Senin, 29 April 2013

Kenaikan Harga BBM. Tidak Bekerja Maksimal

Bukan hanya sekali ini saya menulis artikel mengenai kenaikan harga BBM. Kalau Anda mengetikkan kata BBM di search engine blog ini akan keluar semua artikel yang berkaitan dengan BBM.

Tulisan saya kali ini bukan sekedar rangkuman dari semua artikel yang berkaitan dengan kenaikan harga BBM. Saya mengamati dan menilai bahwa rencana pemerintah menaikkan menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak) adalah tanda bahwa pemerintah tidak bekerja maksimal untuk rakyat dan publik.

Penilaian saya ini didasarkan atas fakta sebagai berikut:

1. Nisbah pajak (tax ratio) kita masih rendah, hanya berkutat di sekitar 12%. Kalau nisbah pajak di atas 17% seharusnya tidak perlu mengurangi subsidi BBM. Pada saat menjelang pilpres 2009 saya sudah menyinggung perlunya menanyakan nisbah pajak yang ingin dicapai capres silakan baca artikel saya di link ini http://www.satriopiningitasli.com/2009/06/chatib-basri-tetap-neolib-tidak.html?m=1 Beberapa tulisan saya setahun lalu juga sudah mengingatkan lagi antara lain http://www.satriopiningitasli.com/2012/03/terget-kerja-pemerintah-yang-harus-kita.html?m=1 dan
http://www.satriopiningitasli.com/2012/03/kenaikan-harga-bbm-mengubah-paradigma.html

2. Tak tersedianya transportasi massal yang bisa dipakai menghemat dan menekan konsumsi BBM. Pemerintah menekan konsumsi BBM dengan cara menekan suplai BBM bersubsidi, sesuatu yang tidak bisa dibenarkan secara akal sehat. Seharusnya mensuplai transportasi massal yang hemat BBM atau mensuplai bahan bakar alternatif. Pemerintah bukan baru setahun bekerja. Selama ini apa yang dilakukan terhadap penyediaan transportasi massal? Moda transportasi yang menggunakan kendaraan pribadi itu hanya menghasilkan kemacetan dan pemborosan BBM. Banyak orang telah mengingatkan pemerintah, saya juga pernah menyinggungnya dalam tulisan berikut http://www.satriopiningitasli.com/2009/04/krisis-multidimensi-harus-diatasi.html?m=1

Apakah pemerintah mendapat tekanan untuk menaikkan harga BBM sesuai harga keekonomian agar sesuai iklim bisnis pom bensin asing? Kalau iya seharusnya pemerintah tidak tunduk pada tekanan seperti itu. Harga keekonomian hanya bisa diterima publik/rakyat bila demokrasi ekonomi sudah terwujud dalam artian akumulasi laba sudah dikembalikan kepada publik sesuai prinsip biososioekonomi. Pemilik modal seharusnya tidak menuntut harga keekonomian bila mereka sendiri tidak pro demokrasi ekonomi/biososioekonomi, lihat juga tulisan saya di link berikut http://www.satriopiningitasli.com/2012/03/harga-bbm-konsumen-dan-warga-negara.html

Bahkan kalau pun pemerintah memberikan kompensasi seperti BLT(bantuan langsung tunai) tak akan banyak membantu selama nisbah pajak tidak naik secara signifikan. Tentu yang saya maksud adalah peningkatan dari pajak progresif atau pajak yang pro demokrasi ekonomi.Bagi yang memahami akuntansi dan matematika seharusnya tahu http://www.satriopiningitasli.com/2012/12/kelemahan-mendasar-perekonomian-kita.html?m=1

Saya rasa penilaian saya ini cukup obyektif, tidak bekerja maksimal untuk rakyat dan publik. Mengubah paradigma neolib bisa membuatnya lebih maksimal.

Artikel Terkait

http://www.satriopiningitasli.com/2012/12/kelemahan-mendasar-perekonomian-kita.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2012/03/tidak-tepat-waktu.html?m=1

Selasa, 16 April 2013

Antara Kebenaran Akuntansi dan Kesadaran

Banyak orang memandang kapitalisme sebagai fenomena sosiologi. Hal itu kadang tidak bisa disalahkan karena pengaruh  dari karya Webber. Namun sejak awal saya mengkritik kapitalisme dan menawarkan jalan ketiga, saya memandang kapitalisme sebagai fenomena akuntansi. Kapitalisme dalam artian akumulasi modal dan aset sudah ada sejak lama sebelum orang mengenal etika protestan.

Oleh karena itu adalah bijaksana bila kita memandang kapitalisme sebagai fenomena akuntansi. Teori ekonomi makro biososioekonomi yang saya rumuskan telah memberi penjelasan panjang lebar. Rumusan dasarnya:"kelahiran adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian" jelas menunjukkan bahwa biososioekonomi tunduk pada kaidah akuntansi.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa laba berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Atau dengan kata lain kalau laba yang diambil individu adalah 100 maka yang harus dikembalikan kepada publik adalah juga harus 100 bukan 50 apalagi 10 atau 3. Karena perusahaan atau institusi bisnis tidak bisa melakukan hal itu maka tanggung jawab mengembalikan laba itu sebagian besar harus dibebankan kepada orang bukan perusahaan. Orang bisa bersikap homo socius. Bagaimana aset privat yang dihibahkan kepada publik itu dikelola dan didistribusikan, sudah dijelaskan oleh teori ekonomi makro biososioekonomi.

Tanpa pengembalian laba kepada publik seperti itu maka akan terjadi krisis ekonomi moneter, kesenjangan kaya miskin, hutang publik yang besar setara atau melampaui PDB, bunga tabungan yang minus atau nol bila dikoreksi inflasi, kemiskinan, dan kelaparan. Itulah yang terjadi saat ini. Krisis keuangan AS 2008, krisis hutang zona Euro, adanya 10 negara yang hutangya setara atau melampaui PDB-nya, dan kenaikan Rasio Gini Indonesia menjadi 0,41.

Namun kebenaran akuntansi itu belum disadari banyak orang kaya. Warren Edward Buffett adalah sedikit orang kaya yang telah memiliki kesadaran untuk menghibahkan sebagian besar kekayaannya kepada orang lain (publik). Sementara itu setelah tumbangnya rezim orde lama di Indonesia, kita menghasilkan orang-orang kaya seperti tertulis dalam link berikut   http://mobile.kontan.co.id/news/aset-rahasia-9-keluarga-terkaya-indonesia atau versi Bahasa Inggrisnya ada di link berikut  http://www.icij.org/offshore/billionaires-among-thousands-indonesians-found-secret-offshore-documents Itulah salah satu berita aktual yang baru saja terekspos akhir-akhir ini.

Mereka berbeda dibanding Warren Buffett dan Bill Gates. Alih-alih menghibahkan kekayaannya kepada publik, mereka malah menyembunyikan aset mereka di negara-negara bebas pajak. Sementara tax ratio Indonesia TIDAK beranjak naik signifikan dari sekitar 12%.

Tulisan saya kali ini tetap mengingatkan bahwa kalau laba yang diambil individu 100 maka yang harus dikembalikan juga 100. Itu berlaku untuk bisnis legal. Kalau yang legal saja harus seperti itu apalagi terhadap harta hasil korupsi.Kalau suatu aset terbukti berasal dari hasil korupsi terhadap keuangan negara maka seharusnya disita negara.

Dari kebenaran akuntansi menjadi kesadaran memang memerlukan waktu. Tetapi standar itu (100%) tidak boleh dikurangi. Harus selalu sering diingatkan dalam berbagai tulisan, kotbah, pidato dan tindakan nyata. Pemerintah perlu meningkatkan tax ratio secara nyata yang saat ini masih rendah sekitar 12%, dalam hal ini tidak harus mencapai 100% tapi  harus meningkat di atas 17%. Tentu yang dimaksud adalah peningkatan pajak yang pro demokrasi ekonomi bukan pajak yang menekan wong cilik atau kelas menengah. Civil society harus selalu mengingatkan secara damai melalui tulisan, kotbah, penyadaran atau tekanan masyarakat konsumen.

Tereksposnya perilaku orang kaya Indonesia di atas juga mengingatkan kepada kita agar kita tidak kembali ke budaya rezim Orde Baru yang menghasilkan orang-orang kaya seperti itu. Buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia terbit Oktober 2004 di jaman reformasi  http://www.satriopiningitasli.com/2011/12/krisis-global-baca-dulu-baru-kritik.html.  Saya tidak yakin
buku seperti itu bisa terbit di jaman Orde Baru karena buku saya itu berisi teori biososioekonomi yang menentang pewarisan kekayaan berlimpah. Jangan mundur ke belakang.

Kita harus maju ke depan menghasilkan orang kaya seperti Warren Buffett. Benar bahwa tidak menunggu kaya untuk berbagi harta namun juga SANGAT salah kalau kita tidak pernah mengingatkan yang kaya untuk berbagi harta. Untuk itulah artikel ini ada. Artikel ini tidak ditujukan untuk menekan wong cilik atau kelas menengah agar berbagi harta. Biososioekonomi mulai dari yang paling kaya agar yang lebih miskin bebannya ringan. Namun kalau ada kelas menengah berbagi harta harus diapresiasi agar yang lebih kaya tergerak hatinya.

Demikian artikel saya hari ini. Kalau artikel dan blog ini bermanfaat mohon disebarluaskan supaya sampai kepada orang yang paling kaya. Semoga TUHAN memberkati Anda semua.

Artikel Terkait

http://www.satriopiningitasli.com/2013/03/begini-jadinya-kalau-akuntansi-tunduk.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2012/11/tunduk-pada-akuntansi-sebuah-refleksi.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2012/12/kelemahan-mendasar-perekonomian-kita.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2012/08/utang-besar-karena-income-kurang.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2012/02/semoga-semakin-banyak-orang-kaya.html

http://www.satriopiningitasli.com/2012/10/ekonomi-jalan-tengah-ala-warren-buffet_14.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2012/03/terget-kerja-pemerintah-yang-harus-kita.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2011/05/media-konvensioanal-juga-berperan.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2009/04/orde-baru-dan-kesejahteraan-umum.html?m=1

Minggu, 31 Maret 2013

Selamat Paskah 2013

Selamat Paskah. Semoga kebangkitan Kristus menyemangati kita dalam berkarya mewujudkan kesejahteraan umum dan demokrasi ekonomi. Semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa.

Selasa, 12 Maret 2013

Begini Jadinya Kalau Akuntansi Tunduk Pada Politik

Sekitar dua minggu yang lalu saya membaca berita tentang kemungkinan Amerika Serikat terjerembab pada resesi setelah Presiden Obama menandatangani pengurangan anggaran sebesar 85 milyar dollar AS sesuai penerimaan negara apa adanya.
http://internasional.kompas.com/read/2013/03/04/08165522/Ekonomi.AS.Pasti.Jatuh

Berikut ini saya kutipkan sebagian isi berita tersebut: "Untuk itu, Obama dan Demokrat menginginkan perhatian kepada warga tak mampu sekaligus kenaikan pajak. Adapun Republiken hanya mau menaikkan sedikit pajak dan tidak mau kenaikan pajak massal. Hampir semua Republiken anti-kenaikan pajak. Mereka juga menentang program jaminan sosial yang dicanangkan Obama.

Hal ini membuat Obama meneken pengurangan anggaran sebagaimana adanya, sesuai kemampuan penerimaan negara.

Mantan kandidat presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, mengatakan tidak melihat kesuksesan Obama terkait anggaran. Namun, kubu Demokrat menganggap bahwa semua itu akibat sikap Republiken yang selalu tak mau menaikkan pajak. Kenaikan pajak yang disepakati hanya terbatas walau menurut Demokrat dan Obama masih banyak celah pajak yang bisa dimanfaatkan."

Memang masih perlu waktu untuk melihat apakah ekonomi AS akan jatuh atau tidak karena pengurangan efektif baru mulai tanggal 27 Maret 2013. Namun hal yang perlu saya sampaikan di blog ini adalah bahwa kejadian di atas menunjukkan adanya suatu tindakan atau kebijakan obyektif sesuai kaidah akuntansi dimentahkan oleh keinginan subyektif yang mengatasnamakan demokrasi. Dalam komentar pendek di akun twitter saya, saya menulis "@kompascom Begini jadinya kalau akuntansi tunduk pada politik. Secara akuntansi kapitalisme agregat memang tidak bisa dipertanggungjawabkan. -- Hani Putranto (@haniputranto)"

Memang ekonomi AS bisa selamat dari resesi kalau masyarakat (civil society) AS memobilisasi dana filantrofi untuk membayari jaminan sosial (beasiswa, kesehatan dll). Dana filantrofi yang harus dimobilisasi tidak boleh kurang dari 85 miliar dolar AS, yaitu sebesar anggaran yang dipotong sesuai berita di atas. Akan tetapi suatu kebijakan obyektif yang sesuai kaidah akuntansi seharusnya tidak boleh ditundukkan oleh keinginan subyektif meskipun keinginan subyektif seperti ini mengatasnamakan demokrasi. Keinginan subyektif seharusnya tidak menggunakan fasilitas demokrasi. Kejadian serupa bisa juga terjadi di belahan dunia lain seperti Indonesia.

Di dalam buku saya "Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia" (http://www.satriopiningitasli.com/2011/12/krisis-global-baca-dulu-baru-kritik.html) saya menempatkan bab yang membahas bioekonomi (biososioekonomi) di bagian awal sebelum membahas teori tentang negara. Artinya saya menempatkan kebenaran obyektif_yang sesuai kaidah akuntansi_ di tempat tertinggi agar tidak terjadi kekeliruan. Oleh karena itu saya berpendapat kalau secara akuntansi/biososioekonomi, kekayaan daur ulang harus diredistribusikan ke seluruh dunia tanpa sekat negara maka teori politik (filsafat politik) harus mengikuti kebenaran obyektif tersebut. Inilah salah satu hal yang revolusioner dari buku saya.

Saya bukan anggota ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) akan tetapi saya melihat bahwa ilmu ekonomi ini seharusnya bisa menjadi ilmu yang tidak saja berwibawa tetapi juga bermanfaat bagi rakyat kebanyakan dan publik. Hal ini bisa terjadi kalau ilmu ekonomi itu back to basics yaitu akuntansi sebagaimana dilakukan oleh teori ekonomi makro biososioekonomi. Gambaran ekonomi makro sebagai pabrik raksasa seperti dipaparkan textbook ekonomi konvensional itu salah karena tidak sesuai kaidah akuntansi. Oleh karena itu dengan segala kemampuan saya, saya berjuang agar ilmu ekonomi ini selain bermanfaat bagi publik dan rakyat kebanyakan juga bisa menjadi ilmu yang berwibawa bukan dalam arti eksklusif atau sombong tetapi menjadi pedoman atau pelita yang obyektif bagi ilmu lain seperti ilmu politik dan pemerintahan. Semoga mereka yang mendalami ilmu ekonomi secara formal mengikuti jejak saya demi kebenaran dan demi hajat hidup orang banyak.

Artikel Terkait

http://www.satriopiningitasli.com/2012/11/tunduk-pada-akuntansi-sebuah-refleksi.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2011/08/yesus-dan-amerika-serikat.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2011/08/krisis-global-jangan-menyerah-pada.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2010/11/surat-terbuka-untuk-presiden-obama-dan.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2008/11/catatan-atas-fenomena-obama-pergantian_16.html

Selamat Hari Raya Nyepi 1935 Saka

Secara pribadi saya mengucapkan selamat menjalankan brata panyepian bagi yang menjalankannya.

Sabtu, 02 Maret 2013

Harga Emas Memang Bisa Turun

Saya mengamati bahwa di tengah masyarakat ada sebagian orang yang menganggap bahwa harga emas tidak mungkin turun sehingga mereka menganggap bahwa investasi emas adalah investasi yang paling aman. Namun keyakinan bahwa harga emas tidak mungkin turun adalah mitos.

Saat artikel ini ditulis harga harian emas batangan turun 0,70% dari Rp 570.200 per gram menjadi Rp 566.200 per gram (sumber: Harian Kontan 2/3/2013 hlm 7). Sementara itu dari sumber yang sama kita ketahui bahwa harga harga emas berjangka turun dari US $ 1.578,1 menjadi 1.569,2 per ons troi atau turun 0,56%.

Tahun ini harga emas sudah anjlok 4,8% (sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/02/26/12240928/Ini.Prediksi.Goldman.soal.Harga.Emas). Penurunan seperti itu biasanya sering memakan korban investor yang berkeyakinan buta bahwa harga emas selalu naik. Selain itu mungkin memang ada perusahaan investasi bodong yang memang merugikan nasabah dengan iming-iming hasil investasi yang tidak masuk akal.

Memang beberapa kasus baru-baru ini bisa kita simak melalui pemberitaan media massa di internet seperti link berikut ini http://mobile.kontan.co.id/news/gtis-menyeret-nama-politikus/2013/03/01 atau http://mobile.kontan.co.id/news/nasabah-golden-traders-syariah-resah/2013/02/28 atau http://mobile.kontan.co.id/news/nasabah-gtis-saling-curhat-di-dunia-maya/2013/02/28. Kasus perusahaan investasi bodong bukan hal baru, link berikut ini memberi informasi yang cukup http://mobile.kontan.co.id/news/inilah-investasi-bodong-yang-sudah-memakan-korban/2013/03/01

Di blog ini tanggal 10 Februari 2009 saya pernah menulis artikel bahwa harga emas bisa turun http://www.satriopiningitasli.com/2009/02/apakah-harga-emas-tidak-bisa-jatuh.html?m=1

Kita memang harus cerdas dan berhati-hati dalam berinvestasi. Semua instrumen investasi bisa mengalami kenaikan ataupun penurunan harga termasuk emas dan properti. Kita perlu memikirkan jangka waktu investasi beserta sumber dananya, jangan sampai investasi jangka panjang didanai menggunakan dana jangka pendek. Selain itu tentu perlu menyiapkan exit strategy bila prediksi mleset. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Jumat, 08 Februari 2013

Dan Brown, Kemiskinan, dan Kolonialisme

Di awal tahun 2013 ini saya
telah memposting artikel berjudul "Pasca 2012 Pasca Kolonial" Harapan saya adalah agar kita meninggalkan paradigma dan sikap kolonialistis. Selain itu juga saya berharap agar TUHAN ikut campur tangan membebaskan kita dari kolonialisme. Dalam rangka itulah artikel saya hari ini saya posting.

Beberapa hari yang lalu saya menemukan artikel saya yang pernah diterbitkan oleh tabloid rohani populer Sabda no 80/Th IX Januari 2006. Seingat saya judul tulisan itu dalam naskah saya adalah "Kerajaan Allah dan Kemiskinan" tetapi oleh redaksi diubah menjadi "Irene, Lasiman, Dan Brown Versus Pengalaman Pribadi Saya" Mungkin pertimbangan redaksi adalah untuk menarik perhatian pembaca yang waktu itu banyak menanggapi tulisan atau ceramah ketiga orang tersebut. Dalam tulisan itu saya mengajak pembaca untuk lebih peduli pada pengentasan kemiskinan dengan menentang benih-benih "triple six" dalam diri masing-masing. Lebih peduli pada Kerajaan Allah dan pengentasan kemiskinan (demokrasi ekonomi) dari pada reaktif terhadap tulisan atau omongan orang lain_yang tidak seiman_ karena TUHAN sebagaimana saya kenal dari Alkitab dan pengalaman rohani saya juga peduli kepada mereka yang lapar, miskin, dan tertindas.

Kemiskinan menjadi masalah yang menuntut perhatian dan tindakan kita semua. Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita di harian Kompas (2/2/2013, hlm 8) yang berjudul Pembangunan Global, Kemiskinan Ekstrem Melanda 1,5 Miliar Penduduk Bumi. Itu berita tentang kemiskinan dan MDGs. Menurut berita itu sebanyak 1,5 miliar penduduk bumi atau 1 dari 5 penduduk bumi berada di bawah kemiskinan ekstrem yang standar hidupnya satu dollar AS. Sekitar 170 juta anak balita menderita kekurangan gizi, 100 juta anak tidak menikmati pendidikan dasar. Banyak yang mati muda, angka kematian anak balita mencapai 26.000 per hari dan kematian ibu melahirkan 500.000 per tahun. Tidak kurang dari 824 juta orang mengalami kelangkaan pangan dan 500 juta orang terancam kelaparan dan kekurangan gizi.

Menurut pengamatan saya MDGs atau Tujuan Pembangunan Milenium berjalan berdasarkan paradigma ekonomi konvensional (neoklasik dan keynesian) yang kurang bisa diandalkan untuk mengentaskan kemiskinan.Ilmu Ekonomi seharusnya mengikuti matematika sederhana yaitu bila laba yang diambil individu adalah 100 maka yang dikembalikan kepada publik seharusnya juga 100 bukan 50 atau 10 apalagi 2,5 atau 1. Segala macam teori ekonomi atau teori pembangunan yang tidak tunduk pada akuntansi dan matematika sederhana itu dipastikan akan gagal mengentaskan kemiskinan. Teori ekonomi makro biososioekonomi yang notabene tunduk pada matematika sederhana di atas telah menjelaskan panjang lebar bagaimana aset pribadi harus diredistribusikan ke seluruh dunia tanpa sekat-sekat negara dan tanpa sekat primordial.

Namun pengalaman saya memperjuangkan biososioekonomi menunjukkan adanya hambatan dari kelompok kepentingan (triple six) dan kolonialisme atau kombinasi keduanya. Tabloid Sabda termasuk yang berani menerbitkan tulisan saya apa adanya. Selain itu hanya PUSTEP UGM yang memposting makalah saya di situs resminya. Setahu saya berita seminar itu pun hanya diekspose oleh harian Suara Merdeka Semarang. Lebih banyak media konvensional yang tidak menaruh perhatian pada teori ekonomi makro biososioekonomi dan perumusnya. Itulah kolonialisme dalam wujud sehari-harinya yang menenggelamkan teori ekonomi yang pro rakyat, pro keadilan, dan pro publik.

Kolonialisme sering menganggap hal-hal yang dari luar adalah baik dan pada saat yang sama menafikan kearifan lokal atau kebenaran yang ditemukan penduduk lokal. Saya mengamati bahwa tidak jarang kolonialisme mulai dari teks atau textbook dan mengabaikan kejadian, penemuan, atau suatu pengalaman dan kisah nyata yang belum banyak dikenal orang karena tidak diekspose media konvensional. Kalau mau lepas dari pandangan kolonialistis haruslah sejenak meninggalkan teks dan textbook kemudian mengamati berbagai peristiwa seperti krisis ekonomi, krisis utang, kelaparan, gempa bumi, tsunami, atau pun pengalaman seseorang dalam merumuskan dan memperjuangkan biososioekonomi (dan demokrasi ekonomi).

Dalam tulisan saya yang diterbitkan tabloid Sabda di atas, saya mulai dari pengalaman rohani atau pengalaman pribadi saya. Sebaliknya Dan Brown mulai dari teks khususnya teks Injil apokrif (tersembunyi) atau bahkan Injil palsu. Dengan mulai dari teks sadar atau tidak sadar Dan Brown cenderung kolonialistis.

Dengan mencari sensasi atau memojokkan iman Kristiani, Dan Brown sebenarnya sedang menenggelamkan keadilan distributif dan kebenaran. Betapa tidak, kalau ekonomi sesuai akuntansi atau matematika sederhana di atas dan telah dijelaskan panjang lebar oleh teori ekonomi makro biososioekonomi maka segala tindakan yang menghalanginya akan berarti menghalangi keadilan distributif itu sendiri. Dan Yesus Kristus, sebagaimana saya kenal dari Injil (kanonik), menyampaikan ajaran sosial yang sesuai akuntansi dan matematika sederhana di atas (bdk Luk 12:33 atau Mat 19:21). Yesus Kristus menentang pewarisan kekayaan berlimpah. Dia pro rakyat dan pro keadilan. Dia lahir ketika bangsa Yahudi berada dalam penjajahan Romawi, ikut merasakan derita rakyat akibat kolonialisme. Memang saat ini umat Kristiani tidak sepenuhnya mengikuti ajaran sosial Yesus Kristus di atas akan tetapi hal itu bisa dikoreksi tanpa perlu agama baru tanpa perlu mesias baru. Kesediaan tabloid Sabda
memuat tulisan saya berarti bahwa kekeliruan itu bisa dikoreksi. Apalagi dengan dirumuskannya teori ekonomi makro. Kesalahan itu bisa dikoreksi.

Kita akan mengalami kesulitan dalam mengentaskan kemiskinan kalau sikap dan paradigma kolonialistis masih merajalela di sekitar kita. Tidak sedikit orang yang sebenarnya baik dan saleh tapi kolonialistis hanya karena tidak tahu bahwa sikapnya itu kolonialistis. Untuk itulah artikel ini memberi tahu. Menenggelamkan biososioekonomi, ajaran sosial Yesus Kristus, atau menenggelamkan iman orang akan Yesus Kristus berarti bersikap kolonialistis seperti Dan Brown atau yang lain.

Untuk tidak kolonialistis kita harus tidak mulai dari teks dan textbook, tapi mulailah dengan mengamati berbagai kejadian dan pengalaman rohani yang telah saya share di blog ini di bawah label pengalaman spiritual, pengalaman, atau label spiritual. Saya telah menemukan teori ekonomi makro biososioekonomi, menemukan bahwa JHWH dan JAWA adalah tetragramaton yang sama, menentang triple six, lahir sebagai hasil perkawinan antara K Progo dan K Opak, membaca nama saya R Hani Japar tersandi dalam mimpi orang lain. Saya mengalami tertindas dan dibebaskan. Perhatikan pula bahwa saya lahir di awal musim semi (22Maret) di Merbau Mataram (nama yang mengkombinasikan nama pohon dan nama kerajaan) bandingkan dengan teks Injil kanonik (Luk 21:29-33). Itulah tanda segera akan tegaknya "Kindgom of JHWH/JAWA" atau "Kingdom of Heaven"

Jangan lagi bersikap
kolonialistis. Karena kolonialisme akan mendapat hukuman langsung dari TUHAN entah di bumi ini atau di neraka nanti.

Kolonialisme dan triple six menghambat terwujudnya kesejahteraan rakyat. Semoga dimengerti.


Artikel Terkait

http://www.satriopiningitasli.com/2013/01/pasca-2012-pasca-kolonial.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2010/09/membongkar-penindasan-2.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2010/08/tuhan-memenuhi-harapan-juru-kunci-itu.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2010/08/pemerintahan-tuhan.html

http://www.satriopiningitasli.com/2010/06/demokrasi-ekonomi-biososioekonomi-lebih.html

http://www.satriopiningitasli.com/2010/04/tanda-tanda-itu-begitu-nyatameningkat.html?m=1

http://www.satriopiningitasli.com/2010/03/perlu-pendekatan-mikro-sekaligus-makro.html