Minggu, 19 Oktober 2008

Wahyu Keprabon

Di tengah situasi negara dan bangsa kita saat ini, pembicaraan mengenai satrio piningit dan wahyu keprabon selalu menarik perhatian. Sebagian orang mempercayai keberadaannya sementara sebagian lain tidak. Namun justru karena media tidak membicarakannya secara jujur dan terbuka maka kepercayaan mengenai adanya satrio piningit itu bisa dimanfaatkan oleh petualang politik untuk memenangi pemilu dengan memanipulasi dan menggelembungkan citra diri di hadapan rakyat. Patut disayangkan memang, karena ujung-ujungnya rakyat tetap susah.

"Wahyu untuk Rakyat"

Sudah sejak tahun 2003 saya mengingatkan media massa agar tidak mengkait-kaitkan satrio piningit dan wahyu keprabon itu dengan jabatan Presiden RI. Namun agaknya peringatan saya tidak direspon. Tulisan saya tidak dimuat. Kumpulan tulisan saya itu kemudian saya satukan bersama beberapa tulisan saya mengenai bioekonomi dan demokrasi ekonomi. Saya satukan di bawah judul "Wahyu untuk Rakyat, Kilas Balik Sikap dan Pemikiran Saya". Dalam kumpulan tulisan saya itulah saya jelaskan perihal satrio piningit dan wahyu keprabon secara panjang lebar. Saya masih mempertimbangkan apakah kumpulan tulisan saya "Wahyu untuk Rakyat" itu akan saya tampilkan dalam blog saya ini atau diterbitkan sebagai buku. Copy naskahnya memang saya sebarkan ke beberapa pihak bersama buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia (2004).

Beberapa pihak yang saya kirimi copy tulisan saya "Wahyu untuk Rakyat" itu adalah (urut abjad): Dr. Daniel Sparinga (Unair), Darmanto Jatman (Undip), Daud Sinjal (Harian Sinar Harapan), Harmanto Eddy Jatmiko (majalah Swasembada), Prof. Dr. Hembing Wijaya Kusuma (Majalah Misteri), Drs. Kwik Kian Gie (Ekonom), Permadi, SH(Anggota DPR-PDIP), Rosiana Silalahi (SCTV), Prof. Dr. Ryaas Rasyid (IIP, Anggpta DPR), Pustaka Sinar Harapan, Dr. Sukardi Rinakit (Soegeng Sarjadi Syndicate), Tabloid Sabda, dan Penerbit Yayasan Obor Indonesia. Khusus yang saya kirimkan kepada Prof. Dr. Ryaas Rasyid adalah edisi baru.

Selain kepada Prof Dr. Ryaas Rasyid, saya mengirimkan tulisan saya "Wahyu untuk Rakyat" edisi baru dalam bentuk soft copy melalui e-mail kepada Albert Kuhon (wartawan), Prof. Dr. Ir. Hariyadi (FTP-UGM), dan Prof. Dr. Ir. Djumali Mangunwijaya (IPB).

Satrio Piningit

Mengenai satrio piningit itu terlalu panjang untuk diungkapkan dalam artikel pendek ini. Tetapi pada dasarnya seperti dikatakan banyak orang yaitu akan membawa Indonesia keluar dari krisis. Dalam ruang yang sempit ini dengan segala kerendahan hati saya, saya perlu menceritakan tentang satrio piningit itu.

Saya sebenarnya enggan menceritakan mengenai satrio piningit itu. Namun karena fenomena satrio piningit dan wahyu keprabon telah dimanfaatkan oleh petualang politik maka saya perlu menjelaskannya dalam blog saya ini.

Sepuluh tahun yang lalu saya tidak memahami apa itu satrio piningit. Persepsi saya mengenai satrio piningit adalah seseorang yang secara khusus disiapkan oleh penguasa Orba secara sembunyi-sembunyi untuk menggantikannya. Sekitar tahun 2001 teman kantor saya mengatakan bahwa satrio piningit itu adalah orang yang akan membawa Indonesia keluar dari krisis. Secara kebetulan saya menemukan buku Satrio Piningit di sebuah toko buku di Pondok Indah. Baru setelah saya membaca buku Satrio Piningit karya Kusumo Lelono terbitan GPU itu pemahaman saya mengenai satrio piningit menjadi jelas.

Dari gambaran mengenai satrio piningit dalam buku itu saya merasa bahwa diri saya mirip gambaran itu. Tetapi saya tidak mau dianggap GR (gegedhen rumangsa=memiliki perasaan berlebihan).

Sampai suatu saat, yaitu 4 Juli 2002 saat usia saya 35 tahun, saya berhasil membaca nama saya tersandi dalam mimpi penduduk Bantul (DIY). Nama yang tersandi itu memang bukan nama kecil saya Hani Putranto tetapi R. Hani Japar yang tersandi dalam nama RA Parjinah. Dalam mimpi itu RA Parjinah dianggap sebagai anak pasangan Pambayun-Ki Ageng mangir (Mengenai mimpi ini bisa dibaca dalam buku Bayang-bayang Ratu Adil karya Sindhunata). Menurut hemat saya hal itu adalah wangsit, dan wangsit itu adalah sah karena yang mimpi maupun yang mempublikasikan mimpi itu bukan saya. Mereka tidak kenal secara pribadi dengan saya. Kalau yang mimpi saya, justru wangsit itu tidak sah karena orang lain tidak bisa meng-cross chek-nya. Tradisi Yahudi mengatakan bahwa kesaksian yang berasal dari diri sendiri tidaklah sah.

Sejak saat itu saya memiliki keyakinan bahwa satrio piningit yang sejati itu adalah saya. Hal ini bukanlah suatu ke-GR-an terlebih-lebih setelah saya tuntas merumuskan teori biososioekonomi. Satrio piningit dan wahyu keprabon itu tidak ada kaitannya dengan jabatan presiden RI. Presiden RI hanya memerlukan legitimasi demokrasi tidak memerlukan legitimasi wahyu.

Kepercayaan mengenai wahyu keprabon ada pada ranah budaya Jawa, tidak bisa dijejalkan dalam struktur politik NKRI. Justru ketika saya mnerima wahyu keprabon itu, saya harus menjalani banyak pantangan antara lain tidak menduduki jabatan struktural publik seperti jabatan Presiden. Melalui penggemblengan yang tak saya sadari sebelumnya, nafsu struktural saya telah dimatikan. Sejak jobless, akhir Februari 1993, saya mulai menekuni dan akhirnya menyenangi profesi non struktural sebagai marketing (sales) yang hidup dari omzet bukan gaji tetap. Menggunakan bahasa komando seperti halnya mereka yang memiliki jabatan struktural tidak lagi menjadi kebiasaan saya.

Memang kalau melihat sejarah Jawa sebagaimana saya baca dari de Graaf, kita tahu bahwa Senopati (Sutowijoyo) bukanlah orang Mataram karena tidak pernah lahir di Mataram (wilayah yang membentang antara Kali Progo dan Kali Opak). Menurut sejarah, menurut wangsit di atas , dan menurut berbagai kesaksian (ramalan lain) mestinya saya berhak menjadi Raja Mataram. Tetapi kalau menurut saya, saya memang raja mataram (dengan huruf r dan m kecil) yang artinya cendekiawan (intelektual) yang menemukan teori ekonomi yang bermanfaat bagi rakyat banyak atau cendekiawan yang menemukan pengetahuan yang direstui (arti kata mataram). Bukan raja dalam pengertian teritorial struktural. Bagi saya Pancasila dan NKRI sebgai negara demokrasi modern yang berdasar hukum dan menghargai pluralitas adalah final. Tidak perlu ada negara atau Kerajaan Mataram.

Kalau saya boleh memilih, saya lebih menyukai hidup tenang jauh dari hingar bingar publikasi. Saya tidak akan mengklaim sebagai satrio piningit atau raja mataram kalau teori biososioekonomi salah. Sampai saat ini berjalan 4 tahun penerbitan buku saya, tak ada yang menunjukkan kepada saya bahwa teori bioekonomi salah. Kalau bioekonomi salah tolong tunjukkanlah melalui blog ini. Dan kalau biososioekonomi salah saya rela melepaskan semua klaim saya di atas. Mengenai wangsit itu? Lupakan saja....


14 komentar:

  1. Terima kasih Mas Eko atas komentar dan kunjungannya. Maaf baru sekarang saya sempat membalas. Salam

    BalasHapus
  2. yg seharusnya menjadi raja mataram adalah saya!! karena saya keturunan dari amangkurat 2, dari daerah bagelen kepuk purworejo!!! dan saya mempunyai kertas silsilah yg kuno tahun 1915! jadi kakek buyut saya adalah sultan agung, disamping itu saya juga punya campuran darah Arab! dan itu menjadikan wajah saya ganteng! Kalo dipikir hamengku buwono tuh ga ada apa2nya dibandingkan dgn amangkurat! dia cuma raja2 kecil di sebagian daerah jawa! akan tetapi saya lahir di jakarta, jadi tdk begitu mengerti bahasa jawa, hanya saya mewarisi darah biru dari garis bapak saya! Kesimpulannya bahwa banyak skrg ini keturunan raja jawa yg "hilang" dan menyebar! salah satunya saya!

    BalasHapus
  3. Satrio piningit mestilah seorang jawa muslim! bukan jawa katolik! setelah satrio piningit muncul maka ia akan menyeru dunia utk kembali ke jalan yg lurus, yaitu Islam! dan ia akan berdakwah layaknya Rasululloh, Sultan Agung dan wali songo.

    BalasHapus
  4. emang kurang ajar para misionaris pastor dan pendeta from "holeland" or germany! gara2 penjajah sadis belanda, orang2 jawa dan Indonesia jadi byk yg murtad! Pikir dong! agama katolik masuk ke Indonesia dgn cara kasar dan menjajah! saya bener2 dendam kesumat terhadap orang2 bule, terutama belanda dan portugis yg telah menjajah pulau jawa umumnya dan Indonesia khususnya. dgn semangat kesultanan Mataram Islam, maka saya pemuda berusia 26 tahun selaku keturunan kesultanan Mataram Islam yg tersisa akan berusaha utk berdakwah Islam sebagaimana kakek buyut saya, Sultan Agung Hanyokrokusumo pernah melakukannya di tanah Jawi.

    BalasHapus
  5. Khalifah al Mahdi 66623 Mei 2011 08.00

    Banyak orang Jawa menyatakan dirinya sebagai Satrio Piningit dan itu boleh-boleh saja. Hanya saja karena Satrio Piningit ini nanti akan menerima kekuasaan besar dari Allah SWT dan memenuhi kriteria sebagai Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, maka segala tindakannya akan berdasarkan wahyu yang merupakan kebenaran yang hak saat ini yaitu Al Qur'an dan Sunnah Rasul Nabi Muhammad SAW. Injil, Taurat dan mungkin juga Weda ataupun Tripetaka adalah merupakan ajaran dari Allah SWT tetapi bukan yang sah berlaku lagi saat ini. Cara mengeceknya antara lain bahwa ajaran yang benar selalu mengajarkan Tuhan Yang Monotheis mutlak, bukan Trinitas atau Trimurti, Tuhan itu adalah Allah SWT bukan Yahwee dan banyak lagi caranya.

    BalasHapus
  6. Sy tdk tahu persis knp geli membaca blog ini. Pls tell me :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena yang nulis ini rata2 pengangguran :p

      Hapus
  7. ga jelas + ngaku-ngaku! :)

    BalasHapus
  8. Saya sarankan bagi para keturunan Amangkurat II yg non muslim untuk kembali ke agama yg dianut Sultan Agung, tks

    BalasHapus
  9. kiyai saya juga mengaku bahwa dirinya seorang satrio piningit, dan dia juga menganggap salah satu santri putrinya adalah wahyu keprabon, lalu kiyai saya berniat menikahinya, dan yang akan di nikahinya itu adalah kekasih saya.

    saya minta komentar anda.

    BalasHapus
  10. Salam....

    Semoga Anda "Memang" Satrio tersebut......teruslah berkarya....Karena dari buahnyalah akan dikenal Pohonnya....GBU

    BalasHapus
  11. informasi tentang itu ada di blog ratu adil
    satriapinandhitasinisihanwahyu.blogspot.co.id

    BalasHapus