Kamis, 22 Desember 2011

Refleksi Natal. Menerima Yesus Berarti Turut Mewujudkan Kesejahteraan Umum

Peristiwa kelahiran Kristus sekitar 2.000 tahun yang lalu menjadi bahan refleksi yang menarik bahwa di tengah kabar suka cita dari malaikat, kisah kelahiran itu juga diwarnai keprihatinan karena Kristus Sang Juru Selamat yang kedatangan-Nya adalah hadiah besar bagi seluruh umat manusia ternyata  tidak mendapatkan tempat di penginapan.

Bagi umat Kristiani kisah kelahiran Yesus Kristus sudah bukan hal asing lagi. Ia lahir di Betlehem ketika Yusuf dan bunda Maria pergi dari Nazaret ke kota asalnya di Betlehem, kota Raja Daud, untuk disensus mengikuti perintah Kaisar Agustus. Namun karena tidak mendapatkan tempat di penginapan Bayi Yesus pun lahir di kandang (Lukas 2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan). Kabar kelahiran Kristus itu sendiri diterima dari malaikat oleh para gembala penjaga ternak sebagaimana ditulis Lukas 2:10-12  Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."). Malaikat itu tidak menyampaikan kabar bohong kepada para gembala karena terbukti para gembala bisa menemukan Bayi Yesus dalam palungan (Lukas 2:16).

Hari Raya Natal yang akan dirayakan sebentar lagi merupakan perayaan akan kelahiran itu. Sebelum Natal, umat Kristiani khususnya Katolik mempersiapkan diri dengan beribadah dan mendengarkan sabda Tuhan selama masa Adven yang berlangsung 4 minggu. Selama 4 minggu itu kaum rohaniwan mempersiapkan umat untuk menerima kedatangan Kristus.

Natal tahun ini berada di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu. Krisis hutang melanda negara-negara Eropa, AS juga belum pulih benar dari krisis 2008. Sementara itu kemiskinan dan pengangguran masih tinggi di berbagai negara. Apakah Natal di Eropa tahun ini akan menjadi Natal yang murung karena krisis dan PHK (pemutusan hubungan kerja) menimpa sebagian warga Eropa?
 
Kejadian sekitar 2.000 tahun lalu ketika Bayi Yesus tidak mendapat tempat di penginapan seperti terulang lagi kini dalam bentuk yang berbeda. Bagi saya, yang dipekerjakan Tuhan di divisi kesejahteraan umum, krisis hutang di Eropa mengindikasikan bahwa sebagian umat manusia tidak memberi tempat bagi Kristus.

Menerima Yesus berarti menerima ajaran-Nya. Saya dengan aneka pengalaman dan pergulatan menemukan bahwa sebagian dari kita tidak memberi tempat di hati kita bagi tumbuh dan bersemayamnya ajaran Kristus yang berkaitan dengan kesejahteraan umum.

Saya menemukan paling tidak ada tiga ajaran penting yang seharusnya mendapat tempat di hati umat manusia agar tercapai kesejahteraan umum dan keadilan sosial.

Yang pertama ajaran berbagi sebagaimana ditulis oleh Injil Lukas 12:33 "Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat." Dari ajaran ini nampak bahwa kalau kita berbagi harta itu harus mendekati 100% dari harta kita, bukan hanya 3% atau 10%. Kalau persentase harta yang harus dibagikan mendekati 100% bagaimanakah dampak ekonomi-moneternya? Yesus Kristus tidak memberi penjelasan karena mungkin Dia tahu umat manusia akan menemukan sendiri jawabannya melalui ilmu pengetahuan. Mungkin juga Tuhan tidak memberi penjelasan waktu itu karena pengetahuan manusia waktu itu terbatas. Teori ekonomi makro biososioekonomi mencoba memberi penjelasan ilmiah bagaimana harta tersebut harus didistribusikan beserta dampak moneternya. Ketika harta yang dibagikan itu sangat kecil maka lama-kelamaan liabilitas publik melonjak dan akhirnya menimbulkan krisis. Ajaran Yesus benar.

Yang kedua adalah penyalur derma. Yesus Kristus ternyata memberi kebebasan kepada penderma bahwa penderma bebas memilih lembaga mana yang harus mendistribusikan atau mengelola derma tersebut. Hal ini tidak hanya tercermin dalam Matius 19:21 tetapi juga dalam peristiwa lain. Dalam Matius 19:21 Yesus TIDAK mengatakan: bawalah ke mari supaya Saya bisa membagikannya kepada orang miskin. Kebebasan memilih penyalur sumbangan juga tercermin dari sikap Yesus yang tidak mau dijadikan Raja dalam pemahaman sebagian umat Yahudi seperti tertulis dalam Yohanes 6:15 "Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri". Yesus juga menolak godaan Iblis seperti tertulis dalam Matius 4:8-10.  Dengan menolak dijadikan raja dalam pemikiran sebagian manusia berarti Yesus juga memberi kebebasan penderma memilih saluran dermanya. Pada waktu itu menjadi raja berarti menerima pembayaran pajak. Sebagai gambaran penghasilan Raja Salomo per tahun adalah 666 talenta emas, jumlah itu kalau dirupiahkan lebih dari Rp 6,6 triliun. Di dalam negara demokrasi modern yang berorientasi kesejahteraan pajak  terdistribusi untuk kesejahteraan rakyat. Ini berbeda dengan kerajaan feodal. Jadi menyalurkan sumbangan sebagai pajak negara demokrasi modern bisa berarti menuruti kehendak Tuhan.

Yang ketiga Yesus meringankan beban banyak orang meski Ia sendiri menanggung beban berat. Yesus meminta murid-murid-Nya memberi makan sesama meski Ia menolak godaan Iblis untuk mengubah batu menjadi roti.

Maka menurut hemat saya, yang dipekerjakan Tuhan di divisi kesejahteraan umum, menerima Yesus berarti ikut berjuang mewujudkan kesejahteraan umum. Kalau Eropa dan AS dilanda krisis berarti sebagian umat manusia tidak sepenuhnya memahami atau menerima ajaran Yesus di atas. Bidang kesejahteraan umum menuntut partisipasi kita semua, termasuk untuk menerjemahkan artikel ini dan menyebarkan kepada orang lain. 

Semoga kehadiran Tuhan menguatkan kita untuk berbagi dan mewujudkan kesejahteraan umum dan semoga kesukaan Natal dirasakan semua orang termasuk yang paling miskin. Selamat Natal 25 Desember 2011. Semoga kita semua hidup dalam damai sejahtera dan dalam terang Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar