Jumat, 08 Februari 2013
Dan Brown, Kemiskinan, dan Kolonialisme
telah memposting artikel berjudul "Pasca 2012 Pasca Kolonial" Harapan saya adalah agar kita meninggalkan paradigma dan sikap kolonialistis. Selain itu juga saya berharap agar TUHAN ikut campur tangan membebaskan kita dari kolonialisme. Dalam rangka itulah artikel saya hari ini saya posting.
Beberapa hari yang lalu saya menemukan artikel saya yang pernah diterbitkan oleh tabloid rohani populer Sabda no 80/Th IX Januari 2006. Seingat saya judul tulisan itu dalam naskah saya adalah "Kerajaan Allah dan Kemiskinan" tetapi oleh redaksi diubah menjadi "Irene, Lasiman, Dan Brown Versus Pengalaman Pribadi Saya" Mungkin pertimbangan redaksi adalah untuk menarik perhatian pembaca yang waktu itu banyak menanggapi tulisan atau ceramah ketiga orang tersebut. Dalam tulisan itu saya mengajak pembaca untuk lebih peduli pada pengentasan kemiskinan dengan menentang benih-benih "triple six" dalam diri masing-masing. Lebih peduli pada Kerajaan Allah dan pengentasan kemiskinan (demokrasi ekonomi) dari pada reaktif terhadap tulisan atau omongan orang lain_yang tidak seiman_ karena TUHAN sebagaimana saya kenal dari Alkitab dan pengalaman rohani saya juga peduli kepada mereka yang lapar, miskin, dan tertindas.
Kemiskinan menjadi masalah yang menuntut perhatian dan tindakan kita semua. Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita di harian Kompas (2/2/2013, hlm 8) yang berjudul Pembangunan Global, Kemiskinan Ekstrem Melanda 1,5 Miliar Penduduk Bumi. Itu berita tentang kemiskinan dan MDGs. Menurut berita itu sebanyak 1,5 miliar penduduk bumi atau 1 dari 5 penduduk bumi berada di bawah kemiskinan ekstrem yang standar hidupnya satu dollar AS. Sekitar 170 juta anak balita menderita kekurangan gizi, 100 juta anak tidak menikmati pendidikan dasar. Banyak yang mati muda, angka kematian anak balita mencapai 26.000 per hari dan kematian ibu melahirkan 500.000 per tahun. Tidak kurang dari 824 juta orang mengalami kelangkaan pangan dan 500 juta orang terancam kelaparan dan kekurangan gizi.
Menurut pengamatan saya MDGs atau Tujuan Pembangunan Milenium berjalan berdasarkan paradigma ekonomi konvensional (neoklasik dan keynesian) yang kurang bisa diandalkan untuk mengentaskan kemiskinan.Ilmu Ekonomi seharusnya mengikuti matematika sederhana yaitu bila laba yang diambil individu adalah 100 maka yang dikembalikan kepada publik seharusnya juga 100 bukan 50 atau 10 apalagi 2,5 atau 1. Segala macam teori ekonomi atau teori pembangunan yang tidak tunduk pada akuntansi dan matematika sederhana itu dipastikan akan gagal mengentaskan kemiskinan. Teori ekonomi makro biososioekonomi yang notabene tunduk pada matematika sederhana di atas telah menjelaskan panjang lebar bagaimana aset pribadi harus diredistribusikan ke seluruh dunia tanpa sekat-sekat negara dan tanpa sekat primordial.
Namun pengalaman saya memperjuangkan biososioekonomi menunjukkan adanya hambatan dari kelompok kepentingan (triple six) dan kolonialisme atau kombinasi keduanya. Tabloid Sabda termasuk yang berani menerbitkan tulisan saya apa adanya. Selain itu hanya PUSTEP UGM yang memposting makalah saya di situs resminya. Setahu saya berita seminar itu pun hanya diekspose oleh harian Suara Merdeka Semarang. Lebih banyak media konvensional yang tidak menaruh perhatian pada teori ekonomi makro biososioekonomi dan perumusnya. Itulah kolonialisme dalam wujud sehari-harinya yang menenggelamkan teori ekonomi yang pro rakyat, pro keadilan, dan pro publik.
Kolonialisme sering menganggap hal-hal yang dari luar adalah baik dan pada saat yang sama menafikan kearifan lokal atau kebenaran yang ditemukan penduduk lokal. Saya mengamati bahwa tidak jarang kolonialisme mulai dari teks atau textbook dan mengabaikan kejadian, penemuan, atau suatu pengalaman dan kisah nyata yang belum banyak dikenal orang karena tidak diekspose media konvensional. Kalau mau lepas dari pandangan kolonialistis haruslah sejenak meninggalkan teks dan textbook kemudian mengamati berbagai peristiwa seperti krisis ekonomi, krisis utang, kelaparan, gempa bumi, tsunami, atau pun pengalaman seseorang dalam merumuskan dan memperjuangkan biososioekonomi (dan demokrasi ekonomi).
Dalam tulisan saya yang diterbitkan tabloid Sabda di atas, saya mulai dari pengalaman rohani atau pengalaman pribadi saya. Sebaliknya Dan Brown mulai dari teks khususnya teks Injil apokrif (tersembunyi) atau bahkan Injil palsu. Dengan mulai dari teks sadar atau tidak sadar Dan Brown cenderung kolonialistis.
Dengan mencari sensasi atau memojokkan iman Kristiani, Dan Brown sebenarnya sedang menenggelamkan keadilan distributif dan kebenaran. Betapa tidak, kalau ekonomi sesuai akuntansi atau matematika sederhana di atas dan telah dijelaskan panjang lebar oleh teori ekonomi makro biososioekonomi maka segala tindakan yang menghalanginya akan berarti menghalangi keadilan distributif itu sendiri. Dan Yesus Kristus, sebagaimana saya kenal dari Injil (kanonik), menyampaikan ajaran sosial yang sesuai akuntansi dan matematika sederhana di atas (bdk Luk 12:33 atau Mat 19:21). Yesus Kristus menentang pewarisan kekayaan berlimpah. Dia pro rakyat dan pro keadilan. Dia lahir ketika bangsa Yahudi berada dalam penjajahan Romawi, ikut merasakan derita rakyat akibat kolonialisme. Memang saat ini umat Kristiani tidak sepenuhnya mengikuti ajaran sosial Yesus Kristus di atas akan tetapi hal itu bisa dikoreksi tanpa perlu agama baru tanpa perlu mesias baru. Kesediaan tabloid Sabda
memuat tulisan saya berarti bahwa kekeliruan itu bisa dikoreksi. Apalagi dengan dirumuskannya teori ekonomi makro. Kesalahan itu bisa dikoreksi.
Kita akan mengalami kesulitan dalam mengentaskan kemiskinan kalau sikap dan paradigma kolonialistis masih merajalela di sekitar kita. Tidak sedikit orang yang sebenarnya baik dan saleh tapi kolonialistis hanya karena tidak tahu bahwa sikapnya itu kolonialistis. Untuk itulah artikel ini memberi tahu. Menenggelamkan biososioekonomi, ajaran sosial Yesus Kristus, atau menenggelamkan iman orang akan Yesus Kristus berarti bersikap kolonialistis seperti Dan Brown atau yang lain.
Untuk tidak kolonialistis kita harus tidak mulai dari teks dan textbook, tapi mulailah dengan mengamati berbagai kejadian dan pengalaman rohani yang telah saya share di blog ini di bawah label pengalaman spiritual, pengalaman, atau label spiritual. Saya telah menemukan teori ekonomi makro biososioekonomi, menemukan bahwa JHWH dan JAWA adalah tetragramaton yang sama, menentang triple six, lahir sebagai hasil perkawinan antara K Progo dan K Opak, membaca nama saya R Hani Japar tersandi dalam mimpi orang lain. Saya mengalami tertindas dan dibebaskan. Perhatikan pula bahwa saya lahir di awal musim semi (22Maret) di Merbau Mataram (nama yang mengkombinasikan nama pohon dan nama kerajaan) bandingkan dengan teks Injil kanonik (Luk 21:29-33). Itulah tanda segera akan tegaknya "Kindgom of JHWH/JAWA" atau "Kingdom of Heaven"
Jangan lagi bersikap
kolonialistis. Karena kolonialisme akan mendapat hukuman langsung dari TUHAN entah di bumi ini atau di neraka nanti.
Kolonialisme dan triple six menghambat terwujudnya kesejahteraan rakyat. Semoga dimengerti.
Artikel Terkait
http://www.satriopiningitasli.com/2013/01/pasca-2012-pasca-kolonial.html?m=1
http://www.satriopiningitasli.com/2010/09/membongkar-penindasan-2.html?m=1
http://www.satriopiningitasli.com/2010/08/tuhan-memenuhi-harapan-juru-kunci-itu.html?m=1
http://www.satriopiningitasli.com/2010/08/pemerintahan-tuhan.html
http://www.satriopiningitasli.com/2010/06/demokrasi-ekonomi-biososioekonomi-lebih.html
http://www.satriopiningitasli.com/2010/04/tanda-tanda-itu-begitu-nyatameningkat.html?m=1
http://www.satriopiningitasli.com/2010/03/perlu-pendekatan-mikro-sekaligus-makro.html
Minggu, 27 Januari 2013
Program Satu Anak Bahayakan Ekonomi?
Dalam berita di atas kita mendapat penjelasan dari seorang profesor mengenai gambaran yang terjadi dengan kebijakan 1 anak di China. "Jika kondisi ini terus berlangsung, maka tidak akan ada pembayar pajak, tidak ada pekerja, dan tidak ada penderma bagi warga tua," jelas Gu Baochang, profesor ahli demografi di Universitas Renmin.
Profesor itu bisa was-was seperti itu karena memakai paradigma konvensional di mana membayar pajak dan derma hanya dengan persentase yang relatif kecil. Kalau paradigma berbagi hartanya diubah sesuai biososioekonomi maka program satu anak bisa tidak akan membahayakan ekonomi. Secara akuntansi dapat dikatakan: diperlukan income dan aset publik yang lebih besar untuk program satu anak itu.
Semoga artikel sederhana ini bisa mengingatkan. Di masa mendatang mereka yang mempelajari akuntansi dan matematika secara formal seharusnya ikut memberi penjelasan kepada publik sehingga tercipta kesejahteraan publik yang berkesinambungan.
Artikel Terkait
http://www.satriopiningitasli.com/2010/02/kelahiran-adalah-hutang-yang-harus.html
http://www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/My%20Web/sembul22.htm
http://www.satriopiningitasli.com/2009/07/mengubah-paradigma-mengubah-angka_05.html?m=1
Minggu, 20 Januari 2013
Menyumbang dan Bergotong-royong
Banjir yang melanda Jakarta.akhir-akhir ini membuat kita prihatin. Kita harus tergerak hati kita untuk meringankan beban korban dengan menyumbang harta atau tenaga yang kita punyai.
Menyumbang (berbagi harta) dan bergotong-royong adalah bagian dari hidup bersama yang harus terus menerus dipupuk. Tidak harus menunggu bencana untuk berbagi. Berbagai kesempatan rutin bisa kita ikuti seperti gerakan orang tua asuh dan sebagainya sepanjang hidup kita guna meringankan beban sesama. Dan tak lupa mendaur ulang harta kita seperti dianjurkan teori ekonomi makro biososioekonomi.
Ke depannya perlu penanganan serius untuk mengatasi banjir di Jakarta seperti sistem drainase yang baik, pembuatan dam pengendali banjir, pembangunan atau perawatan waduk, membuat lubang atau sumur resapan, perilaku yang baik dalam membuang atau menangani sampah dan sebagainya.
Semoga ke depannya menjadi lebih baik bagi rakyat kebanyakan.
Minggu, 06 Januari 2013
Pasca 2012 Pasca Kolonial
Di awal tahun 2012 saya pernah punya pengharapan kepada TUHAN agar bila tahun 2012 telah berlalu saya diijinkan menjadikan era Pasca 2012 sebagai Era Pasca Kolonial. Kini tahun 2012 telah berlalu.
Tahun 2012 banyak dibicarakan orang karena sebagian orang ada yang mempercayai bahwa kiamat besar akan terjadi pada tahun 2012. Namun di awal tahun 2012 itu saya sudah memposting artikel (http://www.satriopiningitasli.com/2012/01/menyambut-2012kiamat-besar-masih-1000.html?m=1) di blog ini yang didasarkan pada surat keprihatinan saya tertanggal 21 November 2003.
Istilah pasca kolonial seharusnya tidak mengacu pada tahun tertentu, namun ketika kita memasuki tahun baru seperti saat ini maka hal-hal buruk seperti kolonialisme dan penindasan sudah seharusnya ditinggalkan. Saya mengamati bahwa isu "kiamat sudah dekat" adalah suatu isu yang beraroma kolonialistis yaitu pandangan dari luar yang menganggap lebih baik dan lebih benar yang pada saat bersamaan menindas kearifan lokal yang lebih benar bahkan lebih baik atau lebih tepat. Di dalam artikel saya di atas saya keberatan dengan pandangan "kiamat sudah dekat" bukan karena saya tidak mempercayai adanya kiamat tetapi karena pandangan "kiamat sudah dekat" itu lebih banyak sisi negatifnya dari pada positifnya. Saya menunggu tahun 2012 berlalu agar mereka yang penasaran puas.
Kalau kita mengacu pada pandangan lokal maka pandangan tersebut mengatakan bahwa kita akan segera memasuki jaman keemasan bukan segera akan kiamat. Pengalaman rohani saya juga mengatakan begitu. Kalau saya meyakini bahwa TUHAN mempekerjakan saya di suatu divisi yaitu divisi kesejahteraan umum dari Kerajaan-Nya maka rasanya saya juga tidak mempercayai bahwa kiamat sudah dekat. Saya meyakini bahwa masa keemasan pemerintahan TUHAN ini akan berlangsung paling tidak 1.000 tahun. Kitab Wahyu (Kitab terakhir Perjanjian Baru) menyebutnya sebagai Kerajaan 1.000 tahun.
Jaman keemasan memang memerlukan partisipasi banyak orang, meski demikian tidak tergantung orang. TUHAN memiliki kuasa untuk mewujudkannya dan menghukum yang tidak berpartisipasi.
Saya bukan teoritikus tentang post colonial atau pasca kolonial. Bagi saya pengalaman ditindas dan dibebaskan TUHAN itulah yang saya sharing-kan di sini. Pengalaman itu juga meliputi pengalaman menemukan hidup saya sebagai umat TUHAN, menemukan makna hidup dan melihat bahwa baik JAWA maupun JHWH adalah tetragramaton yang sama. Sementara itu kata "jawa" sudah dipakai sejak lama sejak sebelum jaman kolonial. Saya tidak banyak membaca teori atau buku-buku kolonialisme dan pasca kolonial. Pengalaman saya memperjuangkan demokrasi ekonomi dan biososioekonomi maupun pengalaman saya sebagai entitas lama (Mataram) bisa langsung merasakan kolonialisme dan pasca kolonial. Tidak sedikit komentar negatif di blog ini yang beraroma kolonialistis. Saya, dalam surat keprihatinan tertanggal 21 November 2003, sudah menulis bahwa siapa pun yang menghambat publikasi biososioekonomi adalah penjajah.
Kini dunia memang masih berputar belum kiamat, artinya pengentasan kemiskinan masih harus dilanjutkan, kelestarian lingkungan hidup dan keseimbangan ekologis masih harus dijaga, populasi penduduk harus dikontrol, kepentingan publik harus ditegakkan. Semua itu memerlukan pencerahan. Teori ekonomi makro biososioekonomi sudah menawarkan diri. Teori biososioekonomi ini adalah teori obyektif yang tunduk pada kaidah akuntansi.
Saya merasa TUHAN berada di pihak saya bahwa Pasca 2012 adalah Pasca Kolonial. TUHAN berpihak kepada mereka yang lapar, miskin, dan tertindas. Pintu pertobatan masih dibuka bagi kolonialisme, namun hukuman juga disediakan entah di dunia ini atau di dunia nanti setelah kematian. Selamat Tahun Baru 2013.
Artikel Terkait
Tanda-tanda Itu begitu Nyata....... (http://www.satriopiningitasli.com/2010/04/tanda-tanda-itu-begitu-nyatameningkat.html?m=1)
Pemerintahan Tuhan ( http://www.satriopiningitasli.com/2010/08/pemerintahan-tuhan.html)
Tiga Gempa Pasca 1 Suro ( http://www.satriopiningitasli.com/2009/12/tiga-gempa-pasca-satu-suro.html)
Mempertanyakan Terjemahan Buku Karya De Graaf ( http://www.satriopiningitasli.com/2010/03/mempertanyakan-terjemahan-buku-karya-de.html?m=1)
Selasa, 01 Januari 2013
Selamat Tahun Baru 1 Januari 2013
Selasa, 25 Desember 2012
Selamat Hari Raya Natal 25 Desember 2012
Senin, 17 Desember 2012
Kelemahan Mendasar Perekonomian Kita yang Mengancam Hidup Rakyat
Setiap menjelang akhir tahun di media cetak sering dipaparkan prediksi dan target pertumbuhan PDB tahun berikutnya. Sering pertumbuhan PDB itu dianggap yang paling penting sehingga mengabaikan hal-hal mendasar suatu perekonomian makro (dalam artian ekonomi publik). Hal itu menyebabkan berbagai kelemahan mendasar ekonomi publik tidak mendapat perhatian apalagi perbaikan. Banyak pihak telah puas dengan pertumbuhan PDB Indonesia yang masih akan mencapai 6,3% tahun depan. Bahkan pencapaian itu dianggap sebagai kebanggaan bagi pejabat pemerintah di tengah krisis ekonomi yang masih melanda berbagai kawasan.
Namun bagi yang telah memahami konsep PDB dan pertumbuhan PDB pasti setuju bahwa besaran PDB dan pertumbuhannya tidak mencerminkan ekonomi publik dan sering tidak relevan dengan kesejahteraan rakyat. Di balik pertumbuhan PDB Indonesia yang masih di atas 6% sebenarnya terkandung kelemahan mendasar perekonomian kita.
Tax Ratio
Saya mengamati ada beberapa kelemahan mendasar perekonomian kita yang menuntut perhatian dan perbaikan. Pertama adalah tax ratio kita, dengan tax ratio kita yang hanya sekitar 12% kita jangan berharap mengatasi berbagai kesulitan dengan mulus. Mengapa besaran tax ratio itu perlu diperhatikan bahkan lebih penting dari besaran pertumbuhan PDB? Secara deduktif-logis dapat dikatakan bahwa kelebihan harta atau pendapatan individu yang tidak dibayarkan sebagai pajak (atau derma) akan menjadi liabilitas publik sesuai kaidah akuntansi. Semakin besar tax ratio, semakin besar pula kemampuannya mengatasi liabilitas publik, mengatasi berbagai persoalan, dan memenuhi tuntutan rakyat akan kesejahteraan mereka. Tentu dengan catatan bahwa pajak yang diperoleh itu harus pro demokrasi ekonomi, bukan pajak yang ditarik dari rakyat kecil.
Dengan tax ratio sekitar 12% itu kita kedodoran menghadapi tuntutan rakyat untuk tidak menaikkan harga BBM. Defisit anggaran 2012 menjadi Rp 197 triliun (harian Kontan, 21/9/2012, hlm 1), sebagai perbandingan APBN perubahan 2012 mematok defisit sekitar Rp 190,1 triliun.
Selain itu utang pemerintah menjadi Rp 1.950 triliun ( http://m.detik.com/finance/read/2012/08/22/120729/1996191/4/ ). Dengan utang sebesar itu pendapatan negara yang seharusnya dipakai untuk memberi jamaninan sosial seperti beasiswa dan kesehatan bagi semua rakyat justru dipakai untuk membayar cicilan utang.
Perluasan
dan pendalaman jaminan sosial baik yang dilakukan dalam paradigma konvensional seperti kartu pintar ala Joko Widodo atau pun dalam paradigma biososioekonomi sangatlah penting. Bukan hanya bagi kesejahteraan rakyat tapi juga bagi kelangsungan gairah ekonomi kita karena perluasan dan pendalaman jaminan sosial yang dibiayai dengan pajak atau income publik lain itu bisa mempertahankan daya beli rakyat dan tingkat konsumsi agregat. Pada saat krisis 2008 kita diselamatkan oleh tingkat konsumsi agregat. Namun kemujuran tahun 2008 bisa saja tidak terulang kalau kita tidak mempertahankan daya beli rakyat dengan memperdalam dan memperluas jaminan sosial secara besar-besaran yang dibiayai dari income publik seperti pajak.
Dengan utang yang besar itu, tak banyak hal yang bisa kita lakukan kalau tax ratio kita rendah dan kedermawanan sosial atau kegotongroyongan kita juga rendah.
Pajak Individu
Kelemahan mendasar kedua adalah sumber pajak yang masih didominasi pajak perusahaan dari pada pajak individu. Sebagaimana diberitakan Harian Kontan, 25 Oktober 2012, hlm 1, komposisi pajak kita masih didominasi pajak perusahaan dari pada pajak individu (lihat gambar). Padahal kemampuan perusahaan membayar pajak itu terbatas, berbeda dibandingkan dengan individu yang selain homo economicus juga homo socius. Perusahaan meskipun pendapatannya besar tetapi pengeluarannya juga besar, capital expenditure juga besar. Perusahaan adalah institusi bisnis yang tidak bisa berubah menjadi institusi sosial. Sementara itu pengeluaran individu seharusnya tidak besar. Pengamat perpajakan UI, Darussalam, di Harian yang sama 25/10/12 di halaman 1, mengingatkan perlunya pajak individu lebih besar dari pada pajak perusahaan seperti di negara-negara Eropa.
Karena potensinya yang besar itulah biososioekonomi menyederhanakan perekonomian sebagai penjumlahan aktivitas individu (manusia) dari lahir sampai
mati. Penjumlahan aktivitas individu dalam melakukan konsumsi, memperoleh penghasilan, melakukan investasi, membayar pajak, derma, dan pelepasan hak atas kekayaan (daur ulang). Dengan penyederhanaan itu perekonomian makro/publik lebih mudah dianalisis dan dipahami.
Rendahnya kontribusi pajak individu akan menyebabkan kelebihan harta atau penghasilan yang tidak dibayarkan sebagai derma atau pajak menjadi liabilitas publik sesuai kaidah akuntansi sebagaimana dijelaskan oleh teori ekonomi makro biososioekonomi.
Melonjaknya harga properti bisa menjadi tanda peningkatan liabilitas publik sebagai akibat rendahnya kontribusi pajak individu. Kalau kita amati memang ada kecenderungan pelonjakan harga properti (bdk http://mobile.kontan.co.id/news/bi-pasar-properti-jabar-rawan-terjadi-bubble/2012/12/07 atau http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2012/11/15/363218/4/2/Harga_Properti_Residensial_di_Jakarta_terus_Melonjak).
Melonjaknya liabilitas publik juga tercermin dari melonjaknya dana pihak ketiga (DPK) perbankan per Agustus 2012 dari Agustus 2011. DPK itu melonjak 21,88% menjadi Rp 3.037 triliun dari Agustus tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2.492 triliun. Peningkatan ini berarti lebih dari tiga kali lipat pertumbuhan PDB yang sekitar 6%. Kalau dibandingkan Juli 2012 pertumbuhan DPK adalah 0,86% (month to month/mtm). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada nasabah pemilik simpanan Rp 1 miliar sampai dengan Rp 2miliar yang meningkat 2,09% (mtm). Sementara itu untuk kelompok nasabah dengan simpanan di atas Rp 5 miliar justru menyusut 1,15% (mtm), jumlah rekening juga menyusut 15% (Sumber Harian Kontan 29/10/12 hlm. 1). Anggota Dewan Penasihat Wealth Manager Association Michael Sajangbati menduga turunnya simpanan nominal Rp 5 miliar ke atas antara lain karena alokasi ke aset lain seperti dollar, emas, dan properti. Maka menurut hemat saya peningkatan drastis harga properti adalah konsekuensi dari peningkatan liabilitas publik akibat rendahnya pajak individu.
Pelonjakan harga properti bisa menjadi bubble yang kemudian pecah menjadi krisis bergejolak. Selain itu sebelum bubble itu pecah telah membuat harga rumah tidak terjangkau rakyat kebanyakan. Melonjaknya harga properti akan diperparah dengan rencana pemerintah memperbolehkan asing memiliki properti di Indonesia (http://m.detik.com/finance/read/2012/12/05/170354/2110352/1016/) . Baik krisis bergejolak maupun peningkatan harga rumah akan menyengsarakan rakyat.
Melonjaknya DPK perbankan diiringi dengan menurunnya bunga simpanan. Bunga simpanan turun 60-150 basis poin (Harian Kontan, 17/12/12, hlm 1). Dari sumber yang sama diperoleh informasi bahwa inflasi per Oktober mencapai 4,61% bandingkan dengan bunga tabungan yang berkisar 1,55%-3,76%. Bunga deposito berkisar dari 3,25%-6%. Hal ini menyebabkan rakyat kecil tidak bisa memperoleh hasil investasi.
Infrastruktur dan Aset Bank Sentral
Kelemahan Ketiga adalah infrastruktur yang kurang memadai khususnya angkutan massal. Dengan tidak tersedianya angkutan cepat massal pemerintah kewalahan mengendalikan konsumsi energi. Angkutan pribadi banyak mengkonsumsi premium bersubsidi.
Dengan sumber daya energi dan pertambangan yang banyak seharusnya Indonesia bisa menyediakan infrastruktur yang baik termasuk angkutan cepat massal kalau seandainya mendapatkan bagi hasil yang memadai dari kontrak karya pertambangan serta tidak adanya korupsi, kebocoran, atau pun tidak adanya konflik kepentingan dalam kebijakan transportasi.
Kelemahan Keempat, sebagaimana kelemahan yang dialami perekonomian konvensional di mana pun adalah kualitas aset bank sentral. Pencetakan uang memang tidak dijamin dengan emas. Namun sebenarnya bukan hanya emas yang bisa memperbaiki kualitas aset bank sentral. Sebenarnya secara teoritis deduktif sesuai kaidah akuntansi sebagaimana dijelaskan oleh teori ekonomi makro biososioekonomi, uang kertas pun bisa memperbaiki aset bank sentral. Tentu saja yang dimaksud bukanlah uang kertas hasil pencetakan baru tapi uang kertas yang dihibahkan kepada bank sentral dari individu anggota masyarakat atau yang dibayarkan sebagai pajak kepada negara kemudian dihibahkan ke bank sentral.
Buruknya kualitas aset bank sentral akan menyebabkan nilai uang terdepresiasi secara permanen. Hal ini melemahkan daya beli rakyat kecil. Kecilnya suku bunga tabungan bila dikoreksi dengan besaran inflasi inti menjadi tanda adanya depresiasi permanen rupiah.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa dibalik pertumbuhan PDB yang masih di atas 6% terdapat kelemahan mendasar perekonomian kita yang mengancam hidup rakyat. Kelemahan mendasar itu seharusnya diatasi. Seorang pemimpin seharusnya supel untuk bisa menggerakkan kegotongroyongan dan meningkatkan income serta aset publik.


