Rabu, 14 April 2010

Tanda-tanda Itu Begitu Nyata....(Meningkat Hampir Dua Kali Lipat dalam Setahun)

Setahun yang lalu tepatnya tanggal 10 April 2009 saya memposting di blog ini sebuah artikel yang berjudul:"Gempa Italia Gempa ke-7." Dalam artikel itu saya sebutkan adanya tujuh gempa bumi yang istimewa karena terjadi 1 atau 2 hari setelah hari raya atau hari libur. Ketujuh gempa itu terjadi dalam kurun waktu 6 tahun semenjak saya menulis surat keprihatinan tanggal 21 November 2003.

Kini hanya dalam waku 1 tahun jumlah gempa istimewa itu meningkat menjadi 12 buah yaitu:
(8) gempa Padang 30 September 2009, beberapa hari setelah Lebaran
(9) beberapa gempa pasca 1 Suro, baca:"Tiga Gempa Pasca satu Suro" di blog ini
(10) gempa Jepang ("Gempa Okinawa 7,3 SR" sumber http://m.detik.com/read/2010/02/27/065828/1307504/10/pulau-okinawa-diguncang-gempa-73-sr) dan gempa Chili ("Chili Digoyang Gempa 8,8 SR Berpotensi Tsunami" sumber http://m.detik.com/read/2010/02/27/51357/1307619/10/chili-digoyang-gempa-88-sr-berpotensi-tsunami) satu hari setelah libur maulid di Indonesia
(11) gempa yang terjadi di perbatasan AS-Mexico satu hari setelah Paskah WIB (sumber: http://m.kompas.com/news/read/data/2010.04.05.0746519), dan
(12)gempa Aceh 7 April (sumber http://m.kompas.com/news/read/data/2010.04.07.07383550). Semua gempa di atas berskala di atas 6 SR tetapi tidak termasuk gempa Haiti 12 Januari yang menelan korban meninggal sampai 200.000 jiwa.

Bagi saya pribadi hal itu merupakan tanda-tanda yang amat nyata akan segera terjadinya peralihan jaman, menuju jaman baru, jaman keemasan di bumi. Dan saya tetap berpendapat bahwa triple six yang akan dihancurkan Tuhan itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan dan (atau) kekuasaan berlimpah. Menurut pendapat saya pribadi, triple six itulah penghambat terbesar terwujudnya jaman keemasan.

Oleh karena itu jangan salahkan saya kalau nanti para pelaku dan pelindung triple six terkena tulah atau kutukan Tuhan. Peringatan yang saya sampaikan di blog ini sudah cukup jelas dan tanda-tanda jaman itu begitu nyata. Para pelaku dan pelindung triple six tidak bisa berdalih dengan mengatakan: otoritas keagamaan tidak (belum) melarang triple six. Saya berpendapat bahwa bidang kesejahteraan umum di mana saya dipekerjakan bersifat otonom langsung di bawah Tuhan tidak di bawah otoritas keagamaan tertentu. Untuk keperluan kesejahteraan umum, saya berhak mengutip Alkitab tanpa perlu meminta ijin otoritas keagamaan/kerohanian.

Mengapa bidang atau "divisi" kesejahteraan umum bersifat otonom tidak di bawah otoritas keagamaan? Menurut pendapat saya pribadi karena fokus pekerjaannya memang berbeda dan tidak bisa dirangkap oleh satu unit kerja tunggal kecuali oleh Tuhan sendiri. Kalau kekayaan pribadi yang didermakan itu harus mendekati 100% seperti dijelaskan teori ekonomi makro biososioekonomi atau seperti diajarkan Yesus Kristus, maka diperlukan unit kerja tersendiri yang otonom dan fokus pada kesejahteraan umum (yang disumbang) tidak dibebani tugas lain yaitu keselamatan surgawi para penderma. Apakah para penderma masuk surga atau tidak, hal itu bukan tanggung jawab divisi kesejahteraan umum di mana saya dipekerjakan. Dengan demikian kesejahteraan umum tidak dikalahkan oleh dalih-dalih seperti ini: umat relanya hanya menyumbang 1%, orang miskin itu nantinya toh masuk surga biar saja mereka sekarang tetap miskin, atau mewariskan kekayaan berlimpah kepada anak cucu adalah bagian dari cinta kasih. Dalih atau ajaran seperti itu akan ditentang divisi kesejahteraan umum yang memang seharusnya otonom.

Oleh karena itu para pelaku atau pelindung triple six tidak bisa berdalih: otoritas keagamaan (kerohanian) tidak/belum melarang triple six. Kalau Tuhan mau, tulah atau kutukan Tuhan bisa datang sebelum otoritas keagamaan melarang triple six. Semoga ini dimengerti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar