Kamis, 22 Januari 2009

Pertama Kali Saya Mengenal Kata Mataram...dan Mangir

Setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda ketika pertama kali mengenal kata mataram dan mangir. Sebagian orang mengenal kata itu ketika telah dewasa, sebagian lagi mengenalnya lewat pelajaran sejarah atau cerita ketoprak. Bayangan yang menyertai kedua kata itu tentu berbeda pada masing-masing orang.

Ketika membuat tulisan ini, saya harus mengingat-ingat kembali kapan saya pertama kali mengenal kedua kata tersebut. Yang jelas saya mengenalnya ketika saya masih kecil di bawah 10 tahun atau 5 tahun malah.

Mengenai kata mataram, saya agak kesulitan mengingatnya kapan pertama kali mengenalnya. Hal ini karena kata mataram telah menjadi realitas hidup sehari-hari sejak lahir dan masuk dalam alam bawah sadar. Sama seperti ikan, kalau saja ikan bisa berpikir dan bisa diajak berdialog pasti akan kesulitan kalau ditanya kapan pertama kali mengenal air. Air adalah realtas hidupnya sehari-hari.

Waktu saya kecil, setiap kali sebelum tidur, saya sering mendengar aneka dongeng atau cerita dari ayah saya Sumarji Siswosuwarno. Aneka cerita saya dengar, mulai dari cerita wayang, kancil, atau kisah nyata bagaimana desa kelahiran saya dibangun dari hutan belantara. Mungkin saat itu kata Merbau Mataram telah saya dengar.

Pada saat usia saya kurang lebih tiga tahun, saya beserta adik perempuan saya Ning, diajak berkunjung ke Yogyakarta. Saya tak bisa mengingat kata-kata apa yang diucapkan kepada saya. Mungkin kata-kata seperti ini yang diucapkan:"Ayo neng nJowo tilik Pakde Juki" (Ayo ke Jawa menengok Pakde Juki). Yang jelas kata-kata yang diucapkan tentu bukan ayo ke Mataram.

Selain menginap di Blunyah (Yogyakrta) tempat Pakde Juki tinggal, saya diajak pula ke Mangir (Kab. Bantul). Mungkin kata-kata yang diucapkan kepada saya adalah:"Ayo...neng Mangir, tilik mBah." Tentu yang dimaksud bukan kakek-nenek kandung, tetapi kakak-kakaknya kakek-nenek. Saya tidak ingat benar telah mendengar kata mangir waktu itu. Yang saya ingat adalah suatu pemandangan yang bagi anak kecil sangat luar biasa karena pemandangan itu tak pernah saya jumpai di desa kelahiran saya. Pemandangan yang luar biasa itu adalah pemandangan tentang Kali Progo yang besar dan airnya melimpah.

Setelah saya bisa membaca dan menulis tentu pengalaman saya bertambah. Kakek saya, Panggiyo Suwarno, adalah seorang Kepala Dusun. Di tempat kami disebut kepala suku. Kepala Dusun Hargo Binangun di bawah Desa Merbau Mataram. Pada saat menjelang perayaan RI 17 Agustus punya kesibukan menggerakkan orang-orang dusun untuk membuat gapura. Sehingga saya secara visual, saya juga bisa membaca dan menangkap kata-kata Merbau Mataram pada gapura. Merbau Mataram adalah nama tempat di mana saya lahir dan menghabiskan masa kecil saya.

Karena SD Hargo Binangun tempat saya sekolah ditutup maka pada saat menginjak kelas 3, saya pindah ke SDN Mataram 1 (demikian nama SD itu disebut seperti tertulis dalam ijazah saya). Pengalaman saya bertambah. Mataram adalah nama sekolah tempat saya belajar. Selain membaca dari papan nama sekolah, saya membaca dari kaos olah raga yang dikenakan teman-teman atau kakak-kakak kelas sewaktu melakukan kegiatan olah raga atau Senam Pagi Indonesia.

Jadi, Mataram yang saya kenal pertama kali adalah tempat atau desa (Merbau Mataram) di mana sudut-sudut desa itu dihiasi kebun singkong, sawah tempat saya mancing dan mencari ikan, ladang, bahkan juga ilalang di mana saya kadang-kadang bisa menemukan sarang burung terkuak (srimbombok) yang indah beserta telurnya. Selain itu Mataram adalah sebuah sekolah dimana saya belajar yang juga dikelilingi kebun singkong milik sekolah. Itulah pengenalan dan pengakraban saya dengan kata mataram di mata seorang bocah.

Mengenai kata mangir, karena di desa kami tidak ada tempat dengan nama itu maka kata mangir hanya saya dengar kadang-kadang. Meskipun terdengar kadang-kadang, tetapi mempunyai kesan tersendiri karena biasanya kata mangir diucapkan kalau ada kerabat datang dari Mangir bawa oleh-oleh seperti geplak atau kalau mBah Panggiyo baru saja pulang dari Mangir, juga bawa oleh-oleh.

Baru ketika saya duduk di bangku kelas 4 saya tahu bahwa ternyata Mataram itu adalah nama kerajaan di masa lalu. Itu dari pelajaran sejarah yang mengisahkan Kerajaan Pajang dengan tokohnya Joko Tingkir dan Mataram....



Sabtu, 17 Januari 2009

Tidak Antisipatif Menghadapi Overinvestment

Tahun 2009 sudah berjalan dua pekan. Dalam dua pekan ini tampak kebijakan yang diambil otoritas fiskal dan moneter tidak antisipatif dengan adanya overinvestment yang notabene adalah akar krisis ekonomi global. Sebagian pejabat pemerintah mengatakan bahwa kita aman karena jauh dari pusat tsunami keuangan global.

Sebelum Kwik Kian Gie (dalam Koran Internet) mengulas masalah krisis keuangan global dan menunjukkan adanya overinvestment di Indonesia, tulisan-tulisan saya di blog ini sudah mengingatkan adanya gejala overinvestment tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global. Misalnya dalam postingan saya yang berjudul:"Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa." Apa yang saya maksud dengan overinvestment tentu agak berbeda dengan overinvestment dalam textbook ekonomi pada umumnya. Overinvestment dalam paradigma biososioekonomi bukan hanya terjadi akibat investasi besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan (besar) tetapi juga oleh perorangan baik besar maupun kecil. Oleh karena itu tabungan dan deposito juga dianggap sebagai investasi. Seseorang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menggunakan pesangonnnya untuk menjadi pedagang kaki lima (PKL) juga disebut melakukan investasi. Overinvestment tidak hanya bisa terjadi pada manufaktur atau perkebunan besar, tetapi juga pada sektor informal karena banyaknya pelaku yang masuk sektor informal itu sebagai akibat PHK besar-besaran.

Gejala yang bisa dilihat untuk menandai adanya overinvestment adalah jatuhnya laba atau bunga. Jatuhnya indeks harga saham global merupakan salah satu indikator jatuhnya laba. Jatuhnya suku bunga deposito bank juga bisa menjadi indikator adanya overinvestment. Tentu yang dimaksud dengan jatuhnya suku bunga deposito ini bukan berarti suku bunga turun mendekati nol persen, tetapi secara riil mendekati nol atau minus karena sama atau lebih kecil dari tingkat inflasi. Di Indonesia meskipun suku bunga deposito secara nominal masih tinggi tetapi bila dikoreksi dengan tingkat inflasi maka hasil riilnya nol. Beberapa bank malah bunga riilnya minus.

Karena akar permasalahannya adalah overinvestment maka solusinya tidak bisa diatasi dengan investasi ekonomi seperti pengucuran kredit perbankan ke berbagai bidang usaha. Suku bunga rendah di AS juga menjadi pemicu terjadinya bencana sub prime mortgage. Suku bunga rendah membuat banyak orang (rumah tangga) dan perusahaan berhutang. Kredit bank diobral.

Tidak hanya otoritas fiskal dan moneter yang tidak antisipatif terhadap overinvestment. Sebagian pengamat yang dikutip media konvensional (cetak) pun tak menyadari adanya overintvestment. "Namun, para pengamat memperkirakan, stimulus tidak akan mendorong pertumbuhan tanpa laju kredit yang memadai" demikian Kompas 8 Januari 2009 halaman 17.

Otoritas moneter kemudian merespon dengan akan merelaksasi sejumlah aturan untuk mendorong penyaluran kredit (Kompas 15 Januari 2009 hlm 19). Di tengah daya beli rakyat yang anjlok atau paling tidak belum pulih sepenuhnya, "investasi" seperti itu tetap saja riskan.

Overinvestment tidak bisa diatasi dengan investasi ekonomi. Membiarkannya saja memang bisa pulih dengan sendirinya, tetapi akan menyakitkan dan memakan korban dengan jangka waktu pemulihan yang tidak mudah diprediksi. Kalau biososioekonomi diterapkan tidak akan ada overinvestment.

Sayangnya tidak banyak media konvensional yang membicarakan biososioekonomi. Setahu saya hanya harian Suara Merdeka Semarang yang memberitakan paparan seminar saya di PUSTEP UGM November 2004. Tulisan saya yang saya kirim di media cetak tak pernah dimuat. Terakhir majalah HIDUP memang memuat surat pembaca saya pada edisi 11/01/2009 yang berkaitan dengan overinvestment dan biososioekonomi. Namun biososioekonomi, yang notabene adalah ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah, belum banyak dikenal dan didiskusikan. Apakah overinvestment ini akan dibiarkan memakan korban? Marilah kita menjadi negarawan dan anggota civil society yang baik. Civil society sudah menunjukkan tanda-tanda kesanggupannya untuk ikut mengatasi krisis ini. Tidak selayaknyalah kalau masih ada pihak-pihak atau anggota civil society yang lain yang menghambat upaya menyelamatkan orang-orang yang bakal terancam kelaparan karena termasuk kategori ninja (no income, no job dan no asset). Semoga diperhatikan.


Minggu, 11 Januari 2009

Membuat Situs Mobile Sendiri

Pengalaman Saya Membuat Situs Mobile
Inilah pengalaman saya membuat situs mobile. Keingan saya membuat situs mobile bukan saja karena situs mobile lebih mudah dan lebih murah diakses melalui telepon seluler, tetapi juga agar saya bisa meng-upload langsung foto dari ponsel dimana file saya tersimpan. Dan kemudian memasangnya di blog ini. Kalau blog saya ini belum ada fotonya bukan karena apa-apa tetapi karena saya mengalami kesulitan dalam mentransfer data dari ponsel ke komputer.

Ponsel Samsung SGH J200 second yang saya beli 25 Juli 2008 ternyata tidak lengkap. Rencana saya waktu itu adalah membeli SGH J200 tersebut dalam kondisi baru. Tetapi setelah saya cari-cari di Pondok Indah Mall dan ITC Fatmawati, ternyata tidak ada yang baru. Oleh karena itu ponsel Samsung second itu saya beli. Bagi saya saat itu menggunakan ponsel yang bisa mengakses internet adalah hal yang baru. Ternyata ponsel itu memerlukan kabel data dan software khusus. Penjual ponsel second itu tidak menyertakan kelengkapan tersebut. Sehingga saya menunda memasang foto di blog ini.

Kemudian saya mendapatkan tawaran dari XL untuk membuat situs mobile. Ada biaya yang harus dibayarkan yaitu Rp 5.000,- per bulan untuk situs pribadi (WP) dan Rp 10.000,- untuk situs bisnis (WB). Saya pernah menanyakan kepada customer service XL, apakah layanan situs mobile XL bisa meng-upload foto dari ponsel langsung. Dijawabnya tidak. Karena penasaran saya mencobanya. Ternyata memang tidak bisa. Saya lihat beberapa alamat situs mobile XL (my-wap.mobi) dan saya coba kunjungi. Ternyata memang tidak satu pun yang ada fotonya. Banyak sekali situs-situs itu yang blank, selain tidak ada fotonya juga tidak ada content yang berupa teks. Satu dua ada profile-nya, tetapi kebanyakan blank. Saya pikir pemilik situs mobile itu tidak terbiasa ngeblog (membuat blog). Kalau kita login di situs mobile XL melalui ponsel, kita bisa memasukkan content berupa teks di menu "Post a Bulletin." Caranya mudah setelah mengklik menu Post a Bulletin, kita bisa mengetikkan judul berita atau opini yang kita inginkan di dalam kotak "Title" yang telah tersedia. Lalu bawa kursor ke kotak Message yang berada di bawahnya. Lalu kita bisa mengetikkan content teks yang bisa berupa opini kita atau catatan harian kita. Setelah sempurna kita bawa kursor ke tombol Post yang ada di bawahnya sehingga tombol itu berwarna biru. Kemudian tekan tombol OK yang ada di key pad ponsel kita. Maka content teks pun sudah diterbitkan atau di-post-kan dan bisa di akses orang lain yang berkunjung ke alamat situs mobile kita.

Situs mobile XL tetap tidak memuaskan saya, karena selain tidak gratis juga tidak bisa meng-upload foto. Pada Jumat sore 9 Januari 2009, saya membeli majalah Mobile Guide Edisi 21 (2-29 Januari 2009) di minimarket. Saya tertarik membelinya karena ada artikel tentang cara membuat situs mobile. Artikel tersebut ditulis oleh Ariet Burhanuddin. Yang pertama saya baca adalah tulisan yang berjudul "Membuat Situs Mobile Instan ala UBIK." Ternyata Ubik ini adalah situs (www.ubik.com) yang memberi layanan untuk membuat situs mobile gratis. Tidak perlu membayar seperti di XL. Bagi yang belum biasa membuat blog mungkin akan membayangkan bahwa membuat situs mobile itu rumit, harus menjadi web programmer dan menguasai HTML (hyper text mark-up language). Padahal membuat situs itu segampang mengetik.

Karena memiliki pengalaman yang kurang enak dengan layanan my-wap.mobi maka saya harus membuka mata lebar-lebar mengenai layanan Ubik. Ternyata Ubik, sampai pada saat artikel ini ditulis, tidak menyediakan layanan pembuatan situs melalui ponsel langsung. Jadi harus melalui personal computer. Ketika saya mencoba mengkases situs Ubik dari ponsel juga tidak nyaman yang menandakan situs itu terlalu besar untuk diakses ponsel. Di majalah Mobile Guide itu juga saya temukan beberapa layanan penyedia pembuatan situs mobile gratis yaitu www.mobisitegalore.com dan www.winksite.com dalam artikel lain yang titulis penulis yang sama. Keduanya bisa diakses melalui ponsel. Saya belum mengenal banyak tentang Winksite.

Karena mobiSiteGalore mengklaim yang pertama dalam sejarah internet dalam menyediakan pembuatan situs mobile dari ponsel dan ketika saya mengujungi situsnya melalui pc saya temukan bahwa mobiSiteGalore pernah mendapat awward, maka saya memutuskan untuk memakainya. Selain itu juga karena mobiSiteGalore memungkinkan situs mobile kita dipasangi iklan sehingga memberi peluang untuk memperoleh pendapatan. Maka jadilah situs mobile saya, meskipun belum sempurna dan ada hal-hal yang harus saya perbaiki. Situs mobile saya sudah bisa dikases dengan URL adalah http://satriopiningitasli.param.mobi

Cara Membuat Situs Mobile
Kalau Anda juga tertarik membuat situs mobile dari layanan mobiSiteGalore, maka caranya mudah yaitu:
  1. Siapkan ponsel yang memiliki bearer GPRS yang telah diaktifkan GPRS-nya
  2. Kunjungi www.mobisitegalore.com melalui ponsel Anda
  3. Untuk bisa membuat situs mobile, Anda bisa mengklik menu Sign up atau mengklik tulisan biru Go to Step 1 dari home page
  4. Kemudian ketikkan nama situs yang Anda inginkan untuk dibuat di dalam kotak yang telah tersedia. Pada halaman ini ada juga nama-nama halaman seperti About Us, Products, Service, News dan Contuct Us. Kalau situs yang akan Anda buat tidak cocok dengan nama-nama halaman itu Anda bisa menghapusnya dengan tombol C di key pad ponsel Anda dan mengetikkan nama-nama baru seperti About Me, My Story, My Opinion, dsb.
  5. Pindahkan kursor ke tombol Submit kemudian klik
  6. Maka akan ditampilkan halaman yang meminta Anda memilih warna situs Mobile Anda. Setelah memilih pindahkan kursor ke tombol Feedback kemudian klik untuk melihat tampilannya
  7. Kalau Anda puas dan setuju dengan pilihan Anda klik tombol Accept kalau tidak klik tombol Back untuk memilih warna lain
  8. Setelah Anda mengklik tombol Accept akan muncul halaman yang akan meminta Anda untuk memasukkan nama Anda, user name, password, retype password, email, dan mobile number Anda. Untuk mobile number jangan lupa kode +62 (kode area Indonesia). Nama user minimal 6 karakter. Setelah diisi klik tombol submit
  9. Maka akan ditampilkan halaman peringatan yang mengingatkan agar tidak memasukkan contetns yang mengandung pornografi, hasutan kekerasan, SARA atau perjudian. Kemudian klik Continue
  10. Maka ditampilkan suatu halaman yang melayani Anda untuk memasukkan content pada Home Page. Ketikkan teks mengenai situs mobile Anda atau hal-hal apa yang bisa diperoleh pengunjung dari situs Anda. Bila perlu juga bisa mengisinya dengan gambar yang relevan, dengan mengklik Insert Image. Anda bisa meng-upload gambar dari ponsel atau dari web URL. Bila sudah klik Submit
  11. Maka Anda akan diminta konfirmasinya apakah ingin memasukkan content lagi atau tidak. Bila tidak klik Submit Changes
  12. Anda akan mendapat ucapan selamat, tetapi bukan berarti situs mobile Anda sudah bisa dikunjungi orang lain. Masih ada 2 langkah yang diperlukan. Tetapi kalau Anda ingin memasukkan content lain di halaman baru (About Me, misalnya) klik Proceed. Kalau tidak klik Log Out untuk keluar secara aman.
  13. Dua langkah yang diperlukan agar situs mobile Anda bisa dikunjungi orang lain adalah Pertama, aktifkan situs mobile Anda dengan membuka email Anda. Cari surat konfirmasi yang dikirim oleh mobiSiteGalore yang meminta Anda untuk melakukan aktivasi situs mobile Anda. Kedua, setelah situs mobile Anda aktif, Anda harus membuat URL untuk situs Anda. Caranya, setelah sign out dari email account Anda, kunjungi situs www.mobisitegalore.com dan SignIn ke situs mobile Anda dengan memasukkan user name dan password Anda (kalau Anda lupa password Anda lihat kembali email Anda). Maka akan ditampilkan halaman Site Manager. Dari halaman ini Anda bisa mengelola situs mobile Anda seperti memasukkan content atau mengubah halaman. Carilah menu What Would You Like to Do. Kemudian klik Publish Option. Ketikkan dalam kotak yang tersedia nama URL situs yang Anda inginkan, misalnya donny, Anda cukup mengetikkan kata donny tidak perlu mengetikkan kata "www." dan ".param.mobi " Selanjutnya pilihlah option pertama (Free) yang memberi opsi gratis, artinya Anda tidak perlu membayar kepada mobiSiteGalore. Klik Submit. Maka akan ditampilkan halaman Site Manager dan pemberitahuan alamat URL situs Anda adalah www.donny.param.mobi dan Anda bisa mengaksesnya langsung dengan mengklik URL Anda dari halaman Site Manager. Terlihatlah situs mobile buatan Anda. Ingat bahwa Anda belum Log Out. Untuk Log Out tekan tombol back di key pad ponsel Anda, maka ditampilkan halaman Site Manager kemudian arahkan kursor ke tombol Log Out yang berada di bagian paling bawah. Klik Log Out. Anda sudah keluar secara aman. Anda atau orang lain yang mengetahui alamat URL situs Anda bisa mengunjungi situs mobile Anda melalui ponsel GPRS. Mudah bukan?
Inilah pengalaman saya membuat situs mobile dan langkah-langkah membuatnya dengan menggunakan layanan mobiSiteGalore yang telah saya coba. Semoga bermanfaat.







Sabtu, 03 Januari 2009

Pengalaman: Hidup Nyaman Tanpa Kekuasaan

Bagi sebagian orang seperti para eksekutif, politisi, profesional, atau pebisnis, awal tahun merupakan awal mewujudkan rencana-rencana yang telah disiapkan. Tetapi bagi sebagian orang lain, karena berbagai alasan, hidup mengalir begitu saja tanpa rencana. Sebagian karena tidak terampil membuat rencana, sebagian lagi ingin hidup seperti seniman yang mengalir begitu saja, sebagian lagi masih shock karena baru saja terkena PHK, dan sebagian lain mungkin mau lebih fleksibel dalam mengahdapi ketidakpastian global. Krisis global memang memerlukan cara pandang baru atau paradigma baru yang bagi sebagian orang sangat mengejutkan karena belum pernah mengetahui sebelumnya. Media konvensional tidak pernah menyampaikannya.

Untuk itulah saya ingin membagikan suatu pengalaman yang menurut saya amat sangat berharga. Memang suatu pengalaman bisa bersifat partikular (khusus) tetapi mungkin juga mengandung hal-hal yang bersifat umum (universal). Kondisi saya dan Anda tentunya berbeda. Namun demikian Anda bisa mengambil inspirasi dari pengalaman saya ini.

Setelah kehilangan pekerjaan pada Februari 1993, pada Agustus 1994 saya bergabung dengan AJB Bumiputera 1912 Rayon Madya Fatmawati (Jakarta Selatan) sebagai agen atau salesman asuransi jiwa. Pekerjaan sebagai salesman sebenarnya bukan bakat dan minat saya. Tetapi pekerjaan ini saya terima karena bersifat adil, dalam pengertian kalau saya kerja keras akan mendapat hasil banyak, kalau kurang keras hasilnya juga kurang.

Awalnya saya mendapat nasabah dari kalangan terdekat, kaum kerabat. Akhir Oktober 1994 saya sudah hampir kehabisan uang. Siang itu (saya lupa apakah akhir Oktober atau awal November 1994) saya gagal bertemu dengan prospek (calon nasabah) karena kabarnya beliau sakit. Sorenya saya duduk termenung memandangi langit yang mendung di kamar kos adik sepupu saya tempat saya menumpang. Di tengah keputusasaan saat itu saya merasakan sentuhan dan sapaan Tuhan dalam hati saya. Tuhan Yang Maharahim bertindak sebagai Bapa yang memberi makan/rejeki pada anak-anak-Nya.

Keesokan harinya saya melanjutkan pertemuan dengan prospek yang sehari sebelumnya sempat tertunda tesebut. Close. Saya memperoleh satu nasabah yang berasal dari luar lingkung an kerabat saya. Gembira hati saya meninggalkan kantor pusat PT Bayer Indonesia di kawasan Sudirman tempat Muhammad Anwar Syam, nasabah saya tersebut bekerja sebagai manager. Komisinya lumayan bisa untuk menyambung hidup sebulan.

Sejak saat itu hubungan saya dengan Tuhan sebagai Bapa sangat dekat. Pertama kali dalam hidup Kristiani saya, hati saya tergetar ketika menyebut-Nya dengan sebutan Bapa. Itu semua yang menyembuhkan luka-luka batin saya dan yang menguatkan saya ketika asal-usul saya dilecehkan. Rasa percaya diri saya terus menguat dalam menghadapi suka-duka hidup ini.

Sekitar akhir tahun 1994 atau awal tahun 1995 saya membuat suatu komitmen dihadapan Tuhan. Karna, salah seorang tokoh Mahabarata menginspirasi saya. Ia melepaskan hak miliknya berupa anting dan rompi wasiat untuk diberikan kepada orang lain, seorang brahmana. Saya kemudian merenung bahwa talenta beserta pengembangannya seharusnya dikembalikan kepada Tuhan untuk didistribusikan kepada sesama bukan diwariskan kepada anak cucu sendiri. Selanjutnya saya membuat komitmen bahwa kelak kalau seandainya saya kaya raya, saya tidak akan mewariskan kekayaan berlimpah itu kepada anak cucu saya tetapi mengembalikannya kepada Tuhan untuk diredistribusikan kepada sesama. Tetapi itu tidak berarti saya tidak bederma mulai sekarang.

Perjalanan hidup saya terus mengalir begitu saja. Awalnya ketika datang ke Jakarta saya mendambakan pekerjaan yang bersifat struktural sebagai supervisor, manager, dan seterusnya. Tetapi setelah bekerja sebagai agen asuransi jiwa itu, saya malah menjauhi semua pekerjaan struktural. Hal ini membuat saya terbiasa dengan bahasa persuasi dan hidup nyaman tanpa kekuasaan struktural. Dari asuransi jiwa saya pindah ke agen properti sampai hari ini, tetap sebagai salesman atau marketing asociate yang hidup dari komisi.

Sebelumya saya tidak tahu kalau komitmen besar saya itu membuat saya memperoleh wahyu keprabon. Saya menjalaninya secara tulus dan bersahaja. Awalnya saya berkomitmen seperti itu karena balas budi saya pada Tuhan yang telah bertindak sebagai Bapa bagi saya dan karena saya merasa tersentuh dengan penderitaan sesama yang kurang beruntung. Sampai akhirnya saya membaca wangsit itu pada tanggal 4 Juli 2002 seperti yang telah saya ceritakan dalam postingan berjudul "Wahyu Keprabon" yang barada di archive bulan Oktober 2008 di blog ini. R Hani Japar demikian saya membaca sandi RA Parjinah tersebut. Tidak salah lagi saya dipilih Tuhan.

Kemudian saya melanjutkan pemikiran saya maka lahirlah buku Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia yang terbit Oktober 2004. Di dalamnya berisi teori biososioekonomi atau bioekonomi yang menentang pewarisan kekayaan berlimpah ruah kepada keturunan pemilk kekayaan. Kalau saya vokal dan gigih menentang triple six (pewarisan kekayaan berlimpah ruah) karena saya sendiri telah membuat komitmen dalam diri saya sendiri, di samping itu tentu saja karena saya telah merasakan kehadiran Tuhan dengan tanda-tanda yang luar biasa dan dahsyat.

Meskipun tanpa kekuasaan struktural saya merasa nyaman dengan hidup saya. Saya justru pantang memegang pekerjaan struktural. Pekerjaan yang masih bisa saya jalani adalah yang bersifat non struktural seperti sebagai agen properti, penulis, dosen yang mengajar teori makro biososioekonmi tingkat dasar, atau aktivitas sebagai anggota paduan suara. Seorang pebisnis masih bisa bermanfaat bagi sesama dengan memperlakukan akumulasi laba (kekayaan) sebagai titipan Tuhan, dipakai secara bijaksana dan tidak diwariskan kepada keturunannya sendiri bila akumulasi kekayaan itu berlimpah ruah. Kalau semua pebisnis dan orang kaya melakukan dan berkomitmen seperti yang saya lakukan maka dunia yang damai, sejahtera, dan adil sudah terwujud.

Bagi saya pribadi kekuasaan struktural bukanlah sesuatu yang penting. Apalagi saat ini tersedia media blog dimana setiap orang bisa mengemukakan opininya. Hidup di masyarkat tanpa kekuasaan pun semakin nyaman. Kalau orang tidak ada yang mengadopsi teori ekonomi makro rumusan saya, toh dengan aktivitas dan komitmen saya, saya masih bisa bermanfaat bagi sesama. Ketidakpastian dan krisis global memang memerlukan cara pandang baru dan cara yang luar biasa untuk mengatasinya. Tulisan ini mungkin akan membuat Anda terkejut dan harus mengubah rencana Anda. Ternyata Tuhan tidak menyukai pewarisan kekayaan berlimpah ruah kepada anak cucu sendiri. Pengalaman ini sungguh luar biasa bagi saya sehingga saya tetap berani mengkritik triple six. Saya percaya Tuhan memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman ke bumi. Tak perlu tangan manusia sebagai eksekutornya. Tugas kita hanya memberi peringatan. Selamat Tahun baru. "Ya TUHAN berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN berilah kiranya kemujuran"


Sabtu, 27 Desember 2008

Di Balik Hiruk Pikuk Ramalan

Seperti biasanya menjelang akhir tahun di berbagai media disajikan ramalan-ramalan tentang tahun mendatang. Apalagi tahun 2009 adalah tahun politik bagi kita karena di tahun itu akan diselenggarakan pemilu legislatif dan pilpres. Hal ini akan membuat hiruk pikuk sajian ramalan tahun 2009.

Di internet tulisan mengenai Ratu Adil dan satrio piningit sangat banyak dan bervariasi dari yang jernih sampai komentar ngawur asal bunyi. Dari yang sejuk membawa damai sejahtera sampai yang seram-seram. Dari yang independen pro kebenaran sampai yang cenderung menunjuk capres tertentu. Media blog yang demokratis menyebabkan aneka tulisan bisa diakses publik di dunia maya.

Akan halnya ramalan, "benda" ini mungkin sudah setua peradaban manusia. Jaman dahulu Firaun pernah bermimpi melihat tujuh ekor lembu gemuk ditelan tujuh ekor lembu kurus, yang ditafsirkan Yusuf sebagai tujuh tahun masa panen berkelimpahan yang akan diikuti tujuh tahun paceklik. Ramalan ini ditindaklanjuti secara konstruktif oleh orang-orang di sekitar ramalan itu dan menghasilkan keadaan yang damai sejahtera.

Sikap salah terhadap ramalan atau nubuat sering tidak menghasilkan kedamaian tetapi kengerian. Tidak sedikit pula yang tidak mempercayai ramalan dan bahkan anti pati terhadapnya.

Pihak-pihak yang merasa terancam dengan ramalan tertentu sering bertindak ekstrim menghasilkan kekerasan. Herodes yang mendengar lahirnya bayi Mesias memerintahkan tentaranya membunuh semua bayi laki-laki yang berusia dua tahun ke bawah. Dalam Babad Tanah Jawi terjadi pertikaian antara Hadiwijaya dengan Danang Sutawijaya (Senapati) karena ramalan yang menyebutkan bahwa di tanah Mataram kan lahir seorang raja besar. Baik Hadiwijaya maupun Senapati adalah orang asing di bumi Mataram. Dalam film The Omen, Damien tokoh triple six dalam film fiksi tersebut, memerintahkan membunuh semua bayi laki-laki yang lahir pada tanggal 24 Maret atau 23 Maret malam, karena satu di antaranya diyakini sebagai bayi Kristus yang akan menentang kekuasaan triple six. Seorang rohaniwan dalam film tersebut menjawab dengan benar bahwa Yesus Kristus tidak datang sebagai bayi, tetapi sebagai orang dewasa. Menurut saya rohaniwan itu benar karena iman Semitik (Abrahamik) tidak mempercayai reinkarnasi.

Di tengah hiruk pikuk ramalan, orang sering melupakan satu hal yang penting. Memang suatu peristiwa besar sering sudah diramalkan sebelumnya baik oleh orang suci atau peramal yang dianggap kafir. Demikian juga rencana besar Tuhan biasanya sudah ditulis dalam Kitab Suci. Tetapi di balik hiruk pikuk itu ada yang paling penting yaitu pesan damai Tuhan. Kelahiran Bayi Yesus dan bintang Betlehem tidak hanya menarik perhatian tiga orang majus dan menghebohkan penduduk Yerusalem tetapi disertai pesan damai Tuhan melalui malaikat kepada para gembala: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Tidak sedikit orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menerima pesan damai-Nya adalah orang-orang sederhana seperti para gembala itu.

Kondisi damai sejahtera di bumi adalah kondisi yang memang direncanakan Tuhan. Tuhan tidak hanya menciptakan Surga di langit tetapi juga damai sejahtera di bumi. Kebahagiaan Mempelai Laki-laki (Tuhan) terjadi manakala mendapati mempelai perempuan (manusia) tidak hanya gigih dan vokal menentang triple six_akar ketidakadilan ekonomi sosial di bumi_ tetapi juga menangkap pesan damai-Nya dan berkomitmen untuk mewujudkannya. Mereka tidak lagi belajar perang (Yes2:4). Bagi saya pribadi ayat Yesaya 2:4 bukan sekedar visi perdamaian atau nubuat, tetapi sesuatu yang lengkap menyeluruh yaitu nubuat, visi perdamaian, komitmen, sekaligus pengalaman spiritual dan kisah nyata. Puteri Sion sejati sudah tidak lagi belajar perang, bukan orang yang memombardir penduduk Palestina dengan senjata-senjata yang mematikan. Juga tidak bisa ditiru uapaya membunuh Damien (triple six) seperti dalam film The Omen tersebut karena Tuhan masih memilki kuasa untuk menjatuhkan tulah dan hukuman ke bumi.

Saya lahir di suatu desa yang disebut Merbau Mataram pada tanggal 22 Maret malam hari mirip bayi laki-laki_yang akan menentang triple six_yang dicari-cari dalam film The Omen. Desa tempat kelahiran saya adalah sebuah desa di Lampung yang didirikan oleh pemerintah RI dan pejuang kemerdekaan RI, para veteran. Mereka telah "mengubah" alat-alat perang menjadi alat-alat pertanian hidup normal sebagai warga sipil. Meskipun tidak semua dari mereka mengenal pesan damai Tuhan melalui nabi Yesaya, tetapi mereka telah ambil bagian dalam karya Tuhan.

Di antara mereka yang pindah dari Pulau Jawa dan membangun serta tinggal di desa Merbau Mataram adalah penduduk pewaris Mataram lama (Perdikan Mangir). Maka tidak akan ada lagi perang pembebasan Mataram. Damai sejahtera di bumi adalah pesan dan kehendak Tuhan yang utama seperti yang difirmankan dalam Yesaya 65:25 "Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu..."

Di tengah hiruk pikuk ramalan, Tuhan menghendaki kedamaian. Damai di bumi, damai di hati. Selamat Natal bagi yang merayakannya. Tuhan memberkati Anda semua.



Rabu, 17 Desember 2008

(Sudah) Bekerja Tanpa Secuil Kekuasaan

Banyak yang menduga sebelumnya bahwa pemenang Pilpres 2004 yang lalu adalah seorang satrio piningit. Bagi kebanyakan orang, untuk bisa bekerja, satrio piningit memerlukan kekuasaan semacam lembaga kepresidenan. Padahal sebenarnya tidak begitu. Tanpa secuil kekuasaan pun saya sudah bekerja dan tetap akan bekerja, karena tugas saya hanya memberi peringatan. Selanjutnya Tuhan sendiri yang akan menyelesaikannya.

Sekedar memberi peringatan pun sebenarnya bukan suatu pekerjaan mudah. Suatu peringatan disampaikan kepada publik memang ada dasarnya tidak asal omong atau asal tulis. Hal ini tentu memerlukan suatu hubungan yang dekat dengan Tuhan. Hubungan yang dekat dengan Tuhan itu pertama-tama bukan karena saya lebih hebat atau lebih suci dari yang lain tetapi karena saya dipilih Tuhan atau ketiban pulung dan kemudian ditarik mendekati-Nya. Kebetulan latar belakang sejarah saya mendukung untuk itu. Saya terlahir sebagai hasil perkawinan antara orang Mangir (Kali Progo) dan orang kota Yogyakarta (Kali Opak) yang legendaris itu. Menurut arkeolog UI, Supratikno Rahardjo, dalam bukunya Peradaban Jawa, banyak peninggalan sejarah ditemukan di lima Kabupaten yaitu Temanggung, Magelang, Bantul, Sleman, dan Klaten yang wilayahnya di sekitar antara kedua sungai itu. Penemuan benda bersejarah berupa emas yang spektakuler ditemukan di Situs Wonoboyo, juga dalam areal tersebut. Wilayah itu memang diperkirakan sebagai pusat peradaban Mataram Kuno.

Suatu peringatan yang saya sampaikan juga kadang-kadang akan bersinggungan dengan orang atau lembaga yang mungkin menimbulkan friksi. Tentu dibutuhkan seni tersendiri untuk menyampaikannya kepada publik, selain sikap konsisten pada jalur yang saya tekuni yang ditetapkan Tuhan. Suatu peringatan yang lugas memang akan sampai sebagaimana peringatan itu dimaksud, tetapi mungkin akan menyinggung beberapa orang atau lembaga. Sedangkan suatu peringatan yang disampaikan secara tersamar (halus) memang tidak menyinggung pihak lain, tetapi sering tidak dipahami sebagaimana peringatan itu dimaksud. Dalam pengalaman hidup saya malah sering terjadi adanya pihak lain yang nylonong memasuki jalur yang ditetapkan Tuhan bagi saya. Hal itu terjadi karena pihak lain tidak tahu kalau jalur yang saya tekuni ini ada orangya. Mungkin juga mereka merasa direndahkan martabatnya kalau harus berdialog dengan orang (yang notabene bukan lembaga atau mewakili lembaga). Atau mungki n juga merasa jalur saya ini ada di bawah kekuasaannya. Sangatlah baik kalau masing-masing pihak berada pada jalurnya masing-masing. Dan saya tetap akan berusaha pada jalur yang ditetapkan Tuhan bagi saya, yaitu kesejahteraan publik. Meskipun dekat dengan Tuhan saya akan menghindari pembicaraan mengenai Surga, jalan ke Surga, atau ritual keagamaan karena hal itu wewenang pihak lain. Menurut hemat saya, Raja Saul koncatan wahyu keprabon karena merangkap pekerjaan imam. Rangkap-rangkap pekerjaan atau rangkap klaim semacam itu tidak akan saya lakukan. Saya tahu pantangannya.

Kalau memberi peringatan saja sudah meupakan pekerjaan besar yang membutuhkan konsentrasi dan seni mengapa harus mencari kekuasaan? Pengalaman saya mengatakan bahwa ketika peringatan yang saya sampaikan diabaikan, Tuhan telah bertindak. Jadi tidak perlulah kekuasaan itu. Saya termasuk orang yang percaya bahwa kuasa Tuhan untuk menjatuhkan hukuman ke bumi itu benar-benar nyata, tidak memerlukan tangan-tangan manusia sebagai eksekutornya. Keyakinan seperti inilah yang seharusnya menjadi titik pangkal perdamaian. Saya tegaskan lagi: Tidak memerlukan tangan-tangan manusia sebagai eksekutornya.

Semua tulisan dalam blog saya yang saya beri label spiritual tentu bersifat spiritual, tidak bisa dibaca sbagai peringatan eksakta seperti membaca peringatan dari lembaga seperti BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) atau badan pengawas kegunungapian. Namun demikian peringatan spiritual itu saya sampaikan karena saya meyakini kebenarannya.

Wibawa sebuah peringatan spiritual bukan terletak pada saya yang menyampaikannya tetapi terletak pada kesesuaiannya pada kehendak Tuhan. Memang, saya harus mengakui bahwa saya tidak berdialog secara fisik langsung dengan Tuhan. Tak ada tuntutan bahwa mempelai perempuan (manusia) adalah orang yang langsung berdialog dengan Tuhan. Justru tradisi Yahudi mengatakan bahwa Mempelai Laki-laki (Tuhan) tidak berbicara langsung dengan mempelai perempuan kecuali melalui sahabat-sahabat-Nya yaitu para nabi, rasul, dan penulis Kitab Suci. Dari Kitab Suci itulah peringatan itu saya sampaikan.

Sekali lagi perlu saya sampaikan bahwa menyampaikan peringatan saja sudah merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan ketekunan dan kecermatan. Sebagai orang Jawa saya harus tahu diri dimana porsi saya. Saya tidak akan mengambil posisi sentral Tuhan,dengan rangkap pekerjaan, tidak akan menduduki takhta Tuhan, serta tidak akan mengambil porsi Tuhan sebagai eksekutor. Porsi saya hanya memberi peringatan.




Sabtu, 06 Desember 2008

Mengarusutamakan Demokrasi Ekonomi dan Gerakan Dunia Baru

Salah satu hal yang memrprihatinkan saya adalah adanya suatu anggapan dalam masyarakat bahwa diberlakukannya demokrasi politik tidak membawa kepada kesejahteraan umum. Sebagian anggota masyarakat malah terkena suatu "virus" yang oleh Prof Dr. Mubyarto (alm) disebut sebagai virus SARS (saya amat rindu Soeharto).

Saya, meskipun tidak dipilih melalui prosedur demokrasi, tetapi sangat menghargai demokrasi. Sudah sering saya sampaikan dalam tulisan-tulisan saya agar kita tetap mempertahankan demokrasi politik di NKRI. Meskipun mempunyai hak atas takhta dan bumi Mataram (wilayah yang membentang antara Kali Progo dan Kali Opak), saya tidak akan menggugat perampasan dan penjajahan atas bumi Mataram. Perlu diketahui bahwa bagi saya NKRI bukanlah penindas. Justru NKRI adalah salah satu king maker-nya meskipun tanpa disadari dan tanpa sengaja. Bagi saya NKRI sebagai negara demokrasi modern yang berdasar Pancasila, hukum, yang mengahrgai pluralitas (Bhinneka Tunggal Ika) dan menghargai hak asasi manusia, sudah final. Tidak prlu ada Negara atau Kerajaan Mataram.

Dalam berbagai tulisan, saya mengatakan bahwa kesengsaraan rakyat terjadi karena tidak adanya demokrasi ekonomi, bukan karena diberlakukannya demokrasi politik. Founding father kita, Bung Hatta mengatakan bahwa kalau di samping demokrasi politik tidak ada demokrasi ekonomi maka rakyat tetap dalam kondisi terjajah. Konstitusi NKRI juga menyebutkan perlunya demokrasi ekonomi agar tidak terjadi penumpukan asset pada segelintir perusahaan atau individu.

Dengan dirumuskannya teori makro biososioekonomi, wujud dari demokrasi ekonomi itu menjadi terang benderang. Menjadi jelas. Bila Marx menganggap bahwa laba adalah hasil eksploitasi buruh maka biososioekonomi beranggapan bahwa laba itu berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang tanpa sekat-sekat primordial, sektarian, dan tanpa sekat-sekat negara). Tentu yang "diwajibkan" mengembalikan akumulasi laba (kekayaan) bukanlah perusahaan tetapi individu, karena individu adalah juga homo socius sementara institusi bisnis tidak bisa menjadi lambaga sosial.

Daur ulang kekayaan individu dalam biososioekonomi adalah wujud nyata demokrasi ekonomi itu. Kekayaan yang berlimpah (sebagai akumulasi laba) memang seharusnya tidak diwariskan kepada keturunan pemilik kekayaan. Kalau demokrasi politik membatasi kekuasaan eksekutif dengan UU dan periodenya dibatasi, serta tidak diwariskan kepada pemilik kekuasaan maka demokrasi ekonomi juga harus mencegah pewarisan kekayaan berlimpah itu. Memang mencegahnya tidak dengan UU atau hukum positif negara sebagaimana saya usulkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia. Tetapi kritik terhadap pewarisan kekayaan berlimpah harus diartikulasikan dengan lugas sehingga dipahami dan diketahui semua pihak. Kemudian menjadi arus utama.

Kita semua yang berkeinginan untuk mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera, lebih stabil, dan lebih damai, perlu bekerjasama untuk mengarusutamakan demokrasi ekonomi secara damai. Semua pihak bisa berperan dalam posisi, kapasitas, dan profesinya masing-masing untuk ikut serta. Sekedar tahu dan memahami demokrasi ekonomipun sebenarnya sudah berperan ikut mengarusutamakan demokrasi ekonomi meskipun peran itu sangat minimal. Paling tidak dengan mengetahui dan memahami demokrasi ekonomi, seseorang tidak bisa dikaburkan oleh pandangan yang mengatakan bahwa kesengsaraan rakyat terjadi karena diberlakukannya demokrasi politik.

Antara saya dan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM terdapat kesamaan namun juga perbedaan. PUSTEK UGM tersebut termasuk institusi yang tanggap pada kebutuhan rakyat banyak. Pada tanggal 31 Desember 2008 lembaga itu akan meluncurkan "Panduan Demokrasi Ekonomi untuk Pemilu 2009" baik cetak maupun webpage. Rencana peluncuran itu perlu saya tulis di sini sebagai partisipasi dalam mengarusutamakan demokrasi ekonomi. Sebagaimana saya berpartisipasi dalam program campaign Oxfam, saya pun perlu berpartisipasi untuk mengarusutamakan demokrasi ekonomi meskipun antara saya dan pusat studi itu mungkin memilki perbedaan.

Selain itu tak lupa pula untuk mengarusutamakan Gerakan Dunia Baru. Istilah Gerakan Dunia Baru dikemukakan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah dalam Konferensi ke-4 Aliansi Strategis Rusia-Dunia Islam. Gerakan Dunia Baru ini merupakan jalan tengah non kekerasan. Ini perlu diingatkan lagi karena masih ada kelompok-kelompok yang memakai kekerasan seperti terjadi pada penyerangan Hotel Taj Mahal Mumbai India baru-baru ini.

Dalam berbagai agama den kebudayaan, sepanjang yang saya tahu, kedermawanan tidak hanya dibatasi 10% dari penghasilan atau kekayaan. beberapa orang Islam menyadari bahwa menerima atau mewariskan kekayaan berlimpah ruah pantas dihukum di neraka. tetapi pandangan ini belum menjadi arus utama. Di dalam Katolik sebagian orang juga sadar mewariskan atau menerima kekayaan berlimpah identik dengan triple six. Tetapi hierarki Gereja Katolik belum melarangnya.

Agama Budha sepanjang yang saya tahu juga tidak membatasi kedermawanan hanya 10%. Kisah Pangeran Sidharta yang meninggalkan istana untuk menjadi pertapa telah dikenal oleh nasyarakat Jawa ketika Candi Borobudur dibangun. Sebagian orang Yahudi memang beranggapan bahwa bederma 10% saja sudah cukup. Akan tetapi hal itu pernah dikritik Yesus Kristus. Orang Jawa tidak membatasi kedermawanan hanya cukup10% saja. Dalam tulisan saya di blog ini saya juga mengingatkan kembali orang Jawa.

Dengan melarang pewarisan kekayaan berlimpah ruah dan tidak membatasi kedermawanan hanya 10%, para pemimpin agama dan pusat pengaruh dalam masyarakat sudah mengambil perannya masing-masing dalam mengarusutamakan Gerakan Dunia Baru yaitu jalan tengah yang damai. Kita semua berharap agar peran itu segera dilaksanakan. Terlalu banyak sudah korban berjatuhan. Kita juga menghadapi krisis ekonomi dan keadaan suram tahun depan.

Dua hal penting yang akan kita lakukan tahun depan adalah mengarustamakan demokrasi ekonomi dan gerakan dunia baru. Dengan ikut menyebarluaskan tulisan ini Anda juga sudah ikut berpartisipasi untuk mengarusutamakan dua hal di atas untuk menggapai masa depan yang lebih adil, lebih sejahtera, lebih stabil, dan lebih damai. Ketidaksejahteraan terjadi bukan karena diberlakukannya demokrasi politik tetapi karena tidak adanya demokrasi ekonomi. Tidak semua orang tahu apa itu demokrasi ekonomi apa itu biosoioekonomi.

Tulisan ini merupakan upaya saya membayar hutang budi saya pada NKRI dan demokrasi politik. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau saya lahir di Yogyakarta, saya beruntung lahir di Lampung. Saya juga tidak bisa membayangkan buku saya bisa terbit dalam masa pemerintahan otoriter Orba. Kita tidak perlu lagi kembali ke masa otoriter Orba. Sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan untuk mereforamsi sistem yang otoriter itu entah pada tahun 1998 tahun 1996 ("kuda tuli") atau pada kesempatan lain. Korban itu tidak perlu lagi.