Rabu, 19 Mei 2010

Hubungan Pendeta-Raja dari Berbagai Jaman: Tidak Membungkuk di Depan Triple Six, Tidak Menyembah Raja Non Inkarnasi

Ada suatu kejadian yang bagi sebagian kita saat ini dianggap aneh. Pada waktu itu Raja Kertajaya, Raja Kadiri (1190-1205M) meminta para pendeta menyembahnya. Mungkin sebagian dari kita akan bertanya di mana letak anehnya? Bukankah seorang raja adalah pemimpin yang layak menerima penghormatan? Kalau Anda berpikiran demikian dan sedang mencalonkan diri menjadi pejabat pemerintah berhati-hatilah karena Anda akan melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Kertajaya.

Dibanding hubungan agama dengan negara yang banyak didiskusikan dan dibicarakan orang, hubungan antara pendeta (rohaniwan) dan raja tidak banyak dibahas. Di dalam berbagai budaya pada berbagai masa hubungan itu memiliki beberapa pola dan memunculkan kasus yang berbeda pula. Kekeliruan, kesalahpahaman, persaingan, atau pertikain antar dua pihak yang terjadi di masa lalu, menurut hemat saya, masih terasa dampaknya sampai detik ini sehingga menimbulkan hal-hal yang tidak sehat. Ada baiknya hubungan itu diketahui sehingga bisa memberi sumbangan ke arah dunia baru yang lebih baik, lebih sejahtera, damai, dan adil. Untuk itulah tulisan dengan tema yang dianggap tidak populer ini ditampilkan.

Kembali pada kasus Kertajaya, berikut ini saya kutipkan tulisan arkeolog UI Supratikno Rahardjo dalam bukunya Peradaban Jawa halaman 169: "Apa yang ditafsirkan oleh Sedyawati tampaknya sejalan dengan keterangan dari sumber lain, yakni kitab Pararaton. Salah satu bagian dari kitab ini mengambarkan keangkuhan raja Kadiri (Daha) terakhir, yakni Dandang Gendis, terhadap para pendeta Siwa maupun Budha. Raja ini mengaku dirinya sebagai Bhatara Guru (Siwa) dan mempertanyakan kepada pendeta mengapa mereka tidak menyembah kepadanya. Karena sesuai tradisi tidak pernah ada pendeta menyembah kepada raja, maka para pendeta itu pun menolak sambil melarikan diri mengungsi ke Tumapel untuk menghamba kepada Ken Arok yang nantinya akan menjadi pendiri kerajaan baru, yakni Singhasari (cf. Hardjowardojo 19:29-31)."

Rupanya dalam masyarakat Jawa Kuno memang tidak ada tradisi pendeta menyembah raja karena raja atau ksatria bukanlah kasta tertinggi. Hal ini berbeda dengan kelompok masyarakat lain baik Barat maupun Timur. Dalam masyarakat Romawi Kuno (pra Kristiani)misalnya semua raja dianggap sebagai inkarnasi yang ilahi dan otomatis ditempatkan di atas pendeta atau mengepalai pendeta.

Pada awal-awal kerajaan Israel khususnya pada masa Raja Saul dan Raja Daud kedua raja itu tidak nampak superior dibandingkan Imam/Nabi Samuel sebagaimana kita baca dari Alkitab (bdk 1 Samuel 13:13). Demikian juga Raja Daud tidak nampak superior di hadapan Nabi Natan (bdj 2 Samuel 12:7) pengganti Samuel. Cara Samuel menegur Saul atau cara Natan menegur Daud menununjukkan para nabi (imam/rohaniwan) itu tidak inferior di hadapan raja-raja Israel itu. Hal ini hampir sama dengan tradisi Jawa Kuno.

Namun karena pengaruh bangsa-bangsa lain, seperti Romawi, maka pada masa selanjutnya tampak kedudukan raja Israel lebih superior (bdk 1 Raja-raja 22:8-9). Ketika Romawi mengakui agama Kristen pada awal abad Masehi masih tampak kebiasaan Romawi kafir yang menempatkan raja lebih superior di hadapan imam/rohaniwan sehingga sering menimbulkan ketegangan yang tidak sehat. Kalau di Inggris sekarang raja/ratu mengepalai rohaniwan, menurut hemat saya, hal itu pengaruh dari kekafiran Romawi. Dan hal seperti ini menyebar ke seluruh dunia melalui penjajahan di waktu lalu maupun berbagai institusi di masa kini seperti media massa atau film.

Inggris adalah peradaban yang aneh. Peradaban itu mengenal baik Raja Inkarnasi Ilahi (Yesus Kristus) maupun raja non inkarnasi, tetapi menempatkan raja/ratu di atas rohaniwan seolah tidak membedakan raja inkarnasi dan raja non inkarnasi. Berbeda dengan peradaban Jawa yang jelas membedakan raja inkarnasi dan raja non inkarnasi.

Pada masa setelah Jawa Kuno muncul peradaban baru dengan agama baru yang lembaga kependetaannya kurang jelas, mana pendeta mana ksatria. Dalam tatanan yang tidak jelas itu raja cenderung muncul sebagai penguasa tunggal. Kalau raja Jawa kemudian bergelar panatagama itu karena kecelakaan sejarah. Seiring dengan itu digunakan pula kata Gusti atau Lord (Inggris) sebagai gelar kebangsawanan seperti Kanjeng Gusti Pangeran..., Gusti Bandoro..., dll. Dalam tradisi Jawa Kuno gelar kasatria atau pangeran adalah Raden suatu gelar yang tidak superior di hadapan pendeta atau rsi. Gelar raden sudah dipakai sejak jaman R Wijaya pendiri Majapahit dan masih terdengar dalam kisah pewayangan seperti penyebutan R Arjuna, R Laksmana, R Samba, atau R Setyaki misalnya. Gelar Gusti jelas menunjukkan superioritas penyandangnya karena gelar itu dipakai juga untuk menyebut Tuhan.

Adalah sesuatu yang sehat kalau pendeta tidak menyembah raja non inkarnasi dan tidak membungkuk di hadapan triple six terlepas dari apakah triple six itu raja tokoh Kitab Suci yang kekayaannya lebih dari 666 talenta emas (lebih dari Rp 6,66 triliun) atau penguasa media massa. Demikian juga seorang pejabat pemerintah perlu rendah hati untuk tidak bersikap superior di hadapan civil society atau menganggap civil society sub ordinat-nya. Pejabat pemerintah perlu bekerja sama, sebagai mitra, dengan civil society untuk mendemokrasikan ekonomi, menentang triple six, dan mencegah triple six menguasai hajat hidup orang banyak.

Semoga generasi muda Indonesia yang reformis dan idealis bisa berperan serta mewujudkan demokrasi ekonomi berdasarkan biososioekonomi. Rakyat sudah terlalu lama menunggu, sudah lelah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar