Kamis, 20 Oktober 2011

Memperingatkan Sebagai Hamba Sembari Bekerja Sebagai Penggarap

Tak terasa sudah tiga tahun usia blog ini, sebuah blog yang memperjuangkan demokrasi ekonomi dan kesejahteraan publik dengan biososioekonomi yang merupakan ekonomi publik kerakyatan. Setahun yang lalu saya menulis di blog ini bagaimana blog ini membangun paradigma ekonomi publik kerakyatan. Membangun paradigma baru memang tidak bisa semalam jadi, oleh karena itu sampai saat ini saya masih hadir menulis di blog ini, dan perlu diketahui bahwa semua artikel yang diposting di sini adalah karya saya pribadi (Hani Putranto). 

Pernah seorang rekan menanyakan mengapa saya yang aktivitas  sehari-harinya sebagai pebisnis peduli pada pengentasan kemiskinan. Melalui postingan hari ini saya akan mencoba menjawabnya. Waktu itu saya tidak menjawabnya karena jawaban itu akan panjang dan menyentuh pengalaman rohani saya. 

Bagi saya tidak aneh kalau seorang pebisnis peduli pada isu pengentasan kemiskinan. Seorang pebisnis adalah juga manusia yang tidak hanya homo economicus tapi juga homo socius. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi bersifat sosial adalah perusahaan. Jadi pertama-tama mohon dibedakan antara pebisnis yang notabene adalah manusia dengan perusahaan. 

Karena menyangkut pengalaman rohani maka dalam penjelasan saya ini kadang diperlukan kutipan ayat Kitab Suci. Dari TUHAN dan Sabda-Nya saya memperoleh kekuatan dan keberanian untuk memperjuangkan kesejahteraan publik (dan pengentasan kemiskinan) yang sering mendapat rintangan dan hambatan dari kelompok kepentingan. Tentu seperti sering saya jelaskan di blog ini atau di blog saya yang berbahasa Inggris (http://public-prosperity.blogspot.com), kalau saya mengutip Alkitab itu berkaitan dengan kesejahteraan umum bukan berkaitan dengan ritual ke surga karena saya dipekerjakan hanya  di  suatu bidang yang bolehlah disebut divisi yaitu divisi kesejahteraan umum. Divisi lain adalah urusan pihak lain supaya tidak tumpang tindih.

Dalam pengalaman rohani saya, seorang pebisnis bukan sosok yang terasing dari karya dan rencana TUHAN karena dalam pengalaman saya tersebut TUHAN tidak hanya jalan ke surga tetapi juga jalan kesejahteraan umum di bumi. Mungkin pernah di dalam sejarah, seorang pebisnis terpinggirkan atau terpariakan dari rencana TUHAN dalam mewujudkan kesejahteraan umum di bumi, tetapi itu tidak berarti TUHAN sengaja membuang mereka. Bukan TUHAN yang membuang mereka.

Mula-mula saya kehilangan pekerjaan Februari 1993. Kemudian karena mendapat sentuhan dan jamahan yang luar biasa dari TUHAN sebagai Bapa maka saya berjanji kalau kaya raya akan mengembalikan kekayaan itu kepada TUHAN pemilik talenta bukan mewariskannya kepada anak cucu. Ternyata janji dan komitmen saya itu adalah awal dari tugas besar yang dipercayakan TUHAN kepada saya (bdk Matius 25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.). Tanggal 4 Juli 2002 ketika saya berhasil membaca nama saya R Hani Japar tersandi dalam mimpi seseorang, (bdk Wahyu 2:17 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.") saya yakin bahwa saya dipilih TUHAN untuk memberi peringatan agar orang kaya mengembalikan kekayaan kepada TUHAN bukan mewariskannya kepada anak-cucu mereka.

Memberi peringatan dan menjelaskan teori ekonomi makro biososioekonomi sering membuat saya suntuk, apalagi jaman dulu sekitar tahun 2003 ketika belum marak media alternatif seperti blog, micro blog, dan jejaring sosial seperti fb. Berbagai macam penolakan, hambatan, dan penenggelaman sering saya alami. Dalam kondisi lelah seperti itu TUHAN memberi kekuatan agar saya melanjutkan peringatan yang saya sampaikan. Bagi saya tidaklah aneh ketika biososioekonomi dibuang atau ditolak sering terjadi sesuatu seperti gempa bumi (bdk Matius 21:42 Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.).

Perumpamaan dalam Matius 21:33-45  tentang kebun anggur dan para penggarap itu begitu hidup dalam arti begitu dekat dan nyata dalam realitas kehidupan dan pengalaman saya. Dalam pengalaman rohani saya yang dimaksud para penggarap kebun anggur tidak hanya rohaniwan/ti atau imam tetapi juga pebisnis. Memberi peringatan kepada pebisnis atau orang kaya agar mengembalikan kekayaan kepada TUHAN bukan mewariskannya adalah suatu pekerjaan seorang hamba dalam perumpamaan tersebut di atas, dan sering kali pekerjaan seperti itu selain penuh resiko juga peringatan yang kita tulis tidak dimuat alias dibuang atau ditenggelamkan. Penenggelaman atau pembuangan tulisan kita itu sering membuat suntuk dan lelah seolah-olah apa yang kita lakukan sia-sia. Namun dengan merangkap kerja sebagai penggarap baru maka segala kesuntukan dan kelelahan seperti itu terobati, itulah salah satu pengalaman nyata saya. Bagi saya, seorang pebisnis yang berkomitmen seperti saya juga adalah seorang penggarap di kebun anggur TUHAN.  Sebagai catatan perlu juga diketahui ada istilah pekerja di kebun anggur TUHAN. Mohon dibedakan antara pekerja dan penggarap.

Krisis ekonomi dan krisis kapitalisme yang melanda negara-negara barat menunjukkan bahwa mereka benar-benar tidak tahu atau terasing dengan sabda TUHAN yang mengatakan:"juallah segala milikmu." Teori ekonomi makro biososioekonomi berusaha memberi penjelasan ilmiah bagaimana sabda itu diimplementasikan. 

Kesejahteraan publik menuntut kita semua untuk berpartisipasi secara nyata dan damai non kekerasan, selanjutnya TUHAN yang akan menyempurnakan usaha kita. Baik seorang hamba yang memberi peringatan atau penggarap baru yang berkomitmen seperti saya, punya andil dalam mewujudkan kesejahteraan publik. Semoga TUHAN memberkati kita semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar