Kamis, 03 September 2009

Gempa, Facebook, dan Doa Raja Daud

Pengalaman gempa bumi 02/09/2009 termasuk pengalaman yang agak menegangkan bagi saya. Saat itu saya berada di kantor di lantai tiga sendirian, saat yang lain berada di lantai dua dan satu. Saya sedang terlibat negosiasi serius melalui fasilitas paging dengan rekan di lantai dua. Di tengah pembicaraan itu terucap dari mulut saya: "hish...hish..hish..." Dalam pikiran saya ini gempa, sementara rekan saya belum sadar. Pembicaraan berlanjut beberapa detik lagi sampai selesai. Setelah itu saya turun sambil berdoa:"Ya TUHAN, berilah kiranya keselamtan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!"

Hari itu tanggal 02/09/2009 ada sesuatu yang penting yang perlu saya tulis di status facebook-ku di pagi hari. Hujan yang terjadi di pagi itu menginspirasi untuk menulis sesuatu yang penting itu. Hal itu merupakan kelanjutan dari apa yang saya tulis di status facebook-ku pagi hari sebelumnya. Inilah yang tertulis di statusku sebelumnya (01/09/2009): "Mencorong tetapi tidak sombong, menyisakan ruang dan waktu bagi yang lain untuk tampil, tidak pernah memonopoli angkasa raya. Tahu diri kapan life cycle-nya. Ada saatnya tenggelam ada saatnya TERBIT!! (filsafat matahari). Selamat pagi teman2, selamat BERAKTIVITAS & BERPROSES semoga TUHAN memberkati :)"

Maka sehari kemudian, pada pagi hari, saya tulis dua status berurutan supaya keduanya mudah dibandingkan dan dibaca lengkap.

Inilah yang saya tulis tanggal 02/09/2009:
"Malam dan hujan adalah bagian dari siklus kehidupan. Merpati tak pernah ingkar janji, mentari tidak pernah memonopoli. Selamat pagi teman2, selamat beraktivitas dan berproses. GBU all"

Beberapa detik sebelumnya saya tulis distatusku:
"Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka (Sabda Tuhan)
Jaman keemasan diawali dg munculnya matahari kembar (ramalan Jawa)
'Ya TUHAN berilah kiranya keselamatan!Ya TUHAN berilah kiranya kemujuran!' (Doa Raja Daud doa kita)"

Demikian saya tulis di statusku. Mengenai doa Raja Daud itu pernah saya tulis di blog ini pada postingan yang berjudul "Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa..." Doa itu saya tambahkn dalam doa harian saya dan saat-saat menegangkan seperti gempa bumi 2 September itu.

Setelah menulis ucapan syukur atas lindungan TUHAN di dalam facebook, saya melihat di facebook ada orang yang anti Pancasila menentang komentar saya yang pro Pancasila. Komentar anti Pancasila itu diposting jam 1:24 pm tanggal 02/09/2009, sekitar satu jam sebelum gempa . Belakangan memang orang itu minta maaf.

Hari itu tanggal 2 September 2009 aneka perasaan dan pengalaman saya temui. Melalui postingan ini saya mengucapkan: "Turut berduka cita atas bencana alam gempa bumi Tasikmalya 02/09/2009, semoga yang meninggal beristirahat dalam damai TUHAN, yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan, yang terluka segera disembuhkan dan dipulihkan. TUHAN memberkati tangan-tangan yang menolong korban, Amin"

Selain meningkatkan kemampuan ilmiah mendeteksi bencana yang merupakan wewenang BMKG, kita masing-masing orang mungkin perlu meningkatkan kepekaan spriritual. Kepekaan spiritual mungkin subyektif tetapi kalau untuk dipakai pedoman bagi diri sendiri hal itu tidak salah. Apa yang dirasakan oleh kepekaan spiritual sering sulit dirumuskan dengan kata-kata secara tepat. Merasa tetapi sulit mengatakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar