Minggu, 23 Maret 2014

Tetap Bekerja Meski PDB Tumbuh

Tahun 2013 telah berlalu dan tahun 2014 telah berjalan beberapa bulan dengan berbagai peristiwa ekonomi, politik, maupun bencana alam seperti banjir dan meletusnya Gunung Kelud. Penetapan Ir. Joko Widodo sebagai calon presiden oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri merupakan peristiwa politik penting di awal-awal tahun ini.

Seperti halnya saya sampaikan pada postingan terdahulu bahwa kondisi ekonomi tahun 2014 tidaklah ringan bagi rakyat dan negara. Tekanan, ancaman, serta tantangan ekonomi tetap ada baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Berbagai macam solusi entah yang diusahakan pemerintah Indonesia maupun oleh negara lain belum bisa meninggalkan sama sekali paradigma konvensional yang neoliberalistik. Ciri paradigma neoliberalistik itu bisa kita lihat ketika banyak pejabat pemerintah maupun ekonom berhenti berusaha ketika terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Mencetak uang, menerbitkan surat utang negara, membiayai stimulus dengan mencetak uang, mengiming-imingi pemodal besar dengan bunga tinggi adalah ciri lain kebijakan yang neoliberalistik. Penghentian stimulus bisa saja dilakukan tetapi seharusnya didahului dengan peningkatan income publik yang memadai yang kemudian didistribusikan pada berbagai jaminan sosial, infrastruktur, fasilitas umum dan pengetatan moneter. Pengetatan moneter dalam paradigma neoliberalistik berbeda dengan pengetatan moneter dalam paradigma biososioekonomi. Dalam paradigma neoliberalistik, pengetatan moneter dilakukan tanpa terjadinya peningkatan income
publik. Mengiming-imingi pemodal besar dengan bunga tinggi adalah cara yang kadang dilakukan oleh pejabat yang berparadigma neolib. Mencetak uang, hutang, dan semua solusi neoliberalistik itu bukan solusi yang permanen. Artinya itu hanya sementara saja ketika income publik belum membaik.

Oleh karena itu kita hargai siapa saja yang telah berusaha dan bekerja keras untuk meningkatkan income publik. Perancis dan Amerika Serikat sudah memulai meningkatkan pajak dari orang kaya. Kita juga hargai orang-orang kaya seperti Warren Buffett yang dengan kesadarannya sendiri berkomitmen menghibahkan sebagian besar hartanya kepada publik dan hanya sebagian kecil saja yang diwariskan kepada keturunannya sendiri. Kita hargai juga Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang berhasil meningkatkan penerimaan pajaknya di tengah terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi di tahun 2013. Ke depannya perlu disempurnakan agar peningkatan pajak berasal dari pajak yang pro demokrasi ekonomi atau pajak orang kaya bukan pajak dari rakyat kecil. Perlu diingat bahwa rasio gini Indonesia yang tinggi masih meningkat lebih tinggi lagi yang berarti kesenjangan meningkat. Pada tahun 2011-2012 rasio gini sudah tinggi yaitu 0,41 dan tahun 2013 naik menjadi 0,42.
Angka 0,41 itu meningkat dari 0,38 di tahun 2010 (Kompas Jumat 14/3 hlm 15 "Rezim Pertumbuhan Tinggi Gagal").

Di tengah tantangan dan ancaman yang nyata di tahun ini dan di tahun-tahun mendatang kita masih mempunyai harapan. Harapan itu ada karena adanya orang-orang yang pro perubahan dan perbaikan bukan pro status quo, adanya orang-orang yang tetap bekerja untuk publik tidak peduli apakah pertumbuhan ekonomi melambat atau semakin cepat. Pertumbuhan ekonomi (PDB) tinggi bukanlah ukuran kesehatan ekonomi publik.

Tak lupa kita ucapkan terima kasih kepada negarawati Megawati Soekarnoputri yang telah mengambil keputusan yang bijaksana yang mendengar aspirasi rakyat Indonesia. Semoga saja selain tetap berjalannya demokrasi politik juga terjadi demokrasi ekonomi untuk meningkatkan income dan aset publik. Marilah kita menjadi negarawan dan negarawati yang baik. Proses politik di Indonesia di tahun 2014 yang ditandai peristiwa pemilihan umum dan pemilihan presiden seharusnya memunculkan banyak negarawan dan negarawati yang baik. Rakyat juga diharapkan untuk memilih dengan cerdas demi kepentingan publik bukan kepentingan kelompok. Pajak diperoleh dari berbagai kelompok lintas SARA, pemanfaatannya pun juga harus lintas SARA.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.


Artikel Terkait

Perekonomian 2014
http://satriopiningitasli.blogspot.com/2013/12/perekonomian-2014-negara-dan-beban.html?m=1

Refleksi HUT RI  17/8/2013
http://www.satriopiningitasli.blogspot.com/2013/08/kepentingan-publik-refleksi-hut-ri-ke-68.html?m=1

Target Kerja Pemerintah
http://www.satriopiningitasli.com/2012/03/terget-kerja-pemerintah-yang-harus-kita.html?m=1

Utang Besar Karena Income Kurang
http://www.satriopiningitasli.blogspot.com/2012/08/utang-besar-karena-income-kurang.html?m=1

Demokrasi Ekonomi
http://www.satriopiningitasli.blogspot.com/2010/06/demokrasi-ekonomi-biososioekonomi-lebih.html

Semoga Semakin Banyak Orang Kaya Berbagi
http://www.satriopiningitasli.blogspot.com/2012/02/semoga-semakin-banyak-orang-kaya.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar