Jumat, 31 Desember 2010

Refleksi Akhir Tahun: Menanyakan Masyarakat Terbuka

Masyarakat terbuka atau open society sebagaiamana dirumuskan Karl Popper adalah masyarakat yang percaya pada akal, kebebasan, dan persaudaraan antar umat manusia. Salah satu ciri masyarakat terbuka adalah rasional kritis. Berikut ini saya kutipkan dari buku saya halaman 88-89:

"Masyarakat terbuka memiliki ciri sikap rasional kritis, yang dibedakan dengan rasional tidak kritis. Di dalam rasionalisme tidak kritis seseorang 'tidak siap menerima sesuatu yang tidak dapat dipertahankan oleh argumen atau pengalaman'. Kerendahan hati merupakan inti dari rasionalisme kritis. Rasionalisme kritis adalah kesadaran mengenai keterbatasan seseorang, kerendahan hati intelektual orang yang mengetahui betapa seringnya mereka khilaf, dan betapa mereka banyak tergantung pada orang lain demi pengetahuan. Dalam rasionalisme kritis terkandung sikap mengakui bahwa 'saya mungkin salah dan anda mungkin benar, dan dengan suatu ikhtiar kita mungkin bisa menemukan kebenaran'. Ketulusan dan kejujuran merupakan syarat menemukan kebenaran". Saya perlu garisbawahi bagian terakhir: "saya mungkin salah dan anda mungkin benar, dan dengan suatu ikhtiar kita mungkin bisa menemukan kebenaran" Masyarakat terbuka adalah masyarakt yang terbuka terhadap koreksi demi
lebih mendekati kebenaran juga selalu berikhtiar untuk dekat sedekat mungkin dengan kebenaran. Apa yang selama ini dianggap benar mungkin saja salah. Di dalam masyarakat tertutup, orang tidak siap menerima sesuatu yang tidak bisa lagi dipertahankan dengan argumen atau pengalaman. Tidak siap menerima bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai kebenaran ternyata sudah tidak bisa lagi dipertahankan sebagai kebenaran.

Berbagai kejadian di Indonesia dan dunia yang terjadi sepanjang tahun 2010 mengantarkan kita pada pertanyaan reflektif: di mana masyarakat terbuka saat ini? Apakah orang menjadi tertutup dan tidak siap menerima kebenaran baru? Sebagian orang dan aktivis sebagaimana saya lihat di situs jejaring sosial seperti facebook masih berpegang pada Marx bahwa laba adalah hasil eksploitasi buruh. Pandangan itu dipatahkan oleh teori ekonomi makro biososioekonomi bahwa laba berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Konsumen membayar lebih tinggi dari biaya produksi, distribusi, dan pajak sehingga tercipta margin laba. Namun kenyataannya masih saja sebagian orang dan aktivis mempertahankan pandangan Marx dengan sepak terjang organisasi buruhnya. Sementara biososioekonomi yang menawarkan gerakan konsumen sosial yang inklusif tanpa sekat masih belum diterima banyak orang.

Demikian juga mazab ekonomi konvensional yang mempersyaratkan pertumbuhan PDB (GDP) tinggi sebagai ukuran kesejahteraan ekonomi dan syarat tidak terjadinya krisis ekonomi. Pandangan seperti itu juga dipatahkan oleh biososioekonomi. PDB adalah penjumlahan pendapatan individual tahunan sedangkan kenaikan PDB adalah kenaikan total pendapatan individual. Pendapatan individual tidak otomatis menjadi pendapatan publik, justru peningkatan total pendapatan individual itu akan meningkatkan aset individual total, dan aset individual adalah liabilitas bagi publik. Maka pandangan mazab konvensional itu seharusnya tidak bisa diterima oleh logika akuntansi yang sehat. Mengapa masih
Dipertahankan!??

Gejala-gejala seperti itu mengindikasikan adanya masyarakat tertutup yang tidak siap atau belum siap menerima kebenaran atau mungkin sengaja mau menenggelamkan kebenaran demi kepentingan kelompok. Kondisi seperti itu bisa diperparah oleh sepak terjang media konvensional (cetak dan tv) yang juga tidak terbuka pada kebenaran. Celakanya justru pengaruh media seperti ini masih cukup besar sehingga berpotensi membutakan mata banyak orang.

Masyarakat ilmiah seharusnya adalah bagian dari open society yang terbuka pada kebenaran baru dan terbuka terhadap koreksi untuk selalu lebih dekat dengan kebenaran. Kejujuran seharusnya menjiwai masyarakat ilmiah. Keberanian masyarakat ilmiah memang sedang dituntut untuk menyuarakan kebenaran. Tanpa keberanian dan kejujuran masyarakat ilmiah bisa jatuh menjadi Mafia Berkeley atau OTB (Organisasi Tanpa Bentuk, menurut istilahnya Kwik) yang menyengsarakan rakyat dan merusak lingkungan.

Akhir tahun adalah saat yang tepat melakukan refleksi diri, sejauh mana kita bersikap terbuka terhadap kebenaran? Sejauh mana kita siap meninggalkan kebenaran lama yang sudah tidak bisa lagi dipertahankan baik dengan argumen maupun pengalaman. Melangkahkan kaki meninggalkan tahun 2010 seharusnya juga kita siap meninggalkan hal-hal keliru atau salah yang tidak bisa lagi dianggap sebagai kebenaran.

Selasa, 28 Desember 2010

Pemerintahan Tuhan vs Perusak Bumi

Kalau bukan karena beberapa peristiwa, mungkin postingan seperti ini tidak akan saya buat karena khusus akhir tahun ini saya telah mempersiapkan refleksi akhir tahun setelah sepanjang tahun 2010 kita melihat atau mengalami berbagai peristiwa. Beberapa peristiwa yang mendorong tulisan ini adalah hujan salju di sebagian Timur Tengah, hujan salju di Australia saat seharusnya musim panas, dan beberapa gempa seperti gempa Iran (http://m.kompas.com/news/read/data/2010.12.21.12391617), Yogya/Pacitan (http://m.detik.com/read/2010/12/21/125942/1529667/10/pekerja-kantoran-di-surabaya-malang-juga-berhamburan), Jepang (http://m.detik.com/read/2010/12/22/020752/1530285/10/gempa-74-sr-guncang-jepang) dan terakhir gempa Vanuatu di Pasifik 25 Des 2010 WIB atau 26 Des 2010 waktu setempat (http://m.kompas.com/news/read/data/2010.12.26.08045510).

Berita hujan salju di sebagian Timur Tengah saya share melalui account facebook saya (www.facebook.com/hani.putranto) tanggal 12 Desember 2010. Dalam komentar saya tertanggal 13 Desember 2010 saya tulis: "....Jadi teringat Kitab Wahyu: khususnya Why 11:19 'Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam bait suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat'. Juga Why 16:21'"

Dalam postingan di blog ini saya kutipkan Kitab Wahyu 11 dari ayat 15 sampai dengan ayat 19 yaitu ayat terakhir Wahyu 11, kutipan lengkapnya adalah sebagai berikut:

"Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya:
'Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya'
Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Allah di atas takhta-takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah, sambil berkata:
'Kami mengucap syukur kepada-Mu ya Tuhan, Allah Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah memerintah sebagai raja dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi.'
Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es"

Demikian tadi saya kutipkan dari kitab Wahyu, kitab terakhir Perjanjian Baru otomatis juga kitab terakhir Alkitab. Dalam postingan ini tidak lagi saya jelaskan mengenai pemerintahan Tuhan (bisa juga disebut "Kingdom of Heaven" atau "Kingdom of JHWH") karena telah saya jelaskan dalam postingan berjudul "Pemerintahan Tuhan" tertanggal 24 Agustus 2010 di blog ini.

Dalam postingan ini saya ingin menggarisbawahi hukuman yang akan menimpa pembinasa bumi (Why 11:18). Peringatan Kitab Wahyu itu patut kita perhatikan mengingat kerusakan bumi oleh ulah manusia. Hujan salju di Australia pada saat seharusnya musim panas adalah tanda pemanasan global yang menimpa kutub selatan bumi yang berdekatan dengan Australia. Kerusakan bumi itu terjadi karena kesrakahan atau sesat pikir rezim atau mazab ekonomi yang mempersyaratkan pertumbuhan PDB bagi kesejahteraannya. Mazab itu masih eksis, lihat saja di media massa konvensional menjelang akhir tahun seperti ini, halaman media itu dihiasi banyak tulisan ekonomi untuk meningkatkan PDB tahun depan. Sama halnya pertumbuhan penduduk, sebenarnya pertumbuhan PDB akan semakin membebani bumi dan merusaknya. Itulah mazab konvensional (neoklsik atau keynes). Berbeda dengan mazab konvensional, biososioekonomi tidak mempersyaratkan pertumbuhan PDB, tetapi dengan daur ulang kekayaan individu semua orang bisa tumbuh kekayaannya yang diukur dengan angka PIT (persentse individu atau rumah tangga yang tumbuh, angka PIT 100% berarti semua orang atau rumah tangga bertambah kekayannya). Dalam biososioekonomi secara makro tidak ada pertumbuhan tetapi secara mikro ada pertumbuhan. Pertumbuhan makro atau pertumbuhan PDB yang seharusnya dicegah karena berpotensi meningkatkan beban alam dan merusak bumi.

Tentu pembinasa bumi tidak hanya berasal dari mazab ekonomi konvensional yang mempersyaratkan pertumbuhan PDB tetapi juga berasal dari orang-orang yang mengobarkan perang dan terorisme. Semoga peringatan Kitab Wahyu 11:18 itu diperhatikan semua orang apa pun agamanya. Demikian postingan ini saya tulis, saya bukan ahli bernubuat, hanya menyampaikan apa yang dinubutkan atau ditulis orang lain.

Bagi kita yang tidak merusak bumi atau tidak membuat hal-hal yang mendatangkan amarah Tuhan bisa menambahkan dalam doa harian kita doa Mazmur 118:25 yang bunyinya: "Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemukuran!"

Rahayu.

Sabtu, 25 Desember 2010

Selamat Natal 25 Desember 2010

Saya mengucapkan Selamat Natal 25 Dessember 2010, semoga kelahiran Tuhan membawa damai sejahtera bagi kita semua.

Selasa, 21 Desember 2010

Kekikiran Di Balik CSR

Bagi yang memahami matematik dan biososioekonomi atau paling tidak memahami hakekat ekonomi publik (plus matematik) tentu persoalan seperti ini pasti sudah diketahui. Akan tetapi bagi yang kurang memahami, mungkin tulisan ini berguna untuk ikut mengontrol dan mengoreksi jalannya ekonomi publik.

Gemerlap CSR (corporate social responsibility) sering tidak hanya menyilaukan mata banyak orang tetapi juga mungkin membutakannya. Citra yang terpancar dari iklan CSR sering menutupi suatu kenyataan bahwa boleh jadi individu-individu pemegang sahamnya kikir dan penindas. Dalam penjelasan mengenai biososioekonomi sering saya kemukakan bahwa manusia selain homo economicus juga homo socius artinya kapasitas kedermawanan sosial seseorang memang seharusnya lebih tinggi dari institusi bisnis. Kalau institusi bisnis hanya menyumbang 2,5% dari laba usahanya, maka seseorang seharusnya bisa menyumbang harta dalam persentase yang jauh lebih tinggi dari itu karena ia adalah juga bersifat homo socius.

Celakanya kalau individu lebih kikir dari perusahaan, kesengsaraan rakyat akan berlanjut. Praktek-praktek di mana individu lebih kikir dari perusahaan harus menjadi bahan perhatian para pemangku kepentingan publik agar paraktek-praktek buruk itu tidak meraja lela. Juga perlu diperhatikan permintaan pemotongan pajak karena perusahaan menjalankan CSR. Jangan sampai uang yang disumbangkan melalui CSR besarnya, misalnya, hanya Rp 100 milyar tetapi meminta pemotongan pajak sampai Rp 120 milyar. Dalam kasus seperti ini income publik bukan bertambah tetapi berkurang Rp 20 milyar. Lebih celaka lagi kalau uang Rp 20 milyar tadi dipakai untuk iklan pencitraan bahwa perusahaan dan individu pemegang saham adalah seorang pahlawan. Padahal kalau menurut logika biososioekonomi individu pemilik perusahaan itu harus menyumbang lebih dari Rp 120 milyar. Dijalankannya CSR bukan berarti membebaskan bagi pemiliknya untuk membayar kewajibannya apakah berupa pajak, derma, atau daur ualng kekayaan individu seperti dijelaskan oleh teori biososioekonomi. Orang yang mengerti biososioekonomi tidak mudah dibodohi oleh orang-orang kikir yang tampil bak pahlawan. Oleh karena itu banyak orang seharusnya mau mempelajari dan menyebarluaskan teori ekonomi makro biososioekonomi supaya rakyat tidak menjadi korban elite busuk.

Biososioekonomi berusaha meningkatkan pendapatan publik dan mengelolanya dengan baik agar aset publik sama dengan liabilitasnya. Agar aset publik tidak merosot di bawah liabilitasnya. Biososioejonomi membatasi income (publiknya) pada tiga sumber yaitu pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu. Biososioekonomi tidak menjadikan hasil investasi asetnya sebagai pendapatan utama publik karena orientasi pada investasi akan memanaskan makro ekonomi

Sabtu, 18 Desember 2010

Menanti Ratu Adil atau Menanti Pertobatan?

Harapan banyak orang tertindas akan datangya Ratu Adil (King of Justice) sebenarnya bukan harapan kosong meskipun beberapa persepsi mengenai Ratu Adil perlu diluruskan. Dalam blog ini saya sudah menjelaskan agar tidak salah persepsi. Hal seperti ini perlu saya kemukakan agar isu Ratu Adil tidak dimanfaatkan oleh petualang politik.

Seperti pernah saya jelaskan dalam postingan "Antara Ratu Adil dan satrio piningit" bahwa Tuhanlah yang pantas menjadi Ratu Adil sejati. Dan Ratu Adil berbeda dengan satrio piningit. Satrio piningit sejati memang harus mengaku sebagai bukan Ratu Adil supaya tidak terjadi "bencana teologis" (karena mengaku sbg Tuhan) tetapi bukan berarti bahwa satrio piningit sedang melawan Ratu Adil (Tuhan).

Mungkin kemudian timbul pertanyaan, kalau Ratu Adil itu ada dan satrio piningit telah muncul mengapa hidup rakyat tidak segera membaik. Perlu diingat bahwa tugas satrio piningit hanya menyampaikan peringatan. Dan seperti Anda lihat pada komentar-komentar di blog ini, tidak sedikit orang yang menghalangi tampilnya satrio piningit. Pengalaman saya memperjuangkan demokrasi ekonomi/biososioekonomi pun seperti itu, banyak dihalang-halangi. Good news munculnya satrio piningit bersama demokrasi ekonomi/biososioekonominya ditenggelamkan bad news oleh penguasa media konvensional baik cetak maupun tv. Padahal peringatan itu harus tersebar ke seluruh dunia.

Tuhan Sang Ratu Adil sejati memang berkuasa menjatuhkan tulah atau hukuman ke bumi terhadap orang-orang yang menghalangi terwujudnya kesejahteraan publik namun juga perlu diingat bahwa Tuhan memiliki kerahiman untuk menanti pertobatan banyak orang. Memang memprihatinkan bahwa masih ada orang yang menganggap mewariskan kekayaan berlimpah kepada anak keturunannya sebagai bagian dari hukum kasih, padahal Yesus Kristus Sang Ratu Adil Sejati tidak mengajarkan begitu.

Akan ada masanya pintu pertobatan ditutup karena Tuhan tidak mau rakyat-Nya mati kelaparan. Kapan saatnya? Tidak ada manusia yang tahu. Kita saat ini sedang menantikan pertobatan banyak orang karena Tuhan dg kemulian, kuasa, dan hukuman-Nya bisa datang kapan saja seperti pencuri. Bertobat selagi sempat karena esok mungkin terlambat.

Selasa, 14 Desember 2010

Quo Vadis Teologi Pembebasan

Tulisan ini adalah salah satu dari 17 tulisan yang terkumpul dalam naskah "Suara Alam: Menemukan Jalan ke Tanah Terjanji, Menuju Kapitalisme Tanpa Darwinsime" Yang menjadi ciri dalam postingan ini selain bahasanya sederhana juga ditulis dalam gaya sharing pengalaman rohani. Postingan ini ditulis kembali dengan cara diketik kata demi kata dengan sedikit perbaikan redaksionalnya. Selamat membaca.

Bukanlah maksud penulis untuk mengkritik teologi pembebasan. Justru penulis menghargai mereka yang terlibat dalam teologi pembebasan dengan mengorbankan waktu, harta benda, bahkan nyawanya untuk suatu pembebasan bagi kaum miskin di mana pun juga berada apakah di Amerika Latin atau di tempat lain. Terjadinya reformasi di Indonesia telah membuat buku-buku tentang teologi pembebasan lebih mudah diperoleh dan dibicarakan secara terbuka sehingga penulis mulai bisa mengerti dan memahami tentang teologi pembebasan yang konon bervariasi. Namun dari semua itu masih ada hal yang bagi penulis masih kabur yaitu akan dibebaskan dengan cara apa orang-orang miskin itu dan mau berjalan ke arah manakah teologi pembebasan?

Penulis bukanlah seorang doktor di bidang ekonomi, teologi, filsafat, kependudukan dan juga bukan seorang rohaniwan. Penemuan penulis akan jalan ke Tanah Terjanji yang dipaparkan dalam buku ini sebenarnya merupakan suatu penemuan yang berawal dari ketidaksengajaan dari suatu musibah yang menimpa penulis kira-kira sembilan tahun yang lalu. Tetapi penulis merasa bahwa latar belakang penulis yang S1 Teknologi Pertanian cukup bisa mendampingi penulis untuk bisa mencerna dan mengolah segala pengalaman tersebut dengan cukup cerdas, jernih dan bijak.

Maka dalam bagian ini penulis hanya mau men-sharing-kan saja mengenai pengalaman tersebut yang sebagian darinya pernah di-sharing-kan kepada rekan-rekan muda yang tergabung dalam paguyuban dan persaudaraan Kontak Suara Muda (KSM). Pengalaman ini berawal dari akhir bulan Februari 1993 ketika penulis kehilangan pekerjaan secara menyakitkan. Pada saat itu, empat tahun sebelum krisis melanda Asia, apa yang disebut sebagai nilai-nilai Asia sedang berada pada puncak arogansinya. Ternyata bukan hanya kehilangan pekerjaan saja yang penulis sadari kemudian tetapi juga kebebasan dan kemerdekaan. Sewaktu duduk dibangku sekolah kita boleh berpacu dan berprestasi setinggi-tingginya, kita bisa memilih sekolah favorit yang terbaik. Kompetisi yang terbuka adalah bagian dari masa sekolah yang kemudian lenyap ketika memasuki dunia kerja, tenggelam dalam suatu budaya nepotisme dan feodalisme.

Ada suatu tawaran pekerjaan untuk menjadi agen asuransi jiwa dari perusahaan nasional yang bonafid. Meskipun penulis merasa tidak terlalu bisa menjadi salesman tetapi tawaran itu pun penulis coba. Dari training yang diberikan aku merasa bahwa inilah duniaku dan kebebasanku yang pernah hilang. Di sini siapa pun boleh berprestasi sebaik-baiknya. Selesai training, pada bulan pertama aku berhasil membukukan transaksi dari saudara-saudaraku. Bulan kedua mulai ekspansi ke lingkungan yang di luar saudara, tetapi hasilnya nihil. Bulan ketiga keuanganku menipis. Ada seorang prospek (calon nasabah) yang baru dikenal dan bukan saudara yang agaknya cukup tertarik dengan plan asuransi beasiswa. Ketika dia memberikan isyarat setuju blanko surat perminataan pun aku siapkan dan ditandatanganinya. Kami membuat janji untuk bertemu lagi besok siang setelah makan siang dan dia minta dibawakan kwitansi pembayaran premi pertama. Demikianlah keesekon harinya, setelah makan siang saya datang dengan membawa kwitansi tanpa paginya konfirmasi terlebih dahulu. Ini adalah trik dari para senior yang merupakan bagian dari body language. Karena kalau pagi harinya ditelpon lebih dulu bisa jadi prospek tersebut membatalkan komitmennya untuk membayar karena kita dianggap tidak serius hanya bicara saja alias no action talk only. Tetapi ternyata prospek tersebut tidak masuk kerja pada hari itu karena sakit. Saat itu juga seoalah-olah langit runtuh. Mungkin ini akal-akalan orang tersebut untuk membatalkan komitmennya.

Terbayang kembali peristiwa tahun 1993 ketika penulis kehilangan pekerjaan. Sementara uangku semakin menipis dan agaknya orangtuaku pun punya harapan agar aku bisa sedikit banyak membantunya untuk menyumbang biaya sekolah adik-adikku. Pahit memang. Tidak hanya itu saja, semua pengalaman ini telah menggoncangkan imanku sehingga jatuh ke titik nadir. Ketika pulang aku duduk termenung sendirian di kamar kos sederhana yang disewa adik sepupuku tempat aku menumpang. Menatap langit yang mendung melalui jendela kamar yang terletak di tempat yang lebih tinggi dari rumah-rumah sekelilingnya yang juga sederhana. Pada saat itu melalui hati nuraniku aku mendengar seolah-seolah Tuhan berkata kepadaku: "Bangkitlah anak-Ku, Aku Bapamu!"
"Bapa..." Jawabku

Untuk pertama kalinya dalam hidup Kristianiku hatiku dan tubuhku begitu tergetar ketika aku memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa.

Keesokan harinya aku menelepon kembali prospek tersebut dan dia menyatakan minta maaf karena kemarin tidak masuk. Siangnya saya diminta datang dan semuanya berjalan lancar. Ini merupakan transaksi pertama yang cukup signifikan dari prospek yang tidak dikenal secara pribadi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Bapa di surga. Dan sejak saat itu sebutan Bapa untuk Tuhan begitu menyentuh hatiku lebih dari sekedar formalitas teologis.

Perjalanan selanjutnya aku lalui dengan suka-dukanya sendiri. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Bapa aku datang ke Lingkungan untuk ikut menjadi anggota koor juga petugas tata laksana yang mengumpulkan kolekte di gereja. Ucapan terima kasih itu juga terungkap dalam doa harianku:

"Puji dan syukur kuhaturkan kepada-Mu ya Tuhan
Karena Engkau menyelamatkan hidupku dari kehancuran
Engkau mengangkat hidupku dari kehinaan.
Aku percaya Sabda-Mu mampu menyembuhkan daku
sehingga aku bisa berbuah melimpah, buah yang bisa dinikmati orang lain, ranting dan daunnya menjadi tempat bernaung, memberikan kehidupan dan kesejukan bagi banyak orang
sehingga semua orang memuji dan memuliakan nama-Mu
sehingga Kerajaan-Mu semakin kokoh di muka bumi
bumi menjadi tempat bernaung yang aman dan nyaman bagi semua orang tanpa membeda-bedakan suku, agama, aliran politik, kebudayaaan dll
sambil menantikan kehidupan abadi di Sorga"

Kata-kata "Aku Bapamu" telah membangkitkan kembali semangat hidup dan prestasiku. Aku mendapatkan fasilitas training sebagai supervisor. Dalam training motivasi itu aku mendapatkan tambahan semangat yang menyala-nyala karena trainer mengingatkan kembali akan potensi dan talenta masing-masing pribadi atau individu serta prestasi-prestasi yang pernah dicapai. Bagiku ini mengingatkan kembali waktu SMP menjadi salah satu dari sedikit siswa yang diterima di SMA negeri. Kemudian waktu SMA lulus dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi. Dan kemudian diterima di PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Pada saat menyelesaikan skripsi, aku merupakan salah satu dari sedikit mahasiswa S1 yang berani menciptakan prosedur analisis sendiri dengan mendapat inspirasi dari hukum Stoke, kemudian memperoleh nilai A untuk skripsi tersebut.

Prestasi ini memang tidak langsung berpengaruh pada bidang yang aku tekuni (pemasaran asuransi jiwa) tetapi membangkitkan gairah dan semangatku selepas training. Sementara itu aku teringat kembali film Mahabharata yang disutradarai B.R. Chopra dan Ravi Chopra yang ditayangkan TPI awal tahun sembilan puluhan. Dalam ingatanku itu, aku teringat kisah Karna salah seorang ksatria berbakat dalam epik tersebut yang disia-siakan karena sistem feodal saat itu. Sementara itu di dalam bidang keagenan asuransi jiwa tersebut aku merasa menemukan kembali kemerdekaanku yang hilang setelah lulus kuliah, sehingga aku tertantang untuk berprestasi sebaik mungkin. Kemampuan sales talk-ku tidaklah istimewa tetapi kemampuan analisisku termasuk istimewa, maka meski kadang-kadang gentar menekuni profesi tersebut aku melakukan analisis-analisis. Sehingga memunculkan ide untuk memprospek mereka yang baru memiliki anak atau keluarga muda. Data base bisa dengan rutin diperoleh dan situasinya mendukung.

Telak! Bidikan ini tepat sasaran, prestasiku pun membaik dan bahkan yang lebih penting rutin dan konsisten. Transaksi rutin setiap bulan dan bahkan pernah membukukan transaksi sampai empat polis dalam satu bulan. Mulailah aku melengkapi sarana kerja dengan handphone yang waktu itu masih jarang dimiliki marketing lain. Keputusan ini aku ambil karena prestasiku konsisten. Di samping itu aku juga ikut menjadi nasabah asuransi dengan mata uang dollar yang waktu itu kurs-nya sekitar Rp 2.300-an / 1 US $ hal ini juga penting untuk memotivasi prospekku. Karena banyak nasabahku yang mengambil plan dollr maka aku membuka rekening dollar untuk menyimpan komisi-komisi dari polis dollar. Sehingga waktu itu aku merasa cukup sejahtera.

Ingatanku akan Karna ksatria Mahabharata yang mengesankan adalah ketika ia melepas anting dan rompi wasiatnya untuk diberikan kepada seorang brahmana yang membuatku terinspirasi akan pengembalian talenta. Dan ternyata perumpamaan talenta dalam Injil paralel (meskipun tidak sama persis) dengan ilustrasi kisah Karna dalam Mahabharata tadi, yaitu talenta dengan pengembangannya tidak diwariskan kepada anak cucu. Betapa besar rasa terima kasih ksatria ini sehingga harta yang begitu berarti itu diberikan kepada gurunya yang telah membuat ia sukses dalam karirnya. Sebagai orang beriman yang telah ditebus dan diangkat menjadi anak Tuhan aku merasa masih kurang bersyukur dan berterima kasih pada Allah Bapa semua orang. Maka ini pun aku ungkapkan dalam doa malam:

"Ya Bapa, segala yang ada padaku
talenta, kejayaan, kemenangan, dan
kemegahan ini adalah pinjaman dari-Mu
Dari-Mu semuanya ini berasal dan hanya kepada-Mu dan anak-anak-Mu semuanya ini nanti aku kembalikan
aku hanyalah manusia biasa yang tercipta dari debu dan akan kembali menjadi debu
tanpa karya penyelamatan-Mu
aku bukanlah apa-apa"

Selain itu aku juga mulai berpuasa setiap Jumat pertama dalam bulan sebagai suatu devosi akan Hati Kudus Yesus yang telah menyelamatkan aku. Kebetulan aku juga tinggal di suatu paroki yang diasuh oleh imam-imam kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ). Waktu itu kira-kira akhir tahun 1996, doa di atas sering aku doakan setiap malam. Hal pengembalian talenta beserta pengembangannya mulai aku pikirkan dari segi rasionalitasnya.

Seiring berjalannya waktu krisis melanda Asia dan Indonesia. Nasabah-nasabahku yang rata-rata adalah keluarga muda dan bekerja di perbankan dan sektor konstruksi juga ikut terpengaruh akibat gelombang PHK pada kedua industri itu, nilai dollar terhadap rupiah bergejolak. Aku termasuk yang terakhir terkena dampak krisis. Ketika bulan Mei 1998 ketika terjadi kerusuhan aku masih sempat menyetor uang komisi untuk ditabung di Bank Lippo Cilandak yang waktu itu karyawatinya tampak khawatir karena mungkin telah mendengar berita kerusuhan di tempat lain. Sebelumnya bulan Maret 1998 aku masih sempat membayar premi asuransiku karena masih memiliki cadangan dollar yang kalau dikurskan nilainya Rp 10.000,- / 1 US $.

Perjalanan hidupku terus berlangsung dengan suka-dukanya yang melelahkan. Tidak hanya dalam bisnis tetapi juga dalam pergaulan hidup sehari-hari. Kalau sedang jatuh aku merasa Tuhan selalu membangkitkan semangatku :

"Bangkitlah anak-Ku
Katakan kepada-Ku
Segala pahit getir hidupmu
Aku Bapamu
Tidak ada bapa lain yang lebih tinggi dari pada-Ku"

Doa "Bapa Kami" termsuk yang aku rasakan getarannya dan aku hayati maknanya. Sebagai pekerja mandiri yang hidup dari komisi aku sangat mengerti arti rejeki dalam doa "Bapa Kami" tersebut. Berbeda ketika aku masih menjadi karyawan dimana Bapa telah diganti dengan majikan dan rejeki telah diganti dengan gaji.

Mengenai pengembalian talenta aku hanya berusah tidak berjanji. Tetapi agaknya Tuhan tahu dan di dalam hati nuraniku seolah-olah terjadi dialog sebagai berikut.

"Tidak! Kamu harus berjanji kepada-Ku
Untuk mengembalikan talenta beserta pengembangannya kepada-Ku"
"Kalau nantinya isteriku tidak setuju?"
"Kamu harus mecari isteri yang mengerti kehendak-Ku, dan mendidik anak-anakmu juga agar mengerti kehendak-Ku, juga agar dia bisa mencari menantu yang baik buatmu yang mengerti kehendak-Ku atau anak-anakmu mejadi biarawan/biarawati."

Akhirnya aku menyerah dan berjanji, kebaikan Tuhan telah membuatku terpanggil untuk berterima kasih dengan cara ini yaitu mengembalikan talenta beserta pengembangannya kepada Tuhan pada akhir hidupku seperti yang telah dipaprkan dalam semua bagian buku ini. Setelah mengalami pengalaman akan Allah sebagai Bapa ini mataku terbuka lebar. Ternyata Gereja memiliki harta karun yang luar biasa yang berupa teologi, spiritualitas dan tradisi yang memungkinkan keadilan sosial terjadi secara damai. Jalan ke Tanah Terjanji pun dengan gamblang penulis lihat.

Kasih terbesar seorang ayah kepada anaknya bukan ketika sang ayah mewariskan kekayaan yang berlimpah ruah kepada anaknya tetapi ketika sang ayah memperkenalkan kepada anak akan Bapa Surgawi yakni Allah sendiri. Dengan menjadi ahli waris Kerajaan Sorga, sang anak tidak bisa dan tidak boleh menuntut bapa duniawinya karena tidak mewariskan kekayaan kepada anaknya meskipun kekayaan orangtuanya berlimpah ruah. Kasih terbesar kedua seorang ayah tentunya seperti yang telah kita kenal selama ini yakni merawat sang anak dari sejak janin sampai dewasa mandiri.

Komunisme adalah sebuah kebodohan yang pernah dialami manusia. Sama rasa sama ratanya komunisme adalah sesuatu yang tidak mungkin terwujud karena di situ mengandung arti mengangkat yang satu tetapi menjatuhkan yang lain. Apalagi menjatuhkannya dengan kekerasan. Padahal yang ditawarkan Mesias jelas yaitu mengangkat atau menganggap semuanya menjadi anak-anak Tuhan sehingga roda keadilan yang dalam istilah Jawa disebut herucakra bisa berputar. Selama ini roda keadilan berhenti berputar atau kalau berputar tidak signifikan karena orang tidak mengalmi kasih Allah sebagai Bapa bagi semua orang.

Akan halnya yang terjadi pada Gereja Perdana adalah benar dari sudut pandang sorgawi tetapi kurang tepat dari sudut pandang duniawi. Penulis bukanlah ahli sejarah tetapi dari analisis logika saja kemungkinan pengembalian kekayaan pada waktu itu tidak mempertimbangkan fase mana dalam siklus hidup seseorang. Di samping itu sasaran tindakan karitatifnya tidak tepat sehingga menimbulkan distorsi, kemalasan atau ketidakadilan baru. Sampai-sampai seorang santo seperti St Paulus menggunakan dalil alam untuk kotbah rohaninya, siapa yang tidak bekerja tida usah makan. Tetapi kejadian itu tidak perlu disesali karena hal itu justru menunjukkan bahwa umat Gereja Perdana sedang mengalami euforia yang berlebihan sehingga beramai-ramai menjual hartanya untuk dibagi-dibagikan. Suatu euforia karena penebusan, dan hal itu wajar bahkan suatu hal yang bagus.

Mengembalikan talenta dan pengembangannya pada akhir hidup seseorang pada saat anak-anaknya sudah mandiri bukan berarti mengabaikan nilai-nilai pengorbanan atau menggunakan harta tersebut untuk berfoya-foya. Ini hanyalah cara agar tindakan karitatif tidak terdistorsi. Hal itu adalah suatu bentuk penghormatan kepada Tuhan Sang Pemilik talenta. Pengorbanan dan Penghormatan kepada Tuhan Sang Pemilik Talenta adalah dua hal yang berbeda namun keduanya mestinya menjadi bintang pedoman bagi awam (non rohaniwan/rohaniwati) yang notabene boleh mengumpulkan kekayaan.
Dalam hidup biarawan keduanya menyatu sehingga tidak kelihatan sebagai dua hal yang terpisah. Memanghapuskan hak milik seperti dalam komunisme tidaklah mungkin. Yang masih mungkin adalah sebagian orang terpanggil untuk hidup tanpa kekayaan seperti kesaksian hidup para biarawan dalam tradisi Katolik. Dan yang lain mendaur ulang kekayaan pribadinya pada akhir hidupnya, namun demikian tetap harus dihargai mereka yang mendermakan hartanya di tengah fase hidupnya bukan di akhir hidupnya. Mendermakan harta di tengah fase hidup seseorang menunjukkan besarnya pengorbanan orang tersebut. Dan dari segi rohani atau sorgawi tindakan ini sangat dihargai.

Apa yang penulis lihat setelah pengalaman rohani akan Allah sebagai Bapa ini adalah bahwa manusia hanya mungkin dibebaskan dari kemiskinan kalau ditebus dan dianggap atau diangkat menjadi anak-anak Allah. Penebusan inilah yang tidak penulis lihat dari teologi pembebasan sehingga arahnya tidak jelas.

Sebelum sharing ini diakhiri penulis perlu kemukakan bahwa penulis bukanlah mesias, bukan nabi, bukan rohaniwan, bukan pemimpin agama, bukan pemimpin politik dan juga tidak akan pernah menjadi salah satu di antaranya. Penulis hanyalah salah satu dari jutaan orang yang terpanggil untuk hidup sebagai atlet (kastria) seperti yang telah dipaparkan dalam buku ini.

Jakarta, akhir Desember 2001

Demikian waktu itu saya tulis, sebelum saya merumuskan teori biosoioekonomi. Bagi yang memahami biososioekonomi penjelasan mengenai daur ulang kekayaan dalam postingan ini terlalu sederhana. Baik daur ulang kekayaan pribadi maupun derma perlu dikelola dengan memperhatikan prinsip-prinsip biososioekonomi dimana income publik tersebut tidak hanya dialokasikan pada sektor riil tetapi juga moneter, tidak terdistribusi sesaat tetapi memperhatikan decomposition time sehingga aset publik tidak merosot di bawah liabilitasnya tetapi sama dengan liabilitasnya. Namun demikian saya rasa postingan sederhana dalam bahasa sederhana ini tetap bermanfaat bagi mereka yang kurang memahami ekonomi.

Jumat, 10 Desember 2010

Pemerintah Seharusnya Menyediakan Tempat untuk Warung Makan Bukan Menarik Pajak Warteg

Perlu dihargai upaya pemerintah untuk meningkatkan penerimaan pajak. Tetapi bahwa hal itu dilakukan dengan rencana menarik pajak bagi pengusaha warteg (warung tegal) oleh Pemprov DKI mulai Januari 2011 memang keterlaluan, meskipun belakangan Pemprov DKI menunda rencana tersebut. Tidak ada jaminan bahwa pengusaha warteg tidak akan menaikkan harga makanannya. Ujung-ujungnya rakyat kecil konsumen warteg yang akan menanggung bebannya.

Benar bahwa pengelolaan perekonomian publik memerlukan pajak sebagai salah satu income-nya dan penerimaan pajak kita masih harus ditingkatkan tetapi perekonomian publik yang pro keadilan dan pro rakyat seharusnya tidak mulai dengan menarik pajak terhadap yang menengah apalagi yang kecil. Seperti pernah saya jelaskan dalam blog ini bahwa biososioekonomi mulai dari yang paling besar. Demikian juga seharusnya pengelolaan perekonomian publik yang sehat, pro keadilan, dan pro rakyat. Biososioekonomi tidak dimulai dengan investasi tetapi dengan berbagi mulai dari yang paling kaya supaya yang lebih miskin bebannya ringan.

Dari pada menarik pajak dari pengusaha warteg seharusnya pemerintah menyediakan tempat bagi warung makan dan restoran menengah yang konsumennya pegawai rendah, pedagang kecil, mahasiswa dan kelompok menengah ke bawah lainnya sehingga harga makanan bisa ditekan murah tanpa banyak mengurangi margin laba penjualnya.

Salah satu tugas pemerintah adalah menyediakan infrastruktur termasuk di dalamnya adalah tempat makan yang murah bagi kelompok menengah ke bawah. Pengusaha warung makan atau restoran kelas menengah tidak perlu membeli atau menyewa untuk menjalankan usahanya karena telah disediakan pemerintah, pengusaha cukup membayar listrik, telpon, keamanan, kebersihan dan asuransi. Nantinya properti itu tetap milik pemerintah. Dengan cara seperti itu ada dua keuntungan bagi publik, pertama dengan tetap dimiliki pemerintah maka akan menjaga aset publik seimbang dengan liabilitasnya. Kedua, pemerintah bisa ikut melakukan semacam operasi pasar untuk menekan harga makanan yang dijualnya tetap murah tanpa secara signifikan menurunkan margin laba bagi penjualnya.

Perekonomian publik yang sehat dan pro rakyat memang menuntut keberanian pemerintah agar penerimaan publik dari kalangan atas meningkat dan lancar. Pajak adalah salah satu instrumen untuk meingkatkan income publik itu. Selain diperlukan sikap berani dari pemerintah, juga diperlukan sikap kooperatif pemerintah agar bersama civil society meningkatkan penerimaan publik non pajak yaitu derma dan daur ulang kekayaan individu dari kalangan atas sebagaimana dijelaskan teori ekonomi makro biososioekonomi.

Semoga penjelasan sederhana ini dimengerti.

Selasa, 07 Desember 2010

Selamat Tahun Baru 1944 dan Hari Raya Galungan

Saya pribadi mengucapkan Selamat Tahun baru 1 Suro 1944 Saka Jawa, 1 Muharam 1432 H dan juga selamat merayakan Hari Raya Galungan bagi yang merayakannya.

Jumat, 03 Desember 2010

Injil dan Kontra Injil

Postingan ini adalah salah satu dari 17 tulisan yang terkumpul dalam naskah "Suara Alam: Menemukan Jalan ke Tanah Terjanji Menuju Kapitalisme Tanpa Darwinisme." Ciri tulisan-tulisan dalam naskah tersebut adalah sederhana sehingga seharusnya mudah dipahami semua orang. Berikut saya tulis kembali dengan sedikit perbaikan kata atau kalimat tanpa mengubah isi.

Ini bukan reduksionisme makna Injil, karena di dalam seluruh buku ini yang dipaparkan adalah aspek duniawi dari Mesias yang membawa kemakmuran dan keadilan sosial di dunia. Injil yang berarti kabar gembira selayaknya menjadi kabar gembira bagi semua orang tanpa memandang batas-batas atau sekat-sekat agama, etnis, budaya, gender, status sosial dll Mewartakan Injil berarti mewartakan kabar gembira dan bukan berarti meng-Kristenkan seseorang. Dalam konteks keadilan sosial yang duniawi ini isi dari warta gembira yang pantas diketahui adalah kesediaan Tuhan menjadi Bapa bagi semua orang. Tentu saja menjadi Bapa di sini bukan berarti biologis tetapi dalam arti rohani dan psikologis.

Selama berabad-abad sebelum Mesias lahir sampai hari ini bahkan, tidak jarang seseorang melakukan dominasi dan pembedaan berdasarkan keturunan berdarah biru atau bukan. Ini dijadikan dasar oleh seseorang untuk berkuasa penuh atas yang lain sebagai raja. Raja-raja mengaku anak yang maha agung dari langit atau minimal mengaku membawa wahyu atau kuasa dari langit sementara rakyat diposisikan sebagai anak-anak singkong. Semua ini dilakukan untuk mempertahankan status quo seseorang beserta anak keturunannya. Seperti yang kita lihat contohnya dalam film "Mahabarata" yang pernah diputar di TPI kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Di situ terlihat bagaimana Pandawa membombardir Karna dengan sebutan anak kusir sampai terjadinya perang Baratayudha. Ini merupakan psy war bagi Karna. Tetapi setelah Karna tahu bahwa ia anak matahari maka segala macam serangan psikis itu tidak mempan.

Maka sebenarnya sebutan orang lemah dan miskin yang sering digunakan orang atau para ahli sudah tidak memadai lagi karena hak itu hanya akan membuat masyarakat tersebut tidak berdaya. Orang miskin dan orang yang jatuh miskin memang membutuhkan uang dan makanan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah spirit agar orang tersebut bisa bangkit menolong dirinya sendiri. Adalah sesuatu yang menggembirakan apabila Tuhan ternyata Tuhan mau menyediakan diri menjadi Bapa bagi semua orang. Seseorang tidak harus dilahirkan sebagai anak matahari seperti Karna, karena Tuhan memang telah mengkaruniakan diri-Nya menjadi Bapa bagi semua orang tanpa terkecuali. Inilah spirit bagi orang-orang yang sedang susah tersebut untuk bangkit. Inilah Injil. Kata Bapa jauh lebih dekat dan membumi dari pada kata Tuhan. Dengan demikian Tuhan telah mengisi ruang kosong antara bapa dan Tuhan yang kalau tidak ditempati Tuhan akan akan ditempati oleh bapa-bapa yang arogan dan eksklusif dan sering bertindak adigang adigung adiguna.

Tetapi kalau ada orang mengetahui atau memahami isi kabar gembira ini tetapi kepada orang lain atau anak orang lain mengajarkan bahwa ia anak singkong dan memperlakukan anak orang lain seperti itu sementara dia mengajarkan kepada anaknya sendiri secara diam-diam sebagai anak Tuhan maka inilah kontra Injil.

Jakarta, Akhir Desember 2001

Demikian tulisan saya waktu itu dengan kelebihan dan kekurangannya. Semoga Tuhan menjadi sumber kekuatan bagi semua orang.

Selasa, 30 November 2010

Biososioekonomi dan Dilema Kenaikan Upah Minimum

Rencana pemerintah DKI menaikkan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 15,38 % dari Rp 1.118.000,- per bulan di tahun 2010 menjadi Rp 1.290.000,- per bulan di tahun 2011 mendapat tanggapan dari kalangan pengusaha ("Kenaikan UMP Bisa Picu PHK" baca di http://m.kompascom/news/read/data/2010.11.26.17023462). Sebagian pengusaha menganggap kenaikan itu terlalu besar. Sementara bagi buruh, uang sebesar itu masih di bawah nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL)yang sebesar Rp 1.401.289,- per bulan Bagi perekonomian konvensional yang didasarkan pada paradigma neo klasik (neo liberal) maupun keynesian, penetapan upah minimum adalah sebuah dilema Betapa tidak, kalau upah minimum terlalu kecil di bawah KHL tentu akan membuat hidup buruh tertekan. Sedangkan UMP yang tinggi pun bisa menimbulkan masalah.

Seperti sering saya jelaskan di blog ini bahwa di dalam ekonomi, pengeluaran salah satu pihak atau salah satu unit ekonomi bisa berarti pemasukan bagi pihak lain atau bagi unit ekonomi lain. Demikian juga dalam kasus upah minimum. Peningkatan UMP akan meningkatkan pemasukan bagi buruh, akan tetapi konsekwensinya akan ada peningkatan pengeluaran oleh pihak lain. Bagi pengusaha peningkatan UMP sering diikuti dengan efisiensi yang berarti melakukan PHK atau menaikkan harga barang atau jasa produksinya. Kenaikan harga barang akan berarti meningkatkan pengeluaran bagi konsumen atau paling tidak akan menekan hidup konsumen. Dan konsumen ini adalah semua orang baik usia sekolah maupun usia produktif, baik karyawan, petani kecil, pedagang kecil, pensiunan, maupun berbagai profesi lain yang tidak termasuk kategori karyawan.

Secara pribadi saya ikut prihatin dengan nasib buruh. Akan tetapi saya perlu mengingatkan bahwa perjuangan kaum buruh dengan serikat buruhnya bisa menimbulkan masalah dengan kenaikan harga atau meluasnya PHK. Perjungan buruh adalah perjuangan kelompok bukan perjuangan semua orang. Sudah sering terjadi peningkatan upah dan inflasi sering kejar-kejaran.

Saran saya untuk keluar dari dilema itu adalah perubahan paradigma dari paradigma konvensional (neo klasik atau keynesian) menuju paradigma biososioekonomi. Dalam paradigma biososioekonomi peningkatan kesejahteraan terjadi karena adanya daur ulang kekayaan individu yang antara lain bisa dipakai untuk membayar jaminan sosial untuk semua orang (bukan hanya buruh). Beasiswa dalam paradigma biososioekonomi itu akan menjangkau semua anak usia sekolah bukan hanya anak pintar saja seperti yang sering dilakukan dalam program CSR (Corporate Social Rensponsibility). Paradigma konvensional dan biososioekonomi jelas berbeda. Dalam paradigma biososioekonomi laba dan akumulasinya itu berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Tanpa pengembalian laba kepada semua orang tidak akan ada peningkatan kesejahteraan untuk semua orang. Laba terjadi karena konsumen membayar lebih tinggi dari ongkos produksi, distribusi, dan pajak. Perjuangan untuk mengembalikan laba kepada semua orang bisa dilakukan melalui organisasi konsumen sosial yang bersifat inklusif untuk semua orang tanpa sekat-sekat primordial-sektarian. Semua orang adalah konsumen sosial karena tanpa melakukan kegiatan konsumsi (makan) semua orang pasti mati.

Saya berharap kaum buruh melalui serikat pekerjanya mau mempelajari biososioekonomi dan menyebarkannya dari mulut ke mulut atau melalui semua media seperti sms, internet, dan lain-lain agar kesejahteraan untuk semua orang bisa segera terwujud. Saya berharap serikat pekerja ikut berjuang secara inklusif bersama organisasi konsumen sosial yang memang berjuang untuk semua orang.

Jumat, 26 November 2010

Dunia ini Hanyalah Arena, Panggilan Hidup Ksatria

Postingan ini adalah salah tulisan dari 17 tulisan saya yang termasuk dalam naskah "Suara Alam: Menemukan Jalan ke Tanah Terjanji, Menuju Kapitalisme Tanpa Darwinisme." Berikut saya posting dengan mengetiknya ulang huruf demi huruf.

Sejarah peradaban manusia selalu diwarnai dengan kompetisi dan bahkan peperangan, suatu persaingan untuk saling membunuh. Mungkin hal ini merupakan bagian dari apa yang dikatakan sebagai survival of the fittest seperti yang terungkap dalam teori Darwin. Namun bagaimanapun juga peperangan atau perkelahian itu telah menimbulkan korban nyawa atau kerusakan demi kerusakan. Pada bagian lain kompetisi antar individu untuk memperebutkan pangan dan rejeki meskipun secara fisik tidak menimbulkan luka-luka atau kematian akibat pendarahan dan kehancuran tetapi tetap saja bagi yang kalah dalam kompetisi akan mengalami kesengsaraan, kelaparan bahkan akhirnya kematian.

Hal tersebut di atas memang bagian dari hukum alam. Akan tetapi haruskah demikian kehidupan manusia yang dikaruniai akal budi? Baik peperangan fisik maupun kompetisi akhirnya bermuara pada kematian baik karena pendarahan, kehancuran, kerusakan fisik atau kelaparan. Suatu kompetisi memang adalah bagian dari naluri manusia atau makhluk hidup lainnya, namun suatu kompetisi antar individu yang berakhir dengan kematian mestinya dianggap sebagai suatu kompetisi yang biadab.

Adalah suatu hal yang baik dan positif apabila manusia bisa mencegah suatu kompetisi yang biadab. Usaha dan upaya manusia untuk mengadakan lomba seperti tercermin dengan diadakannya olimpiade olah raga adalah salah satu usaha untuk mengarahkan suatu kompetisi menjadi suatu kompetisi yang beradab. Di dalam kompetisi olah raga tersebut kekalahan tidak boleh diikuti kematian dan sportifitas adalah norma yang harus ditaati oleh semua peserta dalam berkompetisi. Dengan demikian naluri untuk berkompetisi dan saling mengalahkan tersalur dengan sehat dan beradab. Inilah yang sudah berlangsung dalam dunia olah raga. Seorang atlet ditantang untuk tekun berlatih mengembangkan talentanya, berjuang dengan ulet dengan ulet dalam pertandingan atau perlombaan untuk akhirnya keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah berupa medali emas, uang, atau piala baik piala tetap atau piala bergilir. Medali emas atau piala inilah simbol prestasi sang juara. Penghargaan tersebut sifatnya individual meskipun seseorang meraih medali dalam suatu tim (sepak bola misalnya) tetapi tetaplah individu dari anggota tim itu yang mendapat penghargaan. Alangkah lucunya kalau seorang juara memberikan dalam arti mewariskan piala atau medali itu kepada anaknya dan mengangkat anaknya sebagai juara baru. Kalau sekedar memberikan sebagai kenang-kenangan bahwa sang ayah atau ibu pernah menjadi juara tentu boleh-boleh saja. Tetapi kalau pemberian itu diikuti dengan pengangkatan anak menjadi juara baru pasti ditertawakan penonton, karena dianggap tidak bermutu.

Alangkah indahnya kalau suatu kompetisi individu dalam bidang bisnis (perdagangan, investasi, marketing, agribisnis, penemuan teknologi, karya cipta seni/mode) yang bisa menghasilkan uang bisa diarahkan kepada suatu kompetisi yang beradab. Artinya antar individu diberi kesempatan untuk berlomba atau bertanding secara sportif untuk menghasilkan yang terbaik sehingga selain konsumen pun mendapatkan manfaatnya, sang pemenang pun tidak akan mewariskan kekayaan yang diperoleh kepada anak cucunya. Seorang anak adalah individu baru yang diberi kesempatan yang sama untuk berlomba dengan anak-anak lain yang segenerasi. Selain itu yang benar-benar kalah dalam persaingan sehingga jatuh miskin tetap mendapatkan jaminan pemenuhan kebutuhan fisik minimal sehingga tetap bertahan hidup. Kekalahan individu ini pun sifatnya tidak permanen dalam arti tidak turun-temurun, karena anaknya akan mendapat kesempatan yang sama dengan anak orang lain yang menang. Hal ini sangat dimungkinkan karena sang pemenang akan dengan suka rela, riang gembira dan semangat sportif untuk mengembalikan hasil kemenangannya kepada alam_pada saat anak-anaknya sendiri sudah mandiri dan pada saat akhir hidupnya_untuk didaur ulang kepada semuanya. Sudah saatnya umat manusia menganggap dunia ini hanya sekedar arena yang tetap mengakomodasi kompetisi tetapi suatu kompetisi yang beradab. Suatu anggapan bahwa dunia ini adalah the killing field atau suatu hutan rimba dengan hukum rimbanya mestinya bisa segera diakhiri.

Di samping kompetisi yang beradab seperti dikemukakan di atas ada suatu kompetisi yang harus dihindari karena dianggap tidak beradab alias biadab. Kompetisi antara individu yang berprofesi dalam bidang bisnis dengan individu yang berprofesi non bisnis seharusnya dihindari. Kompetisi dalam mengumpulkan kekayaan antara pebisnis dengan seorang jaksa atau hakim adalah suatu kompetisi yang mestinya dianggap biadab. Profesi jaksa atau hakim adalah suatu profesi dimana hasil kerja atau prestasinya tidak bisa atau tidak boleh dinilai dengan uang. Kompetisi jenis ini analog dengan pertempuran antara tentara yang bersenjata lengkap dengan seorang penduduk sipil yang tak bersenjata sehingga dikategorikan biadab. Dan seorang jaksa atau hakim yang ngotot untuk menyaingi pebisnis dalam mengumpulkan kekayaan adalah seorang hakim atau jaksa yang harus dikategorikan, maaf, dungu. Seorang hakim atau jaksa dihormati karena integritasnya terhadap profesinya bukan atas dasar kekayaannya.

Kalau seseorang ingin kaya seharusnya orang tersebut mengambil jalur profesi yang bergerak di bidang bisnis, sebagai pedagang, penemu teknologi yang komersial, karya cipta seni/mode yang bisa dikomersialkan dan lain-lain yang bersifat legal. Masalahnya di suatu negara seperti Indonesia dengan kebudayaannya seperti kita lihat sekarang profesi ini dianggap rendah dan tidak terhormat. Selain itu bukan suatu hal yang mustahil apabila perlawanan ideologis dan kultural terhadap kapitalisme seperti yang dihembuskan sementara orang justru menyuburkan suatu praktek memperoleh kekayaan secara ilegal. Karena kapitalisme atau orang-orang kapitalis dianggap jahat atau binatang ekonomi maka bukan suatu hal yang mustahil apabila suatu tindakan untuk memeras mereka atau mencuri harta mereka (harta IMF misalnya) dianggap terhormat atau heroik.

Mencegah semua orang untuk menjadi kaya adalah mustahil, karena dunia ini adalah dunia yang plural. Tetapi suatu hal yang masih mungkin dan masih realistis untuk dilakukan adalah mengarahkan suatu kompetisi menjadi kaya kepada suatu kompetisi yang benar-benar beradab seperti dikemukakan di atas.

Perlu juga digaris bawahi di sini bahwa kompetisi yang dimaksud di sini adalah kompetisi antar individu bukan antar institusi. Suatu kompetisi antar institusi bisnis (perusahaan) yang mengakibatkan salah satunya bangkrut tidak bisa dikategorikan suatu kompetisi yang biadab karena kebangkrutan institusi belum tentu mengakibatkan kematian individu-individu dalam perusahaan tersebut. Demikian juga persaingan antar partai politik yang menyebabkan salah satu atau beberapa di antaranya tidak mendapt kursi tidak bisa dikatakan sebagai kompetisi biadab selama kompetisi itu fair.

Dalam rangka mengarahkan suatu kompetisi menjadi kompetisi yang beradab inilah seorang pebisnis dipanggil untuk hidup sebagai ksatria. Kata ksatria dalam bagian ini maupun hampir seluruh buku ini adalah suatu kata yang berarti spoertif atau lawan kata raksasa dan bukan berarti militer, pejabat pemerintah atau kasta ksatria. Seorang ksatria terpanggil untuk memberikan proteksi dan konservasi bagi mereka yang bergerak di bidang non bisnis. Ksatria sejati juga memberikan jaminan hidup bagi yang kalah dalam persaingan. Dan akhirnya seorang ksatria terpanggil untuk mengembalikan talenta beserta pengembangannya (kekayaannya) untuk didaur ulang dan diredistribusikan kepada yang berhak sesuai prinsip karitas dan keadilan.

Kalau semua pebisnis menolak semua panggilan di atas maka kita manusia akan jatuh dan bertekuk lutut kepada hukum Darwin. Kalau hal ini terjadi apakah bedanya kita dengan binatang? Apakah bedanya dengan suatu makhluk yang dalam terminologi pewayangan disebut raksasa, pemangsa manusia?

Jakarta, Akhir Desember 2001

Demikian tulisan saya waktu itu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bagi yang memahami teori ekonomi makro biossosioekonomi tulisan seperti ini jelas terlalu sederhana. Artikel ini saya buat sebelum saya merumuskan biososioekonomi. Tetapi mungkin bagi yang terlalu berat mempelajari biososioekonomi, tulisan sederhana seperti ini lebih mudah dipahami dan tetap relevan untuk diposting saat ini. Semoga bermanfaat.

Selasa, 23 November 2010

Mewujudkan Perubahan: Satu Bumi untuk Semua (3)

Kasus penganiayaan tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri sangat memprihatinkan kita. Sudah selayaknya pemerintah melindungi warga negaranya sebagai bagian dari cita-cita Indonesia merdeka yakni melindungi segenap warga negara dan tanah tumpah darah dari penindasan. Di luar perlindungan itu ada satu hal mendasar yang harus diperhatikan yaitu perubahan paradigma.

Meskipun perlindungan terhadap TKW penting, itu bukan hal yang paling substansial. TKW bekerja di luar negeri dengan meninggalkan orang-orang yang dicintainya entah anak atau suami. Bekerja atau mencari rejeki di luar negaranya bukan hanya fenomena TKW asal Indonesia. Banyaknya migrasi orang-orang Timur Tengah ke Eropa juga pernah menimbulkan persoalan. Pecahnya kerusuhan rasial beberapa tahun lalu di Eropa juga membuat kaum humanis ikut prihatin.

Kasus pekerja migran adalah bagian dari suatu persoalan mendasar yang tidak disentuh sama sekali oleh berbagai solusi yang ditawarkan orang. Kini kita berada pada berbagai krisis. Setelah Yunani, Irlandia mengalami krisis. Itu kita baru bicara benua Eropa. Sementara di belahan dunia lain perang kurs tengah melanda dunia antara AS dan RRC. Perang kurs itu berawal dari defisit AS. Memang ada orang-orang yang bisa mengambil keuntungan dari perang kurs atau krisis finansial itu akan tetapi berbagai persoalan itu tidak bisa kita anggap remeh karena akan berdampak besar pada rakyat kecil. Apalagi solusi yang ditawarkan justru membebani rakyat dengan mengurangi pajak dan mengurangi jaminan sosial yang dibutuhkan rakyat. Berbagai persoalan itu tidak diatasi dengan cara yang tepat sehingga akan menimbulkan persoalan baru di masa yang akan datang.

Dari sudut pandang biososioekonomi ada dua hal yang patut saya sampaikan dalan kaitannya dengan solusi atas berbagai krisis itu pertama tidak adanya upaya peningkatan income publik yang signifikan. Kedua tidak adanya distribusi income publik yang melampaui batas negara sebagai bagian dari suatu paradigma bahwa laba beserta akumulasinya adalah berasal dari konsumen dan harus dikembalikan pada konsumen (semua orang).

Seperti yang sering saya sampaikan di blog ini bahwa yang dimaksud income publik adalah pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu. Kalau krisis diatasi dengan mengurangi pajak, menggelontorkan stimulus dengan menambah hutang publik (negara), mencetak uang, maka secara akuntansi cara penanganan krisis seperti itu tidak bisa dipertanggungjawabkan bahkan berlawanan arah dengan solusi yang tepat. Dengan cara itu persoalan tidak akan teratasi bahkan menimbulkan persoalan baru di masa mendatang atau persoalan di wilayah lain. Solusi krisis yang accountable adalah dengan cara meningkatkan income publik khususnya dari individu karena individu juga bersifat homo socius di mana kemampuannya untuk berbagi (membayar pajak, derma, daur ulang kekayaan) jauh melampaui perusahaan. Tentu saja khusus untuk pajak harus dibebankan kepada orang kaya bukan dengan cara membebani rakyat kecil.

Teori politik klasik tidak memungkinkan income publik didistribusikan ke negara lain. Distribusi income publik ke luar negeri dianggap bertentangan dengan kepentingan nasional. Anggapan ini kurang tepat karena ada income publik lain selain pajak yaitu derma dan daur ulang kekayaan individu yang berada pada ranah society bukan state. Distribusi income publik (derma dan daur ulang kekayaan individu) ke negara lain otomatis akan meningkatkan PDB di negara berkembang yang pada gilirannya meningkatkan daya beli konsumen di negara berkembang. Kalau paradigma biososioekonomi diterapkan AS seharusnya tidak mengatasi defisit perdagangannya dengan mencetak uang dollar.

Meskipun mengalir ke negara lain, sepanjang ia adalah income publik maka akan bisa menjadi solusi bagi krisis. Secara makro global akan memperkuat fundamental ekonomi publik. Tentu saja income publik itu juga perlu dikelola sesuai teori ekonomi makro biososioekonomi agar income publik juga bisa menjadi aset publik bukan berubah menjadi liabilitas publik (aset individu).

Peradaban umat manusia dewasa ini perlu mengubah paradigma. Dari pada menimbulkan persoalan kependudukan dengan banyaknya imigran lebih baik mendistribusikan kekayaan individu ke luar negara sehingga mencari rejeki juga mudah di negara masing-masing. Seseorang tidak perlu meninggalkan anak atau suami untuk mencari rejeki ke negara lain. Banyak hal yang bisa diatasi kalau teori ekonomi makro biososioekonomi diterapkan. Pemerintah perlu bekerja sama dengan civil society.

Jumat, 19 November 2010

Fransiskus Asisi dan Ramawijaya, Dua Orang Muda yang Merdeka dan Bersahaja

Seperti saya janjikan beberapa waktu lalu maka mulai hari ini saya posting beberapa tulisan saya yang terkumpul dalm naskah:"Suara Alam: Menemukan Jalan ke Tanah Terjanji, Menuju Kapitalisme Tanpa Darwinisme." Tulisan-tulisan tersebut saya buat pada akhir Desember 2001 (Kata Pengantar-nya tertulis 1 Januari 2002 setelah semua tulisan selesai saya ketik). Total ada 17 tulisan lepas dibuat dalam kurun waktu kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan. Perlu diketahui pada masa itu saya belum banyak membaca buku-buku referensi seperti Open Society-nya Popper, Third Way-nya Anthony Giddens atau yang lain. Tulisan dibuat berdasarkan refleksi, membaca surat kabar, apa yang teringat di otak dan tentunya dari penglaman hidup saya setelah jobless akhir Februari 1993. Tulisan-tulisan itu dibuat dengan bahasa sederhana tanpa pengutipan dari buku teks. Tahun 2002 ternyata menjadi tahun yang istimewa bagi saya, meskipun naskah saya tidak ada yang menerbitkan tetapi pada tahun itu khusunya pada tanggal 4 Juli 2002 dimana pada tanggal itu saya menemukan jati diri saya dan meyakini memperoleh wahyu keprabon dengan berhasil membaca sandi RA Parjinah itu sebagai R Hani Japar.

Inilah salah satu tulisan saya, saya posting dengan cara mengetikkannya kembali huruf demi huruf. Selamat membaca.


Ada dua orang tokoh yaitu Fransiskus Assisi dan Ramawijaya yang memiliki kemiripan namun juga perbedaan. Perbedaan yang jelas antara keduanya adalah bahwa yang satu adalah tokoh nyata yang pernah hidup di bumi ini sedangkan yang lainnya hanya ada dalam dongeng yaitu dalam epik Ramayana karya Walmiki. Perbedaan yang lain adalah bahwa yang satu dari Eropa dan yang lain dari Asia.

Fransiskus Assisi adalah anak seorang pedagang kaya dari kota Assisi Italia yang hidup pada abad ke-12-13. Sewaktu masih muda, seperti halnya anak muda lain apalagi anak orang kaya, Fransiskus suka berpesta pora dan berfoya-foya. Namun suatu peristiwa telah mengubah jalan hidupnya. Dia tinggalkan semua kemewahan dan kenikmatan duniawi untuk hidup membiara. Ordo Fransiskan yang didirikannya memiliki ciri khas semangat kemiskinan yang luar biasa dan mengagumkan.

Di dalam Ramayana diceriterakan bahwa Ramawijaya sebagai pengantin baru bersedia membuang diri ke hutan dan tidak berambisi untuk mewarisi (menduduki-pen) tahta Ayodya. Demikianlah Rama dan Sinta hidup sederhana dan menjadi orang biasa di hutan yang hanya ditemani oleh Laksamana, adik Rama. Mereka hidup di hutan dengan segala kesederhanaan, kesunyian, kegelapan, marabahaya, dan segala resikonya. Ketika Sinta diculik oleh Rahwana dan dilarikan ke Alengka memang seolah-olah dunia seperti runtuh. Namun pantang bagi Rama untuk berputus asa atau kembali ke istana meminta bantuan bala tentara Ayodya, warisan ayahnya.

Dengan segala ketekunan, keuletan, dan kerja keras akhirnya Rama berhasil menghimpun the winning team-nya yang terdiri dari Hanoman, Sugriwa dengan hulubalang dan bala tentaranya, Jembawan serta Wibisana. Semuanya merupakan hasil kerja keras Rama tanpa warisan orang tuanya. Satu-satunya yang merupakan "warisan" dari orang tuanya hanyalah Laksamana yang masih tetap setia mengikuti Rama. Kerja keras tim tersebut akhirnya mampu membebaskan Sinta dan menaklukkan Alengka.

Kedua anak muda tersebut Fransiskus Assisi dan Ramawijaya merupakan contoh anak muda yang berjiwa merdeka dan bersahaja yang tidak banyak tergantung pada warisan atau nama besar orang tua mereka. Meskipun keduanya memilih jalan hidup yang berbeda, Fransiskus sebagai biarawan dan Rama hidup berkeluarga sebagai ksatria, tetapi semangat untuk mandiri sangat dihargai dan dikagumi.

Di Eropa orang muda seperti Fransiskus Assisi sangatlah banyak jumlahnya. Beberapa di antaranya tercatat sebagai santa atau santo dalam tradisi Katolik, sementara tidak terhitung yang menjadi biarawan atau biarawati yang biasa-biasa saja. Dilahirkan sebagai anak orang kaya bukan suatu halangan untuk memenuhi panggilan hidup membiara.

Sikap hidup seperti yang diperlihatkan oleh Fransiskus Assisi dan Ramawijaya adalah suatu sikap yang diperlukan oleh umat manusia jaman ini untuk mengoreksi pengelolaan kekayaan secara total yaitu dengan memenuhi panggilan dan kehendak Tuhan untuk mengembalikan talenta beserta pengembangannya kepada Tuhan. Kemudian didaur ulang dan diredistribusikan kepada yang berhak yaitu semua anak-anak, orang yang kalah dalam persaingan, orang yang terkena musibah, serta orang yang menekuni profesi non bisnis. Dengan demikian Injil benar-benar menjadi Kabar Gembira bagi semua orang baik yang percaya atau tidak. Mukjizat penebusan benar-benar membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan sosial maupun kemiskinan yang diwariskan turun-temurun.

Jakarta, akhir Desember 2001

Demikian salah satu tulisan saya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Semoga bermanfaat.

Selasa, 16 November 2010

Prinsip-prinsip Biososioekonomi untuk Pejabat Pemerintah (4):Penyediaan Energi dan Pengendalian Pertumbuhan Populasi Penduduk

Setelah tertunda beberapa minggu, akhirnya tulisan keempat "Prinsip-prinsip Biososioekonomi untuk Pejabat Pemerintah" ini bisa diposting hari ini.

Berbeda dengan teori ekonomi konvensional (neoklasik maupun keynesian) yang hanya menggunakan kurva penawaran-permintaan, biososioekonomi selain menggunakan kurva penawaran-permintaan juga menggunakan prinsip daur ulang untuk menjelaskan dan mengelola kelangkaan. Kelemahan kurva penawaran-permintaan adalah tidak memasukkan variabel waktu. Kurva tersebut bukan merupakan fungsi waktu. Kalau variabel waktu mau dimasukkan maka bentuk kurvanya menjadi tidak sederhana sehingga kurang nyaman atau kurang tepat dipakai menjelaskan dan mengelola kelangkaan. Selain itu kurva tersebut berjangka pendek. Untuk menjelaskan dan mengelola kelangkaan yang berjangka panjang perlu memperhatikan prinsip daur ulang.

Prinsip daur ulang ada di alam. Tubuh manusia setelah meninggal juga akan terdaur ulang. Bahan-bahan organik tubuh manusia akan terurai menjadi bahan anorganik seperti CO2, H2O (air), nitrogen, dan lain-lain yang kemudian oleh tanaman dengan klorofilnya dan bantuan sinar matahari akan tersintesa kembali menjadi bahan organik seperti pati, gula, minyak, dan protein. Daur ulang adalah salah satu faktor yang akan membuat penawaran dan permintaan berada pada titik keseimbangan yang sama sepanjang waktu. Dengan daur ulang, kelangkaan bisa teratasi atau paling tidak dapat diminimalisir.

Berdasarkan prinsip daur ulang tersebut dan berdasarkan rumusan dasar teori ekonomi makro biososioekonomi ("kelahiran adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian") maka pertumbuhan populasi penduduk harus dipertahankan maksimum nol persen per tahun. Angka nol adalah angka yang netral. Pertumbuhan populasi penduduk kurang atau lebih dari nol persen akan menggeser titik keseimbangan kurva penawaran-permintaan. Pertumbuhan populasi penduduk lebih dari nol persen akan meningkatkan beban alam (ekologi). Dalam kondisi over populasi, cara yang manusiawi untuk mengurangi populasi penduduk adalah pertumbuhan negatif melalui pengurangan kelahiran, di mana setiap keluarga tidak boleh mempunyai anak lebih dari satu. Ini adalah cara yang manusiawi dibandingkan peperangan, bencana alam, pembiaran kemiskinan-kelaparan dan cara destruktif lain yang meningkatkan kematian. Pengurangan kelahiran adalah cara yang paling manusiawi di alam yang memang terbatas ini. Untuk mempertahankan pertumbuhan penduduk nol persen maka setiap keluarga harus mempunyai dua orang anak.

Dengan memperhatikan prinsip daur ulang itulah penyediaan energi serta kebijakan terkait mengenai energi dibuat. Diperlukan energi alternatif yang bisa diperbaharui seperti energi dari minyak nabati ataupun energi alternatif lain. Energi surya memang tidak bisa diperbaharui karena proses pembentukannya bersifat ireversibel artinya matahari tidak bisa menyerap dan memproses kembali energi yang telah dipancarkan ke alam raya. Akan tetapi karena matahari masih berumur panjang maka energi matahari bisa dipakai sebagai energi alternatif bagi penduduk bumi. Apalagi Indonesia adalah negara yang berada di jalur katulistiwa. Kebijakan mengenai energi tidak hanya terkait dengan suplai energi tetapi juga penghematan energi. Penghematan energi bisa dilakukan dengan kebijakan sistem transportasi masal serta pengendalaian pertumbuhan populasi penduduk maksimum nol persen per tahun.

Demikian tulisan singkat ini, pada dasarnya prinsip daur ulang dan rumusan dasar biososioekonomi dapat dipakai sebagai pedoman untuk menjelaskan dan mengelola kelangkaan yang berjangka panjang tidak hanya sesaat. Prinsip ini tidak hanya bisa digunakan untuk mengelola penyediaan energi tetapi juga kelangkaan lain. Dalam tulisan ini, energi saya bahas karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Semoga bermanfaat.

Jumat, 12 November 2010

Mengenang dan Menghargai Jasa Pahlawan

Setiap tanggal 10 November kita memperingati hari pahlawan. Dalam momentum seperti itu tidak ada jeleknya hening sejenak dari segala hiruk-pikuk dan rutinitas untuk mengenang para pahlawan bangsa yang dikenal, diangkat resmi sebagai pahlawan maupun yang tidak dikenal.

Mengahargai dan mengapresiasi jasa pahlawan merupakan tindakan yang luhur mulia. Pahlawan sejati adalah orang-orang yang telah mengubur kepentingan dan kenikmatannya sendiri serta berjuang menghadapi tantangan dan marabahaya untuk sesuatu yang lebih besar di luar dirinya. Entah demi kepentingan umum atau kepentingan orang lain. Para pahlawan kita kenang dan kita apresiasi untuk kita ambil hal-hal baik yang ada padanya sebagai inspirasi hidup kita apakah kita sudah mengutamakan kepentingan umum atau belum.

Jiwa-jiwa mereka, para pahlawan itu, sangatlah berharga untuk dikenang. Juga pahlawan lain yang masih segar peristiwanya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu. Relawan PMI yang mau memaksa mbah Marijan meninggalkan dusunnya pada saat letusan Merapi 26 Oktober 2010 juga layak disebut pahlawan. Hidup mereka punya arti. Semoga hidup kita juga punya arti bagi sesama.

Selasa, 09 November 2010

Surat Terbuka untuk Presiden Obama (dan Amerika)


Dear Mr President Obama
Pertama-tama saya ucapkan selamat datang ke Indonesia, suatu negeri kepulauan yang telah ber-revolusi menjadi negara demokrasi modern berbentuk republik dari asal-usulnya yang terdiri dari berbagai kerajaan di wilayah Nusantara. Semoga kunjungan dan perjalanan Anda ke Indonesia aman dan nyaman.

Ketika Anda terpilih menjadi presiden, November 2008, saya memposting tulisan di blog ini November 2008 bahwa pergantian presiden saja tidak cukup. Tema seperti itulah yang ingin saya sampaikan kali ini dalam surat terbuka untuk Anda (dan Amerika).

Sebelumnya saya perlu mohon maaf kalau pendapat yang saya sampaikan (dalam bahasa Indonesia) ini berbeda dengan pendapat umum yang sudah Anda kenal. Saya memerlukan banyak waktu dan tenaga kalau harus menulis surat ini dalam bahasa Inggris. Selain itu saya mohon maaf kalau saya menyampaikan pendapat saya ini dengan bahasa yang lugas.

Krisis ekonomi global hanya bisa diatasi secara global. Celakanya negara terlalu kecil untuk mengurusi hal-hal besar dan terlalu besar untuk mengurusi hal-hal kecil. Selain diperlukan kerja sama antara negara dengan civil society juga diperlukan perubahan paradigma dari ekonomi yang bercorak kapitalistik-neoliberalistik mengarah kepada ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah. Untuk itu diperlukan grand theory ekonomi baru sebagai pedomannya. Saya memberanikan diri untuk merumuskan grand theory itu dan menyebutnya sebagai teori ekonomi makro biososioekonomi (bioekonomi) yang selain bisa dibaca di blog ini, juga bisa dibaca dalam buku saya "Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia" (2004), atau di web site-nya Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM). Meskipun masih bersifat embrional, sebagai kerangka dasar berpikir biososioekonomi sudah cukup memadai, karena biososioekonomi jelas dan tidak rancu.

Secara khusus saya memposting tulisan di blog ini yang menjelaskan mengapa bioekonomi (biososioekonomi) disebut sebagai ekonomi jalan ketiga. Tulisan itu saya posting 2 Nopember 2010. Saya berharap agar semua pihak di seluruh dunia bisa berpartisipasi mengaplikasikan dan mewujudkan paradigma ekonomi jalan ketiga yang pro publik, pro rakyat dan pro ekologi (kelestarian lingkungan hidup).

Untuk bisa memahami biososioekonomi, orang harus membedakan antara individu dan perusahaan dimana individu selain berlaku sebagai homo economicus seharusnya juga berlaku sebagai homo socius. Sementara perusahaan atau institusi bisnis tidak bisa berubah menjadi institusi sosial. Tidak membedakan individu dengan institusi bisnis itulah kelemahan utama teori ekonomi makro keynesian.

Teori ekonomi makro biososioekonomi berusaha meningkatkan income publik melalui pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu serta mengelolanya dengan baik agar terjadi keseimbangan antara aset individu
(yang notabene adalah liability bagi publik) dengan aset publik. Kalau liability publik lebih tinggi dari asetnya, krisis tetap terjadi delam beberapa bentuk seperti kemiskinan dan rendahnya daya beli rakyat.

Kekayaan daur ulang adalah kekayaan melimpah milik individu atau perorangan bukan perusahaan yang tidak diwariskan kepada anak keturunannya sendiri tetapi dihibahkan untuk publik. Secara praktis dan sederhana bisa dikatakan bawa biososioekonomi menentang pewarisan kekayaan berlimpah dan pro demokrasi ekonomi. Jalan damai untuk mewujudkan itu sudah saya usulkan dalam buku saya hlm 73 dan sering saya ulang dalam blog ini khususnya dalam artikel yang berlabel "herucakra society." Mungkin bagi kebanyakan orang di Indonesia biososioekonomi itu tidak mudah dijalankan karena menentang pewarisan kekayaan berlimpah Beberapa orang yang saya beri buku saya, di kemudian hari juga kelihatan takut-takut berbicara biososioekonomi.

Namun demikian saya tidak gentar karena saya menaruh harapan pada TUHAN semesta alam. Saya memiliki keyakinan pribadi bahwa triple six yang akan dihancurkan TUHAN itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan dan (atau) kekuasaan berlimpah. Saya memiliki keyakinan itu setelah pada tahun 2005, saya menemukan suatu ayat dalam Alkitab (Holy Bible) bahwa di masa lalu ada seorang raja yang income per tahunnya adalah 666 talenta emas (1Raj10:14 atau 2 Taw 9:13). Semua orang tahu raja itu terlahir sebagai anak raja.

Mengenai orang-orang yang lahir sebelum Kristus, Tuhan kita Yesus Kristus telah membuat suatu kebijaksanaan yang luar biasa sebagaimana dicatat Injil Yohanes 10:7-9 yang berbunyi: "..Aku berkata kepadamu, akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput."

Umat kristiani boleh tidak sependapat dengan saya, tetapi saya pribadi meyakini bahwa triple six yang akan dihancurkan TUHAN dan para penghuni Surga itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan berlimpah dan (atau) pewarisan kekuasaan berlimpah. Saya tidak percaya akan pandangan sebagian orang bahwa TUHAN akan menghancurkan negara demokrasi modern dan menggantinya dengan negara teokratis. Yang saya percayai adalah bahwa TUHAN dan penghuni Surga akan menghancurkan triple six. Untuk itu saya terpanggil untuk menyampaikan peringatan itu kepada semua orang melalui blog ini. Sekali lagi mohon maaf kalau kata-kata ini lugas dan keras. Maklum hidup rakyat kebanyakan juga susah.

Demikian surat ini saya tulis, banyak hal di antaranya juga sudah saya tulis di blog ini. Semoga Anda dan bangsa Amerika terhindar dari murka TUHAN. TUHAN memberkati.

Jumat, 05 November 2010

Ampunilah Ya TUHAN....

Ampunilah ya TUHAN atas kekuranganku dan ketidaksempurnaanku dalam melayani-Mu dalam menjalankan tugas yang Engkau percayakan kepadaku di Divisi Kesejahteraan Umum ini.

Ampunilah juga mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Semoga tidak ada lagi yang menghalangi apa yang seharusnya muncul demi kesejahteraan umum dan orang banyak.

Semoga Gunung Merapi tenang kembali, demikian juga alam semesta yang bergejolak semoga segera tenang kembali.

Segala kuasa dan kemulian hanya ada pada-Mu. Segalanya ada di tangan-Mu seturut rencana dan kehendak-Mu.

Kami hanya manusia biasa yang hanya bisa berdoa:"Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! "

Selasa, 02 November 2010

Tiga Alasan Mengapa Biososioekonomi adalah Ekonomi Jalan Ketiga

Hari Selasa tanggal 2 Nopember 2004 adalah hari dan tanggal bersejarah bagi teori ekonomi makro biososioekonomi. Untuk pertama kalinya biososioekonomi (bioekonomi) dipresentasikan dalam seminar. Seminar itu adalah seminar bulanan ke-22 yang diselanggarakan Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada (PUSTEP-UGM) Yogyakarta. PUSTEP sekarang berganti nama menjadi Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan. Jadwal postingan hari ini bersamaan dengan hari dan tanggal bersejarah itu. Postingan hari ini saya buat khusus untuk mengenang hari dan tanggal bersejarah itu.

Dulunya ekonomi jalan ketiga atau ekonomi jalan tengah atau ekonomi Pancasila dianggap sebagai sistem ekonomi yang tidak jelas karena hanya sekedar bukan ini bukan itu. Karena bukan ini atau bukan itu maka dianggap sebagai bukan apa-apa atau tidak ada. Anggapan seperti itu kemudian digemakan oleh media massa konvensional baik cetak maupun televisi melalui narasumber-narasumber yang ditampilkannya yang rata-rata berpendidikan formal ilmu ekonomi. Tindakan media massa konvensional itu membutakan mata banyak orang mengenai keberadaan ekonomi jalan ketiga. Bahkan ketika bioekonomi (biososioekonomi) dipublikasikan pada triwulan keempat tahun 2004 pun mata dan pikiran banyak orang masih tertutup. Tidak mudahnya menyadarkan publik akan adanya ekonomi Pancasila atau ekonomi jalan ketiga ini, rekan-rekan di PUSTEP UGM sering berkomentar: gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak. Saya sendiri lebih senang memlesetkan menjadi: Borobudur di pelupuk mata tidak tampak, gubuk reyot di seberang lautan tampak. Setahu saya hanya harian Suara Merdeka Semarang yang memberitakan seminar bioekonomi di PUSTEP itu.

Inilah tiga argumen mengapa teori ekonomi makro biososioekonomi dikatakan sebagai ekonomi jalan ketiga:


(1) Pandangannya Mengenai Laba

Seperti pernah saya tulis di blog ini khususnya pada postingan tanggal 1 Juni 2010 saat peringatan hari lahirnya Pancasila bahwa biososioekonomi mempunyai pandangan yang jelas berbeda dengan ekonomi jalan pertama (kapitalis) dan ekonomi jalan kedua (komunis-sosialis). Dalam pandangan kapitalis laba adalah pengembalian yang sah atas modal, titik. Pandangan komunis mengatakan laba adalah hasil eksploitasi buruh yang diambil alih oleh kaum kapitalis. Sementara pandangan biososioekonomi mengatakan bahwa laba berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Perbedaan ini nyata benar. Jadi ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga itu nyata.


(2) Biososioekonomi Tidak Menuntut Rekening T Publik Bernilai Plus

Inilah argumen utama bahwa biososioekonomi adalah ekonomi jalan ketiga. Rekening T atau neraca herucakra society (global civil society yang terbuka dan adil) dan rekening T pemerintah setiap negara tidak dituntut menghasilkan nilai plus. Sudah cukup bila aset publik sama dengan liabilitasnya atau dengan kata lain nilainya nol. Angka nol adalah angka netral yang merupakan jalan tengah. Dalam kondisi seperti itu jumlah aset publik sama dengan jumlah aset individu_sebagai catatan menurut biosoioekonomi semua aset individu adalah liabilitas bagi publik. Ini jelas berbeda dengan kapitalisme yang membiarkan jumlah aset individu jauh melampaui jumlah aset publik sampai berlipat ganda, dan jelas berbeda dengan komunisme yang menuntut penghapusan hak milik individu. Dalam kondisi di mana jumlah aset publik sama dengan jumlah liabilitas publik itu, sistem ekonomi sudah mampu membayar kewajibannya yaitu: laba, bunga, gaji pegawai, dan jaminan sosial (food stamps/ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, tunjangan pensiunan atau orang lanjut usia). Meskipun nilai rekening T publik adalah nol, secara mikro tetap ada dinamika sirkulasi kepemilikan.


(3)Tidak menuntut pertumbuhan PDB tetapi juga tidak melarang individu meningkatkan aset pribadinya.
Perekonomian yang menuntut pertumbuhan PDB atau pertumbuhan agregat adalah perekonomian yang kapitalistik yang melawan alam. Efek buruk pertumbuhan PDB sama dengan pertumbuhan populasi penduduk. Dalam paradigma biososioekonomi, tanpa pertumbuhan PDB pun aset setiap orang (rumah tangga) bisa meningkat. Ukuran yang dipakai teori ekonomi makro biososioekonomi bukan pertumbuhan PDB tetapi PIT (persentase individu yang tumbuh). Biososioekonomi menginginkan angka PIT-nya 100% atau mendekati itu. Hal ini memang mirip dengan perikanan. Kalau kita menebarkan benih lele misalnya berapa persen yang berhasil tumbuh dan tidak mati. Dengan PIT ini biososioekonomi jelas bukan komunis tetapi juga bukan kapitalis karena tidak menuntut pertumbuhan PDB.


Semoga postingan ini bisa memberi penjelasan.


Jumat, 29 Oktober 2010

Harapan Bangsa

Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini bersamaan dengan situasi bangsa dan negara sedang bersedih karena berbagai bencana seperti banjir di Wasior Papua, tsunami Mentawai 25 Oktober, dan letusan Gunung Merapi 26 Oktober yang memakan korban jiwa serta harta benda. Kita prihatin. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berbagai bencana. Semoga, berkat kerahiman TUHAN, korban meninggal diperkenankan istirahat dalam kedamaian abadi di Sorga. Sementara keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, yang terluka disembuhkan, yang mengungsi diberi kesehatan dan kekuatan Semoga TUHAN memberi kekuatan dan berkat bagi siapa saja yang menolong korban. Kita berempati dan membantu sesuai kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Perlu diperhatikan bahwa tidak sedikit harta benda yang hancur atau ternak yang mati. Semua itu perlu biaya untuk memulihkannya kembali agar derita para korban menjadi ringan.

Sumpah Pemuda adalah momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk bersatu sebagai bangsa Indonesia dalam keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Peran kaum muda dalam kehidupan bangsa terasa nyata dalam Sumpah Pemuda. Mereka adalah generasi cerdas yang terdidik yang memenuhi harapan bangsa dan panggilan sejarah. Saat ini persatuan harus tetap dipertahankan. Komunikasi harus tetap terjaga melalui berbagai media seperti telepon, internet atau jejaring sosial.

Di tengah situasi bangsa dan permasalahan global saat ini kaum muda harus tetap menjadi harapan bangsa. Kaum muda seharusnya memiliki keberanian, kecerdasan, energi, dan keluwesan untuk mengatasi berbagai persoalan baik lokal, nasional, atau global. Kaum tua sering susah berubah. Kepeloporan untuk berubah ke arah yang lebih baik harus datang dari kaum muda. Semua orang muda bisa dan perlu berpartisipasi, bukan hanya aktivis saja yang bisa berpartisipasi

Permasalahan utama yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak saat ini baik lokal atau global dan menuntut banyak perhatian untuk diselesaiakan adalah tiadanya demokrasi ekonomi. Kemapanan dan anti demokrasi ekonomi masih mencengkeram hidup rakyat. Bahkan cengkeraman itu sering hadir bersama media massa konvensional (cetak dan tv). Semua kaum muda dipanggil untuk mendemokrasikan ekonomi yang otomatis membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan.

Untuk membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan atau mendemokrasikan ekonomi, semua kaum muda bisa bekerja, berkiprah, dan berkarya pada tiga pilar keadaban publik yaitu negara, pasar (bisnis), dan masyarakat (society). Di ranah state (negara) kaum muda bisa berkarya di eksekutif, legislatif, atau yudikatif, di ranah society kaum muda bisa berkarya atau berkiprah sebagai rohaniwan, blogger, pekerja media termasuk pers mahasiswa, pekerja yayasan sosial, pekerja LSM, pekerja organisasi konsumen sosial, pengajar, pengembang etika, budayawan, seniman, dan pekerja bank sentral (dalam paradigma baru).

Ranah bisnis atau pasar pun yang sering dianggap binatang ekonomi bisa dijadikan tempat untuk berkarya dan berkiprah. Ranah ini memerlukan kaum muda yang berhati mulia yang sadar akan tanggung jawab publik atau income publik melalui pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu. Pebisnis yang dperlukan adalah pebisnis yang mentransformasi diri menjadi "ksatria luhur" sebagaimana saya jelaskan dalam postingan berjudul "Dharma Ksatria: Antara Satrio Piningit dan Ksatria Luhur" yang berlabel Dharma Ksatria di blog ini.

Semua pilar keadaban publik bisa diterjuni dan ditekuni untuk memperjuangkan kesejahteraan publik melalui demokrasi ekonomi dan paradigma ekonomi publik kerakyatan. Kalau demokrasi ekonomi terwujud di samping demokrasi politik, maka banyak persoalan lain bisa diselesaikan. Kita fokus mencurahkan 80% waktu dan tenaga untuk sedikit (20%) item yaitu demokrasi ekonomi maka 80% persoalan rakyat telah teratasi. Ini membutuhkan peran kaum muda. Pers mahsiswa melalui media internet bisa ikut berperan di tengah pers konvensional yang dikuasai kaum tua dan pemilik modal.

Kaum muda tahun 1928 telah menuhi harapan bangsa dan memenuhi panggilan sejarah. Semoga kaum muda saat ini tetap menjadi harapan bangsa dan mau memenuhi panggilan sejarah menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Salam Indonesia.

Selasa, 26 Oktober 2010

Dua Tahun Blog Satrio Piningit, Membangun Paradigma Ekonomi Publik Kerakyatan

Tak terasa dua tahun sudah usia blog ini. Sebuah blog yang saya pakai untuk memperkenalkan teori ekonomi makro baru yang merupakan suatu grand theory yang saya namakan biososioekonomi (bioekonomi). Tentu saja suatu teori tidak sekedar dipublikasikan, diseminarkan, kemudian didiamkan menumpuk di perpustakaan. Masih banyak ketidakpahaman, masih ada penyelewengan/pelacuran intelektual, masih ada ketidakberanian memperjuangkan biososioekomi, masih ada mafia Berkeley atau OTB (menurut istilah Kwik Kian Gie), masih ada kepura-puraan (pura-pura tidak tahu adanya grand theory baru), masih ada penenggelaman terhadap biososioekonomi, masih ada pragmatisme pejabat publik dan berbagai hambatan lain yang terjadi di tengah masyarakat dan negara. Untuk itu menurut hemat saya suatu hal yang perlu ditekankan dan ditekuni adalah "Membangun Paradigma Ekonomi Publik Kerakyatan." Membangun adalah suatu proses yang memerlukan waktu. Tidak semalam jadi. Proses ini memerlukan partisipasi banyak pihak, sementara berbagai pihak yang diharapkan berperan serta belum sepenuhnya pro aktif.

Seperti pernah saya kemukakan dalam karya tulis pengentasan kemiskinan tahun 2005, kita sebaiknya membagi ekonomi atau ilmu ekonomi berdasarkan sudut pandang kepentingannya di mana ada tiga kategori yaitu: ekonomi individu atau privat, kelompok, dan publik. Yang termasuk ekonomi individu adalah ekonomi rumah tangga atau individu, sementara yang termasuk ekonomi kelompok adalah ekonomi perusahaan, klan (dinasti), koperasi, dan negara sedangkan yang termasuk ekonomi publik adalah ekonomi global society yang berpedoman pada biososioekonomi. Memang ekonomi negara bisa menjadi ekonomi publik dalam teritori tertentu sepanjang ia tunduk pada prinsip-prinsip biososioekonomi. Dengan membagi ekonomi berdasarkan sudut pandang kepentingannya maka akan mudah didefinisikan suatu unit-unit ekonomi yang selanjutnya akan mudah pula didefinisikan apa yang termasuk pemasukan-pengeluaran kemudian juga aset-liabilitas bagi unit ekonomi tertentu itu. Hal ini penting karena pemasukan bagi unit ekonomi yang satu bisa menjadi pengeluaran bagi unit ekonomi yang lain. Demikian pula suatu aset bagi unit ekonomi yang satu bisa menjadi liabilitas bagi unit ekonomi yang lain. Dengan pendekatan seperti ini permasalahan yang ada akan mudah terlihat dengan jernih serta tidak rancu sehingga solusinya juga jelas.

Membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan tidak lepas dari membangun paradigma biososioekonomi di tengah himpitan neoliberalisme dan fundamentalisme pasar. Hal itu tidak mudah tetapi saya meyakini bahwa paradigma biososioekonomi bisa dibangun, diwujudkan, dan diimplementasikan. Biososioekonomi adalah keniscayaan kalau kita ingin membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan karena hanya biossioekonomi yang benar-benar ekonomi publik dan bersifat kerakyatan karena menentang pewarisan kekayaan berlimpah.

Tantangan dan hambatan memang ada. Salah satu contoh adalah keterbelengguan berbagai pihak pada peningkatan PDB dengan investasi ekonomi. Dalam hal ini patut dipahami bahwa PDB atau pertumbuhan PDB bukan ukuran suatu ekonomi publik (makro) karena PDB adalah penjumlahan pendapatan individual tahunan di suatu negara. Jumlah pendapatan individual tidak otomatis menjadi pendapatan publik seperti dijelaskan teori ekonomi makro biososioekonomi di mana yang menjadi pendapatan publik adalah pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu. Mengapa banyak orang terbelenggu pada upaya peningkatan PDB? Di suatu negara berkembang yang tingkat PDBnya masih rendah, peningkatan pendapatan publik akan otomatis meningkatkan PDB. Oleh karena itu fokus pada peningkatan pendapatan publik serta pengelolaannya yang baik (bukan fokus pada peningkatan PDB) otomatis akan menyelesaikan persoalan. Selain itu perlu dipahami bahwa pertumbuhan PDB nol persen atau mendekati nol persen yang berlangsung lama bukan merupakan kondisi krisis ekonomi selama aset publik sama dengan liabilitasnya. Oleh karena itu keterbelengguan berbagai pihak pada peningkatan PDB seharusnya diakhiri. Keterbelengguan pada peningkatan PDB atau yang diistilahkan sebagai pertumbuhan ekonomi ini adalah suatu contoh adanya hambatan di masyarakat. Oleh karena itu membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan merupakan proses yang tidak sekali jadi perlu upaya terus-menerus dan ketekunan. Saya meyakini hal itu bisa diwujudkan bersama TUHAN Yang Maha Kuasa. Segala kekuasaan, kesempurnaan, dan kemulian hanya ada pada TUHAN. Kita sebaga hamba TUHAN berupaya dengan cara damai, TUHAN yang akan menyempurnakannya.

Dalam usia dua tahun, blog ini telah mulai dikenal orang, otomatis biososioekonomi juga mulai dikenal orang. Sebagai teori ilmiah, biososioekonomi tetap terbuka terhadap kritik dan perbaikan. Kepada semua pihak yang telah ikut menyebarkan teori biososioekomi dan blog ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, saya berdoa agar Anda diluputkan dari hukuman dan tulah TUHAN yang akan dijatuhkan ke bumi. Bagi yang belum berpartisipasi ditunggu partisipasinya.

Kamis, 21 Oktober 2010

Ingin Gagal atau Berhasil?

Tulisan ini saya buat Februari 2003 di mana saat itu pemerintah banyak menghadapi kritikan dan demonstrasi. Tulisan ini tidak hanya berguna bagi umum, tetapi juga bagi pemerintah dan mahasiswa saat ini yang sedang memperingati satu tahun pemerintahan SBY-Boediono. Semoga postingan ini bermanfaat. Berikut ini saya posting dengan cara mengetikkan kembali tulisan saya.


Bagi mereka yang bergerak di bidang keagenan asuransi jiwa, multi level marketing, atau penjualan langsung produk lain yang penghasilannya berdasarkan omset dan komisi bukan gaji tetap, mungkin apa yang saya sampaikan ini membosankan. Tetapi bagi masyarakat umum agaknya hal ini merupakan sesuatu yang baru sehingga perlu diketahui dan semoga bermanfaat bagi orang banyak, terutama dalam menanggapi Tajuk Rencana Kompas tanggal 3/02/03 yang berjudul "Oposisi agar Juga memberikan Alternatif"

Menjual polis asuransi jiwa adalah pekerjaan yang sangat sulit, tidak seperti menjual mobil, atau barang lain yang kelihatan nyata. Apakah yang ditawarkan oleh asuransi selain suatu janji perlindungan apabila tertimpa resiko kematian? Tetapi justru karena sulit itulah berbagai pelatihan diadakan cukup intensif agar para agen (penjual asuransi) dan para pemimpin groupnya bisa berhasil. Dari berbagai pelatihan itu dan dari pengalaman penulis memasarkan asuransi jiwa dan properti selama lebih dari lima tahun itu saya bisa melihat dan menemukan ciri-ciri yang membedakan antara mereka yang berhasil dan mereka yang gagal. Orang yang gagal selalu mencari dalih atas kegagalannya. Sementara orang yang berhasil selalu mencari solusi dan jalan keluar sampai berhasil membukukan transaksi.

Kalau pemimpin group atau supervisor menanyakan kepada orang-orang yang gagal, pasti banyak alasan atau dalih yang dikemukakan. Iya Pak, habis hujan, habis macet, sehingga terlambat dan batal bertemu prospek (calon nasabah). Sementara orang yang berhasil pasti mencari jalan bagaimana agar tidak kehujanan, dengan menyiapkan payungkah atau cara lain. Orang yang berhasil juga bisa mengantisipasi kalau kemungkinan terjebak kemacetan, yaitu dengan menggunakan sepeda motor, ojek, atau berangkat lebih awal. Bagi seorang pegawai alasan atau dalih mungkin sangat penting karena dengan mengemukakan alasan atau dalih yang kelihatan bagus-bagus dan logis toh akhir bulan sudah bisa mendapatkan gaji. Namun tidak demikian dengan sales freelance seperti agen asuransi. Dalih atau alasan tidaklah berguna. Yang berguna adalah solusi atau jalan keluar agar bisa membukukan transaksi.

Kebanyakan mereka yang gagal adalah kelompok yang suka mengeluh atau suka protes. Mengeluh karena kekurangan fasilitas. Atau protes ini atau protes itu. Maka tidak hanya tenaga dan waktunya tersita untuk mengeluh dan protes, tetapi juga secara mental dan psikologis orang tersebut telah melakukan otosugesti pada dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukan tidak mungkin berhasil. Orang-orang yang berhasil selalu berpikir bahwa, hal ini sulit tetapi mungkin bisa. Sedangkan orang-orang yang gagal berpikir sebaliknya ini mungkin bisa tetapi sulit. Ini bukan sekedar permainan kata-kata. Kata-kata ini merasuk ke dalam jiwa yang pada akhirnya akan tercermin dalam tingkah laku dan gerak tubuh yang akan mengarahkan seseorang kegagalan atau keberhasilan. Bukti-bukti ini sudah saya saksikan selama bertahun-tahun menggeluti profesi saya.

Apabila ada gelas yang berisi air putih separuhnya, maka orang yang berhasil akan mengatakan bahwa gelas itu setengah penuh. Sementara orang yang gagal akan mengatakan setengah kosong. Semangat, optimisme, dan antusiasme akan membuat seseorang untuk selalu berusaha mencari jalan keluar suatu permasalahan sampai berhasil. Bisnis MLM, keagenan asuransi jiwa, dan properti adalah bisnis permainan mental dengan modal semangat. Pemimpin atau supervisor yang berpengalaman dan memenuhi kualifikasi biasanya tahu kalau di dalam kelompok yang dibimbingnya ada "virus". "Virus" itu adalah "virus kegagalan." Biasanya marketing atau agen yang gagal bertransaksi akan bercerita kepada rekannya bahwa kegagalannya karena kondisi sekitar sedang susah. Kamu juga batal transaksi kan? Sama, kita senasib. Kalau "virus" ini tidak diatasi maka seluruh kelompok itu beserta pemimpinnya akan gagal.

Ciri lain orang yang gagal biasanya defensif. Orang yang berhasil selalu melakukan otokritik. Apa yang bisa diubah dari diri kita sebaiknya diubah. Sementara yang tidak bisa diubah harus kita terima apa adanya Kalau kita dilahirkan sebagai laki-laki tidak perlu berubah menjadi perempuan atau tidak perlu mengeluh, habis pesaingnya pakai rok mini sih, batal deh transaksi. Kita tidak mungkin memaksa pesaing kita untuk tidak memakai rok mini, tetapi kita bisa mengubah sikap kita menjadi lebih disiplin, lebih antusias, dan lebih konsisten sehingga berhasil. Kalau kita keliru maka kita akan mengoreksi diri kita sendiri agar kelak lebih berhasil.

Tanpa protes dan tanpa ribut-ribut seorang wiraswastawan yang usahanya menyewakan lampu petromaks di Pasar Kramat Jati bisa mengambil peluang dari kenaikan TDL. Contoh-contoh lain sebenarnya ada dan cukup banyak kalau kita mau melihat dan mencarinya.

Dalam bidang keilmuan pun ada yang dinamakan sebagai ilmu yang bercorak esensialis (Karl R Popper) yaitu suatu bidang ilmu yang hanya mengemukakan atau mencari apa hakekat sesuatu atau apa hakekat suatu masalah. Di lain pihak ada pula ilmu nominalis. Kebanyakan ilmu sosial adalah esensialis, contohnya adalah sosiologi. Teknologi adalah ilmu nominalis, dalaam ilmu ini kita bisa tahu bagaimana caranya membuat jembatan, merancang pesawat terbang, atau mebudidayakan padi yang efesien dan produktif. Mestinya psikologi dan marketing (termasuk salesmanship) adalah ilmu nominalis karena tidak hanya berhenti pada pertanyaan apa tetapi bagaimana?

Menggarisbawahi Tajuk Rencana Kompas tersebut saya rasa hal itu ada benarnya. Bahwa kita sebaiknya memang harus bisa memberi kebijakan alternatif dan silakan itu dipaparkan kepada publik supaya bisa didiskusikan. Kepada mahasiswa dan mungkin Forum Rektor dari pada ribut-ribut dan malah membuat keruh suasana apakah tidak lebih baik agar mereka ini membaca buku-buku atau melakukan refleksi. Siapa tahu bisa membuat kebijakan yang lebih baik atau bahkan mungkin bisa menemukan teori ekonomi yang lebih baik dari teori ekonomi makro yang dicetuskan John Maynard Keynes. Mana mungkin bangsa kita bisa menemukan teori yang lebih baik? Bukankah selama 32 tahun kita hidup dalam proses pembodohan? Kalau pikiran-pikiran terakhir ini kita adopsi memang susah.

Tidak mudah memang memberi pengertian kepada mereka yang hidup dari gaji sebagai pegawai, toh dengan mencari dalih saja akhir bulan sudah mendapat gaji, mengapa harus repot-repot mencari solusi dan jalan keluar suatu masalah? Bahkan sekarang ini konon kabarnya tukang demo pun dibayar. Kalau sudah begini memang repot. Bagaimana kita bisa berpacu menemukan solusi atau jalan keluar suatu permasalahan?

Maka jangan salahkan kalau ada yang berpendapat bahwa sosok misterius yang bisa membawa bangsa ini keluar dari krisis bukanlah pegawai atau pejabat. Dan orang itu tidak harus menjadi presiden.


Jakarta, 7 Februari 2003


Kesejahteraan publik (rakyat) melalui demokrasi ekonomi/biososioekonomi mungkin tidak mudah untuk diwujudkan tetapi bukan berarti tidak bisa. Perjuangan ke arah itu membutuhkan keberanian, konsistensi, kesabaran, dan keuletan. Saya banyak belajar dari profesi direct selling.

Kita lihat sekarang bahwa kritikan terhadap pemerintah itu hanya menghasilkan presiden baru di tahun 2004 tetapi belum menghasilkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi rakyat. Mafia Berkeley atau OTB masih berkeliaran. Mahasiswa seharusnya tidak tergantung pada media massa konvensional (cetak atau tv) yang sering tidak pro rakyat tetapi harus menemukan informasi dari media baru (internet) yang pro rakyat. Mahasiswa yang notabene adalah orang muda seharusnya memiliki keberanian dan intelektualitas yang memadai.

Benar yang dikatakan iklan "Koran Internet" yang sering menampilkan tulisan Kwik Kian Gie: "Jangan Ngaku Beda Kalau Gak Berani Bela"

Selasa, 19 Oktober 2010

Prinsip-prinsip Biososioekonomi untuk Pejabat Pemerintah (3): Pembiayaan Infrastruktur dan Fasilitas Sosial

Baik dalam paradigma teori politik klasik maupun dalam paradigma yang mengadopsi teori ekonomi makro biososioekonomi, penyediaan infrastruktur adalah tugas negara. Namun sayangnya dalam paradigma klasik atau neo klasik pembiayaan infrastruktur dan fasilitas sosial dilakukan dengan dana hutang atau dana dari investor yang tentu saja menuntut bunga atau ROI tertentu atas modal yang dipinjamkan atau ditanamkannya.

Dalam paradigma yang lebih sehat pembiayaan pembangunan infrastruktur dan fasilitas sosial seharusnya tidak menggunakan hutang atau dana dari investor sebagai sumber dananya. Ketegasan dan konsistensi pejabat pemerintah diperlukan agar tidak membebani publik dengan bunga atau ROI dari dana pembangunan infrastruktur serta fasilitas sosial. Dalam paradigma biososioekonomi, yang seharusnya dipakai untuk membiayai penyediaan infrastruktur dan fasilitas sosial adalah pajak dan hibah. Inilah paradigma yang lebih sehat dalam membiayai penyediaan infrastruktur dan fasilitas sosial. Dalam paradigma biososioekonomi, pajak (dan hibah) seharusnya cukup untuk membiayai infra struktur dan fasilitas sosial. Banyaknya hutang pemerintah menandakan bahwa pendapatan pemerintah itu kurang karena tidak mengikuti paradigma pengelolaan ekonomi publik yang benar-benar publik dan sehat. Paradigma neolib memang mendorong suatu pemerintahan memasuki jerat hutang yang tak berkesudahan. Oleh karena itu paradigma neolib harus ditinggalkan. Paradigma neolib itu tidak benar-benar membela kepentingan publik tetapi membela kepentingan pemilik modal yang cenderung menghindari pajak termasuk pajak progresif.

Pemerintah sebagai salah satu pemangku kepentingan publik harus sadar bahwa tugasnya menegakkan kepentingan publik dengan meningkatkan pendapatan atau penerimaan publik dari pajak terutama dari pajak progresif. Selain itu pemerintah perlu bekerja sama dengan civil society untuk meningkatkan hibah yang diberikan kepada negara guna menyediakan infra struktur dan fasilitas sosial.

Ekonomi memang berkaitan dengan kepentingan. Pemasukan bagi satu pihak berarti pengeluaran bagi pihak lain. Aset bagi salah satu pihak bisa berarti liabilitas bagi pihak lain. Demikian juga efisiensi bagi satu pihak bisa berarti pemborosan bagi pihak lain. Pemasukan bagi publik berarti pengeluaran bagi individu atau kelompok. Tugas pejabat pemerintah adalah menegakkan kepentingan publik dengan meningkatkan pendapatannya khususnya dari pajak progresif. Semoga postingan sederhana ini benar-benar dipahami, dihayati, dan dilaksanakan.

Selasa, 12 Oktober 2010

Prinsip-prinsip Biososioekonomi untuk Pejabat Pemerintah (2): Mengelola Pendapatan Publik

Kalau dalam postingan minggu lalu saya paparkan tulisan mengenai bagaimana seorang pejabat harus memahami makna pendapatan (income) publik, maka dalam postingan kali ini saya paparkan bagaimana pendapatan publik itu harus dikelola.

Suatu unit ekonomi apakah privat, kelompok, atau publik akan mengalami kesulitan manakala income atau pendapatannya kurang. Dalam postingan minggu lalu sudah saya paparkan definisi pendapatan publik dan bagaimana meningkatkannya dengan bekerja sama dengan pemangku kepentingan publik lainnya. Pendapatan publik yang tinggi saja belum tentu akan meningkatkan kesejahteraan publik (rakyat kebanyakan). Masih ada perangkat yang diperlukan untuk menilai kesejahteraan publik (secara makro) yaitu rekening T yang menggambarkan aset dan liabilitas publik.

Pendapatan publik yang tinggi tidak otomatis akan meningkatkan aset publik kalau dikelola secara salah (apalagi kalau pendaptan publik itu kurang). Pendapatan publik yang kurang yang terjadi berkepanjangan akan banyak menimbulkan berbagai persoalan. Indikator kurangnya pendapatan publik adalah tingginya hutang pemerintah.

Pendapatan publik yang tinggi disertai dengan pengelolaan pendapatan publik yang baik akan membuat fundamental makro benar-benar kokoh. Dalam hal itu kesejahteraan publik bisa dikatakan cukup. Berbeda dengan individu atau institusi bisnis yang asetnya bisa lebih tinggi dari liabilitasnya, institusi publik apakah itu pemerintah (state) atau masyarakat (civil/herucakra society) sudah cukup bila asetnya yang tergambar pada rekening T sama dengan liabilitasnya.

Mengingat pendapatan publik tidak hanya pajak maka dalam postingan ini saya hanya fokus pada pajak sesuai judul artikel ini. Selain itu perlu diketahui dan dipahami bahwa dalam paradigma yang mengadopsi teori ekonomi makro biososioekonomi secara penuh, tugas negara agak berbeda sebagaimana saya paparkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia (2004). Menurut teori politik klasik tugas negara dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu: (1)memberikan perlindungan dan keamanan (2)mendukung atau menyediakan jaminan sosial (3)menyediakan infrastruktur (4)menyediakan sistem yudisial yang fair dan tidak memihak (hlm 42 buku saya tersebut di atas). Di dalam paradigma yang mengadopsi teori ekonomi makro biososioekonomi secara penuh tugas nomor 2 di atas dijalankan oleh global civil society atau tepatnya masyarakat terbuka yang adil (yang saya istilahkan herucakra society) sementara negara fokus pada 3 tugas lain. Akan tetapi kalau lembaga-lembaga dalam global civil society seperti organisasi konsumen sosial belum terbentuk, negara tetap jangan melepaskan tugas nomor 2.

Pengelolaan pendapatan publik non pajak khususnya kekayaan daur ulang sudah saya paparkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia dengan memperhatikan decomposition time sehingga kekayaan daur ulang tidak terdistribusi dalam sekejap. Distribusi sekejap akan menyebabkan kekayaan daur ulang berubah menjadi milik privat dalam sekjap pula sehingga akan meningkatkan liabilitas publik yang tersaji pada rekening T society (neraca herucakra society). Dalam kasus distribusi sekejap ini maka sia-sialah pendapatan publik yang tinggi karena dalam sekejap pendapatan itu berubah menjadi aset privat tidak menjadi aset publik.

Demikian pula dalam mengelola pendapatan pajak perlu dihindari kebijakan atau tindakan yang meningkatkan aset privat. Infrastruktur dan fasilitas sosial seperti jalan raya, rel ganda kereta api, jembatan, pelabuhan, puskesmas, pasar tradisional, dan gedung sekolah merupakan hal yang harus disediakan negara yang akan tetap menjadi aset publik (negara) sehingga perlu mendapat perhatian. Jangan sampai pembangunan infrastruktur dan fasilitas sosial terbengkalai sementara di saat yang sama anggaran yang disediakan tidak terserap, sebagian malah menumpuk di SBI (Sertifikat Bank Indonesia).

Rumah pribadi dan deposito pribadi milik pegawai dan pejabat penyelenggara pemerintah akan menjadi liabiliatas publik oleh karena itu sistem penggajian pegawai negeri perlu dilakukan dengan bijaksana, tidak terlalu kecil sehingga mendorong korupsi, tidak juga terlalu besar karena akan mengubah pendapatan pajak yang notabene pendapatan publik menjadi aset privat yang berarti meningkatkan liabilitas publik. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan sistem penjaminan tempat tinggal bagi pegawai negeri dan pensiunan dalam arti komponen gaji pegawai negeri tidak memasukkan komponen untuk membeli rumah pribadi tetapi pemerintah menjamin tempat tinggal pegawai negeri dan pensiunannya. Negara menjamin perumahan pegawai negeri dan pensiunannya tetapi rumah itu tidak boleh berubah menjadi aset privat. Meskipun pegawai negeri datang pergi silih berganti perumahannya tetap aset negara sehingga pendapatan pajak tidak berubah menjadi aset privat yang meningkatkan liabilitas publik. Dengan sistem perumahan seperti ini tidak terjadi privatisasi aset publik.

Rumah yang disediakan bagi pegawai negeri dan pensiunannya dalam kondisi kokoh, bersih, dan rapi, tetapi tidak perlu terlalu mewah. Diperlukan pembedaan antara pegawai negeri aktif dengan pensiunan dimana pegawai negeri aktif disediakan perumahan dekat kantor sementara pensiunannya bisa jauh dari kantor mungkin agak di luar kota, tetapi negara tetap harus menjamin perumahan bagi pensiunan dengan kondisi fisik bangunan seperti tersebut di atas. Jangan sampai pensiunan pegawai negeri (atau jandanya) hidup terlunta-lunta tanpa tempat tinggal yang memadai. Jaminan itu berlaku seumur hidup sampai pensiunan pegawai negeri meninggal dan isterinya meninggal. Kalau ada kejadian pegawai negeri itu meninggal dalam usia muda maka anak kandungnya yang terkecil bisa menempati rumah negara sampai usia 25 atau 30 tahun Setelah itu rumah harus diserahkan kepada negara untuk pegawai negeri lain atau pensiunannya.

Memang diperlukan sikap rendah hati pejabat atau pegawai pemerintah yang tidak merepotkan publik atau rakyat dengan berambisi memiliki rumah pribadi. Sikap bapa pendiri bangsa seperti Bung Hata yang rendah hati dan tidak mau merepotkan rakyat patut diteladani. Dalam paradigma yang mengakomodasi teori ekonomi makro biososioekonomi secara penuh properti tidak banyak diperlakukan sebagai instrumen investasi (spekulasi). Tanpa berinvestasi dalam properti pun kesejahteraan publik sudah memadai. Demikian juga bagi pegawai negeri, meski tidak berinvestasi dalam bidang properti pun kesejahteraannya cukup kalau biososioekonomi diadopsi secara penuh.

Demikian artikel ini, pada prinsipnya pengelolaan pendapatan pajak harus sedemikian rupa sehingga pendapatan pajak itu tidak berubah menjadi aset privat. Infrastruktur, fasilitas sosial, perumahan pegawai negeri yang akan tetap menjadi aset negara tetap layak untuk didanai. Sementara itu negara tetap harus bekerja sama dengan pemangku kepentingan publik lain seperti organisasi konsumen sosial karena:" pada hakekatnya negara terlalu kecil untuk mengurusi hal-hal besar dan terlalu besar untuk mengurusi hal-hal kecil."