Selasa, 12 April 2011

Kebiasaan Buruk Pegawai/Eksekutif?

Di lingkungan perusahaan swasta sering ada kejadian yang berkaitan dengan perilaku tertentu dari direktur pemasarannya. Direktur pemasaran yang meminta kenaikan anggaran pemasaran sering kali bukan berniat baik untuk memajukan perusahaan. Boleh jadi tindakan ditektur pemasaran itu sekedar menaikkan citra dirinya dengan meningkatkan penjualan secara instan kemudian pindah bekerja ke perusahaan lain dengan menawarkan diri sebagai eksekutif yang berhasil (tentu juga dengan meminta gaji yang lebih besar). Direktur pemasaran itu tidak peduli bahwa program pemasarannya hanya berorientasi jangka pendek, ia tidak peduli bahwa setelah itu penjualannya merosot karena tujuannya hanya mengangkat citra dirinya bukan memajukan perusahaan. Dewan komisaris yang cerdas dan jeli sering bisa mencium akal bulus direktur pemasarannya itu sehingga bisa menangani dan mencegahnya dengan bijaksana. Kejadian yang mirip itu bisa terjadi di pemerintahan.

Hari-hari terakhir ini di media terjadi kritik oleh tokoh lintas agama terhadap kebohongan pemerintah. Saya membacanya melalui share yang ada di account facebook saya. Perilaku buruk eksekutif swasta dengan akal bulusnya mungkin juga menjalar ke lingkungan pemerintahan dengan nuansa yang berbeda. Tebar pesona dan politik pencitraan adalah bahasa halus, bahasa lugasnya adalah kebohongan.

Rakyat pemilik kedaulatan harus jeli dan cerdas seperti dewan komisaris yang tidak mudah dibohongi direktur pemasarannya. Selain itu sistem demokrasi langsung memang memerlukan open society yaitu masyarakat terbuka yang percaya pada akal, memberikan kebebasan, dan adanya persaudaraan. Di dalam open society kebenaran atau potensi kebenaran harus dipublikasikan. Ketika kebenaran ditenggelamkan atau ditindas, rakyat bisa salah pilih.

Selain itu kita berharap banyak agar perilaku buruk pegawai/eksekutif segera ditinggalkan. Perilaku buruk itu adalah mencari dalih bukan mencari solusi, mengutamakan citra dan mengabaikan kerja nyata yang berorientasi pada keberhasilan. Pengalaman saya hidup berprofesi sebagai direct sales yang bukan pegawai menunjukkan bahwa sales associate yang berhasil adalah yang benar-benar bekerja bukan pura-pura kerja untuk cari muka, mencari solusi untuk membukukan transaksi penjualan bukan mencari dalih atas kegagalannya.

Semakin tinggi jabatan seseorang semakin tinggi tuntutannya Dituntut semakin dewasa untuk benar-benar bekerja dan berhasil mewujudkan janji kampanyenya, jangan bertindak dengan akal bulus untuk kepentingan diri dan kelompok. Semoga hal ini dipahami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar