Jumat, 29 Mei 2009

Neoliberalisme, Boediono, dan Buku Saya

Sebagai penulis buku Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia, tentu wajar kalau saya memberikan buku tersebut kepada beberapa orang sebagai upaya memperkenalkan gagasan dan pemikiran saya. Ketika buku itu terbit, Oktober 2004, beberapa orang termasuk pejabat tinggi yang menjabat pada pemerintahan 2004-2009 saya kirimi buku tersebut.

Dari orang-orang yang saya kirimi buku tersebut hanya lima orang yang merespon balik, baik yang menyambut secara antusias maupun sekedar mengucapkan terima kasih. Kelima orang tersebut adalah:(1)Prof. Dr. Mubyarto (2)Prof. Dr. Sri Edi Swasono (3)Permadi, SH anggota DPR (4)Maria Hartiningsih, wartawati Kompas dan (5)Dr. Sukardi Rinakit. Mengenai Prof. Dr. Sri Edi Swasono, buku saya tidak saya berikan langsung, pihak PUSTEP UGM yang memberikannya.

Gagasan saya dalam buku tersebut adalah mengenai ekonomi jalan ketiga atau ekonomi jalan tengah yang berbeda dengan ekonomi neoliberal. Meskipun disebut jalan tengah bukan berarti tidak jelas atau tidak tegas. Baik metode berpikir dan ukuran-ukurannya sangat jelas.

Ketika buku saya tersebut terbit, Dr. Boediono tidak menjabat menteri. Saya tidak memberikan buku saya kepadanya. Saya tidak tahu apakah Pak Muby (Prof. Dr. Mubyarto) memberikan buku saya kepadanya atau tidak. Yang jelas hanya lima orang di atas yang ngaruhake (menyapa).

Memang orang yang tidak merespon balik kiriman buku saya bukan berarti orang tersebut adalah pro neoliberal. Salah satunya adalah Dr. B. Herry Priyono. Meskipun tidak merespon balik kiriman buku saya, beliau masih konsisten menentang neoliberalisme seperti tercermin dalam tulisan terbarunya di harian Kompas 28 Mei 2009 hlm 6. Mereka yang merespon balik buku saya paling tidak mengetahui bahwa ada suatu alternatif di luar neoliberal.

Menyimak pernyataan Boediono selaku cawapres di kantor harian Kompas 19/5 bahwa Indonesia tidak akan bebas dari utang (Kompas 20/5/09/hlm1) menunjukkan bahwa Dr. Boediono belum meninggalkan paradigma neoliberalnya. Tetapi saya tidak tahu apakah beliau antek asing atau bukan. Saya berharap masyarakat tidak menyamakan istilah neoliberal dengan istilah antek asing karena keduanya berbeda.

Tulisan ini saya posting bukan dengan tendensi tertentu, tetapi sebagai upaya sumbang saran dan shring pengalaman sebagai cendekiawan independen yang pro kebenaran dan rakyat (publik) bukan pro capres tertentu. Bukan pula karena menginginkan jabatan (struktural) tertentu. Pekerjaan apa yang sesuai dengan hati nurani saya sudah saya jelaskan dalam postingan terdahulu Wahyu Keprabon. Sebagai bagian dari open society, saya dan postingan ini terbuka terhadap kritik. Sikap tulus dan jujur diperlukan agar kita dekat dengan kebenaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar