Selasa, 19 Januari 2010

Sumber Income Rumah Tangga dalam Paradigma Biososioekonomi

Email Keluar: Sel, 19 Jan 2010 06:36 WIB

Dalam paradigma konvensional (neo klasik atau konvensional) sumber income rumah tangga (individu) sangat terbatas yaitu gaji (bagi pegawai), atau laba usaha (bagi wiraswasta), dan hasil investasi. Dalam keterbatasan itu, sering sumber income itu secara makro, tidak bisa dinikmati atau diakses semua orang. Adanya pengangguran menunjukkan bahwa ada sekelompok angkatan kerja yang tidak mendapat gaji sebagai sumber income-nya. Dalam kondisi tertentu, karena overinvestment, laba jatuh. Selisih suku bunga tabungan dengan tingkat inflasi sangat kecil mendekati nol atau bahkan minus. Tidak semua orang mendapatkan akses pada sumber income yang memadai sepanjang waktu hidupnya.

Dalam paradigma konvensional seperti itu harga rumah atau tempat tinggal mengalami kenaikan yang besarnya melebihi rata-rata inflasi. Rakyat kebanyakan terengah-engah selain karena aksesnya pada beberapa sumber income terbatas, juga harus menanggung beban yang semakin sarat. Kekayaan mengalir dari rakyat kebanyakan menuju kantong para pemilik modal.

Berbeda dengan paradigma konvensioanl, dalam paradigma biososioekonomi sumber income bisa diakses dengan mudah oleh semua orang sepanjang hidupnya. Selain gaji sebagai pegawai, ada sumber income yang mudah diakses semua orang sepanjang hidupnya dari usia sekolah sampai masa pensiun, yaitu tabungan. Hasil tabungan cukup memadai bukan saja karena bisa dimulai saat usia dini, di usia sekolah, tetapi juga secara makro dalam paradigma biososioekonomi bunga tabungan selalu akan jauh lebih besar dari inflasi. Hal ini terjadi karena pemborosan yang terjadi pada paradigma konvensional tidak terjadi pada paradigma biososioekonomi. Pemborosan pada paradigma konvensional yang saya maksud adalah membayar bunga kepada pemilik modal yang masuk kategori triple six (kekayaan berlimpah dari warisan). Dalam paradigma biososioekonomi membayar bunga kepada pemilik modal seperti itu tidak terjadi. Justru kekayaan seperti itu harus didaur ulang untuk membayar bunga tabungan
rakyat dan jaminan sosial lain. Kekayaan mengalir kepada rakyat kebanyakan. Secara teoritis dapat dikatakan ketika tingkat kosumsi agregat tinggi, kekayaan daur ulang terdistribusi melalui laba usaha. Ketika tingkat konsumsi agregat rendah kekayaan daur ulang terdistribusi melalui bunga bank yang nampak dengan besarnya selisih antara bunga tabungan dengan tingkat inflasi.

Dalam paradigma biososioekonomi (secara teoritis) dimungkinkan semua anak usia sekolah memperoleh paket beasiswa sampai S1 dan dimungkinkan mereka semua memiliki kelebihan uang saku yang bisa ditabung sejak kelas satu SD/TK. Tabungan itu bisa terkumpul cukup banyak dan ketika memasuki usia kerja bisa dipakai untuk modal usaha atau membeli rumah. Dalam paradigma konvensional pegawai kecil atau menengah harus membiayai pembelian rumah dengan hutang sebesar 80% dari nilai rumah. Dalam paradigma biososioekonomi, untuk membeli rumah, rakyat kebanyakan tidak perlu banyak berhutang. Hal ini secara teoritis dimungkinkan karena dalam paradigma biososioekonomi kekayaan mengalir kepada rakyat kebanyakan dan karena harga properti relatif tidak naik secara berarti sehingga terjangkau. Dalam paradigma konvensional properti dijadikan instrumen investasi sehingga harganya melambung dan menggelembung (buble), sementara dalam paradigma biososioekonomi, properti tidakdijadikan instrumen investasi.

Paradigma biososioekonomi menjadikan bunga tabungan sebagai sumber income bagi siapa saja sepanjang hidupnya mulai usia dini ketika memasuki bangku SD atau TK. Bunga tabungan juga sumber income bagi ibu rumah tangga dari ruamah tangga sederhana yang sibuk mengurus rumah tangga dan tidak memiliki waktu untuk berbisnis. Hal itu secara teoritis dimungkinkan dengan mekanisme daur ulang kekayaan individu di mana kekayaan mengalir kepada rakyat kebanyakan.

Cacat bawaan teori ekonomi konvensional hanya bisa diatasi dengan mengganti teori itu. Dalam paradigma makro konvensional itu memperbaiki satu segi berarti memperburuk segi lain. Dalam paradigma biososioekonomi dimungkinkan memperbaiki semua segi secara serentak. Hal ini bisa terjadi karena teori ekonomi makro biososioekonomi fokus pada upaya peningkatan pendapatan/income publik (bukan pendapatan orang per orang) dan juga fokus pada peningkatan aset publik atau aset masyarakat (bukan aset orang per orang) melalui daur ulang kekayaan individu.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar