Kamis, 15 Desember 2011

Chaos Finansial dan Hukum II Termodinamika

Dalam bukunya, Paul Ormerod mengatakan bahwa ilmu ekonomi sudah mati karena tidak bisa digunakan untuk memprediksi keadaan. Menurut hemat saya pernyataan itu kurang  tepat, yang terjadi bukan matinya ilmu ekonomi tetapi karena perekonomian mengalami chaos.

Menurut Hukum II Termodinamika Entropi sistem yang meningkat secara terus menerus akan menyebabkan chaos atau ketidakteraturan. Masuknya energi ke dalam sistem yang diikuti dengan pengeluaran energi dari dalam sistem, sehingga prosesnya reversibel, akan menyebabkan sistem stabil. Willem Hoogendijk ( Revolusi Ekonomi, Menuju Masa Depan  Berkelanjutan Melalui Pembebasan dari Pengejaran  Uang Semata, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1996, terj. dari  The Economics Revolution: Towards a Sustainable Future by Freeing Economy from Money-making. Uitgeveroh Jan an Ariel, 1991) pernah menggunakan model  ini untuk sistem ekonomi. Saya menggunakan hukum ini dalam buku saya "Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia" 

Berikut ini saya kutipkan dari buku saya halaman 18. "Kondisi chaos terjadi karena sistem ekonomi panas sebagai akibat tidak dikeluarkannya uang atau laba dari sistem ekonomi, kalau pun dikeluarkan jumlahnya hanya sedikit dan tidak sebanding dengan masuk atau dicetaknya uang atau laba di dalam sistem ekonomi." Tabel yang menggambarkan pembayaran hutang manusia terhadap alam seperti yang saya posting beberapa minggu [http://www.satriopiningitasli.com/2011/11/pajak-pajak-yang-anti-demokrasi-ekonomi.html] lalu memperlihatkan ketidakseimbangan tersebut karena pajak dan derma yang kecil dan terutama tidak adanya daur ulang kekayaan individu.

Saya menggunakan depresi besar 1930 sebagai contoh perekonomian yang mengalami chaos. Berikut ini kutipannya:"Sebelum tahun 1920-an, ekonomi AS mengalami kemakmuran: pekerjaan gampang diperoleh, pendapatan melonjak tajam, dan harga-harga stabil. Mulai tahun 1929 segalanya berbalik menjadi jelek. Pada tahun 1929 terdapat 2,5juta penganggur, tahun 1933 meningkat menjadi 13 juta dari 51 juta orang angkatan kerja. Produksi barang dan jasa baru merosot pada tahun 1933 menjadi US $ 55 milyar dari US $ 103 milyar pada tahun 1929. Harga saham Wall Street anjlok, milyaran kekayaan pribadi lenyap, bahkan pengangguran masih bertahan 14% sampai tahun 1940-an"

Peningkatan entropi dalam sistem ekonomi kapitalistik terjadi dengan pengejaran pertumbuhan PDB itu sendiri. Kapitalisme agregat yang mengejar pertumbuhan PDB itulah yang menyebabkan sistem tidak stabil. Tulisan kecil ini sekedar mengingatkan. Seperti dalam kasus depresi besar 1930 di atas, bagusnya data pertumbuhan ekonomi sebelum krisis tidak menjamin bahwa sistem akan bebas dari krisis.

Kita perlu mewaspadai pemicu krisis bergejolak. Pemicunya mungkin tidak diduga banyak orang. Harga property yang mengalami bubble price bisa pecah menjadi krisis bergejolak. Saya tidak memiliki data yang lengkap tetapi indikasi ke arah sana bukannya tidak ada. Saya pribadi tidak tahu pasti kapan menggelembung dan pecah apakah di Indonesia atau di luar negeri. Kita semua dituntut waspada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar