Kamis, 24 September 2009

"Sihir" di Balik Kata-kata "Pertumbuhan Ekonomi"

Banyak pejabat atau ekonom yang menilai pemulihan ekonomi didasarkan pada angka pertumbuhan ekonomi semata seperti tercermin dalam beberapa pemberitaan akhir-akhir ini. Dalam Kompas Mobile 22/09/2009, 16:25 WIB (http://m.kompas.com/news/read/data/2009.09.22.16254238) disebutkan (sebagai judul): "Perekonomian Asia ternyata Lebih Tahan Krisis." Sementara itu untuk berita yang sama, Detik Mobile menyajikannya dengan judul "ADB Naikkan Pertumbuhan Ekonomi Asia jadi 3,9%" (http://m.detik.com/read/2009/09/22/173020/1207857/4/adb-naikkan-pertumbuhan-ekonomi-asia-jadi-39). Detik mengutip Chief Economist ADB Jong-Wha Lee: "Meski kondisi ekonomi global masih kurang baik, negara berkembang di Asia justru memimpin pemulihan dari perlambatan ekonomi dunia."

Sementara itu dalam berita lain disebutkan: "Nilai saham AS di Wall Street naik ke angka tertinggi baru pada 2009, di tengah pulihnya optimisme pemulihan ekonomi dan prospek pendapatan perusahaan. Hal itu berlangsung karena pembuat kebijakan Federal Reserve, bertemu untuk meninjau langkah-langkah yang ditujukan guna memulihkan pertumbuhan ekonomi" (http://m.kompas.com/news/read/data/2009.09.23.07180028).

Patut disayangkan kalau banyak orang "tersihir" oleh kata-kata "pertumbuhan ekonomi" termasuk kata-kata "pertumbuhan ekonomi berkelanjutan" sehingga kehilangan daya kritis atau akal sehat. Dalam Kompas Cetak 28/02/2008 hlm 8 disebutkan dana perusak perekonomian besarnya mencapai 516 triliun dollar AS, sementara total PDB global 48 triliun dollar AS. Bagi banyak orang sering kaget dengan data seperti itu, mengapa PDB global begitu kecil di hadapan dana perusak. Akan tetapi bagi yang memahami biososioekonomi atau paling tidak memahami dan menguasai konsep PDB, statistik, matematik dan akuntansi seharusnya tidak kaget membaca data seperti itu. Konsep PDB dan pertumbuhannya sudah saya bahas dalam blog ini. Sementara dalam postingan kali ini saya ringkaskan bahwa PDB atau GNP sekalipun adalah total pendapatan individual tahunan. Maka di dalam suatu populasi ada sekelompok orang yang pendapatannya kurang atau pas-pasan sehingga habis dikonsumsi sementara ada kelompok lain yang pendapatan tahunannya berlebihan sehingga terakumulasi menjadi aset dan modal. Hal ini tidak tercermin dalam angka PDB. Maka sebenarnya pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan PDB itu tidak akan otomatis memperbaiki ekonomi publik dan ekonomi rakyat kebanyakan.

Dalam kondisi seperti itu turbulensi ekonomi, keuangan, atau berlanjutnya kesengsaraan (beban) rakyat masih akan terjadi. Oleh karena itu saya berharap kepada semua pihak agar jangan sampai terkena "sihir" kata-kata pertumbuhan ekonomi bahkan yang diberi tambahan "berkelanjutan" sekalipun. Ada suatu hal yang harus diperhatikan seperti saya nyatakan dalam postingan terdahulu, pastikan bahwa sistem mampu membayar kewajibannya. Melalui postingan ini saya berharap agar kita semua menjadi anggota masyarakat dan negarawan yang baik yang peduli pada kepentingan publik. Saya akan tetap menjalankan dharma ksatria seperti saya jelaskan dalam postingan yang berjudul:"Dharma Ksatria: Antara Satrio Piningit dan Ksatria Luhur. "




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar