Kamis, 02 Agustus 2012

TUHAN dan Seruan Berbagi Harta

Tanpa mengubah paradigma ekonomi neolib dengan paradigma biososioekonomi tidak akan ada kesejahteraan publik (rakyat) dan stabilitas makro ekonomi secara berkesinambungan. Harus berubah. Demikian artikel saya minggu lalu.

Sekecil apa pun perubahan ke arah yang benar akan tetap bermakna karena TUHAN juga bekerja untuk mewujudkan kesejahteraan umum.  TUHAN juga bekerja menyempurnakan upaya kita yang kita tekuni melalui jalan damai. 

Berbagi harta adalah sesuatu yang memiliki dua dimensi baik dimensi rohani (surgawi) ataupun dimensi jasmani atau dimensi kesejahteraan umum di bumi. TUHAN memperhatikan kedua dimensi secara penuh karena memang Dia mampu dan Maha Sempurna. Sementara itu saya dan blog ini hanya membahas satu dimensi yaitu kesejahteraan umum, karena menyadari keterbatasan saya sebagai manusia yang harus sadar akan porsi saya dan tidak boleh tergoda mengambil porsi yang lebih besar (2 porsi sekaligus)  karena porsi yang lebih besar itu adalah porsi TUHAN. Namun bukan berarti bahwa saya menafikan dimensi lain dalam arti saya tetap menyadari adanya dimensi lain yang ditangani pihak (divisi) lain. 

Pada dasarnya secara matematis kalau jumlah laba yang diambil individu adalah 100 maka yang  dikembalikan kepada publik adalah juga harus 100. Kalau yang dikembalikan hanya 3% atau 50% tidak akan seimbang. Perhitungan matematis mendasar yang sederhana ini telah dijelaskan dengan panjang lebar oleh teori ekonomi makro biososioekonomi yang saya rumuskan.

TUHAN pun tahu matematika dan akuntansi seperti itu maka Dia bersabda:"Juallah hartamu, dan berilah sedekah" Dia tidak bersabda sumbangkanlah 5% hartamu.

Oleh karena itu kalau ada hambatan kelompok status quo dalam implementasi teori ekonomi makro biososioekonomi janganlah khawatir karena TUHAN di pihak kita. Dia menyempurnakan upaya kita yang kita tekuni melalui jalan damai. Tulisan saya yang berkaitan dengan campur tangan TUHAN bisa dibaca di blog ini khususnya yang berlabel spiritual, pengalaman spiritual, biososioekonomi-spiritual, spiritual-budaya, atau kebangsaan-spiritual.

Semoga tulisan sederhana ini dipahami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar