Kamis, 30 Juni 2011

Tetap Waspada dan Berjaga-jaga

Dalam menghadapi jaman edan kita harus tetap eling lan waspodo atau berjaga-jaga dan waspada.
Kita tidak tahu dengan pasti isi pikiran dan hati orang termasuk pejabat pemerintah apakah mereka bekerja untuk negara dan kepentingan dan kesejahteraan publik atau untuk kepentingan diri dan kelompok. Kita hanya menduga-duga seraya tetap waspada dan berjaga-jaga.

Benar tidaknya peringatan yang saya samapaikan dalam tulisan di blog ini khususnya yang berlabel spiritual silakan dinilai sendiri. Saya berharap menilainya dalam keheningan dan kejujuran agar kebenaran bisa Anda temukan.

Berikut ini saya lampirkan link terkait agar tulisan-tulisan saya terdahulu mudah ditemukan.

Tak Terhitung Lagi, Gempa-gempa "Istimewa"

Menanti Ratu Adil atau Menanti Pertobatan?

Berubah Pada Kapsitas dan Jabatannya Masing-masing

Mengerikan Kalau Harus Minta Bukti (Perihal Tsunami Solomon, Gempa California, dan Puting Beliung yang Merobohkan Ribuan Pohon Jati)

Refleksi Akhir Tahun: Yang Lama dan Yang Baru

Menjaga dan Berjaga-jaga Selama 5 Tahun Ke Depan

Ateisme Akan Kena Batunya?

Perspektif Spiritual Pilpres 2009

Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa: Terhindar Kutukan, Memasuki Jaman Keemasan

Sudah) Bekerja Tanpa Secuil Kekuasaan

Kamis, 23 Juni 2011

Moral, Keteladanan, dan Media

Kondisi bangsa yang karut-marut memang membuat kita semua prihatin. Mulai dari kasus gagalnya pemerintah melindungi WNI di Arab Saudi sampai kemerosotan moral penyelenggara negara dan sebagian anggota masyarakat yang mencuat ke permukaan sebagaimana dikemukakan oleh media massa. Kejujuran dan kerja keras dalam berproses tidak menjadi jalan yang harus ditempuh. Pragmatisme dengan mengutamakan hasil, citra, dan kenikmatan diri serta kelompok justru menjadi jalan yang sering dilalui. Dalam kondisi seperti ini kita semua harus sadar untuk memperbaiki diri, termasuk media massa juga perlu memperbaiki diri.

Mengapa media massa perlu memperbaiki diri? Suka atau tidak, media massa konvensional (cetak dan tv) masih besar pengaruhnya di masyarakat meskipun media semacam itu juga memiliki cacat bawaan yang sangat mengganggu. Media cetak (apapun merknya) adalah media yang sangat tidak interaktif dengan ruang terbatas yang mudah terjerumus kepada sikap otoriter, sementara tv sering menjadi corong kepentingan tertentu yang bukan kepentingan publik dan bukan menyangkut hajat hidup orang banyak. Kedua macam media itu sama-sama memiliki cacat bawaan dengan prinsipnya "bad news is good news" Dengan prinsip semacam itu orang yang sebelumnya adalah orang baik bisa ikut-ikutan menjadi tidak baik karena mengira semua orang atau kebanyakan orang telah menjadi tidak baik atau menggunakan jalan yang tidak baik. Padahal orang baik dan jujur juga masih ada tetapi karena tidak diberitakan maka publik tidak tahu.

Ada suatu kelompok atau komunitas yang dikelola atau dipimpin seorang manager, dimana manager itu bertanggung jawab untuk pencapaian hasil kerja keseluruhan dengan cara menjaga semangat kerja dan mengelola informasi yang beredar. Manager yang terampil dan baik dalam kelompok seperti itu tahu bahwa informasi bisa mempengaruhi kejiwaan kelompoknya dan ujung-ujungnya mempengaruhi semangat kerja orang-orang anggota kelompok itu. Kelompok atau team kerja semacam itu banyak dijumpai pada perusahaan yang menggunakan metode direct selling dalam bisnisnya. Pemasaran polis asuransi jiwa, property, ensiklopedi dan beberapa product lain biasanya menggunakan cara seperti itu dalam bisnisnya Tidak mudahnya menjual dengan cara direct selling menyebabkan perusahaan membuat suatu pelatihan bagi sales force-nya namun juga diperlukan manager atau leader yang baik untuk menunjang keberhasilan team maupun anggotanya. Salah satu "virus" yang mengancam kelangsungan prestasi team dan anggotanya adalah "virus kegagalan." Kalau ada anggota team gagal menjual kemudian banyak ngoceh mengenai kegagalannya, secaara kejiwaan, bisa mempengaruhi anggota team yang lain sehingga secara team bisa gagal mencapai target atau bahkan gagal total. Untuk mencegah kegagalan team, manager atau leader yang baik akan selalu menampilkan anggotanya yang berhasil membukukan penjualan. Anggota team yang berhasil, ditampilkan dalam rapat untuk men-share-kan pengalaman keberhasilannya dengan lika-likunya termasuk kiatnya. Dengan cara seperti itu anggota team yang lain bisa belajar dan memperbaiki diri. Sikap mau belajar dan memperbaiki diri dituntut bagi anggota team yang belum berhasil. Sementara dengan menampilkan keberhasilan anggota team, manager team menunjukkan kepada anggota lain, dalam situasi seperti ini toh ada yang sukses, kalau ada anggota yang belum berhasil tentu anggota itu harus memperbaiki diri jangan menyalahkan situasi atau orang lain. Dengan menampilkan keberhasilan anggotanya manager itu juga berarti menjaga semangat team dan mencegah "virus kegagalan" menjangkiti semua anggota teamnya.

Di dalam masyarakat umum pun ada semacam "virus kegagalan" yaitu "virus korupsi" atau "virus keburukan" yang lain yang menyebar melalui media massa. Dengan prinsip "bad news is good news," "virus" itu menyebar. Bintang mesum, koruptor, politisi kutu loncat, atau pelaku terorisme lebih terkenal dari pejuang kepentingan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak, ini akan mempengurhi mental anggota masyarakat dan mengira semua orang atau kebanyakan orang telah menjadi buruk. Bahkan mungkin ada orang yang justru menjadi buruk atau menggunakan cara-cara buruk seperti itu supaya terkenal. Di dalam komunitas direct sales "virus kegagalan" mudah dicegah penyebarannya karena ada manager yang baik dan terampil namun di dalam masyarakat umum tidak mudah mencegah penyebarannya karena pemberitaan media massa konvensional. Salah satu penyebab gagalnya reformasi adalah karena media massa konvensional tidak pernah mereformasi dirinya sendiri, pers menjadi bebas tetapi tak pernah merformasi diri dari prinsipnya "bad news is good news"

Kita prihatin dengan kurangnya keteladanan dan moral penyelenggara negara. Memang kita perlu diingatkan akan adanya realitas seperti itu, tetapi terlalu banyak menampilkan bad news seperti itu juga kurang baik. Moral dan keteladanan masih ada dalam masyarakat, hanya karena tidak ditampilkan oleh media konvensional seolah-olah tidak ada. Di dalam team direct sales, yang ditampilkan adalah yang berhasil membukukan transaksi. Anggota team yang gagal tidak ditampilkan apa pun back groundnya. Demikian juga seharusnya moral yang baik dan keteladanan bisa diambil dari anggota masyarakat untuk ditampilkan tanpa berhenti mengkritik dan menuntut penyelenggara negara memperbaiki diri.

Kalau media konvesional (cetak dan tv) tidak mereformasi diri, kita bisa mereformasinya melalui posisi dan kapasitas kita masing-masing. Media alternatif tidak selalu berprinsip "bad news is good news." Kita bisa menemukan keteladanan dan moral dari teman-teman kita di situs jejaring sosial, opini di blog, atau inspirasi dan informasi dari search engine (google, dll). Mungkin sedikit repot karena kita harus menyeleksi kredibilitas pemberi informasi, tetapi kerepotan itu perlu daripada kita menelan mentah media konvensional yang tidak reformatif. Paling tidak kita mendemokrasikan konsumsi media kita agar tidak dimonopoli media konvensional.

Marilah kita memperbaiki diri, marilah kita menjadi anggota masyarakat yang baik dan negarawan yang baik.

Selasa, 14 Juni 2011

Tak Terhitung Lagi, Gempa-gempa "Istimewa"

Mungkin karena banyaknya atau karena kesibukan lain, dalam beberapa bulan terakhir ini saya tidak bisa mengingat lagi dan tidak menghitung lagi gempa"istimewa" (gempa yang berdekatan dengan hari raya)yang terjadi. Namun karena saya memakai aplikasi gempadroid di handset saya, banyaknya gempa berskala 6 SR ke atas itu masih tercatat di handset saya dan dengan mudah bisa dihitung. Dalam 2 bulan terkahir tercatat ada 4 gempa "istimewa" yang terjadi. Satu gempa terjadi baru-baru ini adalah gempa berkekuatan 6,9 SR di 178km Tenggara Tahuna Sulut tanggal 13 Juni pukul 21:31 WIB satu hari setelah Hari Raya Pentakosta.

Berikut ini adalah keempat gempa "istimewa" selama dua bulan terakhir:
(1)Gempa Kendari, 25 April 2011, berksala 6,0 SR terjadi 1 hari setelah Minggu Palma
(2)Gempa Cilacap, 26 April 2011, berskala 6,3 SR
(3)Gempa Blitar, 17 Mei 2011, beskala 6,1 SR terjadi bertepatan dengan Waisak
(4)Gempa Tahuna Sulut, 13 Mei 2011, berskala 6,9 SR terjadi 1 hari setelah Pentakosta

Keempat gempa itu tidak termasuk gempa yang tidak tercatat di aplikasi gempadroid yaitu gempa yang terjadi di kota Christchurch Selandia Baru berskala 6 SR yang terjadi tanggal 13 Juni 2011. Juga tidak termasuk gempa-gempa yang terjadi lebih dari 2 hari sebelum hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus 2 Juni 2011. Pada tanggal 29 Mei 2011 tercatat 2 gempa yaitu gempa berskala 6,0 SR yang terjadi di 222 km Timur Laut Melonguane SULUT, dan gempa berskala 6,3 SR yang terjadi di 119 km Barat Daya Krui Lampung. Sementara tanggal 30 Mei sendiri tercatat sebuah gempa 6,3 SR di 409 km Barat Daya Bintuhan Bengkulu. Juga tidak termasuk gempa yang terjadi 29 April 2011 (5 Hari setelah Hari Raya Paskah)di 63 km Barat Daya Meulaboh NAD yang berskala 6,0 SR.

Mengenai gempa sendiri ada perikop di Kitab Injil.

Bagi saya pribadi peristiwa seperti ini adalah peringatan. Menurut pendapat saya pribadi Yesus Kristus menentang triple six demikian juga saya dan biososioekonomi menentang triple six, dan triple six itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan berlimpah dan ( atau ) kekuasaan berlimpah. Perlu saja diingat bahwa tidak sedikit orang-orang yang mau menenggalamkan biososioekonomi. Semoga orang-orang seperti itu segera bertobat.

Artikel Terkait:
Pemerintahan Tuhan vs Perusak Bumi
Kelahiran Adalah Hutang Yang Harus Dibayar dengan Kematian
Tiga Gempa Pasca Satu Suro
Tanda-tanda Itu Begitu Nyata....(Meningkat Hampir Dua Kali Lipat dalam Setahun)
Gempa Italia Gempa ke-7

Selasa, 07 Juni 2011

Sejauh Mana Memperbaiki Diri

Tahun 2011 sudah berjalan lima bulan. Kita memasuki pertengahan tahun 2011 dengan aneka suka dukanya. Di pertengahan tahun ini, tidak ada jeleknya kita mengevaluasi diri kita masing-masing sejauh mana kita memperbaiki diri sendiri.

Pada awal tahun 2011 melalui blog ini saya menyampaikan tulisan agar kita menyambut jaman baru dengan sama-sama belajar. Dunia baru yang adil sejahtera dan damai menuntut kita meninggalkan paradigma ekonomi lama yang tidak pro rakyat/publik dan tidak pro keseimbangan ekologis.

Dalam keheningan kita memeriksa diri kita masing-masing untuk memperbaiki diri dan mengoreksi diri kita masing-masing dan untuk sama-sama belajar agar lebih baik dalam berpartisipasi mewujudkan dunia baru yang lebih adil, sejahtera dan damai.

Semoga Tuhan memberkati usaha kita. Semoga Tuhan menyempurnakan upaya kita yang harus tetap setia di jalan damai dan konstitusional.

Selasa, 31 Mei 2011

Mengapa Saya Menerima NKRI dan Pancasila?

Menyongsong hari lahir Pancasila 1 Juni perlulah kiranya bagi saya untuk memposting artikel ini. Meskipun isi sebagian artikel ini pernah saya kemukakan dalam artikel-artikel terdahulu namun khusus menyongsong hari lahir Pancasila tidak ada jeleknya saya rangkum kembali menjadi tulisan baru. Kita tidak boleh berhenti membicarakan dan mengaktualisasikan Pancasila dalam hidup berbangsa dan bernegara sehari-hari.

Pancasila digali dari sejarah, budaya, dan peradaban Nusantara di mana peradaban Nusantara itu sendiri sudah berjalan lebih dari 1.500 tahun dengan ribuan pulau, aneka etnis, budaya, bahasa, agama (kepercayaan), dan juga berbagai kerajaan dengan sejarahnya masing-masing. Peradaban Nusantara itu bermuara pada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 dengan Pancasila sebagai dasarnya, UUD 45 dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Dari keanekaragaman budaya Nusantara itu, peradaban Mataram (kuno) adalah salah satu peradaban besar. Kebesaran peradaban Mataram (Kuno) tidak saja terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa candi-candi monomental seperti Borobudur dan Rara Jonggrang yang berada pada tepi Kali Progo dan Kali Opak, tetapi juga dari berbagai temuan dan berita manca negara. Sebuah temuan emas yang dikenal sebagai Wonoboyo hoard (timbunan Wonoboyo) menunjukkan juga kebesaran peradaban Mataram di mana jumlah temuan emas dari masa Jawa Tengah melebihi temuan di Jawa Timur (Supratikno Rahardjo, 2002, Peradaban Jawa, hlm 146 ). Peradaban Jawa Timur juga peradaban besar namun karena melakukan kekeliruan, emasnya keluar dari wilayah kerajaan dipakai untuk membayar denda atau diambil sebagai pampasan perang. Berita manca negara menunjukkan bahwa pada jaman Rakai Kayuwangi (memerintah 855-885M) beras mulai diekspor dari pelabuhan-pelabuhan
di P Jawa, hal ini terkait dengan pranata sima (perdikan) di mana Rakai Kayuwangi adalah raja Jawa Kuno yang paling banyak mendistribusikan tanah sima.

Kembali pada pokok tulisan ini, kalau saya mengidentifikasi diri dengan Mataram, pertama-tama bukan karena leluhur saya berasal dari wilayah antara K Progo (Mangir) dan K Opak atau karena saya lahir di tempat yang memakai kata mataram atau karena nama saya secara tersandi disebut dalam sebuah mimpi seorang penduduk Bantul (DIY), meskipun hal itu juga penting dan tidak dapat diingkari, tetapi alasan yang pertama bagi saya adalah karena saya dalam perjalanan hidup dan rohani saya telah menemukan makna mataram dan mengisinya dengan merumuskan teori ekonomi makro baru yaitu biososioekonomi yang pro rakyat, pro keadilan, dan pro keseimbangan ekologis. Sebagaimana saya sampaikan dalam artikel Wahyu Keprabon, apa yang saya klaim berkaitan dengan Mataram bisa batal kalau teori saya biososioekonomi salah (sebagai teori ekonomi makro/publik kerakyatan yang pro rakyat, pro keadilan, dan pro keseimbangan ekologis). Bagi saya teori ekonomi makro biososioekonomi sama monumentalnya dengan Candi Borobudur maupun Rara Jonggrang.

Kalau saya mengidentifikasi dengan Mataram yang notabene adalah peradaban besar yang jaya mengapa saya menerima NKRI dan Pancasila yang notabene saat ini kondisinya belum menggembirakan? Mengapa tidak seperti R Wijaya yang mendirikan kerajaan baru?

Jawaban dari pertanyaan itu ada dalam pengalaman hidup dan perjalanan rohani saya juga dalam sejarah Mataram dan bisa dirangkum dalam kalimat berikut. Saya menerima NKRI dan Pancasila karena:

(1) saya (yang notabene mengidentifikasi dg Mataram) merdeka bersama NKRI (dalam sejarah dan pengalaman yang saya alami NKRI bukan penjajah Mataram, bahwa ada pejabat pemerintah RI yang tidak baik itu saya akui tetapi solusinya bukan mendirikan negara atau kerajaan baru),

(2) kedua teori yang saya rumuskan yaitu teori ekonomi makro biososioekonomi yang notabene adalah ekonomi jalan ketiga bisa berjalan seiring dengan suatu negara seperti NKRI, rujukan: klik di sini ekonomi jalan ketiga

(3)saya terikat dengan kehendak dan pemerintahan Tuhan dimana saya harus menjalani banyak pantangan termasuk tidak lagi belajar perang sehingga saya harus menerima apa adanya NKRI yang lahir sebelum saya dilahirkan itu, rujukan: Klik di sini Tuhan

(4) Pancasila selain akomodatif terhadap teori ekonomi makro biososioekonomi juga jalan tengah yang menyatukan dalam arti mewadahi aneka ragam etnis, budaya, dan kepercyaan/agama untuk hidup bersama tanpa setiap orang kehilangan identitasnya

(5) cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 45 seiring dengan makna mataram yang saya artikan sebagai pengetahuan yang bermanfaat bagi orang banyak (publik).

Oleh karena itu bagi saya NKRI dan Pancasila sudah final sebagai negara paripurna dari perjalanan panjang Nusantara. Kalau ada pejabat yang tidak baik entah itu di eksekutif, legislatif, atau yudikatif maka pejabat itu perlu diganti atau diperbaiki sesuai tingkat kesalahannya.

Karena saya menerima NKRI dan Pancasila maka dengan segala kerendahan hati saya, saya berpesan khususnya kepada orang Jawa di mana pun berada khususnya yang masih menghargai atau menjunjung tinggi peradaban Mataram atau yang pernah merasakan kemurahan bumi Mataram agar menerima dan menjaga NKRI dan Pancasila dalam kapasitas dan jabatan Anda masing-masing. Kalau seandainya terjadi apa-apa dengan NKRI maka negara yang saya ikuti adalah NKRI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 yang berdasarkan Pancasila, UUD 45, berprinsip pada Bhinneka Tunggal Ika yang menghargi pluralitas, hak-hak asasi manusia dalam hidup bersama yang punya sifat gotong-royong ataupun sifat dermawan. NKRI tanpa Pancasila bukanlah NKRI. Sesulit apa pun situasinya, saya yakin masih ada anak-anak bangsa dan negarawan sejati yang tetap mempertahnkan NKRI 17 Agustus 1945 itu.

Semoga Tuhan memberkati kita semua dan melimpahkan damai sejahtera bagi kita semua.

Artikel Terkait:
(1) Desakralisasi Jabatan Presiden, klik di sini Desakralisai
(2) Setelah Membaca Drama "Mangir"-nyaPramoedya, klik di sini Drama
(3) Pemerintahan Tuhan, klik di sini Pemerintahan
(4)Damarwulan, Lohgender dan Realitas Hidup Kita klik di sini Damarwulan
(5) Mencari Hikmah Dan Menjaga Kesepakatan Damai Sunan Giri, klik di sini Mencari Hikmah

Selasa, 24 Mei 2011

Media Konvensioanal Juga Berperan Membuat Rakyat Tetap Miskin

Gelombang reformasi yang terjadi 13 tahun lalu telah melengserkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaan yang digenggamnya selama 32 tahun. Mahasiswa ikut berperan dalam demonstrasi dan aksi massa itu. Aksi massa pada waktu itu menuntut Soeharto mundur dan menuntut pemberantasan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Mundurnya Soeharto membuat kehidupan demokrasi dan kebebasan berpendapat lebih baik dibanding era Soeharto. Banyaknya buku-buku dan surat kabar yang diterbitkan pada awal massa reformasi menunjukkan maraknya kebebasan berpendapat. Namun demikian nasib rakyat belum sepenuhnya membaik. Sebagian rakyat menganggap kondisi pada jaman Soeharto lebih baik sehingga merindukan Soeharto.

Menurut pengamatan saya, dari kalangan reformis paling tidak ada dua kelompok yang perlu saya sebut dan relevan dengan tulisan ini yaitu yang pertama adalah mereka yang berprinsip pemeberantasan KKN akan membuat kehidupan rakyat lebih baik. Kelompok ini terdiri dari mahasiswa dan kelompok massa yang aktif melakukan demonstrasi. Demonstrasi yang melibatkan massa dalam jumlah besar itu mendapat liputan luas media massa baik media cetak atau tv.

Kelompok reformis kedua adalah kelompok yang tidak melakukan penggalangan massa namun secara intelektual lebih kritis dan lebih matang. Kelompok kedua ini menginginkan ditinggalkannya paradigma ekonomi lama yang dianut rezim orba yang banyak membuat hutang dan mengutamakan investasi asing. Meskipun kurang mendapat liputan media massa namun dari kelompok kedua inilah muncul bibit-bibit pencerahan yang seharusnya menjadi pedoman bagi kelompok pertama.

Alm Prof. Dr. Mubyarto yang wafatnya kita peringati hari ini 24 Mei termasuk kelompok reformis yang kedua. Beliau juga mengharapkan semua pihak untuk tidak merindukan kembalinya paradigma Soeharto. Mubyarto yang memlesetkan penyakit SARS sebagai penyakit "saya amat rindu Soeharto" sebagai penyakit yang harus dibrantas.

Dibanding kelompok pertama, memang kelompok kedua kurang mendapatkan liputan media massa secara luas. Bahkan tidak jarang dihambat penyebarluasannya. Saya masih ingat bagaimana Kompas menghantam tulisan Mubyarto (yang mempertanyakan sosioekonomi atau ekonofisika yang lebih penting bagi rakyat) dengan memuat tulisan Liek Wilardjo yang menganggap Mubyarto dan sosioekonomi sebagai melawan arus, diskusi ekonofisika itu kemudian ditutup oleh harian itu. Ciri media cetak memang tidak interaktif dengan ruang terbatas dan dengan dalih itu diskusi bisa ditutup. Kompas memang kemudian melakukan "rekonsiliasi" dengan Mubyarto dengan memuat wawancara Julius Pour terhadap Mubyarto. Media konvensional lain baik cetak atau tv juga sering begitu, menutup diri dengan pandangan baru dan paradigma baru dalam mengelola perekonomian publik. Bahkan tidak jarang menertawakan gagasan baru seperti itu. Menertawakan suatu gagasan baru bukanlah ciri masyarakat terbuka (open society) yang percaya pada akal, kebebasan, dan persaudaraan. Sebagai catatan perlu saya kemukakan bahwa hanya harian Suara Merdeka Semarang yang memuat berita seminar saya di PUSTEP UGM tahun 2004.

Kini penyakit SARS itu membayang lagi. Tidak mudah memang menjelaskan kepada rakyat akan adanya paradigma ekonomi yang lebih baik dari yang dijalankan rezim Soeharto sementara reformasi telah dibajak oleh para petualang politik yang anti Pancasila dan pura-pura reformis. Meskipun tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Saya meyakini bahwa saya memiliki simbol-simbol yang mudah dipahami rakyat.

Dari pengalaman saya memperjuangkan biososioekonomi (demokrasi ekonomi) akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa media konvensional baik cetak atau tv yang umumnya dimiliki pemilik modal turut berperan membuat rakyat tetap miskin. Apa yang dilakukan media konvensional terhadap demokrasi ekonomi-biososioekonomi-satrio piningit sama seperti yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap Soekarno yang menghambat Soekarno tampil di hadapan publik. Media konvensional juga bertindak seperti Lohgender yang menyembunyikan Damarwulan agar tidak bisa bertemu dengan pemegang kedaulatan. Kalau memang media konvensional keberatan dengan kesimpulan saya silakan tulis komentar di bawah ini. Media ini memiliki ruang yang tak terbatas untuk memuat komentar Anda.

Tulisan ini saya buat sebagai peringatan bagi kaum reformis dan generasi muda baik mahasiswa atau pun yang sudah bekerja agar tidak menelan mentah apa yang disajikan media konvensional carilah pembanding atau alternatif melalui aneka blog, twitter, fb, dan mesin pencari seperti google. Kebangkitan nasional berkaitan dengan pencerdasan bukan pembodohan. Silakan kritik biososioekonomi kalau salah, tolong disebarluaskan kalau benar. Peran Anda semua dalam ikut mensejahterakan rakyat dan mendemokrasikan ekonomi sangat diharapkan. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Rabu, 18 Mei 2011

Dari Kedaulatan Ekonomi Menuju Kedaulatan Konsumen Sosial.

Kedaulatan ekonomi masih menjadi topik yang dibicarakan orang. Paling tidak oleh The Habibie Center sebagaimana saya ketahui melalui account Twitter-nya. Istilah kedaulatan ekonomi berasal dari paradigma lama dalam mengelola perekonomian dimana perekonomian dikelola sesuai dengan wilayah politik dan geografis yang mengutamakan peran domestik dan menghindari modal asing (baik asing private atau BUMN asing).

Menurut hemat saya, paradigma lama pengelolaan perekonomian baik yang berjiwa neolib maupun yang kelihatannya berjiwa daulat ekonomi tidak akan mengubah perekonomian publik menjadi seimbang antara aset dan liabilitasnya. Di dalam paradigma biososioekonomi suatu modal domestik swasta adalah liabilitas bagi publik (makro). Modal privat itu adalah liabilitas bagi publik. Mengalir ke negara mana pun modal itu selama ia adalah aset privat ia akan tetap dihitung sebagai liabilitas. Dan apabila liabilitas publik lebih tinggi dari asetnya, maka makro ekonomi tetap tidak bisa dikatakan sehat. Dalam kondisi seperti ini rakyat juga tidak terjamin kesejahteraannnya karena sistem tidak mampu membayar kewajibannya yaitu membayar: laba, bunga, gaji, dan jaminan sosial (pendidikan, kesehatan, dan food stamps).

Aset publik yang seimbang dengan liabilitasnya akan tercapai manakala kedaulatan konsumen sosial ditegakkan sedemikian rupa sehingga pendapatan publik yang berupa pajak, derma, dan daur ulang aset pribadi bisa meningkat yang kemudian dikelola agar aset publik seimbang dengan liabilitasnya. Ketika kedaulatan konsumen sosial diabaikan maka perekonomian publik tidak bisa dikatakan sehat dan kesejahteraan rakyat tidak terjamin.

Apa yang saya maksud dengan konsumen sosial adalah semua orang baik yang sanggup membeli ataupun tidak. Istilah konsumen sosial saya pakai untuk membedakan dengan konsumen komersial (yaitu hanya yang sanggup membeli). Kedaulatan konsumen sosial lebih penting untuk diperhatikan karena laba beserta akumulasinya berasal dari konsumen Ketika laba dan akumulasinya tidak dikembalikan kepada konsumen (sosial) yaitu semua orang maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan aset-liabilitas makro. Tentu yang diwajibkan mengembalikan laba beserta akumulasinya adalah orang (individu) bukan institusi bisnis karena individu selain bersifat homo econmicus juga homo socius sementara perusahaan tidak mungkin berubah menjadi institusi sosial.

Kedaulatan ekonomi mengandaikan kekayaan berasal dari negara, sementara kedaulatan konsumen sosial mengandaikan kekayaan (akumulasi laba) berasal dari konsumen. Menurut hemat saya pengandaian kedaulatan konsumen sosial lebih tepat dan lebih rasional sehingga seharusnya diterima. Laba terjadi karena konsumen membayar lebih tinggi dari biaya produksi, distribusi, dan pajak.

Reformasi atau revolusi damai tanpa pencerahan bisa tersesat dan hanya akan dimanfaatkan orang-orang yang haus kekuasaan. Teori ekonomi makro biososioakonomi menawarkan pencerahan bagi ekonomi publik yang seimbang baik seimbang dari segi ekonomi maupun ekologi. Sebagai bagian dari masyarakat terbuka (open society), biososioekonomi terbuka terhadap kritik. Silakan kritik biososioekonomi kalau salah, silakan sebar luaskan kalau benar.

Bagi saya kedaulatan konsumen sosial lebih penting dari kedaulatan ekonomi. Seharusnya reformasi atau revolusi damai menuju kepada kedaulatan konsumen sosial.