Selasa, 28 Oktober 2008

Krisis Ekonomi: Perlu Kerjasama Pemerintah & Civil Society

Di tengah perayaan 80 tahun Sumpah Pemuda, rupiah melemah mendekati Rp 12.000 per dollar AS akibat sentimen negatif yaitu berita tumbangnya beberapa negara spt Pakistan, Turki, dan Islandia yang masuk IMF (Kompas Mobile 28/10/2008). Krisis global seharusnya bisa diantisipasi dan dicarikan solusinya yang mendasar. Kalau menggunakan cara berpikir akutansi, suatu unit ekonomi mengalami krisis karena pemasukannya kurang. Publik (=pemerintah dan society) sbg unit ekonomi mengalami krisis karena pemasukannya kurang. Dlm paradigma bioekonomi yg dimaksud pemasukan bagi pemerintah dan society bukanlah pendapatan individu seperti PDB tetapi ada tiga komponen yaitu pajak, daur ulang aset pribadi, dan derma. Yang dimaksud aset daur ulang adl aset pribadi yg tidak diwariskan kepada keturunan tetapi dihibahkan kepada publik. Apabila ketiga hal ini kurang maka krisis tetap berpotensi muncul. Perlu solusi
global untuk itu. Disarankan agar pemerintah selain memakai cara-cara konvensional juga memakai cara berpikir bioekonomi. Pemerintah perlu bekerjasama dengan pusat-pusat pengaruh dalam civil society baik nasional maupun global agar anggota masyarakat terutama yg berkelimpahan harta dari warisan (kategori triple six) mau meningkatkan etos sosialnya secara drastis. Manusia tidak hanya homo economicus tetapi juga homo socius yang rela kehilangan peluang meraih laba atau bahkan rela berkurang hartanya demi menanggung krisis. Beban krisis jangan ditimpakan rakyat kecil. Sementara civil society perlu menyiapkan diri. Kebersamaan dalam keanekaragaman inilah yang seharusnya menjadi spirit perayaan Sumpah Pemuda, bukan semangat menghasilkan produk UU yg sektarian primordial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar