Selasa, 24 Mei 2011

Media Konvensioanal Juga Berperan Membuat Rakyat Tetap Miskin

Gelombang reformasi yang terjadi 13 tahun lalu telah melengserkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaan yang digenggamnya selama 32 tahun. Mahasiswa ikut berperan dalam demonstrasi dan aksi massa itu. Aksi massa pada waktu itu menuntut Soeharto mundur dan menuntut pemberantasan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Mundurnya Soeharto membuat kehidupan demokrasi dan kebebasan berpendapat lebih baik dibanding era Soeharto. Banyaknya buku-buku dan surat kabar yang diterbitkan pada awal massa reformasi menunjukkan maraknya kebebasan berpendapat. Namun demikian nasib rakyat belum sepenuhnya membaik. Sebagian rakyat menganggap kondisi pada jaman Soeharto lebih baik sehingga merindukan Soeharto.

Menurut pengamatan saya, dari kalangan reformis paling tidak ada dua kelompok yang perlu saya sebut dan relevan dengan tulisan ini yaitu yang pertama adalah mereka yang berprinsip pemeberantasan KKN akan membuat kehidupan rakyat lebih baik. Kelompok ini terdiri dari mahasiswa dan kelompok massa yang aktif melakukan demonstrasi. Demonstrasi yang melibatkan massa dalam jumlah besar itu mendapat liputan luas media massa baik media cetak atau tv.

Kelompok reformis kedua adalah kelompok yang tidak melakukan penggalangan massa namun secara intelektual lebih kritis dan lebih matang. Kelompok kedua ini menginginkan ditinggalkannya paradigma ekonomi lama yang dianut rezim orba yang banyak membuat hutang dan mengutamakan investasi asing. Meskipun kurang mendapat liputan media massa namun dari kelompok kedua inilah muncul bibit-bibit pencerahan yang seharusnya menjadi pedoman bagi kelompok pertama.

Alm Prof. Dr. Mubyarto yang wafatnya kita peringati hari ini 24 Mei termasuk kelompok reformis yang kedua. Beliau juga mengharapkan semua pihak untuk tidak merindukan kembalinya paradigma Soeharto. Mubyarto yang memlesetkan penyakit SARS sebagai penyakit "saya amat rindu Soeharto" sebagai penyakit yang harus dibrantas.

Dibanding kelompok pertama, memang kelompok kedua kurang mendapatkan liputan media massa secara luas. Bahkan tidak jarang dihambat penyebarluasannya. Saya masih ingat bagaimana Kompas menghantam tulisan Mubyarto (yang mempertanyakan sosioekonomi atau ekonofisika yang lebih penting bagi rakyat) dengan memuat tulisan Liek Wilardjo yang menganggap Mubyarto dan sosioekonomi sebagai melawan arus, diskusi ekonofisika itu kemudian ditutup oleh harian itu. Ciri media cetak memang tidak interaktif dengan ruang terbatas dan dengan dalih itu diskusi bisa ditutup. Kompas memang kemudian melakukan "rekonsiliasi" dengan Mubyarto dengan memuat wawancara Julius Pour terhadap Mubyarto. Media konvensional lain baik cetak atau tv juga sering begitu, menutup diri dengan pandangan baru dan paradigma baru dalam mengelola perekonomian publik. Bahkan tidak jarang menertawakan gagasan baru seperti itu. Menertawakan suatu gagasan baru bukanlah ciri masyarakat terbuka (open society) yang percaya pada akal, kebebasan, dan persaudaraan. Sebagai catatan perlu saya kemukakan bahwa hanya harian Suara Merdeka Semarang yang memuat berita seminar saya di PUSTEP UGM tahun 2004.

Kini penyakit SARS itu membayang lagi. Tidak mudah memang menjelaskan kepada rakyat akan adanya paradigma ekonomi yang lebih baik dari yang dijalankan rezim Soeharto sementara reformasi telah dibajak oleh para petualang politik yang anti Pancasila dan pura-pura reformis. Meskipun tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Saya meyakini bahwa saya memiliki simbol-simbol yang mudah dipahami rakyat.

Dari pengalaman saya memperjuangkan biososioekonomi (demokrasi ekonomi) akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa media konvensional baik cetak atau tv yang umumnya dimiliki pemilik modal turut berperan membuat rakyat tetap miskin. Apa yang dilakukan media konvensional terhadap demokrasi ekonomi-biososioekonomi-satrio piningit sama seperti yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap Soekarno yang menghambat Soekarno tampil di hadapan publik. Media konvensional juga bertindak seperti Lohgender yang menyembunyikan Damarwulan agar tidak bisa bertemu dengan pemegang kedaulatan. Kalau memang media konvensional keberatan dengan kesimpulan saya silakan tulis komentar di bawah ini. Media ini memiliki ruang yang tak terbatas untuk memuat komentar Anda.

Tulisan ini saya buat sebagai peringatan bagi kaum reformis dan generasi muda baik mahasiswa atau pun yang sudah bekerja agar tidak menelan mentah apa yang disajikan media konvensional carilah pembanding atau alternatif melalui aneka blog, twitter, fb, dan mesin pencari seperti google. Kebangkitan nasional berkaitan dengan pencerdasan bukan pembodohan. Silakan kritik biososioekonomi kalau salah, tolong disebarluaskan kalau benar. Peran Anda semua dalam ikut mensejahterakan rakyat dan mendemokrasikan ekonomi sangat diharapkan. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar