Minggu, 13 September 2009

Apakah Anda Akan Membuang Biososioekonomi Juga?

Saya tidak khawatir popularitas blog ini merosot. Tetapi saya was-was karena biasanya kalau biososioekonomi dibuang sering terjadi sesuatu seperti gempa bumi. Demikian pula hari Senin tanggal 7 September 2009, pagi-pagi saya melihat mesin penghitung kunjungan di blog ini, yang seperti gambar matahari, mencatat angka 4.226 yang berarti hanya meningkat 16 klik. Padahal biasanya di atas 20 klik per hari, bahkan pernah mencapai di atas 50 klik.

Hari itu di tengah rasa was-was, saya menyempatkan diri menonton film "Merah Putih" di Blok M Square yang berarti saya harus berada di lantai tinggi (5) di ruang gelap selama kurang lebih dua jam. Setelah pertunjukan selesai dan menginjak tanah saya bersyukur tidak terjadi apa-apa. Pulang nonton sebelum tidur saya meng-update status facebook saya dengan
doa rutin: Good night....."Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!" Demikian tercatat di status facebook saya jam 9:53pm.

Pagi hari saya membaca berita memang ada gempa di Wonosari DIY (http://m.kompas.com/news/read/data/200909.08.00310831) yang terjadi hari Senin 7 September jam 23:12 WIB. Hari Selasa pagi 8 September saya melihat mesin penghitung mencatat angka 4.244 yang berarti masih di bawah 20 klik. Rabu dini hari tanggal 9 memang ada gempa di Sulawesi Tengah (http://m.kompas.com/news/read/data/2009.09.09.04482662) dengan 6,0 skala Richter.

Saya meyakini bahwa aplikasi atau implementasi biososioekonomi akan membawa kepada kesejahteraan publik dan keseimbangan alam serta kelestarian lingkungan hidup. Kalau perjuangan damai mewujudkan biososioekonomi dalam aplikasi praktis berbangsa dan bermasyarakat menemui jalan buntu, saya menyerahkannya pada TUHAN apa yang akan terjadi. Sementara itu secara pribadi saya tetap pada komitmen saya untuk menjalankan dharma ksatria seperti yang saya jelaskan dalam postingan terdahulu:"Dharma Ksatria: Antara Satrio Piningit dan Ksatria Luhur."

Hal seperti ini pernah saya tulis dalam naskah buku saya "Wahyu untuk Rakyat" edisi kedua di bagian penutup. Saya tulis tanggal 12 Februari 2007. Karena "Wahyu untuk Rakyat" edisi kedua tidak banyak beredar maka saya posting selengkapnya di blog ini. Berikut ini kutipan selengkapnya.

Salah satu ciri perekonomian konvensional (neo klasik atau keynesian-pen) yang harus diwaspadai oleh para pemangku kepentingan publik adalah harga komoditas atau instrumen investasi yang bisa melambung tinggi di atas nilai fundamentalnya. Properti mengalami bubble price kemudian jatuh menjadi krisis ekonomi. Demikian juga dengan saham dan mata uang suatu negara. Itu semua terjadi karena investasi besar-besaran dan terus menerus yang tidak diimbangi dengan pengeluaran laba dari sistem ekonomi dalam jumlah yang memadai. Ketika minyak mentah dijadikan instrumen investasi atau spekulasi, nasibnya sama dengan saham atau properti. Ketika harga minyak mentah melambung tinggi maka hal ini akan memberikan dampak bagi hajat hidup orang banyak, yakni menyengsarakan konsumen yang notabene adalah rakyat kebanyakan.

Dalam kondisi seperti itu seharusnya keseimbangan yang ditawarkan oleh teori biososioekonomi mendapat tempat yang semestinya sehingga bisa menyejahterakan semua orang tanpa gejolak harga minyak, properti, valas, ataupun siklus bisnis yang bergelombang tajam sehingga pernah menimbulkan depresi besar seperti terjadi di AS tahun 1930-an. Meskipun pemerintah dan Bank Indonesia mempunyai peran strategis untuk menyejahterakan rakyat, namun beban itu tidak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada pemerintah siapapun presidennya Kita akan selalu mengalami kesulitan dalam menyejahterakan rakyat manakala hukum biososioekonomi diabaikan. Sebaliknya dari pihak pemerintah_apalagi kalau pernah berjanji menyejahterakan rakyat_perlu lebih peduli dengan mereka yang lapar dan miskin dengan bekerja sama dengan society.

Teori ekonomi konvensional tidak bisa menyelesaikan semua persoalan secara serentak. Pada saat inflasi teratasi, sektor riil terpuruk, kemiskinan dan pengangguran merajalela. Pada saat perekonomian dikatakan membaik, lingkungan hidup hancur bencana datang silih berganti. Dengan diterapkannya biososioekonomi pemasukan bagi pemerintah-masyarakat juga meningkat, yang pada gilirannya akan meningkatkan asetnya. Kesejahteraan dan kelestarian lingkungan hidup bisa berjalan bersamaan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi dengan perekonomian konvensional.

Prof. Dr. Mubyarto (alm) mengatakan bahwa Ekonomi Pancasila memang tidak mudah diterapkan. Demikian juga saya mengakui bahwa biososioekonomi memang tidak mudah diterapkan. Dari perkenalannya dengan beliau, saya mendapatkan berbagai buku tentang ekonomi antara lain Gagasan Besar Ekonomi dan Kemajuan Kemanusiaan: Antara Ilmuwan dan Seniman Ekonomi. Dari buku itu saya mengetahui perjuangan para pemikir ekonomi memang sangat berat bahkan dicemooh dan diremehkan. Dengan memberi buku itu seolah-olah beliau mengatakan kepada saya: "Perjuangan Anda akan berat, tetapi jangan berkecil hati. " Buku itu memberi manfaat bagi saya.

Saya tidak gentar untuk menghadapi rintangan, terlebih-lebih ketika bekal spiritual telah saya peroleh dengan memadai, terutama sejak 4 Juli 2002 ketika saya akhirnya mengenal diri saya secara penah seperti yang saya ceritakan pada bagian depan buku ini. Benar bahwa sebagai sebuah teori ilmiah, biososioekonomi terbuka terhadap kritik, koreksi, maupun perbaikan. Bekal spiritual hanya digunakan bila biososioekonomi dihambat dipublikasikan atau dihambat diaplikasikan. Bekal spiritual tidak digunakan untuk mengintimidasi pihak pengkritik.

Bekal spiritual itu bisa menghindari tindak kekerasan dan anarki. Revolusi sosial ala komunis, revolusi Perancis, atau perampasan ala Robin Hood harus dikubur dalam-dalam karena tidak relevan lagi. Gusti ora sare, Tuhan tidak tidur. Dia tetap peduli kepada mereka yang lapar, miskin, dan tertindas. Oleh karena itu seperti ditulis oleh Kusumo Lelono dalam bukunya Satrio Piningit (hlm 40-41) rakyat harus tetap sabar menunggu anugerah kasih sayang Tuhan yang sebenarnya.

Aplikasi biososioekonomi itu memang tidak menggunakan hukum positif negara untuk melarang pewarisan kekayaan, tetapi dengan empat cara seperti yang telah saya kemukakan dalam buku ini yaitu: 1)kesadaran masing-masing individu 2)tekanan institusi agama pada umatnya masing-masing 3)norma atau etika sosial 4)kontrol oleh masyarakat konsumen. Itulah cara-cara nonviolence agar biososioekonomi bisa siterapkan. Dengan cara-cara itu semua orang apapun latar belakang kebangsaan, agama, atau budayanya bisa ikut berpartisipasi menyejahterakan rakyat melalui biososioekonomi tanpa takut dituduh genit. Bahkan orang yang cenderung ateis pun bisa berpartisipasi. Namun apabila belum banyak pihak yang bergabung menyejahterakan rakyat melalui biososioekonomi saya tetap tidak berkecil hati.

Sebelum tulisan ini saya tutup ijinkanlah saya membagikan pengalaman saya dalam memperjuangkan biososioekonomi, dimana saya merasakan dukungan Tuhan yang nyata dalam perjuangan saya. Pada tanggal 21 November 2003 setelah lelah memperjuangkan publikasi biososioekonomi, saya menulis suatu surat keprihatinan. Dalam surat itu saya katakan bahwa apabila keempat cara-cara nonviolence di atas gagal maka kemungkinan besar Tuhan marah dan menjatuhkan tulah-Nya ke bumi secara kasat mata.

Ada beberapa kelompok kategori orang yang akan terkena tulah Tuhan. Sebelumnya saya mohon maaf, kategori ini terpaksa saya sebut dalam sharing ini bukan untuk meresahkan publik, tetapi dengan maksud agar mereka berubah tidak melakukan hal-hal yang membuat Tuhan marah. Kategori itu adalah 1) mereka yang menerima atau mewariskan kekayaan berjumlah besar 2)pemimpin agama dari agama manapun yang tidak mencegah pewarisan kekayaan berjumlah besar 3) mereka yang menggunakan kekerasan dengan mengatasnamakan pemerintahan Tuhan 4)media massa yang mengabaikan biososioekonomi 5)mereka yang mengkorupsi kekayaan daur ulang (pejelasan: mengenai kategori 5 ini sudah saya perjelas dan saya perbarui serta dapat dilihat dalam postingan "Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa..." di blog ini). Satu bulan 5 hari setelah saya menulis surat keprihatinan yang saya kirim ke suatu media komunitas itu, pada tanggal 26 Desember 2003 gempa besar terjadi di Iran dengan korban meninggal lebih dari 30.000 orang. Persis satu tahun kemudian tsunami menimpa Asia, beberapa korban di antaranya adalah puluhan wartawan media cetak.

Sesaat setelah tsunami Aceh ada yang meramalkan bahwa Yogya akan terkena bencana. Namun saya tidak mempercayainya karena menurut saya belum ada alasan Yogya terkena "pukulan." Baru setelah situs PUSTEP-UGM yang memuat tulisan saya default, saya memberi peringatan pada dua orang adik saya
Dan seorang teman asal Yogyakarta. Pada tanggal 14 Maret 2006 saya mengirim sebuah artikel ke salah satu media di Yogyakarta. Dalam bagian terakhir artikel saya itu saya mengatakan:

"Inilah catatan kecil atas GSB (Gerakan Sosial Baru) dan GSC (Global Civil Society). Dunia lain yang lebih baik memang sangat mungkin. Tetapi rasa-rasanya tidak mungkin tanpa daur ulang kekayaan dan paradigma baru demokrasi ekonomi. Demokrasi politik saja tidak cukup. Lihatlah Indonesia dan Filipina yang demokrasi politiknya berjalan (paling tidak demokrasi politik prosedural) tetapi rakyatnya sengsara. Memberhentikan presiden sebelum akhir masa jabatannya tidak akan mengubah nasib rakyat secara nyata. Bagi rakyat yang dibutuhkan adalah daur ulang kekayaan. Kasus rakyat Indonesia dan Filipina yang sengsara adalah batu ujian bagi GSB dan GCS. Apakah pelaku GSB dan GCS mau terbuka dan mau mengakomodasi daur ulang kekayaan individu dan bioekonomi yang notabene adalah ilmu ekonomi masyarakat atau tetap pada habitus lama yang sekedar memberi remah-remah kepada rakyat Indonesia dan Filipina? Remah-remah itu bernama derma atau pajak yang paling-paling besarnya hanya 20%. Itupun masih dipotong untuk membayar utang negara."

Kata "batu ujian" sengaja saya tulis dengan kesadaran agar menjadi peringatan kepada semua pihak supaya tidak main-main dengan biososioekonomi. Orang-orang bijak ribuan tahun yang lalu telah memperingatkan bahwa batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru, hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Siapa yang tertimpa akan hancur dan yang tersandung akan jatuh. Dan saya yakin dewan redaksi yang sedang menghakimi tulisan saya itu mengenal peringatan itu dengan baik.

Pada tanggal 2 Oktober 2006 saya membuat surat keprihatinan lagi, kali ini saya sebarkan kepada wartawan dari berbagai media termasuk majalah berbahasa Jawa. Dalam surat keprihatinan dan peringatan kedua ini saya mengingatkan sekali lagi apabila teori biososioekonomi dianiyaya_publikasi atau aplikasinya dihambat_Tuhan akan marah. Mereka yang memperoleh warisan atau mewariskan kekayaan berjumlah besar akan terkena kemarahan Tuhan yang dijatuhkan ke bumi sehingga terlihat mata.

Dalam surat keprihatinan itu pula saya sebutkan tempat-tempat yang kemungkinan akan terjadi sesuatu antara lain Taipei. Setelah surat keprihatinan itu saya sebarkan, beberapa kejadian memang menjadi kenyataan, antara lain yang patut dicatat adalah gempa Taiwan 26 Desember 2006. Gempa itu memang tidak menelan korban sedahsyat tsunami 26 Desember 2004, tetapi membuat jaringan internet terganggu.

Dari pengalaman dan tanda-tanda itulah saya yakin bahwa Tuhan akan marah. Hanya saja hari H yang dahsyat yang akan menjadi titik balik menuju jaman baru yaitu jaman keemasan tidak akan terduga sebelumnya. Menurut hemat saya hari H yang dahsyat itu tidak terlalu selektif sehingga mereka yang tidak pantas dihukum pun mungkin akan kecipratan getahnya. Bagi kita yang tidak melakukan kelima hal yang membuat Tuhan marah seperti saya tulis di atas, tetap juga perli berjaga-jaga. Suatu harapan dan doa yang telah ditulis ribuan tahun yang lalu bisa dijadikan pegangan untuk didaraskan: "Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran!"

Benar tidaknya apa yang saya katakan ini waktu yang akan membuktikannya dan itu akan terlihat di bumi. Kita sedang berbicara jaman keemasan di bumi yang tampak oleh mata, bukan berbicara mengenai akhirat yang tak tampak oleh mata sebelum kita sendiri mati. Kalau masih ada yang ingin membuang teori biososioekonomi, silakan saja. Kita lihat siapa yang akan hancur.

Jakarta 12 Februari 2007

Demikian tulisan saya pada bagian penutup naskah buku "Wahyu untuk Rakyat." Saya merumuskan teori ekonomi makro biososioekonomi dengan tujuan agar diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sehingga tercapai masyarakat yang adil dan sejahtera. Kalau saya mepublikasikannya juga dengan maksud itu, bukan dengan maksud agar TUHAN menjatuhkan hukuman ke bumi. Kalau cara-cara damai di atas gagal, semuanya saya serahkan kepada TUHAN apa yang akan terjadi. Sementara saya tetap pada komitmen saya untuk menjalani dharma ksatria seperti saya tulis di bagian pengantar postingan ini. Apakah Anda akan membuang biososioekonomi juga?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar