Selasa, 03 Mei 2011

Mewujudkan Perubahan Satu Bumi untuk Semua; Berpikir Global, Bertindak Lokal

Dahulu ketika saya sedang menyelesaikan penulisan buku saya ( Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia ) saya berharap ada media massa (konvensional baik cetak atau tv) yang berperan aktif dalam mendemokrasikan ekonomi dalam arti mengajak anggota masyarakat untuk mengemimplementasikan biososioekonomi dan mengontrol linierisme individu (pewarisan kekayaan berlimpah kepada keturunan pemilik kekayaan). Sampai saat ini saya masih berharap demikian karena bagi saya biososioekonomi-demokrasi ekonomi adalah keniscayaan, kebenaran, dan keadilan yang menyangkut hajat hidup orang banyak atau menyangkut kepentingan publik.

Namun dalam perjalanan waktu saya menemukan media alternatif yaitu internet melalui blog seperti ini dan micro blog seperti Twitter dan situs jejaring sosial seperti Facebook. Maka aktiflah saya menggunakan media alternatif ini. Blog sejak Oktober 2008, Facebook sejak awal 2009 dan Twitter sejak Mei 2009. Meski terdaftar memiliki account di Twitter sejak Mei 2009 saya baru kembali aktif sejak 10 Maret 2011. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Saya aktif kembali di Twitter karena di Twitter kita bisa berdiskusi dengan siapa saja tanpa yang bersangkutan menjadi teman atau follower di account kita.

Melalui media-media alternatif itu saya menyebarluaskan gagasan demokrasi ekonomi-biososioekonomi untuk kesejahteraan publik dan mewujudkan perubahan, satu bumi untuk semua. Yang saya maksud dengan ungkapan satu bumi untuk semua BUKAN berarti setiap individu bebas mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di perut bumi di negara manapun. Ekonomi publik (biososioekonomi) tidak dimulai dengan investasi atau eksploitasi tetapi DIMULAI dengan mengembalikan apa yang telah diambil yaitu laba dan kekayaan kepada publik (semua orang) dengan cara membayar pajak penghasilan dan kekayaan, membayar derma dan yang paling penting adalah melakukan daur ulang kekayaan individu Maka yang saya maksud dengan satu bumi untuk semua adalah mendistribusikan kekayaan daur ulang itu ke seluruh dunia tanpa sekat-sekat negara dan tanpa sekat-sekat sektarian primordial sesuai paradigma biososioekonomi yaitu laba berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Dalam demokrasi ekonomi yang saya perkenalkan itu berlaku: dari konsumen, oleh konsumen, untuk konsumen (semua orang). Laba dan kekayaan berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Organisasi konsumen sosial yang inklusif bisa membantu mendistribusikan kekayaan itu tanpa sekat-sekat negara dan tanpa sekat-sekat primordial. Kita semua (termasuk media konvensional) diharapkan peran sertanya untuk mendemokrasikan ekonomi secara damai non kekerasan. Hal ini sangat penting mengingat banyaknya tindak kekerasan dan kasus-kasus yang mengutamakan kepentingan sektarian primordial di sekitar kita seperti mencuatnya kasus NII (Negara Islam Indonesia). Derma dan kekayaan daur ulang tidak boleh dipakai untuk membiayai terorisme, pemberontakan, tindak kekerasan lain atau membentuk negara baru. Organisasi konsumen sosial yang inklusif non politis dan non sektarian-primordial bisa dibentuk untuk mewujudkan kesejahteraan publik bagi semua orang.

Melalui berbagai media kita bisa berpikir global dan bertindak lokal secara damai sesuai konstitusi di negara mana kita berpijak. Melalui tulisan ini saya mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah berpartisipasi menyebarkan teori biososioekonomi (bioekonomi). Kepada yang belum berpartisipasi ditunggu partisipasinya dengan cara yang nyaman bagi Anda. Anda bisa juga mem-follow Twitter saya @haniputranto
Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar