Rabu, 02 Juni 2010

Pancasila untuk Persatuan, Kesejahteraan, dan Kejayaan Bangsa.

Indonesia sangat beruntung memiliki Pancasila sebagai dasar negara. Sayangnya sebagian orang yang tidak memahami sejarah, tidak memahami Pancasila, dan yang tidak memiliki rasa nasionalisme menganggap bahwa Pancasila itu kuno. Padahal Pancasila masih relevan sampai saat ini dan akan tetap relevan selamanya. Krisis ekonomi-moneter yang melanda tiga benua selama 12 tahun terakhir seharusnya menyadarkan semua pihak bahwa Pancasila harus tetap dipertahankan. Istilah krisis di atas mengacu pada istilah dari paradigma konvensional (neo klasik dan keynesian). Kalau kita mengacu pada biososioekonomi, krisis sebenarnya melanda seluruh rakyat di semua benua karena banyak rakyat yang tidak bisa menyekolahkan anaknya, tidak bisa mengkonsumsi makanan sehat bergizi tiga kali sehari, terbebani berbagai macam hutang, menganggur, tidak memiliki rumah dan lain sebagainya.

Untuk Persatuan

Selain sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa, menurut hemat saya Pancasila adalah konsensus nasional dan jalan tengah bagi berbagai kelompok suku, agama, atau golongan di Indonesia. Sebagai konsensus nasional berdirinya NKRI jelas Pancasila tidak bisa dibatalkan atau diganti. Bukan karena Pancasila sakral atau diturunkan dari langit, tetapi karena sebagai suatu kesepakatan bersama berbangsa dan bernegara yang telah ditetapkan. Di luar kehidupan berbangsa dan bernegara tetap ada ruang untuk hidup berkomunitas (berjamaah) tanpa harus menghianati bangsa dan negara. Mengganti atau membatalkan Pancasila akan mengakibatkan masing-masing golongan mencari jalan sendiri-sendiri dan bahkan bisa saling bertikai. Sebagai pemersatu bangsa, Pancasila harus diterima semua golongan.

Memang, sejarah perjalanan Nusantara tidak selalu berjalan tenang dan mulus. Kadang beriak dan bergelombang. Keanekaragaman sudah disadari nenek moyang kita sejak dulu bahkan sebelum Mpu Tantular pada jaman Majapahit menulis Sutasoma dengan bhinneka tunggal ika-nya. Pada masa Mataram Kuno, Rakai Pikatan (yang beragama Hindu) ikut menyumbang pembangunan candi Budha Plaosan Lor di dekat Prambanan.

Berabad-abad kemudian kebhinekaan diperkaya dengan suatu prinsip dari agama baru: "bagimu agamamu, bagiku agamaku." Kebenaran agama diserahkan pada masing-masing orang.

Memang persinggungan pernah terjadi di masa lalu. Penguasaan bumi Mataram oleh orang-orang pantai utara Jawa di abad ke-16, penyerbuan terhadap Pakuan Pajajajaran pada akhir abad ke-16, dan pengambilalihan tanah perdikan atau tanah brahmana yang terbentang antara Kali Progo dan Kali Opak itu merupakan sisi gelap hubungan antar kelompok. Namun demikian Pancasila tetap merupakan jalan tengah bagi semua golongan untuk hidup berbangsa dan bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia di mana semua golongan hidup berdampingan dalam kesetaraan dan semangat rekonsiliasi Nusantara.

Untuk Kesejahteraan

Berbagai krisis ekonomi moneter dan kemiskinan terjadi karena liabilitas publik lebih tinggi dari asetnya sebagai akibat dari praktek ekonomi yang berparadigma kapitalistik neoliberalistik yang melambungkan aset individu dan memerosotkan aset publik. Biososioekonomi yang saya rumuskan adalah ekonomi jalan ketiga yang Pancasilais yang tidak kapitalistis tetapi juga tidak komunistis. Pandangan biosoioekonomi mengenai laba jelas berbeda dengan pandangan neoliberalistik ataupun marxistik. Perbedaannya begitu nyata sehingga ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah yang saya rumuskan itu bukan ekonomi yang bukan ini atau bukan itu sebagaimana sering dituduhkan banyak orang terhadap ekonomi Pancasila atau ekonomi jalan tengah.

Menurut pandangan neoliberal, laba adalah pengembalian yang sah atas modal titik. Sementara menurut pandangan kedua yaitu pandangan Marx, laba adalah hasil eksploitasi terhadap buruh yang diambil alih oleh kapitalis. Sementara pandangan ketiga yakni pandangan biososioekonomi mengatakan bahwa laba dan kekayaan pribadi berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Jelas sekali perbedaannya.

Memang selama ini teori ekonomi makro biososioekonomi belum banyak dikenal. Yang banyak dikenal adalah pandangan pertama dan kedua. Pertikaian antara pandangan pertama (neoliberalistik) dengan pandangan kedua sering tidak produktif. Semakin keras Marxisme menyuarakan pandangannya semakin keras pula neolib bertahan dengan pandangan bahwa laba adalah pengembalian yang sah atas modal titik. Defensifnya pandangan pertama selain karena kesrakahan, ketidakmengertian, juga karena pandangan Marx mengenai laba sendiri sudah tidak bisa diterima. Pandangan Marx tersebut tidak rasional seperti yang sering saya jelaskan di blog ini maupun dalam berbagai tulisan atau kesempatan.

Memang ketika Pancasila dirumuskan dan ditetapkan, bentuk ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah itu belum tampak jelas. Tetapi yang jelas adalah bahwa Pancasila pro ekonomi jalan tengah atau ekonomi jalan ketiga. Ekonomi jalan tengah tidak sekedar redistribusi aset individu tetapi juga menjaga agar aset publik seimbang dengan aset individu sehingga makro ekonomi stabil dan kesejahteraan umum terjaga. Dalam kondisi seperti itu mencari rejeki menjadi mudah, berbagai jaminan sosial bisa diselenggarakan, berbagai infrastruktur bisa dibangun, harga perumahan juga terjangkau bagi rakyat end user, serta stabilitas makro yang kondusif bagi semua usaha. Itulah sebenarnya yang dicita-citakan oleh ekonomi Pancasila. Dan itu bisa dipenuhi oleh biososioekonomi yang saya rumuskan. Neososialisme tidak menawarkan grand theory baru. Saya tetap memandang bahwa apa yang saya rumuskan adalah ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah bukan neososialisme. Pandangan bisososioekonomi mengenai laba jelas berbeda dengan pandangan Marx akar neososialisme.

Untuk Kejayaan

Kejayaan yang saya maksud bukan kejayaan dengan menaklukkan bangsa lain melalui peperangan. Kejayaan yang saya maksud adalah agar Pancasila dengan ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga di atas menerangi bangsa-bangsa untuk hidup dalam tata dunia baru yang adil, damai, dan sejahtera melalui kerja sama internasional dengan global civil society baru yaitu masyarakat terbuka yang adil (herucakra society). Di tengah-tengah ancaman krisis global, Pancasila dan ekonomi jalan ketiganya adalah pelita, mercusuar penunjuk arah dan harapan bagi bangsa-bangsa.

Kaum muda Indonesia yang cerdas, reformis, dan idealis dipanggil untuk mempertahankan Pancasila juga dipanggil untuk mengembangkan teori ekonomi makro biosoioekonomi serta memperjuangkan implementasinya khususnya di Indonesia yang ber-Pancasila . Sebagai teori ilmiah, biososioekonomi terbuka terhadap kritik.

Pancasila adalah keniscayaan bagi NKRI dan rakyat di Nusantara untuk bersatu, hidup dalam kesejahteraan, kedamaian dan kejayaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar