meyakini hal itu bisa diwujudkan bersama TUHAN Yang Maha Kuasa. Segala kekuasaan, kesempurnaan, dan kemulian hanya ada pada TUHAN. Kita sebaga hamba TUHAN berupaya dengan cara damai, TUHAN yang akan menyempurnakannya.

Dalam usia dua tahun, blog ini telah mulai dikenal orang, otomatis biososioekonomi juga mulai dikenal orang. Sebagai teori ilmiah, biososioekonomi tetap terbuka terhadap kritik dan perbaikan. Kepada semua pihak yang telah ikut menyebarkan teori biososioekomi dan blog ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, saya berdoa agar Anda diluputkan dari hukuman dan tulah TUHAN yang akan dijatuhkan ke bumi. Bagi yang belum berpartisipasi ditunggu partisipasinya.