Kamis, 11 Maret 2010

Mempertanyakan Terjemahan Buku Karya de Graaf Tentang Mataram

Saya tidak memahami bahasa Belanda. Namun demikian ada hal menyolok di mana orang yang awam bahasa Belanda pun tahu kejurangtepatan buku karya H.J De Graaf edisi terjemahan. Buku aslinya berjudul: "De Regering van Panembahan Senapati Ingalaga" diterbitkan pertama kali oleh KITLV Leiden tahun 1954. Sedangkan terjemahannya diterbitkan oleh Perwakilan KITLV Jakarta bekerja sama dengan PT Pustaka Utama Grafiti Jakarta. Yang saya baca adalah cetakan III (edisi revisi, 2001).

Karena saya tidak memahami bahasa Belanda maka saya akan fokus pada hal-hal yang menyolok mata pada buku terjemahannya yang berjudul: "Awal Kebangkitan Mataram Masa Pemerintahan Senapati" itu. Ada dua hal yang perlu saya soroti.

Pertama penerjemahan judul, penerjemahan judul ini tidak tepat. Arti harafiah "De regering van Panembahan Senapati Ingalaga" adalah "pemerintahan Panembahan Senapati Ingalaga." Sebagai sejarawan profesional de Graaf sudah tepat memberi judul karyanya seperti itu. Sementara penerjemahan judul terkesan subyektif. Kalau kita membaca isi buku terjemahan itu kita akan disuguhi uraian de Graaf secara panjang lebar dengan alur pikir yang jernih dan obyektif. Dari uraian yang panjang lebar itu saya tidak menemukan kesan kebangkitan Mataram. Jadi antara judul dan isi tidak klop.

De Graaf berpendapat bahwa Mataram diperoleh dengan kekerasan (hlm 63: "Berita-berita tua dan agak meyakinkan mengenai penaklukan dengan kekerasan atas Mataram kiranya lebih dapat diterima. Karena itu, kami sangat cenderung memandangnya sebagai yang asli"). Selain itu di halaman 68 de Graaf menulis:"Jadi, jika dibersihkan dari segala tulisan rekaan, maka tinggallah sisa catatan yang mengisahkan bahwa di daerah Mataram ada juga keluarga-keluarga tua yang memandang Kiai Gede Pamanahan dan kaumnya sebagai penyusup, dan perampas hak-hak lama"

Yang kedua, mengenai kata pengantar yang dibuat penerbit. Dalam kata pengantar itu juga diistilahkan "kebangkitan Mataram" seperti penerjemahan judul.

Maka perlu dipertanyakan pemakaian istilah "kebangkitan Mataram." Mataram bangkit atau terjajah itu tergantung sudut pandangnya. Menggunakan istilah yang tidak netral dalam karya ilmiah itu sangat tidak tepat. Saya berpendapat bahwa orang-orang Mataram (lama)adalah korban ambisi dan pertikaian elite pantai Utara Jawa abad keenambelas. Pertikaian antara Jipang dan Kalinyamat adalah pertikaian antara elite pantai utara. Demikian juga pertikaian antara Senapati dengan Pati. Semoga pihak penerbit mau memberi penjelasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar