Rabu, 26 Mei 2010

Di Antara Kali Progo dan Kali Opak

Peringatan reformasi berdekatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei. Sementara tanggal 21 Mei dianggap sebagai peringatan reformasi karena pada tanggal itu 12 tahun lalu, Presiden Soeharto mengundurkan diri.

Dua belas tahun reformasi memang menghasilkan beberapa perubahan. Namun belum semua harapan rakyat terpenuhi. Bahkan sikap-sikap lama kembali muncul dan berkuasa serta berpotensi menyengsarakan rakyat.

Selain itu era reformasi juga ditandai masuknya aneka paham, ideologi, atau berbagai tawaran solusi dari luar baik dari Barat maupun Timur yang dianggap bagus padahal belum terbukti. Memang sebelum reformasi, terjadi krisis moneter 1997. Krisis yang melambungkan nilai dollar terhadap rupiah, meningkatkan jumlah karyawan ter-PHK, serta melambungkan suku bunga bank itu telah menyengsarakan rakyat kebanyakan. Indonesia terpuruk yang kemudian memancing pihak-pihak luar untuk menggurui Indonesia.

Kini setelah 12 tahun reformasi, negara lain juga terkena krisis, Amerika Serikat dua tahun lalu kemudian krisis berpindah ke Eropa dengan bentuk yang berbeda. Krisis ini tetap mengancam perekonomian Asia dan AS.

Hiruk-pikuk pemberitaan "junk news" dan pemilihan pejabat pemerintah selama reformasi menenggelamkan hal-hal yang baik dari kearifan lokal dan local genius yang seharusnya muncul sebagai solusi atas krisis dan persoalan global. Saya tetap memandang teori ekonomi makro biososioekonomi sebagai solusi atas berbagai krisis AS, Eropa, dan tempat lain yang saat ini belum muncul.

Dalam masa reformasi, tidak sedikit yang menganggap bahwa hal-hal yang berbau lokal adalah takhayul. Penolakan terhadap lokalitas memang mungkin beralasan. Budaya Jawa ikut berkontribusi terhadap terjadinya krisis tetapi bukan berarti solusinya adalah membuang semua hal yang berasal dari peradaban Jawa. Sangat disayangkan kalau reformasi justeru menenggelamkan orang-orang Jawa reformis dengan local genius-nya di satu sisi tetapi di sisi lain memunculkan orang-orang Jawa tidak reformis dan brengsek di panggung kekuasaan. Media massa ikut bertanggung jawab atas kesengsaraan rakyat dan krisis yang masih tetap menjadi ancaman potensial di masa mendatang.

Salah satu kearifan lokal adalah suatu ramalan atau kepercayaan tentang jaman kemakmuran dan satrio piningit. Ada suatu ramalan Jawa yang mengatakan bahwa bila Kali Progo kawin dengan Kali Opak, Mataram akan makmur (Sindhunata, Bayang-bayang Ratu Adil, GPU 1999 hlm 356, baca juga Kompas hari ini 26/5 hlm 40). Saya tidak tahu persis sejak kapan ramalan atau kepercayaan ini ada. Mungkin sejak pembangunan tahap II selokan Mataram dimulai (1953) atau jauh sebelum itu.

Akan tetapi saya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ramalan itu bukan Selokan Mataram yang mengalirkan air Kali Progo ke Kali Opak tetapi yang dimaksud adalah teori ekonomi makro biososioekonomi yang saya rumuskan di mana saya memang terlahir dari pasangan orang tua yang berasal dari Dusun Mangir (Kabupaten Bantul) di tepi Kali Progo dan dari kota Yogyakarta. Memang tidak berasal dari tepi Kali Opak karena pusat pemerintahan juga bergeser dari Kotagede yang dekat Kali Opak ke Barat dekat Kali Code. Selain itu wangsit RA Parjinah itu memang menununjuk saya sebagai R Hani Japar (orang tua saya memang memakai nama Japar). RA Parjinah adalah puteri keraton yang hadir dalam mimpi penduduk Bantul (bdk Sindhunata, Bayang-bayang Ratu Adil hlm 293). Puteri itu dianggap sebagai anak Ki Ageng Mangir-Pamabayun.

Mengnenai Kali Progo dan Kali Opak sendiri bukan saja berkaitan dengan ramalan tentang perkawinannya. Secara arkeologis wilayah yang terbentang antara Kali Progo dan Kali Opak yang meliputi lima Kabupaten yaitu Temanggung, Magelang, Bantul, Sleman dan Klaten itu merupakan pusat peradaban Kerajaan Mataraam Kuno. Di masa itu hidup Pramodawardani yang bersama orang tuanya membangun Candi Borobudur di sebelah Barat Kali Progo yang menikah dengan Rakai Pikatan yang membangun Candi Prambanan di sebelah Timur Kali Opak. Putera mereka Rakai Kayuwangi termasuk Raja Jawa Kuno yang paling banyak mendistribusikan tanah Sima (Perdikan). Belum banyak yang kita tahu mengenai pemerintahan Kayuwangi (855-885M). Tetapi paling tidak ada catatan kemakmuran Mataram pada jaman Kayuwangi. Berita Cina menunjukkan bahwa pada jaman Rakai Kayuwangi beras dan komoditas lain mulai diekspor dari pelabuhan-pelabuhan di Pulau Jawa (Supratikno Rahardjo, Peradaban Jawa hlm 323). Perluasan tanah sawah secara besar-besaran juga terjadi pada jaman Kayuwangi (Supratikno Rahardjo hlm 322).

Akan halnya ramalan mengenai satrio piningit itu juga bukan takhayul. Menurut hemat saya dan dari pengalaman saya istilah satrio piningit adalah istilah dalam bahasa dan peradaban Jawa, istilah padanannya dalam Alkitab adalah mempelai Kristus. Mempelai Kristus bukan suatu takhayul. Perumpamaan jaman keemasan sebagai suatu pesta perkawinan memang tepat. Mula-mula Mempelai Lelaki bersama sahabat-sahabat-Nya. Mereka disebut sebagai sahabat (Lukas 5:34) bukan mempelai perempuan. Akan halnya mempelai perempuan seharusnya berasal dari Yerusalem (lama) bukan Galilea. Namun karena penduduk Yerusalem menolak dan menyalibkan-Nya maka Mempelai Laki-laki itu menjatuhkan pilihan-Nya ke tempat lain. Agar imbang dengan nama Yerusalem maka wajar kalau asal mempelai Kristus (satrio piningit) itu berkaitan dengan nama kerajaan di masa lalu. Namun karena bisa menimbulkan ketidakdamaian maka tempat asal mempelai perempuan itu juga harus bisa memenuhi nubuat Nabi Yesaya:"...maka mereka akan menempa pedang-pdangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang." (Yes 2:4). Merbau Mataram tempat saya dilahirkan memang dibangun oleh pemerintah RI dan veteran pejuang Kemerdekaan RI, nubuat itu sangat tepat. Nubuat semacam itu jelas tidak bisa dipenuhi oleh negara Israel yang menduduki Yerusalem dengan kekerasan.

Satrio piningit bukanlah orang hebat, ia sekedar menjadi tanda di bumi bahwa pesta perkawinan dimulai. Seseorang yang mengetahui bagaimana pesta besar ini dibiayai kalau ia bukan mempelai Laki-laki, ia adalah mempelai perempuan. Meskipun tidak nampak, mempelai Laki-lakilah yang berkuasa, segala kekuasaan dan kemuliaan ada pada-Nya. Krisis Eropa hari ini menunjukkan para sahabat itu tidak tahu bagaimana pesta ini harus dibiayai. Nasihat sederhana yang berbunyi "carilah dahulu Kerajaan JHWH (JAWA) dan kebenarannya maka semua itu akan ditambahkan kepadamu" tidak dipahami dengan baik.

Di balik rumusan dasar teori ekonomi makro biososioekonomi yang berbunyi:"Kelahiran adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian" terdapat titik temu antara yang rasional dan spiritual. Sebagai teori ilmiah biososioekonomi tetap terbuka terhadap kritik dan perbaikan. Genarasi muda Indonesia yang cerdas, reformis, dan idealis seharusnya tidak menolak hal-hal yang benar yang berasal dari bangsa sendiri sama halnya juga tidak menolak hal-hal yang benar dari bangsa lain. Sudah saatnya reformasi tidak membuang semua hal yang berasal dari peradaban Jawa hanya karena kesalahan sebagian orang Jawa di masa lalu.

Indonesia harus bangkit dengan kecerdasannnya dan terhindar dari krisis yang akan datang. Selamat mengenang 12 tahun reformasi dan merayakan Kebangkitan Nasional. Bangkitlah INDONESIA-ku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar