Senin, 24 September 2012

Refleksi Satu Dasawarsa Biososioekonomi. Menghibur Yang Miskin, Mengingatkan yang Kaya

Istilah biososioekonomi saya ciptakan sepuluh tahun lalu, 20 September 2002. Sepuluh tahun lalu, biososioekonomi tak dikenal orang. Meski telah diseminarkan tanggal 2 November 2004, tetap belum banyak yang mengenalnya. Baru setelah saya aktif di blog ini sejak Oktober 2008, biososioekonomi mulai banyak dikenal di dunia maya.  Kini kita berada pada dunia yang sedang menghadapi ancaman krisis ekonomi global setelah krisis utang di zona Euro. Selain itu Rasio Gini Indonesia meningkat menjadi 0,41 yang berarti ketimpangan pendapatan meningkat. Dan bagi Indonesia ini adalah yang terburuk. Semua itu akibat diabaikannya prinsip-prinsip pengelolaan ekonomi publik yang pruden dan akuntable berdasarkan akuntansi. Teori ekonomi makro biososioekonomi telah disusun dengan memperhatikan prinsip-prinsip akuntansi (keseimbangan) dan kelangkaan. Dengan begitu teori ekonomi makro biososioekonomi yang saya rumuskan tidak hanya menawarkan pengetahuan yang obyektif tetapi juga akuntable. Namun saya melihat begitu susah bagi ekonom konvensional untuk meninggalkan gambaran keliru ekonomi makro sebagai pabrik raksasa yang tidak mengajarkan keseimbangan. Yang ada hanyalah pengejaran pertumbuhan PDB dan PDB. Mengingat hal-hal seperti ini mungkin tidak terlalu salah bila biososioekonomi menjadi bagian (sub jurusan) atau program studi di bawah Jurusan Akuntansi bukan di bawah Jurusan Studi Pembangunan. Mereka yang memahami akuntansi dan mempelajari akuntansi akan lebih mudah mempelajari biososioekonomi. Kini sudah saatnya bagi mereka yang mempelajari akuntansi secara formal menggunakan kemampuannya untuk membedah dan mengelola ekonomi publik dengan dasar-dasar akuntansi serta meninggalkan gambaran keliru ekonomi publik sebagai pabrik raksasa. Jutaan rakyat yang lapar dan miskin menantikan kiprah ekonom-ekonom baru yang memahami akuntansi untuk membela mereka.   Kita harus berani berjuang mengingatkan yang kaya serta menghibur yang miskin, memperingan beban rakyat. Berjuang dengan cara damai. Tuhan menyempurnakan usaha kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar