Minggu, 10 Mei 2009

Gak Kapok-kapok Menenggelamkan Bioekonomi, Gak Kapok Mengepung...mataram?

Umumnya pengalaman yang di-sharingkan adalah yang indah-indah dan menggembirakan seperti sembuh dari penyakit yang sulit diobati dengan metode kedokteran modern atau pengalaman mendapat rejeki nomplok atau pekerjaan. Namun karena amat sangat penting maka, meskipun sangat mengerikan, kejadian setahun yang lalu itu perlu saya sharing-kan di blog ini. Sebagaimana layaknya sebuah sharing maka saya berusaha agar apa yang saya sampaikan selugas mungkin.

Hidup dalam kesulitan ekonomi, kesepian, dan terisolir dari teman-teman itulah kondisi saya setahun lalu. Belum mengenal facebook dan media blog waktu itu menambah dalamnya keterisoliran diri saya. Atas budi baik adik saya, saya masih bisa menumpang di Bogor. Ketika hp saya rusak, rekan kerja saya meminjamkan hp putrinya yang berwarna pink. Kesesakan hidup membayang, manakala pemerintah berencana menaikkan harga BBM. Cengkeraman paradigma neoliberalistik menyusahkan banyak orang.

Kemanakah kejengkelan harus diekspresikan dalam kondisi seperti itu? Kalau saja waktu itu saya sudah mengenal media blog, saya pasti curhat melalui blog saya. Atau kalau saya sudah mengenal facebook, saya curhat melalui facebook. Itupun dengan catatan kondisi keuangan saya sehat. Satu-satunya cara waktu itu adalah mengirimkan SMS.

Keprihatinan dan peringatan itu saya sebarkan kepada wartawan, teman, dan relasi. Sayangnya ada seorang wartawan yang nomor hp-nya sudah berubah sehingga tidak bisa menjadi saksi peristiwa besar itu. Saya tidak tahu apakah SMS saya diteruskan kepada orang lain atau tidak. Beberapa orang yang saya kirimi SMS waktu itu antara lain adalah Titus Swastono, Nanis Cahyaningdyah, Agus Riyono, dan Dr Vincent Gaspersz. Ternyata nomor hp Titus Swastono dipakai putranya, Efra. Efra memberitahu nomor baru ayahnya yang langsung saya simpan di ponsel. Sehari kemudian pada saat peristiwa mengerikan itu terjadi, atas budi baik Mas Titus tanpa saya minta, Mas Titus memforward kembali SMS itu kepada saya. Kemudian saya mendokumentasikan SMS itu dalam SIM card saya sehingga terbaca sampai hari ini.

Inilah SMS saya tanggal 11 Mei 2008 itu:"....Saya berharap kepada semua pihak agar jangan mengepung/menenggelamkan bioekonomi & saya(putri sion). Kalau terkepung...engkau akan melihat kedatangan Tuhan...dlm...gempa,...topan,...nyala api...(Yes 29:6). Juga Mikha 4:13. Gak kapok-kapok ngepung bioekonomi? Gak kapok ngepung sion(mataram)? Ir. R. Yohanes Hani Putranto."

Seperti kita ketahui sehari kemudian terjadi gempa bumi di Sichuan RRC. Tentu saja apa yang saya tulis dalam SMS itu tidak asal tulis. Saya tidak akan berani menuliskan hal-hal seperti itu tanpa mengalami atau melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya selama bertahun-tahun. SMS itu hanyalah puncak gunung es pengalaman spiritual saya.

Harapan saya ke depan adalah agar semua pihak tidak menghambat implementasi biososioekonomi. Dengan adanya blog ini, akses publik terhadap biososioekonomi menjadi mudah. Meskipun demikian hambatan terhadap penyebaran URL blog ini masih saya alami baik oleh media cetak atau internet. Tentu sebagai teori ilmiah, biososioekonomi boleh dikritisi, dikoreksi, atau diperbaiki. Tetapi saya berharap dengan sangat jangan ada lagi yang menghambatnya, baik publikasinya maupun implementasinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar