Selasa, 19 April 2011

Yesus dan Politik

Hari Minggu 17 April umat Kristiani sedunia merayakan Minggu Palma mengenang sebuah peristiwa ketika Yesus Kristus dielu-elukan rakyat memasuki kota Yerusalem. Dalam tradisi Katolik, ibadah Minggu Palma diikuti dengan pembacaan kisah sengsara-Nya. Peristiwa Yesus Kristus memasuki kota Yerusalem adalah suatu peristiwa di mana hidup Yesus bersentuhan dengan politik yaitu dengan kekuasaan dan rakyat.

Dalam tulisan yang berjudul "Yesus dan Politik" karya B.A. Pareira, OCarm (salah satu artikel dalam buku Yesus dan Situasi Jaman-Nya, Frans Harjawiyata, OCSO_editor_Kanisius, 1998) dikatakan:"Dia bukan seorang politikus. Benar! Yesus tidak berkecimpung dalam urusan pemerintahan. Akan tetapi, ada suatu hal yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Yesus dihukum mati oleh pemerintah Romawi sebagai seorang penjahat Politik. Semua penginjil mengatakan hal itu: 'Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: Inilah Raja orang Yahudi' (Mat 27:37; bdk, Mrk 15:26, Luk 23:28, Yoh 19:19-22)" (hlm 59-60).

Persentuhan Yesus dengan politik memang tak terhindarkan karena karya-Nya langsung bersentuhan dengan rakyat melalui penyembuhan dan penggandaan roti serta ikan untuk memberi makan orang banyak di satu sisi dan di sisi lain berhadapan dengan aneka macam penindasan yang dilakukan penguasa, serta berhadapan dengan penguasa yang takut kehilangan kekuasaan dan popularitas.

Karena karya-karya-Nya itu Yesus pernah dipakasa menjadi raja dalam pandangan rakyat namun Ia menolak permintaan itu. Dia lebih senang menyampaikan dan menjalankan kebenaran dari pada mendapatkan kedudukan dan kenikmatan duniawi. Diurapi menjadi Mesias (imam, nabi, dan raja sekaligus) ataupun sekedar diurapi manjadi raja (di bawah Mesias) berarti harus menjalani banyak pantangan, suatu kritik atas kerajaan Israel di mana diurapi menjadi raja (pada jaman Saul dan Daud) berarti menduduki kedudukan sebagai raja seperti raja pada bangsa-bangsa lain.

Persentuhan Yesus dengan politik (rakyat dan kekuasaan) bukan hanya terjadi karena karya penyembuhan dan penggandaan roti-ikan sebagaimana disinggung dalam tulisan B.A. Pareira, OCarm di atas tetapi juga mengenai ajaran-Nya untuk berbagi. Sering kita baca, dalam Alkitab, kata-kata Yesus: "Juallah segala milikmu dan bagi-bagikanlah itu kepada orang miskin.." Kita tidak pernah menemukan ajaran Yesus Kristus dalam Injil bahwa kalau berbagi harta cukup 1% atau 10% saja. Jadi, menurut Yesus kalau berbagi harta itu harus mendekati 100%. Karena ajaran yang dianggap radikal ini Yesus tidak hanya berhadapan dengan penguasa keagamaan atau penguasa politik, tapi juga dengan pemilik modal. Sementara itu dalam Lukas 12:31-33 ajaran berbagi ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai "Kingdom of JHWH" sehingga persentuhan dengan politik tak terhindarkan.

Mengenai berbagi ini, parlu saya sampaikan sebuah catatan yang merupakan opini pribadi saya, menurut opini saya peristiwa berbagi memiliki dua dimensi atau dua sisi yaitu rohani dan duniawi (dalam arti kesejahteraan umum). Dalam dimensi rohani, berbagi harta harus dilakukan dengan kasih, kegembiraan, dan kerelaan. Sementara dalam dimensi kesejahteraan umum, berbagi harus bisa membawa rakyat kepada kesejahteraan umum tidak peduli apakah orang yang membagikan hartanya masuk sorga atau tidak. Yesus Kristus bisa menyampaikan atau menghadirkan dua dimensi ini sekaligus karena kapasitasnya sebagai Mesias yaitu sebagai imam, nabi, dan raja sekaligus. Namun untuk pekerja dibawah-Nya perlu ada pembagian peran atau tugas dimana dimensi rohani ditangani oleh rohaniwan atau institusi keagamaan dan dimensi duniawinya oleh orang/institusi lain yang tidak boleh menjadi sub ordinat institusi keagamaan. Mengapa? Karena kalau menjadi sub ordinat institusi keagamaan maka kesejahteraan umum akan selalu dikalahkan dengan suatu dalih-dalih seperti ini: (1) umat/rakyat relanya hanya membagikan 1% dari hartanya (2) hidup di dunia hanya sementara (biarkan orang miskin tetap miskin) (3) mewariskan kekayaan berlimpah kepada anak-cucu adalah bagian dari kasih. Dengan unit kerja yang otonom maka kesejahteraan umum bisa diwujudkan karena divisi (unit kerja) kesejahteraan umum berani menentang dan mengkritik dalih-dalih semacam itu selain itu juga karena memiliki akses ke media massa setara dengan institusi keagamaan sehingga terkspose dan tersebar.

Ada lagi hal yang menarik dari sabda Yesus untuk berbagi yaitu bahwa Yesus TIDAK mengatakan:"Juallah segala harta milikmu kemudian bawa kemari supaya Saya yang membagi-bagikan kepada orang miskin" Juga TIDAK mengatakan: "...bagikan kepada orang-orang miskin di negaramu." Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kalau berbagi harta harus mendekati 100% dan harta itu dibagikan ke seluruh dunia tanpa sekat-sekat negara dan sekat-sekat sektarian-primordial. Maka wajar kalau Yesus Kristus tidak mengikat Diri dalam kekuasaan politik pemerintahan tertentu.

Tidak mudahnya mengikuti ajaran berbagi Yesus Kristus bukan berarti tidak mungkin. Bagi kita yang memahami teori ekonomi makro biososioekonomi akan tahu bagaimana ajaran berbagi Kristus itu seharusnya diimplemantasikan. Sebagaimana Yesus Kristus, biosoioekonomi juga mengajarkan kalau berbagi harus mendekati 100%, hanya saja biososioekonomi mengambil dimensi kesejahteraan umumnya, bukan dimensi rohani dari peristiwa berbagi. Organisasi sosial konsumen yang inklusif bisa berperan mendistribusikan kekayaan daur ulang ke seluruh dunia tanpa sekat.

Kini kita seharusnya bisa memahami mengapa Yesus menolak menjadi raja dalam pandangan sebagian orang-orang Yahudi. Berbagi harta tidak boleh dibatasi sekat-sekat negara maupun sekat-sekat primordial-sekatarian lainnya. Bersentuhan dengan politik tidak berarti masuk dalam politik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar