Minggu, 03 Mei 2009

Meninggalkan Paradigma Marxian

Berteman melalui situs jejaring sosial seperti facebook membuat saya banyak mendapat umpan balik mengenai upaya-upaya memajukan dan memperjuangkan kesejahteraan umum. Sebenarnya cukup banyak energi yang ada di jejaring sosial itu. Sayangnya kadang kurang terarah karena masih belum seluruhnya meninggalkan paradigma Marxian. Reformasi yang terjadi di Indonesia 10 tahun lalu membuka kebebasan berpendapat dan menimbulkan suatu euforia pada berbagai kalangan termasuk pada mereka yang mengadopsi paradigma Marxian, baik pengadopsi lama atau baru.

Euforia di kalangan Marxian, sayangnya justru menutup mata mereka akan adanya paradigma baru yang lebih rasional. Hari buruh 1 Mei 2009 diperingati dengan dengan berbagai dinamika dan gelora yang tidak bisa lepas sama sekali dengan paradigma Marxian. Pandangan Marx bahwa laba berasal dari eksploitasi buruh sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Penjelasan mengenai hal ini sudah saya berikan khususnya dalam postingan saya terdahulu yang berjudul: "Misteri Laba dan Kesengsaraan Rakyat" di blog ini.

Biososioekonomi sebagai teori ekononomi jalan ketiga jelas-jelas berbeda dari paradigma Marxian. Biososioekononomi bukan suatu teori ekononomi yang tak jelas, asal jalan tengah yang bukan ini bukan itu, tetapi jelas-jelas memiliki metode berpikir dan ukuran-ukuran yang jelas dan accountable. Pandangan biososioekonomi sejalan dengan demokrasi ekonomi dalam paradigma barunya di mana laba berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Tentu yang harus mengembalikan laba itu adalah orang pemilik usaha bukan institusi bisnis, karena seorang manusia bisa bersifat sosial sementara perusahaan tidak. Laba (beserta akumulasinya=kekayaan) harus dikembalikan kepada semua orang, semua orang adalah konsumen. Tanpa melakukan kegiatan konsumsi (makan), manusia pasti mati. Meluasnya pengangguran karena jatuhnya daya beli rakyat merupakan tanda bahwa tidak semua laba telah dikembalikan kepada semua orang.

Saya berharap paradigma baru ini disimak dengan baik. Kalau tidak maka segala energi aktivis akan terbuang sia-sia tidak tepat sasaran karena masih mengadopsi paradigma Marxian yang sudah tidak relevan lagi. Semua tulisan di blog ini yang berlabel biososioekonomi bisa dipakai sebagai rujukan untuk memahami paradigma baru yang seharusnya diakomodasi itu. Perjuangan buruh seharusnya menyatu dengan perjuangan konsumen (sosial) di mana semua orang adalah konsumen sosial tetapi tidak semua orang adalah buruh (karyawan). Ini adalah suatu perjuangan yang lebih luas untuk kepntingan semua orang. Semoga dipahami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar