Minggu, 11 Januari 2009

Membuat Situs Mobile Sendiri

Pengalaman Saya Membuat Situs Mobile
Inilah pengalaman saya membuat situs mobile. Keingan saya membuat situs mobile bukan saja karena situs mobile lebih mudah dan lebih murah diakses melalui telepon seluler, tetapi juga agar saya bisa meng-upload langsung foto dari ponsel dimana file saya tersimpan. Dan kemudian memasangnya di blog ini. Kalau blog saya ini belum ada fotonya bukan karena apa-apa tetapi karena saya mengalami kesulitan dalam mentransfer data dari ponsel ke komputer.

Ponsel Samsung SGH J200 second yang saya beli 25 Juli 2008 ternyata tidak lengkap. Rencana saya waktu itu adalah membeli SGH J200 tersebut dalam kondisi baru. Tetapi setelah saya cari-cari di Pondok Indah Mall dan ITC Fatmawati, ternyata tidak ada yang baru. Oleh karena itu ponsel Samsung second itu saya beli. Bagi saya saat itu menggunakan ponsel yang bisa mengakses internet adalah hal yang baru. Ternyata ponsel itu memerlukan kabel data dan software khusus. Penjual ponsel second itu tidak menyertakan kelengkapan tersebut. Sehingga saya menunda memasang foto di blog ini.

Kemudian saya mendapatkan tawaran dari XL untuk membuat situs mobile. Ada biaya yang harus dibayarkan yaitu Rp 5.000,- per bulan untuk situs pribadi (WP) dan Rp 10.000,- untuk situs bisnis (WB). Saya pernah menanyakan kepada customer service XL, apakah layanan situs mobile XL bisa meng-upload foto dari ponsel langsung. Dijawabnya tidak. Karena penasaran saya mencobanya. Ternyata memang tidak bisa. Saya lihat beberapa alamat situs mobile XL (my-wap.mobi) dan saya coba kunjungi. Ternyata memang tidak satu pun yang ada fotonya. Banyak sekali situs-situs itu yang blank, selain tidak ada fotonya juga tidak ada content yang berupa teks. Satu dua ada profile-nya, tetapi kebanyakan blank. Saya pikir pemilik situs mobile itu tidak terbiasa ngeblog (membuat blog). Kalau kita login di situs mobile XL melalui ponsel, kita bisa memasukkan content berupa teks di menu "Post a Bulletin." Caranya mudah setelah mengklik menu Post a Bulletin, kita bisa mengetikkan judul berita atau opini yang kita inginkan di dalam kotak "Title" yang telah tersedia. Lalu bawa kursor ke kotak Message yang berada di bawahnya. Lalu kita bisa mengetikkan content teks yang bisa berupa opini kita atau catatan harian kita. Setelah sempurna kita bawa kursor ke tombol Post yang ada di bawahnya sehingga tombol itu berwarna biru. Kemudian tekan tombol OK yang ada di key pad ponsel kita. Maka content teks pun sudah diterbitkan atau di-post-kan dan bisa di akses orang lain yang berkunjung ke alamat situs mobile kita.

Situs mobile XL tetap tidak memuaskan saya, karena selain tidak gratis juga tidak bisa meng-upload foto. Pada Jumat sore 9 Januari 2009, saya membeli majalah Mobile Guide Edisi 21 (2-29 Januari 2009) di minimarket. Saya tertarik membelinya karena ada artikel tentang cara membuat situs mobile. Artikel tersebut ditulis oleh Ariet Burhanuddin. Yang pertama saya baca adalah tulisan yang berjudul "Membuat Situs Mobile Instan ala UBIK." Ternyata Ubik ini adalah situs (www.ubik.com) yang memberi layanan untuk membuat situs mobile gratis. Tidak perlu membayar seperti di XL. Bagi yang belum biasa membuat blog mungkin akan membayangkan bahwa membuat situs mobile itu rumit, harus menjadi web programmer dan menguasai HTML (hyper text mark-up language). Padahal membuat situs itu segampang mengetik.

Karena memiliki pengalaman yang kurang enak dengan layanan my-wap.mobi maka saya harus membuka mata lebar-lebar mengenai layanan Ubik. Ternyata Ubik, sampai pada saat artikel ini ditulis, tidak menyediakan layanan pembuatan situs melalui ponsel langsung. Jadi harus melalui personal computer. Ketika saya mencoba mengkases situs Ubik dari ponsel juga tidak nyaman yang menandakan situs itu terlalu besar untuk diakses ponsel. Di majalah Mobile Guide itu juga saya temukan beberapa layanan penyedia pembuatan situs mobile gratis yaitu www.mobisitegalore.com dan www.winksite.com dalam artikel lain yang titulis penulis yang sama. Keduanya bisa diakses melalui ponsel. Saya belum mengenal banyak tentang Winksite.

Karena mobiSiteGalore mengklaim yang pertama dalam sejarah internet dalam menyediakan pembuatan situs mobile dari ponsel dan ketika saya mengujungi situsnya melalui pc saya temukan bahwa mobiSiteGalore pernah mendapat awward, maka saya memutuskan untuk memakainya. Selain itu juga karena mobiSiteGalore memungkinkan situs mobile kita dipasangi iklan sehingga memberi peluang untuk memperoleh pendapatan. Maka jadilah situs mobile saya, meskipun belum sempurna dan ada hal-hal yang harus saya perbaiki. Situs mobile saya sudah bisa dikases dengan URL adalah http://satriopiningitasli.param.mobi

Cara Membuat Situs Mobile
Kalau Anda juga tertarik membuat situs mobile dari layanan mobiSiteGalore, maka caranya mudah yaitu:
  1. Siapkan ponsel yang memiliki bearer GPRS yang telah diaktifkan GPRS-nya
  2. Kunjungi www.mobisitegalore.com melalui ponsel Anda
  3. Untuk bisa membuat situs mobile, Anda bisa mengklik menu Sign up atau mengklik tulisan biru Go to Step 1 dari home page
  4. Kemudian ketikkan nama situs yang Anda inginkan untuk dibuat di dalam kotak yang telah tersedia. Pada halaman ini ada juga nama-nama halaman seperti About Us, Products, Service, News dan Contuct Us. Kalau situs yang akan Anda buat tidak cocok dengan nama-nama halaman itu Anda bisa menghapusnya dengan tombol C di key pad ponsel Anda dan mengetikkan nama-nama baru seperti About Me, My Story, My Opinion, dsb.
  5. Pindahkan kursor ke tombol Submit kemudian klik
  6. Maka akan ditampilkan halaman yang meminta Anda memilih warna situs Mobile Anda. Setelah memilih pindahkan kursor ke tombol Feedback kemudian klik untuk melihat tampilannya
  7. Kalau Anda puas dan setuju dengan pilihan Anda klik tombol Accept kalau tidak klik tombol Back untuk memilih warna lain
  8. Setelah Anda mengklik tombol Accept akan muncul halaman yang akan meminta Anda untuk memasukkan nama Anda, user name, password, retype password, email, dan mobile number Anda. Untuk mobile number jangan lupa kode +62 (kode area Indonesia). Nama user minimal 6 karakter. Setelah diisi klik tombol submit
  9. Maka akan ditampilkan halaman peringatan yang mengingatkan agar tidak memasukkan contetns yang mengandung pornografi, hasutan kekerasan, SARA atau perjudian. Kemudian klik Continue
  10. Maka ditampilkan suatu halaman yang melayani Anda untuk memasukkan content pada Home Page. Ketikkan teks mengenai situs mobile Anda atau hal-hal apa yang bisa diperoleh pengunjung dari situs Anda. Bila perlu juga bisa mengisinya dengan gambar yang relevan, dengan mengklik Insert Image. Anda bisa meng-upload gambar dari ponsel atau dari web URL. Bila sudah klik Submit
  11. Maka Anda akan diminta konfirmasinya apakah ingin memasukkan content lagi atau tidak. Bila tidak klik Submit Changes
  12. Anda akan mendapat ucapan selamat, tetapi bukan berarti situs mobile Anda sudah bisa dikunjungi orang lain. Masih ada 2 langkah yang diperlukan. Tetapi kalau Anda ingin memasukkan content lain di halaman baru (About Me, misalnya) klik Proceed. Kalau tidak klik Log Out untuk keluar secara aman.
  13. Dua langkah yang diperlukan agar situs mobile Anda bisa dikunjungi orang lain adalah Pertama, aktifkan situs mobile Anda dengan membuka email Anda. Cari surat konfirmasi yang dikirim oleh mobiSiteGalore yang meminta Anda untuk melakukan aktivasi situs mobile Anda. Kedua, setelah situs mobile Anda aktif, Anda harus membuat URL untuk situs Anda. Caranya, setelah sign out dari email account Anda, kunjungi situs www.mobisitegalore.com dan SignIn ke situs mobile Anda dengan memasukkan user name dan password Anda (kalau Anda lupa password Anda lihat kembali email Anda). Maka akan ditampilkan halaman Site Manager. Dari halaman ini Anda bisa mengelola situs mobile Anda seperti memasukkan content atau mengubah halaman. Carilah menu What Would You Like to Do. Kemudian klik Publish Option. Ketikkan dalam kotak yang tersedia nama URL situs yang Anda inginkan, misalnya donny, Anda cukup mengetikkan kata donny tidak perlu mengetikkan kata "www." dan ".param.mobi " Selanjutnya pilihlah option pertama (Free) yang memberi opsi gratis, artinya Anda tidak perlu membayar kepada mobiSiteGalore. Klik Submit. Maka akan ditampilkan halaman Site Manager dan pemberitahuan alamat URL situs Anda adalah www.donny.param.mobi dan Anda bisa mengaksesnya langsung dengan mengklik URL Anda dari halaman Site Manager. Terlihatlah situs mobile buatan Anda. Ingat bahwa Anda belum Log Out. Untuk Log Out tekan tombol back di key pad ponsel Anda, maka ditampilkan halaman Site Manager kemudian arahkan kursor ke tombol Log Out yang berada di bagian paling bawah. Klik Log Out. Anda sudah keluar secara aman. Anda atau orang lain yang mengetahui alamat URL situs Anda bisa mengunjungi situs mobile Anda melalui ponsel GPRS. Mudah bukan?
Inilah pengalaman saya membuat situs mobile dan langkah-langkah membuatnya dengan menggunakan layanan mobiSiteGalore yang telah saya coba. Semoga bermanfaat.







Sabtu, 03 Januari 2009

Pengalaman: Hidup Nyaman Tanpa Kekuasaan

Bagi sebagian orang seperti para eksekutif, politisi, profesional, atau pebisnis, awal tahun merupakan awal mewujudkan rencana-rencana yang telah disiapkan. Tetapi bagi sebagian orang lain, karena berbagai alasan, hidup mengalir begitu saja tanpa rencana. Sebagian karena tidak terampil membuat rencana, sebagian lagi ingin hidup seperti seniman yang mengalir begitu saja, sebagian lagi masih shock karena baru saja terkena PHK, dan sebagian lain mungkin mau lebih fleksibel dalam mengahdapi ketidakpastian global. Krisis global memang memerlukan cara pandang baru atau paradigma baru yang bagi sebagian orang sangat mengejutkan karena belum pernah mengetahui sebelumnya. Media konvensional tidak pernah menyampaikannya.

Untuk itulah saya ingin membagikan suatu pengalaman yang menurut saya amat sangat berharga. Memang suatu pengalaman bisa bersifat partikular (khusus) tetapi mungkin juga mengandung hal-hal yang bersifat umum (universal). Kondisi saya dan Anda tentunya berbeda. Namun demikian Anda bisa mengambil inspirasi dari pengalaman saya ini.

Setelah kehilangan pekerjaan pada Februari 1993, pada Agustus 1994 saya bergabung dengan AJB Bumiputera 1912 Rayon Madya Fatmawati (Jakarta Selatan) sebagai agen atau salesman asuransi jiwa. Pekerjaan sebagai salesman sebenarnya bukan bakat dan minat saya. Tetapi pekerjaan ini saya terima karena bersifat adil, dalam pengertian kalau saya kerja keras akan mendapat hasil banyak, kalau kurang keras hasilnya juga kurang.

Awalnya saya mendapat nasabah dari kalangan terdekat, kaum kerabat. Akhir Oktober 1994 saya sudah hampir kehabisan uang. Siang itu (saya lupa apakah akhir Oktober atau awal November 1994) saya gagal bertemu dengan prospek (calon nasabah) karena kabarnya beliau sakit. Sorenya saya duduk termenung memandangi langit yang mendung di kamar kos adik sepupu saya tempat saya menumpang. Di tengah keputusasaan saat itu saya merasakan sentuhan dan sapaan Tuhan dalam hati saya. Tuhan Yang Maharahim bertindak sebagai Bapa yang memberi makan/rejeki pada anak-anak-Nya.

Keesokan harinya saya melanjutkan pertemuan dengan prospek yang sehari sebelumnya sempat tertunda tesebut. Close. Saya memperoleh satu nasabah yang berasal dari luar lingkung an kerabat saya. Gembira hati saya meninggalkan kantor pusat PT Bayer Indonesia di kawasan Sudirman tempat Muhammad Anwar Syam, nasabah saya tersebut bekerja sebagai manager. Komisinya lumayan bisa untuk menyambung hidup sebulan.

Sejak saat itu hubungan saya dengan Tuhan sebagai Bapa sangat dekat. Pertama kali dalam hidup Kristiani saya, hati saya tergetar ketika menyebut-Nya dengan sebutan Bapa. Itu semua yang menyembuhkan luka-luka batin saya dan yang menguatkan saya ketika asal-usul saya dilecehkan. Rasa percaya diri saya terus menguat dalam menghadapi suka-duka hidup ini.

Sekitar akhir tahun 1994 atau awal tahun 1995 saya membuat suatu komitmen dihadapan Tuhan. Karna, salah seorang tokoh Mahabarata menginspirasi saya. Ia melepaskan hak miliknya berupa anting dan rompi wasiat untuk diberikan kepada orang lain, seorang brahmana. Saya kemudian merenung bahwa talenta beserta pengembangannya seharusnya dikembalikan kepada Tuhan untuk didistribusikan kepada sesama bukan diwariskan kepada anak cucu sendiri. Selanjutnya saya membuat komitmen bahwa kelak kalau seandainya saya kaya raya, saya tidak akan mewariskan kekayaan berlimpah itu kepada anak cucu saya tetapi mengembalikannya kepada Tuhan untuk diredistribusikan kepada sesama. Tetapi itu tidak berarti saya tidak bederma mulai sekarang.

Perjalanan hidup saya terus mengalir begitu saja. Awalnya ketika datang ke Jakarta saya mendambakan pekerjaan yang bersifat struktural sebagai supervisor, manager, dan seterusnya. Tetapi setelah bekerja sebagai agen asuransi jiwa itu, saya malah menjauhi semua pekerjaan struktural. Hal ini membuat saya terbiasa dengan bahasa persuasi dan hidup nyaman tanpa kekuasaan struktural. Dari asuransi jiwa saya pindah ke agen properti sampai hari ini, tetap sebagai salesman atau marketing asociate yang hidup dari komisi.

Sebelumya saya tidak tahu kalau komitmen besar saya itu membuat saya memperoleh wahyu keprabon. Saya menjalaninya secara tulus dan bersahaja. Awalnya saya berkomitmen seperti itu karena balas budi saya pada Tuhan yang telah bertindak sebagai Bapa bagi saya dan karena saya merasa tersentuh dengan penderitaan sesama yang kurang beruntung. Sampai akhirnya saya membaca wangsit itu pada tanggal 4 Juli 2002 seperti yang telah saya ceritakan dalam postingan berjudul "Wahyu Keprabon" yang barada di archive bulan Oktober 2008 di blog ini. R Hani Japar demikian saya membaca sandi RA Parjinah tersebut. Tidak salah lagi saya dipilih Tuhan.

Kemudian saya melanjutkan pemikiran saya maka lahirlah buku Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia yang terbit Oktober 2004. Di dalamnya berisi teori biososioekonomi atau bioekonomi yang menentang pewarisan kekayaan berlimpah ruah kepada keturunan pemilk kekayaan. Kalau saya vokal dan gigih menentang triple six (pewarisan kekayaan berlimpah ruah) karena saya sendiri telah membuat komitmen dalam diri saya sendiri, di samping itu tentu saja karena saya telah merasakan kehadiran Tuhan dengan tanda-tanda yang luar biasa dan dahsyat.

Meskipun tanpa kekuasaan struktural saya merasa nyaman dengan hidup saya. Saya justru pantang memegang pekerjaan struktural. Pekerjaan yang masih bisa saya jalani adalah yang bersifat non struktural seperti sebagai agen properti, penulis, dosen yang mengajar teori makro biososioekonmi tingkat dasar, atau aktivitas sebagai anggota paduan suara. Seorang pebisnis masih bisa bermanfaat bagi sesama dengan memperlakukan akumulasi laba (kekayaan) sebagai titipan Tuhan, dipakai secara bijaksana dan tidak diwariskan kepada keturunannya sendiri bila akumulasi kekayaan itu berlimpah ruah. Kalau semua pebisnis dan orang kaya melakukan dan berkomitmen seperti yang saya lakukan maka dunia yang damai, sejahtera, dan adil sudah terwujud.

Bagi saya pribadi kekuasaan struktural bukanlah sesuatu yang penting. Apalagi saat ini tersedia media blog dimana setiap orang bisa mengemukakan opininya. Hidup di masyarkat tanpa kekuasaan pun semakin nyaman. Kalau orang tidak ada yang mengadopsi teori ekonomi makro rumusan saya, toh dengan aktivitas dan komitmen saya, saya masih bisa bermanfaat bagi sesama. Ketidakpastian dan krisis global memang memerlukan cara pandang baru dan cara yang luar biasa untuk mengatasinya. Tulisan ini mungkin akan membuat Anda terkejut dan harus mengubah rencana Anda. Ternyata Tuhan tidak menyukai pewarisan kekayaan berlimpah ruah kepada anak cucu sendiri. Pengalaman ini sungguh luar biasa bagi saya sehingga saya tetap berani mengkritik triple six. Saya percaya Tuhan memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman ke bumi. Tak perlu tangan manusia sebagai eksekutornya. Tugas kita hanya memberi peringatan. Selamat Tahun baru. "Ya TUHAN berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN berilah kiranya kemujuran"


Sabtu, 27 Desember 2008

Di Balik Hiruk Pikuk Ramalan

Seperti biasanya menjelang akhir tahun di berbagai media disajikan ramalan-ramalan tentang tahun mendatang. Apalagi tahun 2009 adalah tahun politik bagi kita karena di tahun itu akan diselenggarakan pemilu legislatif dan pilpres. Hal ini akan membuat hiruk pikuk sajian ramalan tahun 2009.

Di internet tulisan mengenai Ratu Adil dan satrio piningit sangat banyak dan bervariasi dari yang jernih sampai komentar ngawur asal bunyi. Dari yang sejuk membawa damai sejahtera sampai yang seram-seram. Dari yang independen pro kebenaran sampai yang cenderung menunjuk capres tertentu. Media blog yang demokratis menyebabkan aneka tulisan bisa diakses publik di dunia maya.

Akan halnya ramalan, "benda" ini mungkin sudah setua peradaban manusia. Jaman dahulu Firaun pernah bermimpi melihat tujuh ekor lembu gemuk ditelan tujuh ekor lembu kurus, yang ditafsirkan Yusuf sebagai tujuh tahun masa panen berkelimpahan yang akan diikuti tujuh tahun paceklik. Ramalan ini ditindaklanjuti secara konstruktif oleh orang-orang di sekitar ramalan itu dan menghasilkan keadaan yang damai sejahtera.

Sikap salah terhadap ramalan atau nubuat sering tidak menghasilkan kedamaian tetapi kengerian. Tidak sedikit pula yang tidak mempercayai ramalan dan bahkan anti pati terhadapnya.

Pihak-pihak yang merasa terancam dengan ramalan tertentu sering bertindak ekstrim menghasilkan kekerasan. Herodes yang mendengar lahirnya bayi Mesias memerintahkan tentaranya membunuh semua bayi laki-laki yang berusia dua tahun ke bawah. Dalam Babad Tanah Jawi terjadi pertikaian antara Hadiwijaya dengan Danang Sutawijaya (Senapati) karena ramalan yang menyebutkan bahwa di tanah Mataram kan lahir seorang raja besar. Baik Hadiwijaya maupun Senapati adalah orang asing di bumi Mataram. Dalam film The Omen, Damien tokoh triple six dalam film fiksi tersebut, memerintahkan membunuh semua bayi laki-laki yang lahir pada tanggal 24 Maret atau 23 Maret malam, karena satu di antaranya diyakini sebagai bayi Kristus yang akan menentang kekuasaan triple six. Seorang rohaniwan dalam film tersebut menjawab dengan benar bahwa Yesus Kristus tidak datang sebagai bayi, tetapi sebagai orang dewasa. Menurut saya rohaniwan itu benar karena iman Semitik (Abrahamik) tidak mempercayai reinkarnasi.

Di tengah hiruk pikuk ramalan, orang sering melupakan satu hal yang penting. Memang suatu peristiwa besar sering sudah diramalkan sebelumnya baik oleh orang suci atau peramal yang dianggap kafir. Demikian juga rencana besar Tuhan biasanya sudah ditulis dalam Kitab Suci. Tetapi di balik hiruk pikuk itu ada yang paling penting yaitu pesan damai Tuhan. Kelahiran Bayi Yesus dan bintang Betlehem tidak hanya menarik perhatian tiga orang majus dan menghebohkan penduduk Yerusalem tetapi disertai pesan damai Tuhan melalui malaikat kepada para gembala: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Tidak sedikit orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menerima pesan damai-Nya adalah orang-orang sederhana seperti para gembala itu.

Kondisi damai sejahtera di bumi adalah kondisi yang memang direncanakan Tuhan. Tuhan tidak hanya menciptakan Surga di langit tetapi juga damai sejahtera di bumi. Kebahagiaan Mempelai Laki-laki (Tuhan) terjadi manakala mendapati mempelai perempuan (manusia) tidak hanya gigih dan vokal menentang triple six_akar ketidakadilan ekonomi sosial di bumi_ tetapi juga menangkap pesan damai-Nya dan berkomitmen untuk mewujudkannya. Mereka tidak lagi belajar perang (Yes2:4). Bagi saya pribadi ayat Yesaya 2:4 bukan sekedar visi perdamaian atau nubuat, tetapi sesuatu yang lengkap menyeluruh yaitu nubuat, visi perdamaian, komitmen, sekaligus pengalaman spiritual dan kisah nyata. Puteri Sion sejati sudah tidak lagi belajar perang, bukan orang yang memombardir penduduk Palestina dengan senjata-senjata yang mematikan. Juga tidak bisa ditiru uapaya membunuh Damien (triple six) seperti dalam film The Omen tersebut karena Tuhan masih memilki kuasa untuk menjatuhkan tulah dan hukuman ke bumi.

Saya lahir di suatu desa yang disebut Merbau Mataram pada tanggal 22 Maret malam hari mirip bayi laki-laki_yang akan menentang triple six_yang dicari-cari dalam film The Omen. Desa tempat kelahiran saya adalah sebuah desa di Lampung yang didirikan oleh pemerintah RI dan pejuang kemerdekaan RI, para veteran. Mereka telah "mengubah" alat-alat perang menjadi alat-alat pertanian hidup normal sebagai warga sipil. Meskipun tidak semua dari mereka mengenal pesan damai Tuhan melalui nabi Yesaya, tetapi mereka telah ambil bagian dalam karya Tuhan.

Di antara mereka yang pindah dari Pulau Jawa dan membangun serta tinggal di desa Merbau Mataram adalah penduduk pewaris Mataram lama (Perdikan Mangir). Maka tidak akan ada lagi perang pembebasan Mataram. Damai sejahtera di bumi adalah pesan dan kehendak Tuhan yang utama seperti yang difirmankan dalam Yesaya 65:25 "Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu..."

Di tengah hiruk pikuk ramalan, Tuhan menghendaki kedamaian. Damai di bumi, damai di hati. Selamat Natal bagi yang merayakannya. Tuhan memberkati Anda semua.



Rabu, 17 Desember 2008

(Sudah) Bekerja Tanpa Secuil Kekuasaan

Banyak yang menduga sebelumnya bahwa pemenang Pilpres 2004 yang lalu adalah seorang satrio piningit. Bagi kebanyakan orang, untuk bisa bekerja, satrio piningit memerlukan kekuasaan semacam lembaga kepresidenan. Padahal sebenarnya tidak begitu. Tanpa secuil kekuasaan pun saya sudah bekerja dan tetap akan bekerja, karena tugas saya hanya memberi peringatan. Selanjutnya Tuhan sendiri yang akan menyelesaikannya.

Sekedar memberi peringatan pun sebenarnya bukan suatu pekerjaan mudah. Suatu peringatan disampaikan kepada publik memang ada dasarnya tidak asal omong atau asal tulis. Hal ini tentu memerlukan suatu hubungan yang dekat dengan Tuhan. Hubungan yang dekat dengan Tuhan itu pertama-tama bukan karena saya lebih hebat atau lebih suci dari yang lain tetapi karena saya dipilih Tuhan atau ketiban pulung dan kemudian ditarik mendekati-Nya. Kebetulan latar belakang sejarah saya mendukung untuk itu. Saya terlahir sebagai hasil perkawinan antara orang Mangir (Kali Progo) dan orang kota Yogyakarta (Kali Opak) yang legendaris itu. Menurut arkeolog UI, Supratikno Rahardjo, dalam bukunya Peradaban Jawa, banyak peninggalan sejarah ditemukan di lima Kabupaten yaitu Temanggung, Magelang, Bantul, Sleman, dan Klaten yang wilayahnya di sekitar antara kedua sungai itu. Penemuan benda bersejarah berupa emas yang spektakuler ditemukan di Situs Wonoboyo, juga dalam areal tersebut. Wilayah itu memang diperkirakan sebagai pusat peradaban Mataram Kuno.

Suatu peringatan yang saya sampaikan juga kadang-kadang akan bersinggungan dengan orang atau lembaga yang mungkin menimbulkan friksi. Tentu dibutuhkan seni tersendiri untuk menyampaikannya kepada publik, selain sikap konsisten pada jalur yang saya tekuni yang ditetapkan Tuhan. Suatu peringatan yang lugas memang akan sampai sebagaimana peringatan itu dimaksud, tetapi mungkin akan menyinggung beberapa orang atau lembaga. Sedangkan suatu peringatan yang disampaikan secara tersamar (halus) memang tidak menyinggung pihak lain, tetapi sering tidak dipahami sebagaimana peringatan itu dimaksud. Dalam pengalaman hidup saya malah sering terjadi adanya pihak lain yang nylonong memasuki jalur yang ditetapkan Tuhan bagi saya. Hal itu terjadi karena pihak lain tidak tahu kalau jalur yang saya tekuni ini ada orangya. Mungkin juga mereka merasa direndahkan martabatnya kalau harus berdialog dengan orang (yang notabene bukan lembaga atau mewakili lembaga). Atau mungki n juga merasa jalur saya ini ada di bawah kekuasaannya. Sangatlah baik kalau masing-masing pihak berada pada jalurnya masing-masing. Dan saya tetap akan berusaha pada jalur yang ditetapkan Tuhan bagi saya, yaitu kesejahteraan publik. Meskipun dekat dengan Tuhan saya akan menghindari pembicaraan mengenai Surga, jalan ke Surga, atau ritual keagamaan karena hal itu wewenang pihak lain. Menurut hemat saya, Raja Saul koncatan wahyu keprabon karena merangkap pekerjaan imam. Rangkap-rangkap pekerjaan atau rangkap klaim semacam itu tidak akan saya lakukan. Saya tahu pantangannya.

Kalau memberi peringatan saja sudah meupakan pekerjaan besar yang membutuhkan konsentrasi dan seni mengapa harus mencari kekuasaan? Pengalaman saya mengatakan bahwa ketika peringatan yang saya sampaikan diabaikan, Tuhan telah bertindak. Jadi tidak perlulah kekuasaan itu. Saya termasuk orang yang percaya bahwa kuasa Tuhan untuk menjatuhkan hukuman ke bumi itu benar-benar nyata, tidak memerlukan tangan-tangan manusia sebagai eksekutornya. Keyakinan seperti inilah yang seharusnya menjadi titik pangkal perdamaian. Saya tegaskan lagi: Tidak memerlukan tangan-tangan manusia sebagai eksekutornya.

Semua tulisan dalam blog saya yang saya beri label spiritual tentu bersifat spiritual, tidak bisa dibaca sbagai peringatan eksakta seperti membaca peringatan dari lembaga seperti BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) atau badan pengawas kegunungapian. Namun demikian peringatan spiritual itu saya sampaikan karena saya meyakini kebenarannya.

Wibawa sebuah peringatan spiritual bukan terletak pada saya yang menyampaikannya tetapi terletak pada kesesuaiannya pada kehendak Tuhan. Memang, saya harus mengakui bahwa saya tidak berdialog secara fisik langsung dengan Tuhan. Tak ada tuntutan bahwa mempelai perempuan (manusia) adalah orang yang langsung berdialog dengan Tuhan. Justru tradisi Yahudi mengatakan bahwa Mempelai Laki-laki (Tuhan) tidak berbicara langsung dengan mempelai perempuan kecuali melalui sahabat-sahabat-Nya yaitu para nabi, rasul, dan penulis Kitab Suci. Dari Kitab Suci itulah peringatan itu saya sampaikan.

Sekali lagi perlu saya sampaikan bahwa menyampaikan peringatan saja sudah merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan ketekunan dan kecermatan. Sebagai orang Jawa saya harus tahu diri dimana porsi saya. Saya tidak akan mengambil posisi sentral Tuhan,dengan rangkap pekerjaan, tidak akan menduduki takhta Tuhan, serta tidak akan mengambil porsi Tuhan sebagai eksekutor. Porsi saya hanya memberi peringatan.




Sabtu, 06 Desember 2008

Mengarusutamakan Demokrasi Ekonomi dan Gerakan Dunia Baru

Salah satu hal yang memrprihatinkan saya adalah adanya suatu anggapan dalam masyarakat bahwa diberlakukannya demokrasi politik tidak membawa kepada kesejahteraan umum. Sebagian anggota masyarakat malah terkena suatu "virus" yang oleh Prof Dr. Mubyarto (alm) disebut sebagai virus SARS (saya amat rindu Soeharto).

Saya, meskipun tidak dipilih melalui prosedur demokrasi, tetapi sangat menghargai demokrasi. Sudah sering saya sampaikan dalam tulisan-tulisan saya agar kita tetap mempertahankan demokrasi politik di NKRI. Meskipun mempunyai hak atas takhta dan bumi Mataram (wilayah yang membentang antara Kali Progo dan Kali Opak), saya tidak akan menggugat perampasan dan penjajahan atas bumi Mataram. Perlu diketahui bahwa bagi saya NKRI bukanlah penindas. Justru NKRI adalah salah satu king maker-nya meskipun tanpa disadari dan tanpa sengaja. Bagi saya NKRI sebagai negara demokrasi modern yang berdasar Pancasila, hukum, yang mengahrgai pluralitas (Bhinneka Tunggal Ika) dan menghargai hak asasi manusia, sudah final. Tidak prlu ada Negara atau Kerajaan Mataram.

Dalam berbagai tulisan, saya mengatakan bahwa kesengsaraan rakyat terjadi karena tidak adanya demokrasi ekonomi, bukan karena diberlakukannya demokrasi politik. Founding father kita, Bung Hatta mengatakan bahwa kalau di samping demokrasi politik tidak ada demokrasi ekonomi maka rakyat tetap dalam kondisi terjajah. Konstitusi NKRI juga menyebutkan perlunya demokrasi ekonomi agar tidak terjadi penumpukan asset pada segelintir perusahaan atau individu.

Dengan dirumuskannya teori makro biososioekonomi, wujud dari demokrasi ekonomi itu menjadi terang benderang. Menjadi jelas. Bila Marx menganggap bahwa laba adalah hasil eksploitasi buruh maka biososioekonomi beranggapan bahwa laba itu berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang tanpa sekat-sekat primordial, sektarian, dan tanpa sekat-sekat negara). Tentu yang "diwajibkan" mengembalikan akumulasi laba (kekayaan) bukanlah perusahaan tetapi individu, karena individu adalah juga homo socius sementara institusi bisnis tidak bisa menjadi lambaga sosial.

Daur ulang kekayaan individu dalam biososioekonomi adalah wujud nyata demokrasi ekonomi itu. Kekayaan yang berlimpah (sebagai akumulasi laba) memang seharusnya tidak diwariskan kepada keturunan pemilik kekayaan. Kalau demokrasi politik membatasi kekuasaan eksekutif dengan UU dan periodenya dibatasi, serta tidak diwariskan kepada pemilik kekuasaan maka demokrasi ekonomi juga harus mencegah pewarisan kekayaan berlimpah itu. Memang mencegahnya tidak dengan UU atau hukum positif negara sebagaimana saya usulkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia. Tetapi kritik terhadap pewarisan kekayaan berlimpah harus diartikulasikan dengan lugas sehingga dipahami dan diketahui semua pihak. Kemudian menjadi arus utama.

Kita semua yang berkeinginan untuk mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera, lebih stabil, dan lebih damai, perlu bekerjasama untuk mengarusutamakan demokrasi ekonomi secara damai. Semua pihak bisa berperan dalam posisi, kapasitas, dan profesinya masing-masing untuk ikut serta. Sekedar tahu dan memahami demokrasi ekonomipun sebenarnya sudah berperan ikut mengarusutamakan demokrasi ekonomi meskipun peran itu sangat minimal. Paling tidak dengan mengetahui dan memahami demokrasi ekonomi, seseorang tidak bisa dikaburkan oleh pandangan yang mengatakan bahwa kesengsaraan rakyat terjadi karena diberlakukannya demokrasi politik.

Antara saya dan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM terdapat kesamaan namun juga perbedaan. PUSTEK UGM tersebut termasuk institusi yang tanggap pada kebutuhan rakyat banyak. Pada tanggal 31 Desember 2008 lembaga itu akan meluncurkan "Panduan Demokrasi Ekonomi untuk Pemilu 2009" baik cetak maupun webpage. Rencana peluncuran itu perlu saya tulis di sini sebagai partisipasi dalam mengarusutamakan demokrasi ekonomi. Sebagaimana saya berpartisipasi dalam program campaign Oxfam, saya pun perlu berpartisipasi untuk mengarusutamakan demokrasi ekonomi meskipun antara saya dan pusat studi itu mungkin memilki perbedaan.

Selain itu tak lupa pula untuk mengarusutamakan Gerakan Dunia Baru. Istilah Gerakan Dunia Baru dikemukakan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah dalam Konferensi ke-4 Aliansi Strategis Rusia-Dunia Islam. Gerakan Dunia Baru ini merupakan jalan tengah non kekerasan. Ini perlu diingatkan lagi karena masih ada kelompok-kelompok yang memakai kekerasan seperti terjadi pada penyerangan Hotel Taj Mahal Mumbai India baru-baru ini.

Dalam berbagai agama den kebudayaan, sepanjang yang saya tahu, kedermawanan tidak hanya dibatasi 10% dari penghasilan atau kekayaan. beberapa orang Islam menyadari bahwa menerima atau mewariskan kekayaan berlimpah ruah pantas dihukum di neraka. tetapi pandangan ini belum menjadi arus utama. Di dalam Katolik sebagian orang juga sadar mewariskan atau menerima kekayaan berlimpah identik dengan triple six. Tetapi hierarki Gereja Katolik belum melarangnya.

Agama Budha sepanjang yang saya tahu juga tidak membatasi kedermawanan hanya 10%. Kisah Pangeran Sidharta yang meninggalkan istana untuk menjadi pertapa telah dikenal oleh nasyarakat Jawa ketika Candi Borobudur dibangun. Sebagian orang Yahudi memang beranggapan bahwa bederma 10% saja sudah cukup. Akan tetapi hal itu pernah dikritik Yesus Kristus. Orang Jawa tidak membatasi kedermawanan hanya cukup10% saja. Dalam tulisan saya di blog ini saya juga mengingatkan kembali orang Jawa.

Dengan melarang pewarisan kekayaan berlimpah ruah dan tidak membatasi kedermawanan hanya 10%, para pemimpin agama dan pusat pengaruh dalam masyarakat sudah mengambil perannya masing-masing dalam mengarusutamakan Gerakan Dunia Baru yaitu jalan tengah yang damai. Kita semua berharap agar peran itu segera dilaksanakan. Terlalu banyak sudah korban berjatuhan. Kita juga menghadapi krisis ekonomi dan keadaan suram tahun depan.

Dua hal penting yang akan kita lakukan tahun depan adalah mengarustamakan demokrasi ekonomi dan gerakan dunia baru. Dengan ikut menyebarluaskan tulisan ini Anda juga sudah ikut berpartisipasi untuk mengarusutamakan dua hal di atas untuk menggapai masa depan yang lebih adil, lebih sejahtera, lebih stabil, dan lebih damai. Ketidaksejahteraan terjadi bukan karena diberlakukannya demokrasi politik tetapi karena tidak adanya demokrasi ekonomi. Tidak semua orang tahu apa itu demokrasi ekonomi apa itu biosoioekonomi.

Tulisan ini merupakan upaya saya membayar hutang budi saya pada NKRI dan demokrasi politik. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau saya lahir di Yogyakarta, saya beruntung lahir di Lampung. Saya juga tidak bisa membayangkan buku saya bisa terbit dalam masa pemerintahan otoriter Orba. Kita tidak perlu lagi kembali ke masa otoriter Orba. Sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan untuk mereforamsi sistem yang otoriter itu entah pada tahun 1998 tahun 1996 ("kuda tuli") atau pada kesempatan lain. Korban itu tidak perlu lagi.






Sabtu, 29 November 2008

Dari Pesta Blogger 2008: Harus Diakui Media Blog Lebih Demokratis

Sabtu 22 November 2008 saya mengikuti Pesta Blogger 2008. Saya mendaftar langsung pada hari H sehingga blog saya ini tidak ditampilkan di situs Pesta Blogger 2008. Tak ada wartawan konvensional yang tahu. Yang tahu adalah wartawan pribadi atau blogger. Pagi itu saya bertemu teman sekantor yang sesama blogger, hanya saja teman saya itu tidak tahu nama blog saya karena saya belum menginformasikannya.

Peserta Pesta Blogger kali ini lebih dari 1.000 orang blogger, ada beberapa yang belum mempunyai blog. Tidak semuanya berasal dari Jakarta, bahkan banyak yang berasal dari luar Jakarta seperti Bali, Kalimantan, Palembang, Sulawesi, Yogyakarta, dll. Pejabat pemerintah yang hadir mengatakannya sebagai ajang pertemuan kaum muda ala Sumpah Pemuda. Pesta ini memang direncanakan Oktober 2008 tetapi sempat tertunda sebulan.

Beraneka ragam pemilik blog yang hadir. Tidak hanya blog politik, banyak blog yang non politik seperti blog traveling (wisata), blog gaul, bisnis, dll. Tidak sedikit yang menganggap aktifitas blogging sebagai just for fun.

Pada saat istirahat makan siang saya mengunjungi stand Oxfam yang tampil dalam rangka perayaan 50 tahun kehadirannya di Indonesia. Oxfam adalah LSM asal Inggris yang bergerak dalam pendampingan orang miskin. Saya mendapat pin "Be The Change Campaign" dengan slogannya "Stop Harming, Start Helping" dari petugas Oxfam Dian Kartikasari, yang langsung saya pakai di baju saya. Senang sekali saya memakainya. Bahkan ketika saya memulai aktifitas saya di kantor dua hari kemudian, pin itu masih saya pakai. Menurut saya, sekecil apa pun tindakan kita selama itu masih bisa kita lakukan untuk membantu mereka yang lapar dan miskin, mengapa tidak kita lakukan. Meskipun saya punya paradigma dan agenda sendiri dalam pengentasan kemiskinan. Apa yang dilakukan Oxfam dan kebanyakan LSM lain umumnya bergerak pada tataran mikro, sementara yang saya lakukan dengan teori biososioekonomi adalah pada tataran makro. Baik mikro maupun makro kedua-duanya harus dilakukan dalam pengentasan kemiskinan.

Selesai jam istirahat makan siang saya langsung brgabung dengan sesi sosial politik yang dimoderatori Martin Manurung pemilik blog (web) www.martinmanurung.com. Hadir dua orang blogger luar negeri yakni Mr. Brown (Singapura) dan Mr. Jeff Ooi (Malaysia). Jeff Ooi adalah seorang politisi yang sebelumnya seorang blogger. Menurutnya blog merupakan sarana yang baik untuk mengkritik opini arus utama atau propaganda resmi 9pemerintah).

Banyak yang bisa saya dapatkan dari Pesta Blogger 2008 itu. Dalam beberapa hari kemudian saya merenungkannya. Saya agak menyesal juga mengapa baru sekarang nge-blog bukan beberapa tahun lalu. Kalau saya nge-blog beberapa tahun lalu, tulisan saya mengenai demokrasi ekonomi dan biososioekonomi sudah bisa diakses oleh semua orang dari seluruh dunia. Mengapa harus tergantung pada media konvensional yang nyata-nyata tidak demokratis dan sangat tidak interaktif?

Perbedaan antara media blog dan media konvensional adalah bahwa blog adalah media yang editor less atau bahkan "no editor." Pengunjung blog bisa berperan sebagai editor dalam pengertian menyaring sendiri informasi yang dianggap kredibel dari blog dan berhak menyampaikan komentar yang konstruktif. Sementara para blogger bisa menampilkan gagasannya secara lebih orisinil. Interaksi dengan pembaca blog lebih setara dibandingkan interaksi dalam media konvensional yang sangat otoriter (media cetak) dan semi otoriter (media televisi).

Dalam hal ini Pak De saya telah memberikan pelajaran yang berharga ketika saya dulu tinggal bersamanya di masa remaja saya dari SMP sampai lulus S1 UGM. Pak De saya (RY Marjuki) menasihatkan kalau bisa berlangganan lebih dari satu media cetak dan harus membaca lebih dari satu. Sebagai wartawan konvensional beliau tahu apa akibatnya kalau seseorang hanya dijejali informasi dari satu media cetak selama bertahun-tahun hidupnya.

Tidak semua orang mampu berlangganan lebih dari satu media cetak dalam kurun waktu bersamaan. Seorang yang setiap hari mengunjungi perpustakaan yang lengkap atau menginap di hotel berbintang, bisa membaca lebih dari satu media cetak setiap hari. Tetapi tidak semua orang bisa seperti itu. Dengan adanya media internet dan blog seseorang bisa mengunjungi dan membaca lebih dari satu koran dan blog setiap harinya dengan biaya yang relatif lebih murah. Sebagai contoh melalui ponsel black berry dan operator XL kita bisa membaca lebih dari satu koran dan blog sepuasnya setiap hari hanya dengan biaya Rp 5.000 per hari. Yang tidak memiliki ponsel black berry pun tetap bisa mengakses lebih banyak sumber. Betapa demokratisnya dunia maya dan blog. Otak kita tidak lagi dijejali oleh satu surat kabar saja selama bertahun-tahun.

Memang tidak semua informasi dari blog kredibel. Akan tetapi sebagai blogger maupun pengunjung blog siapapun juga punya tanggung jawab untuk menjernihkan yang keruh, meluruskan yang bengkok, mendinginkan yang memanas, merelaksasikan yang menegang, dan (seperti Pak Besut) merapikan/menghaluskan yang kusut. Kita yang sudah dewasa dan memiliki kombinasi IQ dan EQ yang memadai pasti sanggup mengemban tanggung jawab seperti ini.

Apakah Anda masih mau meracuni otak Anda dengan hanya mengkonsumsi satu surat kabar saja setiap hari? Saya tidak. Kalau Anda masih muda tetapi hanya mengkonsumsi satu surat kabar setiap hari itu jadul namanya alias seperti jaman dulu, jaman kakek atau Oom-oom kita. Kita sendiri yang bisa mendemokrasikan otak kita dengan membaca dari berbagai sumber.




Minggu, 16 November 2008

Catatan atas Fenomena Obama: Pergantian Presiden Saja Tidak Cukup

Obama adalah sebuah fenomena. Sebuah fenomena spektakuler. Ia adalah Presiden pertama AS yang berlatar belakang kulit berwarna. Partisipasi warga AS dalam pilpres 2008 ini juga sangat besar. Berbagai pihak menyebut kemenangan Obama itu sebagai kemenangan demokrasi. Besarnya partisipasi warga negara AS mengikuti pilpres 2008 juga menunjukkan tanda besarnya harapan warga AS akan perubahan ke arah yang lebih baik, lebih sejahtera.

Di luar AS kemenangan Obama juga disambut hangat, sebagai suatu titik tolak akan adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Sementara itu George W Bush_seperti dikutip oleh media massa_ menunjukkan sikap defensifnya dengan sistem kapitalisme. Bahkan Bush juga mendesak agar pertemuan G-20 itu fokus pada peningkatan pertumbuhan ekonomi bukan penghakiman terhadap regulasi AS yang tidak memadai (Kompas, 15 November 2008, hlm 10:"UE Kini Berharap pada Obama").

Penggantian Presiden memang salah satu langkah untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun apakah hal itu cukup memadai untuk membawa seluruh dunia ke arah yang lebih adil dan sejahtera. Perlu diingat bahwa Presiden Obama dipilih oleh warga negara AS untuk kesejahteraan dalam negeri mereka. Perannya dalam tata ekonomi global yang lebih adil- sejahtera bukannya tidak ada, tetapi perlu suatu paradigma baru yang perlu diketahui dan dipahami baik oleh pemerintah (termasuk Presiden Obama) maupun civil society agar perubahan ke arah yang lebih adil dan sejahtera bisa terwujud. Untuk itulah catatan ini disajikan.

Dalam tulisannya "Menelanjangi Liberalisme" (Kompas, 13 Oktober 2008), Ahmad Erani Yustika mengatakan:"Menjadi Jelas, gagasan liberalisme dianut banyak pemikir bukan karena kedigdayaan bangun teorinya, tetapi karena rapuhnya tiang ide sosialisme. Jadi, yang dibutuhkan saat ini adalah kontestasi pemikiran genial yang tidak diikat fanatisme dua fundamentalis ideologi ekonomi itu." Menurut saya kritik terhadap kapitalisme (neoliberalisme) bukan berarti kita menerima ekstrim lainnya (komunisme). Ada jalan tengah yang kongkrit, meskipun belum menjadi arus utama. Tudingan Bush bahwa kritik terhadap kapitalisme berarti isolasi ekonomi(Kompas, 31 Oktober 2008, hlm 44) tidak benar. Ada jalan tengah atau jalan ketiga yang jelas nyata bedanya tanpa harus membenci kapitalisme, tetapi juga tidak menolak redistribusi aset individu.

Keboborokan atau kebusukan paradigma neoliberal perlu ditelanjangi tuntas agar semua pihak mengetahui duduk perkaranya. Khusus dalam blog saya ini, saya membahas dua kebobrokan paradigma neoliberal yaitu: peningkatan harga saham dan ideologi pertumbuhan PDB.

Menelanjangi Paradigma (Neoliberal) Harga Saham

Dalam sistem ekonomi liberal, pelaku ekonomi baik individu atau institusi bebas membeli atau menjual saham perusahaan yang sudah go publik. Saham-saham itu dibeli sebagai instrumen investasi. Tidak hanya institusi atau orang kaya saja yang membeli saham, individu (rumah tangga) menengah juga menyisihkan pendapatannya untuk dibelikan saham. Pembeli saham mengharapkan kenaikan harga saham atau (dan) deviden yang dibagikan perusahaan yang sahamnya dibeli.

Dalam beberapa kasus kenaikan harga saham tertentu adalah wajar dan mungkin berkaitan dengan fundamental ekonomi perusahaan dan peningkatan laba perusahaan itu. Laba suatu perusahaan bisa meningkat karena pasarnya meningkat. Sebagai contoh laba perusahaan operator telepon seluler meningkat karena pasarnya meningkat.Tetapi pada saat bersamaan terjadi penurunan pasar radio panggil (pager) dan usaha percetakan kartu ucapan. Dengan adanya layanan SMS dari operator telepon seluler maka sebuah pesan tertulis atau ucapan ulang tahun atau ucapan selamat hari raya lebih mudah dan murah dikirimkan. Peningkatan laba perusahaan karena dinamika pasar (dan teknologi) seperti itu adalah wajar. Wajar juga kalau saham perusahaanseeprti itumeningkat.

Yang tidak wajar adalah peningkatan harga saham total, tercermin dengan peningkatan indeks harga saham total (gabungan). Hal itu tidak selalu berkaitan dengan fundamental perusahaan atau membaiknya ekonomi secara keseluruhan. Peningkatan harga saham total itu boleh jadi karena arus investasi yang masuk ke bursa saham memang membesar, tidak terkait fundamental ekonomi perusahaan. Investor pertama menjual sahamnya kepada investor kedua yang harga sahamnya sudah meningkat. Investor kedua menjual sahamya kepada investor ketiga yang harganya lebih tinggi dari pada harga saham yang dibeli oleh investor kedua itu, demikian seterusnya sehingga terjadi penggelembungan harga (bubble). Apabila gelembung itu pecah akan memakan korban yang tidak hanya investor, tetapi juga perusahaan investasi seperti Lehman Brothers.

Ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga yang saya tawarkan tidak anti peningkatan kekayaan seseorang. Tetapi penggelembungan harga saham seperti itu mestinya harus dihindari. Seseorang yang nilai aset bersihnya Rp 2,5 Milyar, kekayaannya ini bisa meningkat bukan karena peningkatan harga saham yang dimilikinya tetapi karena mendapat deviden (dan pendapatan lain) sehingga setahun kemudian nilai aset bersihnya menjadi Rp 2,95 Milyar. Peningkatan harga saham total bukan indikator perbaikan ekonomi tetapi tanda awal datangnya bencana finansial.

Dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia (2004) saya sudah memperingatkan (hlm 60):"Metode analisis Marx mengenai siklus bisnis dan kejatuhan tingkat keuntungan penulis perbarui dengan menggunakan Hukum II Termodinamika sebagaimana dipaparkan dalam bab "Bioekonomi". Marx hanya menerapkannya pada sektor riil (manufaktur), sedang metode penulis bisa diterapkan untuk sektor keuangan (pasar uang, valas, dan saham) serta properti. Ramalan Marx tentang kejatuhan kapitalisme sebenarnya terlalu ambisius. Menurut Hukum II termodinamika, yang terjadi bukan kejatuhan kapitalisme tetapi suatu kondisi yang disebut chaos. Ekonomi tidak bisa diprediksi, siapa atau investasi mana yang akan mengalami keuntungan atau kerugian juga tidak bisa diprediksi, bahkan terjadi zero sum condition, yakni keuntungn yang satu diperoleh karena kerugian pihak lain. Kemudian alam akan mengoreksinya dengan depresi besar atau resesi berkepanjangan".


Pertumbuhan PDB=Beban!

Keboborkan lain paradigma neoliberal adalah ideologi pertumbuhan PDB. Bagi masyarakat awam sering terjadi persepsi rancu antara PDB (produk domestik bruto) dengan pertumbuhan PDB. Dalam komunikasi publik pertumbuhan PDB diistilahkan sebagai pertumbuhan ekonomi.
Istilah ini sebenarnya tidak tepat karena tidak menggambarkan kondisi ekonomi publik kerakyatan yang riil.

PDB adalah total nilai produksi jasa dan barang akhir di suatu negara selama satu tahun. Hal ini menggambarkan penjumlahan pendapatan individual anggota masyarakat selama satu tahun yang berupa gaji pegawai, laba perusahaan perorangan, laba PT, dan pendapatan bunga serta sewa.

Pendapatan individual anggota masyarakat tentu sangat bervariasi dari yang pendapatannya kurang atau pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan fisik minimalnya sampai yang pendapatannya ratusan kali atau ribuan kali melampaui itu, sehingga kelebihannya bisa ditabung atau diinvestasikan ke tempat lain.

Pertumbuhan PDB atau yang diistilahkan sebagai pertumbuhan ekonomi memang berarti peningkatan pendapatan anggota masyarakat secara keseluruhan. Hal itu hanyalah gambaran total. Bahwa ada anggota masyarakat pendapatannnya tidak meningkat tidak bisa dideteksi dengan ukuran pertumbuhan PDB.

Meskipun pertumbuhan PDB adalah 0% maka tetap saja ada anggota masyrakat yang asetnya meningkat yaitu mereka yang pendapatannya melampaui kebutuhan fisik minimal. Pertumbuhan PDB 0% bukan berarti tidak ada pendapatan atau laba yang dibukukan. Pertumbuhan PDB 0% hanya berarti tidak ada peningkatan pendapatan total.

Apabila pertumbuhan populasi penduduk adalah 0% (seharusnya memang dikendalikan tidak lebih dari 0% per tahun) maka sebenarnya tidak diperlukan pertumbuhan PDB bila tingkat PDB-nya sudah cukup tinggi. Ada produksi, pasti harus ada konsumsi, mau dikemanakan produksi itu? Mau diekspor ke luar planet bumi?

Pertumbuhan PDB juga memerlukan penyediaan energi yang cukup. Sumber energi fosil terbatas. Energi nabati akan berebut lahan dengan tanaman pangan yang merupakan kebutuhan semua orang termasuk rakyat kebanyakan yang daya belinya terbatas. Belum lagi gas-gas rumah kaca yang dilepaskan juga meningkat dengan peningkatan PDB. Negara dengan tingkat PDB yang tinggi seperti AS juga penyumbang gas-gas rumah kaca yang besar pula. Hal itu akan meningkatkan pemanasan global yang bisa menjadi bencana. Sama seperti pertumbuhan populasi penduduk, pertumbuhan PDB adalah beban bagi alam.

Dari sudut pandang ekonomi publik, ideologi pertumbuhan PDB juga menohok logika akuntansi yang sehat. Seorang mahasiswa S1 Ekonomi yang baru belajar Ekonomi Makro pun sudah tahu bahwa deposito anggota masyarakat adalah liabilitas bagi bank sentral. Apa yang menjadi liabilitas bagi bank sentral adalah liabilitas bagi publik, karena sistem ekonomi publik harus membayar bunga bagi deposito itu. Menggenjot PDB setinggi mungkin sama dengan menggenjot liabilitas publik. Hal-hal yang sederhana seperti ini seharusnya dipahami dan diketahui oleh pemangku kepentingan publik (baca:pejabat pemerintah) yang notabene titelnya doktor.

Memang, pertumbuhan PDB 0% atau rendah dalam jangka panjang bisa mengancam industri perbankan. Kondisi itu berarti penurunan kredit investasi yang disalurkan perbankan. Perbankan harus menggenjot habis-habisan kredit konsumsi dan harus melakukan merger untuk meningkatkan skala ekonominya supaya besaran laba nominalnya bisa dipertahankan meskipun mungkin persentsenya menurun. Kondisi seperti itu juga tidak menutup kemungkinan ambruknya perbankan. Dalam perekonomian yang mengaplikasikan teori ekonomi konvensional (baik neoliberal maupun keynesian), pertumbuhan PDB 0% atau rendah dalam jangka panjang adalah ancaman bagi industri perbankan. Tetapi solusinya tentu bukan dengan menggenjot PDB setinggi-tingginya. Untuk itu semua pihak harus terbuka terhadap suatu paradigma baru atau grand theory baru yang merupakan teori ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga.

Mengganti Grand Theory

Dalam paradigma nonkonvensional pertumbuhan PDB 0% tidak akan mengancam industri perbankan selama pertumbuhan populasi penduduk maksimum 0%. Dalam paradigma konvensional (neoliberal ataupun keynesian) pertumbuhan PDB 0% mengancam industri perbankan karena liabilitas publik jauh lebih besar dari aset publik (government+society). PDB adalah ukuran pendapatan individual anggota masyarkat dalam satu tahun. Akumulasi dari kelebihan pendapatan individual sebagian anggota masyarakat menumpuk menjadi aset individual aggota masyarakat. Aset pribadi ini adalah beban (liabilitas) bagi perekonmian publik. Seseorang yang pernah belajar akuntansi mestinya tahu logika semacam ini.

Jumlah aset publik (government+society) bisa ditingkatkan dengan melakukan tiga hal berikut ini sebagaimana telah saya kemukakan dalam buku saya Herucakra Society jalan Ketiga Ekonomi Dunia (hlm11, tabel1). Ketiga hal tersebut adalah meningkatkan pajak individu, derma pribadi, dan memulai kebiasaan baru untuk mendaur ulang kekayaan pribadi berlimpah atau tidak mewariskan kekayaan berlimpah pada keturunan pemilik kekayan sendiri. Inilah paradigma ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga itu..

Paradigma ekonomi jalan ketiga ini berbeda dengan apa yang diusulkan Ahmad Erani Yustika mengenai pajak progresif (Kompas, 11 November 2008). Dalam tulisannya yang berjdul "Obama dan Tata Ekonomi" Yustika mengatakan perlunya pajak progresif untuk warga yang lebih kaya (pendapatan di atas 250.000 dollar AS). Memeratakan pendapatan memang bisa meningkatkan permintaan total (agregate demand) sesuai pandangan keynesian. Akan tetapi paradigma semacam itu akan mengekalkan pandangan neoliberalistik bahwa laba (pendapatan) setelah dipotong pajak dan derma adalah pengembalian yang sah atas modal (bakat/keahlian).

Ujung-ujungnya akumulasi laba (pendapatan) yang menumpuk dalam aset pribadi berlimpah selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, dan diwariskan kepada anak cucu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan sah, tidak dianggap sebagai beban bagi perkonomian publik kerakyatan. Paradigma yang hanya mengkaitkan nisbah pajak dengan PDB jelas salah kaprah, karena PDB hanyalah pendapatan individual tahunan. Yang diperlukan adalah redistribusi aset individu sebagaimana saya usulkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia (2004) melalui daur ulang kekayaan pribadi dalam teori biososioekonomi.

Meskipun masih bersifat embrional, teori biososioekonomi sebagai teori ekonomi jalan tengah memiliki metode berpikir dan kerangka berpikir yang jelas. Ukuran-ukurannya jelas dan accountable. Apa yang disebut aset dan libilitas oleh masyarakat (publik) juga jelas. Tabel yang menggambarkan neraca herucakra society itu dimuat dalam tulisan saya "Bioekonomi, Ekonomi Masyarkat, dan Kependudukan" yang ditampilkan oleh situs Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM yang bisa dikunjungi oleh orang dari seluruh dunia. Ekonomi jalan tengah bukan lagi ekonomi yang tak jelas seperti dulu_bukan ini atau bukan itu_ tetapi suatu ekonomi yang jelas, kongkrit, dan tegas. Untuk mengganti teori ekonomi yang neoliberlaistik memang sedikit banyak tergantung pada kehendak dan kepentingan. Kepentingan privat atau partikular itulah yang masih menjadi arus utama.

Pr0f. Dr. Mubyarto (alm) dan saya termasuk orang-orang yang tidak percaya bahwa mengganti orang saja cukup. Yang pertama harus diganti adalah grand theory-nya bukan sekedar regulasi ini atau itu. Sementara orangnya mungkin memang perlu diganti, mungkin juga tidak tergantung berbagai pertimbangan. Dalam kasus pilpres AS 2008, penggantian presiden memang satu langkah yang diperlukan.