Jumat, 31 Juli 2009

Individu, Institusi Bisnis, dan Lapindo

Salah satu kelemahan teori ekonomi makro keynesian adalah tidak membedakan antara individu dan institusi bisnis. Padahal keduanya berbeda dan harus dibedakan. Memukul rata keduanya akan membawa banyak kesulitan dalam mengelola ekonomi publik (negara dan masyarakat).

Dalam kampanye pilpres seorang capres ada yang menampilkan sikap pro rakyat di depan rakyat tetapi begitu berhadapan dengan pengusaha bersikap lain. Padahal kalau seseorang memahami biososioekonomi seharusnya bisa bersikap lebih tepat. Ia seharusnya tetap pro rakyat ketika tampil di depan rakyat dan bersikap tegas di depan pengusaha sebagai individu tanpa meninggalkan sikap ramah terhadap institusi perusahaan. Pengusaha sebenarnya perlu ditegur karena sebagai manusia yang adalah juga homo socius harus lebih dermawan dari pada institusi bisnis.

Biososioekonomi jelas membedakan antara individu dengan institusi bisnis. Postingan yang sederhana ini mencoba memberi contoh kasus perbedaan antara individu dengan institusi bisnis. Ketika Bank Suma bangkrut, William Soeryadjaya menjual sahamnya di Astra untuk ikut menanggung kebangkrutan Bank Suma. Tetapi bukan berarti Astra sebagai perusahaan terseret kebangkrutan Bank Suma. Sebagai perusahaan Astra tetap sehat. Konsekwensinya hanya satu yaitu William Soeryadjaya tidak lagi menjadi orang terkaya kedua di Indonesia. Dalam pergaulan sosial (di luar pergaulan bisnis), merosotnya peringkat seseorang dalam deretan orang kaya seharusnya bisa diterima. Manusia bukan hanya homo economicus saja. Masyarakat seharusnya menerimanya dengan baik.

Bandingkan dengan kasus Lapindo, apakah pemilik perusahaan itu mau menjual sahamnya untuk menutup kerugian rakyat? Padahal harga sahamnya pernah melambung tinggi. Pemerintahan yang berisi orang-orang yang tidak bisa membedakan perbedaan antara individu dengan institusi bisnis akan cenderung menyengsarakan rakyat. Hal itu sudah terbukti, sudah teruji.

Senin, 27 Juli 2009

Mimpi Firaun dan Tafsir Ramalan Satrio Piningit

Di dalam suatu mimpi disebutkan tujuh ekor lembu kurus memakan tujuh ekor lembu gemuk. Itulah mimpi yang dialami oleh Firaun sebagaimana dikisahkan dalam Alkitab. Mimpi itu membuat Raja Mesir itu resah dan gelisah. Ia ingin mengetahui makna mimpi itu dan memanggil orang-orang yang menurut perkiraannya bisa menafsirkan mimpi itu.Tetapi tak satupun yang dapat mengartikan mimpi itu kepadanya.

Sampai akhirnya berdasarkan anjuran kepala juru minuman dipanggilnyalah seorang tahanan keturunan Ibrani yang dikenal sebagai Yusuf (anak Yakub). Berkat bantuan Tuhan dan terang iman, Yusuf bisa mengartikan mimpi itu, bahwa akan terjadi kelimpahan selama tujuh tahun yang kemudian diikuti masa kelaparan karena paceklik selama tujuh tahun pula. Kemudian ia menasihati Firaun: "Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu." (Kej 41:33-36). Supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan, demikian perlu saya tegaskan sebagai sesuatu yang perlu diingat bahwa meskipun bangsa Mesir tidak mengenal atau mempercayai Tuhan (monoteis) Yang Maha Kuasa tetapi direncanakan oleh Tuhan untuk terhindar dari bahaya kelaparan. Dan meskipun Yusuf adalah orang asing, Firaun mempercayainya sehingga bangsa Mesir terhindar dari kebinasaan akibat kelaparan.

Ada suatu rumusan yang mirip dan sebangun. Mimpi Firaun mengenai tujuh ekor lembu kurus dan tujuh ekor lembu gemuk itu mirip dan sebangun dengan rumusan dasar teori biososioekonomi: "kelahiran adalah hutang yang harus di bayar dengan kematian" yang salah satunya kemudian menghasilkan neraca herucakra society (hcs) yang menggambarkan aset dan liabilitas masyarakat sebagaimana telah saya tampilkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia (hlm96), dan juga dalam makalah saya di situs Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM.

Neraca yang saya rumuskan itu adalah suatu keseimbangan yang harus dicapai untuk terwujudnya masyarakat yang adil sejahtera berkesinambungan yang selaras dengan alam. Kalau jumlah kelahiran lebih besar dari kematian maka alam akan terganggu keseimbangannya dan akan mengalami peningkatan beban. Kalau neraca hcs mencatat nilai bersih minus maka akan banyak persoalan pada perekonomian masyarakat seperti instabilitas (gejolak pasar) dan rendahnya daya beli rakyat. Biososioekonomi menawarkan metode berpikir dan analisis untuk memahami persoalan makro ekonomi lebih jelas dalam relevansinya dengan kesejahteraan publik (rakyat). Teori lama tidak relevan dengan persoalan rakyat karena yang dipakai sebagai ukuran atau besaran yang harus dicapai adalah pertumbuhan PDB. Kelemahan konsep PDB dan pertumbuhan PDB sudah saya bahas di blog ini.

Hukum akuntansi dan keseimbangan merupakan suatu hal yang mendasar dan harus diperhatikan dalam mengelola makro ekonomi. Biososioekonomi membuat persoalan makro itu menjadi sederhana tetapi jelas dan tidak ambigu. Di dunia ini ada keseimbangan ada untung ada rugi, ada gemuk ada kurus sebagaimana terlihat dalam kisah Yusuf dan Firaun. Seseorang yang diserahi mengelola makro ekonomi harus mengetahui letak keseimbangannya. Kalau banyak orang berhutang, kalau defisit anggaran negara membengkak di mana letak keseimbangannya? Ketidakseimbangan, sebagaimana dijelaskan oleh teori biososioekonomi, terjadi karena pemasukan bagi publik kurang. Pajak kurang, derma juga terlalu kecil, sementara daur ulang kekayaan individu sebagaimana diharapkan teori biososioekonomi hampir nihil.

Bukankah persoalannya sangat jelas? Bagaimana solusi agar terhindar dari bencana ekonomi itu juga jelas? Solusi untuk keluar dari krisis juga jelas. Kalau memang teori biososioekonomi salah tunjukkanlah letak salahnya.

Banyak orang menafsirkan dan mengartikan ramalan mengenai satrio piningit tidak seperti yang saya jelaskan. Kalau krisis dan kesengsaraan rakyat berlanjut tentu bukan salah saya. Bagi saya solusinya sudah jelas.
Satrio piningit sekedar pemberi peringatan, bukan eksekutor. Saya tetap meyakini bahwa Tuhan memiliki kuasa menjatuhkan tulah ke bumi sebagaimana Dia lakukan terhadap bangsa Mesir dahulu.

Menurut hemat saya, bangsa Mesir dihukum Tuhan bukan karena tidak mengenal Tuhan (monoteis) tetapi karena durhaka dan menindas. Durhaka atas kebaikan-Nya yang telah meloloskan bangsa itu dari bencana kelaparan. Menindas bangsa Yahudi yang pernah dipakai Tuhan untuk meloloskan bangsa itu dari bencana kelaparan. Orang yang benar-benar mengenal Tuhan seharusnya tidak bertindak durhaka, tidak menindas dan tidak melakukan kekerasan. Kepada para penindas tulah dan hukuman telah disediakan. Hanya saja hari h yang dahsyat itu memang datang seperti pencuri, tak terduga dan tidak bisa diprediksi.

Rabu, 22 Juli 2009

Dialog Antar Kebenaran

Debat Capres dalam kampanye pilpres beberapa waktu lalu tidak memberikan pencerahan bagi publik mengenai neoliberalisme dan bahayanya bagi kehidupan rakyat. Hal ini karena selain waktunya terbatas juga karena para kandidat lebih fokus bagaimana memenangkan pilpres.

Selain kritik (debat) terhadap neoliberalisme, perlu juga suatu dialog. Siapapun presidennya kritik dan dialog perlu dilanjutkan di ruang publik maupun ruang akademik. Postingan saya kali ini menampilkan tulisan saya yang berjudul:"Dialog Antar Kebenaran" yang merupakan salah satu tulisan saya dalam kumpulan tulisan "Wahyu untuk Rakyat" edisi baru. Kumpulan tulisan saya itu sampai hari ini masih berujud naskah, akan tetapi beberapa orang memang sengaja saya kirimi. Siapa saja pihak-pihak yang saya kirimi bisa dilihat dalam postingan yang berjudul:"Wahyu Keprabon" di blog ini.

"Dialog Antar Kebenaran" ini saya tulis tanggal 7 Februari 2007saat saya belum mengenal media alternatif seperti blog atau facebook. Berikut ini kutipan selengkapnya.

Dialog adalah suatu komunikasi dua arah di mana masing-masing pihak mengemukakan kebenaran atau perasaan kepada pihak lain dan juga mendengar dan menyimak kebenaran atau perasaan yang dikemukakan pihak lain. Dialog tidak sama dengan berdebat. Di dalam dialog tidak perlu terjadi kesepakatan untuk menemukan kebenaran yang paling benar.

Beberapa tahun yang lalu, akhir 2002 dan awal 2003, diadakan pertemuan tokoh-tokoh masyarakat dalam dan luar negeri juga para intelektual dunia untuk berdiskusi dan berdialog guna mencegah kemungkinan benturan antar peradaban. Dua pertemuan terpisah yang digagas oleh dua lembaga yaitu Center for World Conscience yang didirikan oleh Christianto Wibisono dan The Habibie Centre itu berusaha menjawab kekhawatiran waktu itu yang dibayang-bayangi perang Irak.

Selama ini dialog yang populer memang dialog antar agama atau antar iman. Atau paling tidak antar peradaban Barat dengan Islam yang hampir sama dengan dialog antar agama. Suatu dialog antar kebenaran masih belum populer. Padahal untuk mewujudkan suatu dunia yang nyaman dan damai perlu juga mengadakan dialog antar kebenaran, agar masing-masing pihak mengerti kebenaran dari perspektif pihak lain.

Tulisan ini memaparkan beberapa contoh dialog antar kebenaran itu. Meskipun tulisan ini sangat sederhana, semoga bisa menggugah semua pihak untuk mau mendengar dan menyimak kebenaran dari perspektif yang berbeda.

Dialog Antara Agama dengan Ilmu Pengetahuan

Suatu dialog yang baik menuntut kerendah hatian kedua belah pihak. Hal itu tidak terlalu sulit apabila menyangkut dua cabang ilmu pengetahuan. Sebagai bagian dari masyarakat terbuka, ilmuwan atau ilmu pengetahuan, dituntut dan bahkan sudah terbiasa untuk rendah hati dan terbuka terhadap koreksi.

Mamun hal itu agak sulit bila menyangkut agama. Suatu agama bisa saja mengklaim lebih superior terhadap ilmu pengetahuan. Untuk suatu kepentingan yang lebih luas ada baiknya jika agama mau mendengarkan kebenaran dari perspektif yang lain. Terlebih-lebih kalau kepentingan yang luas itu menyangkut kesejahteraan semua orang dan perdamian.

Sebagai contoh adalah kegiatan filantropi. Adalah sangat menarik bahwa media yang menyebarluaskan kegiatan filantropi sebagai suatu "Sajian Utama" justru media bisnis seperti Swasembada bukan media umum yang mengklaim sebagai humanis atau memihak hati nurani rakyat. "Awalnya, hampir semua pengusaha dan eksekutif yang dihubungi SWA menolak menceritakan pengalaman filantropi mereka." Beberapa di antara mereka menyebutkan bahwa agamalah yang melarang itu (Swasembada No 07/XXII 6-19 April2006 hlm 29). Namun majalah itu bersikeras untuk menjadikan topik filntropi sebagai "Sajian Utama" dengan alasan untuk menyebarluaskan dan menyemaikan semangat kedermawanan sosial.

Agama (manapun) sering lebih fokus pada penyumbang, dalam arti orang yang menyumbang harus tetap berkenan di hadapan Tuhan. Sementara bagi ilmu pengetahuan (dan majalah itu) fokus pada yang disumbang, agar mereka yang lapar dan miskin terselamatkan. Kalau dengan publikasi gencar itu bisa meningkatkan kedermawanan sehingga mereka yang lapar dan miskin terselamatkan mengapa tidak disebarluaskan?

Sebenarnya kalau keduanya mau berdialog, tidak perlu saling menghambat. Agama bisa menyerahkan itu kepada masing-masing individu apakah motivasi menyumbangnya masih berkenan di hadapan Tuhan atau tidak, tanpa harus menghambat pihak lain untuk melakukan publikasi besar-besaran guna menyelamatkan yang disumbang.

Contoh lain mengenai poligami. Beberapa agama memang tidak melarang poligami. Namun menurut ilmu pengetahuan perbandingan antara penduduk laki-laki dengan perempuan itu 50 banding 50 atau satu banding satu Di dalam komunitas terbatas setelah perang mungkin perbandingan itu bergeser cukup jauh misalnya 40 banding 60. Tetapi ini kasus khusus di lokasi terbatas. Dalam kondisi normal bila separuh laki-laki melakukan poligami dengan dua isteri saja maka separuh laki-laki lain tidak memiliki isteri. Bukankah hal seperti ini bisa menimbulkan kerawanan dan kemungkinan konflik horisontal? Memang diperlukan sikap rendah hati untuk terbuka terhadap kebenaran dari perspektif hukum alam ini.

Dialog Antara Agama dengan Kearifan Lokal

Suatu masyarakat yang tinggal di suatu wilayah selama puluhan atau ratusan tahun tentu telah berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya, apakah lingkungan itu hutan tropis, padang pasir, pulau-pulau kecil atau salju abadi. Kearifan lokal biasanya diperoleh dari interaksi dengan lingkungan tempat tinggalnya selama puluhan atau ratusan tahun.

Agama (misioner) yang datang ke suatu wilayah membawa suatu kebenaran yang mungkin sejalan atau tidak sejalan dengan kearifan lokal. Ketika agama mengklaim kebenaran yang di bawanya sebagai kebenaran mutlak dan mengabaikan sama sekali kearifan lokal maka sering timbul ketegangan apalagi kalau kebenaran agama dipaksakakn melalui kekerasan.

Yudaisme, menurut hemat penulis, adalah kearifan lokal yang sangat cemerlang yang memperoleh terang iman Namun kecemerlangan itu pula yang mungkin menutupnya untuk menjadi agama misioner. Kearifan Yudaisme untuk bangsa Yahudi sendiri. Ketika Yudaisme belum mengalami transformasi menjadi Kristianitas, kearifan lokal Yahudi itu bisa berdialog dengan (kearifan lokal) masyarakat lain dengan damai. Kisah Yusuf anak Yakub merupakan contoh dialog dan kerja sama antara kearifan Yahudi yang sangat cemerlang dengan masyarakat lain yakni Mesir. Dari kerjasama itu bangsa Mesir bisa bebas dari bahaya kelaparan. Tanpa mengubah iman bangsa Mesir, Yusuf telah menampilkan citra Allah yang peduli kepada mereka yang terancam kelaparan, meskipun mereka tidak mengenal-Nya. Dengan terang iman, Yusuf menafsirkan mimpi Firaun dan mengusulkan cara-cara mencegah bahaya kelaparan. Dialog dan kerja sama seperti inilah yang seharusnya dijadikan pedoman atau model bagi agama misioner seperti Islam dan Kristen untuk berdialog dengan kearifan lokal.

Seperti halnya ilmu pengetahuan atau teori yang bisa salah, kearifan lokal pun bisa tercemar oleh takhayul, adat istiadat yang tidak sehat, atau berbagai kekeliruan lain. Dalam perjalanan waktu, kearifan lokal Yahudi yang cemerlang itu pun memerlukan koreksi.

Ada baiknya agama juga terbuka terhadap kearifan lokal yang memperoleh terang iman yang menawarkan solusi atas berbagai krisis dan ketidakadilan sosial. Agama yang menutup diri terhadap hal tersebut di atas boleh jadi sedang menutup diri terhadap kebenaran atau paling tidak sedang menampilkan wajah agama yang kolonialistis.

Dialog Antar Paradigma

Di dalam dunia ilmu pengetahuan pun perlu juga adanya dialog antar cabang ilmu pengetahuan, mazhab, maupun antar paradigma. Dialog itu seharusnya membawa pencerahan dan masa depan yang lebih baik, lebih adil, lebih sejahtera dan lebih damai. Suatu teori tidak bisa mengklaim sebagai kebenaran mutlak yang tidak memerlukan koreksi, meskipun teori itu selama berpuluh-puluh tahun dipakai sebagai pedoman kerja.

Kasus keterpurukan sektor riil di Indonesia bisa dipandang dari berbagai paradigma dimana masing-masing paradigma memiliki pendukung atau pengusul yang berbeda yang seharusnya bisa saling berdialog. Khusus dalam dialog antar paradigma ini bisa dicari kebenaran yang paling mendekati kebenaran. Keterbukaan semua pihak untuk mau mendengarkan dan menyimak pihak lain sangat diperlukan.

Media massa seharusnya tidak nyerocos dengan opininya sendiri, tetapi juga mau menyalurkan opini yang ada di masyarakat guna membuka pintu dialog antar paradigma. Kebebasan pers jangan hanya dipahami sebagai kebebasan media massa menyampaikan opininya sendiri dan menutup saluran bagi opini anggota masyarakat. Dialog antar paradigma sebagai bagian dari dialog antar kebenaran merupakan salah satu upaya untuk mengatasi krisis multidimensi di negeri ini.

Di masa mendatang seharusnya dialog tidak hanya terjadi antara agama yang satu dengan agama lain tetapi dengan berbagai kebenaran seperti yang dijelaskan di atas. Dialog antar agama saja tidak cukup untuk menunjang masyarakat yang damai dan sejahtera.

Jakarta, 7 Februari 2007

Demikian opini saya yang saya tulis waktu itu. Para pendukung neolib, sepanjang yang saya amati, belum mau menyimak paparan pihak lain. Atau mungkin karena suatu kepentingan, masih ngotot dengan paradigmanya sendiri. Paradigma neolib tidak salah total memang, dalam tataran mikro atau privat sepanjang tidak merugikan institusi publik seperti bank sentral atau negara (manapun), paradigma ini benar. Tetapi dalam tataran makro atau publik paradigma neolib itu SALAH. Dalam tataran mikro apa yang oleh individu dikategorikan aset pada tataran makro dikategorikan sebaliknya, liabilatas.

Media massa pun belum menjadi jembatan dialog. Bahwa mereka yang memperjuangkan atau menyuarakan ekonomi kerakyatan masih ditindas oleh media massa tidak hanya terjadi pada saya, tetapi juga rekan-rekan pejuang ekonomi kerakyatan yang saya temui. Rakyat akhirnya berharap pada kuasa dan belas kasih Tuhan. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.

Sabtu, 18 Juli 2009

Turut Berbelasungkawa dan Prihatin

Turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas terjadinya ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta Selatan kemarin 17/07/2009. Semoga korban yang meninggal beristirahat dalam damai Tuhan, yang sakit dan terluka segera dipulihkan dan disembuhkan, keluarga korban dikuatkan dan dihibur. Semoga aktor dibalik tindakan biadab ini bertobat. Saya berharap agar pemerintah segera mengungkap pelaku dan aktor dibalik semua ini kemudian menangkap dan mengadilinya. Siapapun pelakunya dan apapun motivasinya, tindak kekerasan yang biadab ini tidak bisa dibenarkan.

Satu hal lain yang perlu saya sampaikan adalah: "Selain Tuhan, hanya orang yang sudah hidup di surga bersama Tuhan yang boleh membunuh. Selama kita masih hidup di dunia, bersikaplah rendah hati untuk tidak membunuh. Membunuh bukanlah jalan menuju surga"

Demikian perlu saya sampaikan semoga dimengerti.