Kamis, 22 Januari 2009

Pertama Kali Saya Mengenal Kata Mataram...dan Mangir

Setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda ketika pertama kali mengenal kata mataram dan mangir. Sebagian orang mengenal kata itu ketika telah dewasa, sebagian lagi mengenalnya lewat pelajaran sejarah atau cerita ketoprak. Bayangan yang menyertai kedua kata itu tentu berbeda pada masing-masing orang.

Ketika membuat tulisan ini, saya harus mengingat-ingat kembali kapan saya pertama kali mengenal kedua kata tersebut. Yang jelas saya mengenalnya ketika saya masih kecil di bawah 10 tahun atau 5 tahun malah.

Mengenai kata mataram, saya agak kesulitan mengingatnya kapan pertama kali mengenalnya. Hal ini karena kata mataram telah menjadi realitas hidup sehari-hari sejak lahir dan masuk dalam alam bawah sadar. Sama seperti ikan, kalau saja ikan bisa berpikir dan bisa diajak berdialog pasti akan kesulitan kalau ditanya kapan pertama kali mengenal air. Air adalah realtas hidupnya sehari-hari.

Waktu saya kecil, setiap kali sebelum tidur, saya sering mendengar aneka dongeng atau cerita dari ayah saya Sumarji Siswosuwarno. Aneka cerita saya dengar, mulai dari cerita wayang, kancil, atau kisah nyata bagaimana desa kelahiran saya dibangun dari hutan belantara. Mungkin saat itu kata Merbau Mataram telah saya dengar.

Pada saat usia saya kurang lebih tiga tahun, saya beserta adik perempuan saya Ning, diajak berkunjung ke Yogyakarta. Saya tak bisa mengingat kata-kata apa yang diucapkan kepada saya. Mungkin kata-kata seperti ini yang diucapkan:"Ayo neng nJowo tilik Pakde Juki" (Ayo ke Jawa menengok Pakde Juki). Yang jelas kata-kata yang diucapkan tentu bukan ayo ke Mataram.

Selain menginap di Blunyah (Yogyakrta) tempat Pakde Juki tinggal, saya diajak pula ke Mangir (Kab. Bantul). Mungkin kata-kata yang diucapkan kepada saya adalah:"Ayo...neng Mangir, tilik mBah." Tentu yang dimaksud bukan kakek-nenek kandung, tetapi kakak-kakaknya kakek-nenek. Saya tidak ingat benar telah mendengar kata mangir waktu itu. Yang saya ingat adalah suatu pemandangan yang bagi anak kecil sangat luar biasa karena pemandangan itu tak pernah saya jumpai di desa kelahiran saya. Pemandangan yang luar biasa itu adalah pemandangan tentang Kali Progo yang besar dan airnya melimpah.

Setelah saya bisa membaca dan menulis tentu pengalaman saya bertambah. Kakek saya, Panggiyo Suwarno, adalah seorang Kepala Dusun. Di tempat kami disebut kepala suku. Kepala Dusun Hargo Binangun di bawah Desa Merbau Mataram. Pada saat menjelang perayaan RI 17 Agustus punya kesibukan menggerakkan orang-orang dusun untuk membuat gapura. Sehingga saya secara visual, saya juga bisa membaca dan menangkap kata-kata Merbau Mataram pada gapura. Merbau Mataram adalah nama tempat di mana saya lahir dan menghabiskan masa kecil saya.

Karena SD Hargo Binangun tempat saya sekolah ditutup maka pada saat menginjak kelas 3, saya pindah ke SDN Mataram 1 (demikian nama SD itu disebut seperti tertulis dalam ijazah saya). Pengalaman saya bertambah. Mataram adalah nama sekolah tempat saya belajar. Selain membaca dari papan nama sekolah, saya membaca dari kaos olah raga yang dikenakan teman-teman atau kakak-kakak kelas sewaktu melakukan kegiatan olah raga atau Senam Pagi Indonesia.

Jadi, Mataram yang saya kenal pertama kali adalah tempat atau desa (Merbau Mataram) di mana sudut-sudut desa itu dihiasi kebun singkong, sawah tempat saya mancing dan mencari ikan, ladang, bahkan juga ilalang di mana saya kadang-kadang bisa menemukan sarang burung terkuak (srimbombok) yang indah beserta telurnya. Selain itu Mataram adalah sebuah sekolah dimana saya belajar yang juga dikelilingi kebun singkong milik sekolah. Itulah pengenalan dan pengakraban saya dengan kata mataram di mata seorang bocah.

Mengenai kata mangir, karena di desa kami tidak ada tempat dengan nama itu maka kata mangir hanya saya dengar kadang-kadang. Meskipun terdengar kadang-kadang, tetapi mempunyai kesan tersendiri karena biasanya kata mangir diucapkan kalau ada kerabat datang dari Mangir bawa oleh-oleh seperti geplak atau kalau mBah Panggiyo baru saja pulang dari Mangir, juga bawa oleh-oleh.

Baru ketika saya duduk di bangku kelas 4 saya tahu bahwa ternyata Mataram itu adalah nama kerajaan di masa lalu. Itu dari pelajaran sejarah yang mengisahkan Kerajaan Pajang dengan tokohnya Joko Tingkir dan Mataram....



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar