Sabtu, 17 Januari 2009

Tidak Antisipatif Menghadapi Overinvestment

Tahun 2009 sudah berjalan dua pekan. Dalam dua pekan ini tampak kebijakan yang diambil otoritas fiskal dan moneter tidak antisipatif dengan adanya overinvestment yang notabene adalah akar krisis ekonomi global. Sebagian pejabat pemerintah mengatakan bahwa kita aman karena jauh dari pusat tsunami keuangan global.

Sebelum Kwik Kian Gie (dalam Koran Internet) mengulas masalah krisis keuangan global dan menunjukkan adanya overinvestment di Indonesia, tulisan-tulisan saya di blog ini sudah mengingatkan adanya gejala overinvestment tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global. Misalnya dalam postingan saya yang berjudul:"Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa." Apa yang saya maksud dengan overinvestment tentu agak berbeda dengan overinvestment dalam textbook ekonomi pada umumnya. Overinvestment dalam paradigma biososioekonomi bukan hanya terjadi akibat investasi besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan (besar) tetapi juga oleh perorangan baik besar maupun kecil. Oleh karena itu tabungan dan deposito juga dianggap sebagai investasi. Seseorang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menggunakan pesangonnnya untuk menjadi pedagang kaki lima (PKL) juga disebut melakukan investasi. Overinvestment tidak hanya bisa terjadi pada manufaktur atau perkebunan besar, tetapi juga pada sektor informal karena banyaknya pelaku yang masuk sektor informal itu sebagai akibat PHK besar-besaran.

Gejala yang bisa dilihat untuk menandai adanya overinvestment adalah jatuhnya laba atau bunga. Jatuhnya indeks harga saham global merupakan salah satu indikator jatuhnya laba. Jatuhnya suku bunga deposito bank juga bisa menjadi indikator adanya overinvestment. Tentu yang dimaksud dengan jatuhnya suku bunga deposito ini bukan berarti suku bunga turun mendekati nol persen, tetapi secara riil mendekati nol atau minus karena sama atau lebih kecil dari tingkat inflasi. Di Indonesia meskipun suku bunga deposito secara nominal masih tinggi tetapi bila dikoreksi dengan tingkat inflasi maka hasil riilnya nol. Beberapa bank malah bunga riilnya minus.

Karena akar permasalahannya adalah overinvestment maka solusinya tidak bisa diatasi dengan investasi ekonomi seperti pengucuran kredit perbankan ke berbagai bidang usaha. Suku bunga rendah di AS juga menjadi pemicu terjadinya bencana sub prime mortgage. Suku bunga rendah membuat banyak orang (rumah tangga) dan perusahaan berhutang. Kredit bank diobral.

Tidak hanya otoritas fiskal dan moneter yang tidak antisipatif terhadap overinvestment. Sebagian pengamat yang dikutip media konvensional (cetak) pun tak menyadari adanya overintvestment. "Namun, para pengamat memperkirakan, stimulus tidak akan mendorong pertumbuhan tanpa laju kredit yang memadai" demikian Kompas 8 Januari 2009 halaman 17.

Otoritas moneter kemudian merespon dengan akan merelaksasi sejumlah aturan untuk mendorong penyaluran kredit (Kompas 15 Januari 2009 hlm 19). Di tengah daya beli rakyat yang anjlok atau paling tidak belum pulih sepenuhnya, "investasi" seperti itu tetap saja riskan.

Overinvestment tidak bisa diatasi dengan investasi ekonomi. Membiarkannya saja memang bisa pulih dengan sendirinya, tetapi akan menyakitkan dan memakan korban dengan jangka waktu pemulihan yang tidak mudah diprediksi. Kalau biososioekonomi diterapkan tidak akan ada overinvestment.

Sayangnya tidak banyak media konvensional yang membicarakan biososioekonomi. Setahu saya hanya harian Suara Merdeka Semarang yang memberitakan paparan seminar saya di PUSTEP UGM November 2004. Tulisan saya yang saya kirim di media cetak tak pernah dimuat. Terakhir majalah HIDUP memang memuat surat pembaca saya pada edisi 11/01/2009 yang berkaitan dengan overinvestment dan biososioekonomi. Namun biososioekonomi, yang notabene adalah ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah, belum banyak dikenal dan didiskusikan. Apakah overinvestment ini akan dibiarkan memakan korban? Marilah kita menjadi negarawan dan anggota civil society yang baik. Civil society sudah menunjukkan tanda-tanda kesanggupannya untuk ikut mengatasi krisis ini. Tidak selayaknyalah kalau masih ada pihak-pihak atau anggota civil society yang lain yang menghambat upaya menyelamatkan orang-orang yang bakal terancam kelaparan karena termasuk kategori ninja (no income, no job dan no asset). Semoga diperhatikan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar