Rabu, 10 Februari 2010

Enak di Lu, Gak Enak di Kita!! ( Sebuah Pelajaran Kecerdasan Finansial untuk Publik)

Sesuai janji saya beberapa waktu lalu maka postingan saya kali ini adalah suatu pelajaran mengenai kecerdasan finansial. Postingan ini saya maksudkan agar para pemangku dan pembela kepentingan publik (dan rakyat) menjadi memiliki kecerdasan finansial sehingga dalam kebijakan dan tindakannya tidak semakin merugikan atau membebani publik (rakyat kebanyakan) secara berkepanjangan.

Salah satu pelajaran yang menarik dari Robert T Kiyosaki adalah mengenai kecerdasan finansial (untuk individu). Pelajaran itu menyangkut suatu hukum atau "permainan" yang prinsipnya adalah: "siapa membayar hutangnya siapa" atau "siapa menanggung bebannya siapa" atau "siapa membayar liability-nya siapa" sedemikian sehingga individu/rumah tangga tidak dirugikan, asetnya terus meningkat.

Untuk memiliki kecerdasan finansial itu, kita perlu memahami hukum akuntansi. Postingan saya yang berjudul: "Cara Mudah Belajar Ekonomi (1)" yang saya posting beberapa bulan lalu bisa dipakai sebagai pedoman. Pada intinya kita perlu mengetahui suatu hukum bahwa pemasukan bagi pihak satu bisa berarti pengeluaran bagi pihak lain, efisiensi bagi pihak satu bisa berarti pemborosan bagi pihak lain demikian juga suatu aset bagi pihak satu bisa berarti liability bagi pihak lain.

Robert T Kiyosaki memulai pelajarannnya dengan menjelaskan definisi aset. Dia mendefinisikan kekayaan dengan tepat dan sangat bagus yaitu:"jumlah hari dimana Anda bisa bertahan hidup tanpa bekerja secara fisik (atau tanpa siapapun dalam keluarga Anda bekerja secara fisik) dan tetap mempertahankan kehidupan Anda." (Robert T Kiyosaki, 2001, hlm 48. The Cashflow Quadrant, Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial, Gramedia Pustaka Utama ). Jadi, dengan kata lain kekayaan adalah sesuatu yang bisa "menghasilkan" waktu, bukan "memerlukan" waktu, bukan menghasilkan kewajiban. Misalnya kita memiliki tabungan pribadi sebesar Rp 15.000.000,- dan biaya hidup kita Rp 1.500.000,- per bulan berarti kekayaan kita 300 hari atau sepuluh bulan. Sementara itu seorang karyawan berusia 25 tahun yang baru saja menerima surat pengangkatan sebagai karyawan tetap, bukan berarti memiliki kekayaan 30 tahun, kalau peraturan usia pensiunnya 55 tahun. Surat pengangkatan itu bukan "menghasilkan" waktu tetapi menghasilkan kewajiban karena kalau karyawan tersebut tidak bekerja satu bulan saja pasti dipecat. Demikian juga kalau lima tahun setelah bekerja, karyawan tadi membeli rumah melalui KPR, maka rumah itu bukan aset karyawan tadi sepenuhnya tetapi 80% adalah aset bank pemberi KPR (kalau karyawan tadi baru membayar 20%).

Pelajaran kecerdasan finansial untuk individu/rumah tangga mengajarkan orang untuk memperbesar aset dan sebisa mungkin membebankan kewajibannya kepada pihak lain. Prinsip dasar akuntansi dengan memanfaatkan neraca aset-liabilitas atau rekening T yang dipakai Kiyosaki untuk menjelaskan kecerdasan finansial individu bisa juga dipakai untuk menjelaskan kecerdasan finansial publik, tentu dengan penyesuaian sesuai sudut pandang kepentingannya yaitu publik.

Seperti dijelaskan teori ekonomi makro biososioekonomi, semua milik individu adalah liability bagi publik. Deposito atau tabungan pribadi kita adalah memang aset pribadi kita, tetapi itu adalah liability bagi publik atau secara makro karena sistem harus membayar bunga atau laba bagi tabungan itu. Pemasukan besar bagi publik (pajak, derma, dan daur ulang kekayaan pribadi) tidak secara otomatis akan membuat aset publik menjadi besar dengan sendirinya(apalagi kalau pemasukan itu rendah). Aset publik akan anjlok drastis kalau pemasukan publik yang besar tadi langsung dibagi-bagikan pada orang per orang. Peristiwa seperti ini dalam paradigma biososioekonomi dikatakan sebagai pemasukan dengan "decomposition time nol" atau distribusi sesaat. Untuk menghasilkan aset bagi publik pemasukan publik yang besar tadi harus didistribusikan dengan decompositon time yang memadai (kurang lebih antara 30-40 tahun agar seimbang dengan accumulation time-nya). Jadi, dalam ranah publik pun aset adalah yang menghasilkan waktu yaitu decomposition time. Selama decomposition time itulah kekayaan daur ulang dipakai untuk membayar kewajiban sistem secara makro yaitu bunga, laba, dan jaminan sosial (pendidikan, kesehatan, dan foodstamps, dll).

Para pejabat publik dan pembela kepentingan publik harus bisa membaca arah, ke mana orang-orang kaya raya (terutama yang masuk kategori triple six atau kaya dari warisan) mau membebankan bebannya. Seringkali dalam berbagai krisis negara dan publik harus menanggung beban yang tidak semestinya ditanggung. Bahkan dilakukan dengan berhutang. Paradigma ini salah karena seharusnya yang menanggung krisis atau beban itu bukan publik (rakyat kebanyakan) atau negara tetapi mereka yang kekayaannya masuk kategori triple six (kekayaan melimpah dari warisan) sesuai dengan rumusan dasar teori ekonomi makro biososioekonomi:"kelahiran adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian"

Pejabat dan pembela kepentingan publik yang memiliki kecerdasan yang cukup dan kejujuran yang baik seharusnya bisa memahami pelajaran kecerdasan finansial publik ini. Mereka bisa mencamkan dalam hati apa yang seharusnya dilakukan untuk publik antara lain dengan sikap tegas: "Enak di lu, gak enak di kita!" kepada triple six yang tidak membayar kewajibannya. Ekonomi publik itu sederhana sebenarnya, semua orang harus tahu itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar