Kamis, 05 April 2012

Pelajaran dari Penolakan Kenaikan Harga BBM

Penolakan masyarakat terhadap rencana kenaikan harga BBM sebenarnya memberi pelajaran bagi kita semua. Pelajaran itu sangat berharga. Pertama, BBM menyangkut hajat hidup orang banyak. Kalau harga BBM naik, harga barang dan jasa juga naik.

Kedua, menaikkan harga BBM seharusnya tidak dilakukan ketika daya beli rakyat dalam kondisi lemah. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa tingginya daya beli rakyat tidak tergantung pada tingginya angka PDB (produk domestik bruto) tapi pada persentase dikembalikannya laba pada publik sesuai biososioekonomi yang adalah suatu demokrasi ekonomi dalam paradigma baru. Ketika demokrasi ekonomi itu belum terwujud, belum mapan, maka rencana kenaikan harga BBM akan mengalami penolakan.

Ketiga, pelajaran yang sangat berharga adalah  bahwa meredistribusikan aset pribadi ke luar negeri tidak akan melemahkan ekonomi negara asal aset pribadi tersebut. Aset pribadi adalah manifestasi dari akumulasi laba selama bertahun-tahun, puluhan atau ratusan tahun bahkan. Ketika aset itu dikembalikan kepada publik secara global sesuai biososioekonomi maka maka daya beli konsumen (rakyat) di seluruh dunia akan terjaga. Pada saat kondisi mapan seperti itu, meski harga premium secara nominal naik menjadi Rp 7.000 per liter misalnya tidak akan membebani rakyat karena daya beli rakyat tinggi. Usaha eceran pompa bensin asing tetap bisa hidup. Memang dalam hal ini kita memerlukan organisasi konsumen sosial untuk mengembalikan dan nredistribusikan aset pribadi tadi secara global tanpa sekat nefara dan tanpa sekat sektarian sesuai prinsip-prinsip biososioekonomi. Bagi yang memahami matematika sebenarnya mudah memahami logika ini. Kuncinya adalah membedakan individu (manusia) dengan institusi bisnis. Yang mengembalikan aset pribadi tadi adalah orang bukan institusi bisnis karena orang juga bersifat homo socius bukan hanya homo economicus.

Semoga tulisan sederhana ini dipahami. Bagi yang belum memahaminya perlu membaca dan  menyimak artikel lain di blog ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar