Kamis, 16 Februari 2012

Semoga Semakin Banyak Orang Kaya Berbagi

Berikut ini saya kutipkan tulisan Abun Sanda yang berjudul "Berbagi itu Mulia" Tulisan ini tampil  di Kompas Cetak 13 Februari 2012 maupun versi online yaitu di http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/02/13/10111566/Berbagi.Itu.Mulia

KOMPAS.com - Apa makna hidup? Banyak pendapat tentang hal ini. Akan tetapi, satu di antaranya adalah berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Salah seorang terkaya di dunia, Warren Buffet, agaknya memahami benar makna hidup. Ia tidak hanya ingin berguna bagi dirinya, tetapi bagaimana dirinya berguna bagi orang lain. Ia memiliki pandangan yang lebih kurang sama dengan mendiang Rose Kennedy, yang dengan tegas menyatakan bahwa semua anggota keluarga Kennedy, pria-wanita, sehat-kurang sehat, harus berguna bagi Amerika Serikat dan dunia.

Bagi Warren Buffet, hidup ini baru sangat bermakna kalau kita bisa berbagi sebab berbagi itu mulia.

Warren Buffet yang selalu bergantian dengan Bill Gates menjadi orang terkaya di Amerika Serikat dan dunia, di antaranya menjadi pemilik Bank of America, Coca Cola, IBM, Colgate, Gillette, dan aneka usaha ritel. Kekayaannya antara 40 miliar dollar AS dan 50 miliar dollar AS. Hal yang mengesankan adalah ia menyatakan akan menyerahkan 80 persen dari kekayaannya kepada sebuah lembaga sosial yang dipelopori Bill Gates. Dua anaknya tidak perlu diberi banyak warisan agar mereka tetap memiliki kreasi, inovasi, serta membangun mental suka berbagi.

Bagi Warren Buffet, hidup ini baru sangat bermakna kalau kita bisa berbagi sebab berbagi itu mulia. Amerika Serikat, meski menjadi negara kaya, masih banyak warganya yang hidup serba miskin. Mereka tidur di taman, di bawah jembatan, di samping asrama mahasiswa, dan sebagainya. Banyak pula anak muda Amerika Serikat yang brilian sehingga perlu diberi anggaran lebih untuk membuat riset berkelas. Kelak riset mereka amat berguna bagi kemanusiaan dan kemajuan peradaban manusia.

Hal yang mengejutkan, lelaki kaya raya ini hidup amat sederhana. Meski seorang triliuner, ia kurang suka pesta dan enggan membuang uang percuma. Pakaian yang dikenakannya dari bahan sederhana, begitu pula sepatunya. Perabotan di rumahnya pun, seperti pernah ditulis beberapa media terkemuka di Amerika Serikat, terbuat dari "bahan biasa", tidak mencerminkan seorang triliuner dunia.

Dalam pengamatan Kompas, para usahawan besar yang membangun usahanya dari bawah tak sedikit yang mempunyai gaya hidup mirip Warren Buffet. Mereka ada yang hidup sederhana. Mereka mengganti mobil setelah menggunakannya enam sampai delapan tahun.

Rumah mereka pun umumnya sangat sederhana. Rumah mereka sama sekali tidak mencerminkan rumah orang yang sangat berada. Mereka lebih memilih menyumbang untuk tujuan sosial.

Mereka sangat unik. Beberapa eksekutif tingkat tinggi di perusahaan-perusahaan skala besar di Jakarta menuturkan, mereka kerap sungkan kalau datang ke rumah majikannya. Rumahnya ternyata jauh lebih mentereng dibandingkan dengan rumah majikannya. (Abun Sanda)

Kita mengapresiasi tulisan seperti ini dengan cara men-share-nya. Selain di account facebook saya, saya perlu men-share-nya di blog ini. Warren Buffet menyatakan akan membagikan 80% dari hartanya untuk sosial melalui sebuah yayasan. Sebagian besar hartanya tidak diwariskan kepada keturunannya sendiri. Semoga tulisan dan kisah seperti ini menginspirasi orang kaya lain untuk juga membagikan hartanya. Sehingga semakin banyak orang kaya yang berbagi, mendaur ulang kekayaan pribadinya dan tidak mewariskan sebagian besar kekayaannya itu untuk keturunannya sendiri.

Dalam postingan saya ini ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.

(1) Jumlah kekayaan yang sangat besar itu tentu memiliki dampak di sektor moneter dan riil sehingga perlu dikelola lebih baik. Dalam hal ini teori ekonomi makro biososioekonomi menawarkan suatu pengetahuan obyektif berdasarkan hukum alam mengenai akuntansi dan kelangkaan sehingga kekayaan yang dibagikan itu bisa bermanfaat bagi rakyat (publik) juga tidak memanaskan perekonomian. Jumlah kekayaan yang besar memang menuntut kita untuk memahami hukum alam biososioekonomi maupun Hukum II Termodinamika yang bekerja pada perekonomian. Misalnya, perlunya sebagian dana dihibahkan kepada Bank Sentral untuk memperkuat aset Bank Sentral sehingga Bank Sentral tidak perlu mencetak uang lagi (kalau pertumbuhan penduduk 0%). Selain itu juga perlu diperhatikan decomposition time-nya seperti yang disarankan teori ekonomi makro biososioekonomi sehingga selain aset publik terjaga juga terjadi sirkulasi kepemilikan yang sehat karena aset daur ulang seharusnya terdistribusi habis. Menurut biososioekonomi kakayaan daur ulang yang ada di yayasan pengelola tidak diputar menghasilkan laba atau bunga karena hal semacam ini akan memanaskan makro ekonomi. Bunga tabungan yang nyaris nol persen atau minus bila dikoreksi dengan inflasi mengindikasikan bahwa perbankan konvensional itu boros karena harus membayar bunga tabungan orang kaya yang tidak dihibahkan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa teori ekonomi makro biososioekonomi seharusnya menjadi landasan bagaimana kekayaan yang dihibahkan dikelola.

(2)Perlu diketahui bahwa di blog ini yang menjadi perhatian adalah kesejahteraan publik atau yang disumbang. Apakah orang kaya yang menyumbang masuk surga atau tidak itu bukan urusan blog ini, itu urusan pihak lain atau divisi lain bukan urusan saya. Demikian juga apakah orang menyumbang karena tulus atau karena ingin mendapat pujian bukan urusan blog ini.

Demikian postingan saya minggu ini semoga semakin banyak orang kaya yang berbagi harta menyamai atau melebihi Warren Buffet agar rakyat semakin sejahtera dan fundamental makro ekonomi semakin kokoh yang berarti juga makro ekonomi semakin stabil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar