Rabu, 17 Februari 2010

Kelahiran Adalah Hutang Yang Harus Dibayar dengan Kematian

Judul di atas sepertinya mengerikan. Namun di balik kesan yang mengerikan itu terkandung kebenaran yang dalam. Rutinitas seseorang yang mekanistis sering membuat orang tersebut tidak menyadari kesejatian hidup yang mendalam, bahkan cenderung mengabaikannya begitu saja meskipun muncul di depan mata hidungnya.

Saya mengambil judul di atas dari rumusan dasar teori ekonomi makro biososioekonomi. Kalau pertumbuhan penduduk lebih dari nol persen atau dengan kata lain jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian maka alam akan mengalami peningkatan beban. Kalau hal tersebut berlangsung terus menerus maka lama kelamaan beban itu tak tertanggung, terjadi over populasi penduduk bumi. Alam mengoreksinya dengan kematian massal oleh bencana kelaparan atau bencana lain. Koreksi semacam itu tentu kurang manusiawi. Koreksi yang manusiawi tanpa bencana/kekerasan adalah dengan pembatasan kelahiran baik dengan negative population growth atau zero population growth. Negative population growth (setiap keluarga maksimum mempunyai satu anak) akan mengurangi jumlah penduduk bumi secara manusiawi tanpa kematian masal. Sementara itu zero population growth akan memertahankan jumlah penduduk bumi tidak bertambah.

Dengan program zero population growth dan zero GDP (gross domestic product) growth sebagaimana disarankan teori ekonomi makro biososioekonomi maka alam akan terjaga keseimbangannya. Memang karena dinamika perkembangan teknologi akan sulit mengendalikan pertumbuhan GDP nol persen per tahun selama bertahun-tahun dalam jangka waktu panjang. Akan tetapi tetap harus diupayakan pertumbuhan GDP (dalam paradigma biososioekonomi pertumbuhan GDP nol persen bukan berarti krisis) itu mendekati nol persen agar keseimbangan terjaga.

Dari rumusan dasar teori ekonomi makro biososioekonomi itu muncullah daur ulang kekayaan individu untuk menjaga keseimbangan makro ekonomi. Prinsip daur ulang sebenarnya suatu keniscayaan dalam dunia yang terbatas. Kalau dunia ini tidak terbatas maka tidak ada kematian. Kematian adalah cara alam menjaga keseimbangannya. Prinsip daur ulang sebenarnya sudah diterapkan pada beberapa kasus seperti industri besi (logam) bahkan salah satu pabrikan telepon seluler melakukannya. Prinsip daur ulang bukan prinsip yang aneh, teori biososioekonomi merumuskannya dengan jelas. Dengan kematian dan pembusukan, tubuh manusia didaur ulang untuk menjadi pupuk dan diproses lagi menjadi bahan organik oleh tanaman dengan bantuan sinar matahari dan klorofil. Pembusukan tubuh manusia mungkin suatu fakta yang mengerikan, akan tetapi seperti itulah kebenaran dalam keterbatasan/kefanaan.

Yang paling penting dalam menghadapi kebenaran itu adalah cara manusiawi non bencana untuk menjaga keseimbangan alam tanpa kematian massal. Pembatasan kelahiran adalah adalah cara yang lebih manusiawi dari pada kematian massal. Itulah rekomendasi teori ekonomi makro biososioekonomi.

Gempa bumi Haiti 12 Januari 2010 satu bulan lalu patut dijadikan refleksi. Gempa yang menelan korban meninggal kurang lebih 200.000 orang itu seharusnya menyadarkan kita agar melakukan upaya serius mencegah over populasi penduduk bumi agar alam tidak menanggung beban yang terlalu berat sehingga alam tidak mengoreksinya dengan kematian massal. Memang pembatasan kelahiran pernah ditentang kaum agamawan, tetapi cara seperti itu tetap lebih manusiawi dari pada kematian massal akibat bencana.

Meskipun rumusan dasar biososioekonomi mirip atau sebangun dengan "rumusan" Alkitab seperti "upah dosa adalah maut" atau "tujuh ekor lembu kurus menelan tujuh ekor lembu gemuk" akan tetapi pengalaman saya dalam memperjuangkan biososioekonomi menununjukkan bahwa partisipasi dan perhatian rohaniwan, pejabat gerejawi, atau lembaga di lingkungan Gereja Katolik sangat kurang dalam menyebarluaskan teori ekonomi makro biososioekonomi itu. Partisipasi besar ditunjukkan orang Jawa. Semoga gempa Haiti yang antara lain menelan korban seorang uskup itu bisa membuka mata rohaniwan atau agamawan (agama apapun) untuk mau berdialog dengan ilmu pengetahuan.

Saya pribadi berpendapat bahwa di balik rumusan dasar teori ekonomi makro biososioekonomi yang tampak mengerikan itu terdapat titik temu antara yang rasional dengan yang spiritual. Saya berpendapat bahwa pembatasan kelahiran adalah cara yang lebih manusiawi dari pada kematian massal. Dan saya pribadi tetap berpendapat bahwa triple six yang akan mendapat hukuman Tuhan itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan (atau kekuasaan) berlimpah. Pewarisan kekayaan berlimpah itulah yang ditentang teori ekonomi makro biososioekonomi. Semoga dimengerti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar