Sabtu, 03 Januari 2009

Pengalaman: Hidup Nyaman Tanpa Kekuasaan

Bagi sebagian orang seperti para eksekutif, politisi, profesional, atau pebisnis, awal tahun merupakan awal mewujudkan rencana-rencana yang telah disiapkan. Tetapi bagi sebagian orang lain, karena berbagai alasan, hidup mengalir begitu saja tanpa rencana. Sebagian karena tidak terampil membuat rencana, sebagian lagi ingin hidup seperti seniman yang mengalir begitu saja, sebagian lagi masih shock karena baru saja terkena PHK, dan sebagian lain mungkin mau lebih fleksibel dalam mengahdapi ketidakpastian global. Krisis global memang memerlukan cara pandang baru atau paradigma baru yang bagi sebagian orang sangat mengejutkan karena belum pernah mengetahui sebelumnya. Media konvensional tidak pernah menyampaikannya.

Untuk itulah saya ingin membagikan suatu pengalaman yang menurut saya amat sangat berharga. Memang suatu pengalaman bisa bersifat partikular (khusus) tetapi mungkin juga mengandung hal-hal yang bersifat umum (universal). Kondisi saya dan Anda tentunya berbeda. Namun demikian Anda bisa mengambil inspirasi dari pengalaman saya ini.

Setelah kehilangan pekerjaan pada Februari 1993, pada Agustus 1994 saya bergabung dengan AJB Bumiputera 1912 Rayon Madya Fatmawati (Jakarta Selatan) sebagai agen atau salesman asuransi jiwa. Pekerjaan sebagai salesman sebenarnya bukan bakat dan minat saya. Tetapi pekerjaan ini saya terima karena bersifat adil, dalam pengertian kalau saya kerja keras akan mendapat hasil banyak, kalau kurang keras hasilnya juga kurang.

Awalnya saya mendapat nasabah dari kalangan terdekat, kaum kerabat. Akhir Oktober 1994 saya sudah hampir kehabisan uang. Siang itu (saya lupa apakah akhir Oktober atau awal November 1994) saya gagal bertemu dengan prospek (calon nasabah) karena kabarnya beliau sakit. Sorenya saya duduk termenung memandangi langit yang mendung di kamar kos adik sepupu saya tempat saya menumpang. Di tengah keputusasaan saat itu saya merasakan sentuhan dan sapaan Tuhan dalam hati saya. Tuhan Yang Maharahim bertindak sebagai Bapa yang memberi makan/rejeki pada anak-anak-Nya.

Keesokan harinya saya melanjutkan pertemuan dengan prospek yang sehari sebelumnya sempat tertunda tesebut. Close. Saya memperoleh satu nasabah yang berasal dari luar lingkung an kerabat saya. Gembira hati saya meninggalkan kantor pusat PT Bayer Indonesia di kawasan Sudirman tempat Muhammad Anwar Syam, nasabah saya tersebut bekerja sebagai manager. Komisinya lumayan bisa untuk menyambung hidup sebulan.

Sejak saat itu hubungan saya dengan Tuhan sebagai Bapa sangat dekat. Pertama kali dalam hidup Kristiani saya, hati saya tergetar ketika menyebut-Nya dengan sebutan Bapa. Itu semua yang menyembuhkan luka-luka batin saya dan yang menguatkan saya ketika asal-usul saya dilecehkan. Rasa percaya diri saya terus menguat dalam menghadapi suka-duka hidup ini.

Sekitar akhir tahun 1994 atau awal tahun 1995 saya membuat suatu komitmen dihadapan Tuhan. Karna, salah seorang tokoh Mahabarata menginspirasi saya. Ia melepaskan hak miliknya berupa anting dan rompi wasiat untuk diberikan kepada orang lain, seorang brahmana. Saya kemudian merenung bahwa talenta beserta pengembangannya seharusnya dikembalikan kepada Tuhan untuk didistribusikan kepada sesama bukan diwariskan kepada anak cucu sendiri. Selanjutnya saya membuat komitmen bahwa kelak kalau seandainya saya kaya raya, saya tidak akan mewariskan kekayaan berlimpah itu kepada anak cucu saya tetapi mengembalikannya kepada Tuhan untuk diredistribusikan kepada sesama. Tetapi itu tidak berarti saya tidak bederma mulai sekarang.

Perjalanan hidup saya terus mengalir begitu saja. Awalnya ketika datang ke Jakarta saya mendambakan pekerjaan yang bersifat struktural sebagai supervisor, manager, dan seterusnya. Tetapi setelah bekerja sebagai agen asuransi jiwa itu, saya malah menjauhi semua pekerjaan struktural. Hal ini membuat saya terbiasa dengan bahasa persuasi dan hidup nyaman tanpa kekuasaan struktural. Dari asuransi jiwa saya pindah ke agen properti sampai hari ini, tetap sebagai salesman atau marketing asociate yang hidup dari komisi.

Sebelumya saya tidak tahu kalau komitmen besar saya itu membuat saya memperoleh wahyu keprabon. Saya menjalaninya secara tulus dan bersahaja. Awalnya saya berkomitmen seperti itu karena balas budi saya pada Tuhan yang telah bertindak sebagai Bapa bagi saya dan karena saya merasa tersentuh dengan penderitaan sesama yang kurang beruntung. Sampai akhirnya saya membaca wangsit itu pada tanggal 4 Juli 2002 seperti yang telah saya ceritakan dalam postingan berjudul "Wahyu Keprabon" yang barada di archive bulan Oktober 2008 di blog ini. R Hani Japar demikian saya membaca sandi RA Parjinah tersebut. Tidak salah lagi saya dipilih Tuhan.

Kemudian saya melanjutkan pemikiran saya maka lahirlah buku Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia yang terbit Oktober 2004. Di dalamnya berisi teori biososioekonomi atau bioekonomi yang menentang pewarisan kekayaan berlimpah ruah kepada keturunan pemilk kekayaan. Kalau saya vokal dan gigih menentang triple six (pewarisan kekayaan berlimpah ruah) karena saya sendiri telah membuat komitmen dalam diri saya sendiri, di samping itu tentu saja karena saya telah merasakan kehadiran Tuhan dengan tanda-tanda yang luar biasa dan dahsyat.

Meskipun tanpa kekuasaan struktural saya merasa nyaman dengan hidup saya. Saya justru pantang memegang pekerjaan struktural. Pekerjaan yang masih bisa saya jalani adalah yang bersifat non struktural seperti sebagai agen properti, penulis, dosen yang mengajar teori makro biososioekonmi tingkat dasar, atau aktivitas sebagai anggota paduan suara. Seorang pebisnis masih bisa bermanfaat bagi sesama dengan memperlakukan akumulasi laba (kekayaan) sebagai titipan Tuhan, dipakai secara bijaksana dan tidak diwariskan kepada keturunannya sendiri bila akumulasi kekayaan itu berlimpah ruah. Kalau semua pebisnis dan orang kaya melakukan dan berkomitmen seperti yang saya lakukan maka dunia yang damai, sejahtera, dan adil sudah terwujud.

Bagi saya pribadi kekuasaan struktural bukanlah sesuatu yang penting. Apalagi saat ini tersedia media blog dimana setiap orang bisa mengemukakan opininya. Hidup di masyarkat tanpa kekuasaan pun semakin nyaman. Kalau orang tidak ada yang mengadopsi teori ekonomi makro rumusan saya, toh dengan aktivitas dan komitmen saya, saya masih bisa bermanfaat bagi sesama. Ketidakpastian dan krisis global memang memerlukan cara pandang baru dan cara yang luar biasa untuk mengatasinya. Tulisan ini mungkin akan membuat Anda terkejut dan harus mengubah rencana Anda. Ternyata Tuhan tidak menyukai pewarisan kekayaan berlimpah ruah kepada anak cucu sendiri. Pengalaman ini sungguh luar biasa bagi saya sehingga saya tetap berani mengkritik triple six. Saya percaya Tuhan memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman ke bumi. Tak perlu tangan manusia sebagai eksekutornya. Tugas kita hanya memberi peringatan. Selamat Tahun baru. "Ya TUHAN berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN berilah kiranya kemujuran"


3 komentar:

  1. Terimakasih telah berbagi pengalaman hidup Anda yang menarik.

    BalasHapus
  2. Sama-sama terima kasih juga tas komentarnya. Saya hanya mengerjakan saja apa yang seharusnya dikerjakan seorang hamba.

    BalasHapus