Selasa, 26 Mei 2009

...Saya Berharap Barat Bertobat

Menurut paradigma lama, mata uang negara manapun akan mengalami penyusutan nilainya. Uang 1 US $ hari ini tidak sama dengan 1 US $ 20 tahun lalu. Peningkatan permintaan akan suatu mata uang akan bisa mencegah penyusutan nilainya.

Praktek yang dilakukan negara-negara maju, khususnya Barat, untuk mempertahankan agar mata uangnya tidak menyusut adalah dengan dominasi ekonomi, budaya, teknologi, dan politik terhadap negara lain. Dominasi ekonomi dilakukan dengan meminjamkan dan menginvestasikan mata uangnya ke negara lain. Ini dilakukan baik oleh swasta ataupun pemerintahnya baik langsung ataupun melalui berbagai lembaga seperti IMF dan World Bank. Dengan cara ini kewajiban membayar bunga dan laba dibebankan kepada negara lain (berkembang). Dominasi budaya, teknologi, dan politik juga akan bisa mempertahankan nilai mata uang negara maju.

Praktek-praktek kolonialistis seperti ini sudah seharusnya ditinggalkan. Penyusutan nilai mata uang terjadi karena liabilitas publik (masyarakat dan negara) jauh lebih tinggi dari asetnya sebagaimana dijelaskan oleh teori biososioekonomi.

Liabilitas publik yang tinggi itu terjadi karena pertama, pewarisan kekayaan berlimpah dibiarkan saja. Kedua, dana-dana filantropi masih diputar untuk mendapatkan bunga dan laba. Memutar dana filantropi (dan pajak) agar mendapatkan bunga atau laba adalah salah satu bentuk sesat pikir. Sebagaimana pajak_kalau habis harus ditarik lagi dari warga negara_demikian juga dana filantropi, kalau habis harusnya minta lagi. Harus ada kontinyuitas.

Ironisnya peringatan akan bencana ekonomi itu telah ditulis oleh Alkitab (Holy Bible), suatu kitab yang tidak asing bagi peradaban Barat. Sayangnya hal itu tidak dipahami. Pewarisan kekayaan berlimpah itu identik dengan triple six, menurut Alkitab. Untuk itu saya telah membuat blog dan situs mobile berbahasa Inggris yaitu [http://public-prosperity.blogspot.com] dan [http://satriopiningitasli.param.mobi] agar peringatan sampai kepada perdaban Barat sehingga damai sejahtera segera terwujud di seluruh muka bumi. Tentu menulis dalam bahasa Inggris tidak selancar menulis dalam bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggris saya saat ini tidak sebaik 18 tahun lalu. Namun dari sedikit tulisan berbahasa Inggris itu, saya dengan segala kerendahan hati, berharap barat bertobat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar