Selasa, 27 Juli 2010

Setelah Membaca "Drama Mangir-" nya Pramoedya

Postingan ini tidak dimaksudkan sebagai resensi atas buku terbitan KPG itu tetapi sekedar sharing pengalaman dan perasaan saya setelah membaca buku karya Pramoedya Ananta Toer itu. Karya Pramoedya itu merupakan pendekatan baru yang mengedepankan rasionalitas dalam memandang peristiwa Mangir yang terjadi di akhir abad ke-16. Sebagai karya fiksi, apa yang dipaparkan di buku itu belum tentu sesuai kejadian aslinya, namun Pramoedya dalam kata pengantarnya membuat suatu pertanggungjawaban mengapa "Drama Mangir" itu tampil seperti itu.

Setelah reformasi dimulai 1998 penerbitan buku menjadi marak. Berbagai naskah, buku atau penulis yang dulunya tidak mungkin tampil menjadi mungkin setelah reformasi dimulai. Salah satunya adalah Pramoedya Ananta Toer dengan karyanya yang berjudul "Drama Mangir" yang naskahnya ditulis di Pulau Buru tahun 1976. Karya itu diterbitkan oleh KPG tahun 2000. Saya lupa kapan persisnya saya membaca buku itu. Kalau melihat buku yang saya miliki adalah cetakan keempat Januari 2002 maka kemungkinan besar saya membacanya di awal-awal tahun 2002.

Suatu perasaan yang berkecamuk di hati saya setelah membaca buku itu adalah suatu perasaan yang campur aduk antara jengkel, benci, dan malu Kejengkelan atau kemuakan terhadap kata mataram diikuti rasa malu karena pada kenyataannya saya dilahirkan di suatu tempat yang memakai kata mataram Rasanya ingin membuang semua yang berbau Mataram saat itu. Tetapi saya merasakan ada tangan-tangan yang mencegah saya. Seolah-olah ada yang berkta kepada saya: "Lihat dulu sejarahnya!"

Kemudian saya mencari tahu duduk persoalannya dan mulai memastikan sejarah Mataram dan Senopati dengan mencari dan membaca berbagai buku. Buku karya de Graaf yang terjemahannya berjudul: "Awal Kebangkitan Mataram" cetakan ketiga (edisi revisi) 2001 saya temukan di toko buku Gramedia dan saya membacanya tetapi tidak langsung membelinya. Ketika di kemudian hari saya memutuskan untuk membeli dan mengoleksinya, buku itu sudah tidak beredar di toko buku utama. Saya menemukan dan membelinya tahun 2003 di Toko Buku Restu Kwitang Jakarta Pusat seperti tertulis di nota pembeliannya (lihat foto).


Dari karya de Graaf itu saya baca bahwa penganguasaan Mataram adalah dengan kekerasan (hlm 63) oleh Senapati atau Ki Ageng Pamanahan. De Graaf mempercayai atau menerima saja asal-usul mereka sebagai orang Sela, suatu daerah sekitar Purwodadi Jawa Tengah bagian Utara. Dari situ saya tahu bahwa Senapati bukanlah orang Mataram. Sementara berita lain mengatakan Mataram ditundukkan oleh Sultan Tranggana raja kerajaan Demak (R Soekmono Pengantar Sejarah Kebudayaan, Penerbit Kanisius). Kalau kita melihat buku Peradaban Jawa karya Supratikno Rahardjo apa yang disebut sebagai Mataram memang kemungkinan ada sebagai sebuah kabupaten atau negara bawahan di bawah Majapahit bukan Singhasari (hlm 386). Menurut hemat saya Mataram mungkin Kabupaten kecil yang tidak terkenal, tidak setenar Pajang (Pengging) karena sejarah masih mencatat penguasa Pengging tetapi mengenai Mataram tidak jelas siapa penguasa terakhirnya. Sebagai catatan letak Pajang berada di Timur Laut Mataram, jadi Mataram lebih berada di pedalaman dibanding Pajang.

Tetapi dari berita-berita yang agak kurang jelas atau simpang siur itu ada dua hal yang secara mendasar bisa dipercayai yaitu bahwa Mataram diambil dengan kekerasan entah oleh Tranggana atau Ki Ageng Pamanahan dan Senapati. Hal kedua yang bisa dipercayai adalah bahwa baik Ki Ageng Pamanahan atau Senapati bukanlah orang Mataram, Mataram pada saat itu wilayahnya tidak melampaui Pajang. Antara Sela dan Mataram ada Pajang.

Kembali pada buku "Drama Mangir" karya Pramoedya. Upaya Pramoedya untuk memberi sentuhan rasional atas peristiwa Mangir patut dihargai sayangnya banyak dialog dalam karya itu membenturkan kata mataram dengan mangir atau mataram dengan orang-orang Perdikan Mangir sesuatu yang menurut penilaian saya dikemudian hari amat sangat tidak tepat. Kenapa dalam drama itu Senapati dan kaum kerabatnya tidak disebut sebagai orang-orang Sela? Pambayun boleh jadi memang lahir di Mataram tetapi generasi pendahulunya bukanlah orang Mataram. Mungkin dalam diri Pramoedya sendiri terekam persepsi buruk atas kata mataram akibat pengalaman buruknya dengan pemerintahan Soeharto. Apakah kata mataram pada saat peristiwa Mangir begitu buruk? Kita tidak tahu persis. Pramoedya menggambarkan Perdikan Mangir memperoleh status Perdikan dari Majapahit. Saya tidak tahu pasti apakah itu benar ataukah Mangir mendapat status perdikan/sima dari Mataram Kuno.

Buku Peradaban Jawa karya arkeolog UI Supratikno Rahardjo yang saya baca dan saya koleksi memang tidak menyebut adanya tempat yang memakai nama Mangir apalagi secara khusus membahas Mangir. Tetapi dari buku itu saya dapatkan ada dua orang raja dari masa Jawa Kuno yang paling banyak mendistribusikan tanah sima/perdikan yaitu Rakai Kayuwangi yang memerintah dari 855-885M dan Pu Sindok (929-948M), hlm 161. Mataram Kuno paling banyak mendistribusikan tanah sima dibandingkan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit (Peradaban Jawa hlm 387). Sebagai catatan tambahan, Kabupaetn Bantul adalah lima dari 18 Kabupaten di Jawa Tengah (dan DIY) yang jumlah prasasti yang ditemukan lebih dari delapan buah. Empat kabupaten lain adalah Klaten, Temanggung, Sleman, dan Magelang (Peradaban Jawa hlm 159). Kelima kabupaten itulah bekas pusat peradaban Mataram Kuno.

Ada dua macam tanah sima/perdikan yaitu yang ada kaitannya dengan bangunan peribadatan dan tidak. Menurut hemat saya status sima yang ada kaitannya dengan bangunan peribadatan bersifat permanen. Pergantian raja atau bahkan pergantian dinasti tidak akan mengubah status sima seperti itu. Konflik antar kerajaan (kabupaten) dengan perdikan termasuk peristiwa langka. Konflik antar kabupten atau antar kerajaan atau antar pangeran banyak terjadi baik pada masa Jawa Kuno atau pun pasca Majapahit. Tetapi konflik perdikan dengan kabupaten (kerajaan) termasuk langka.

Dari pengembaraan intelektual dengan referensi terbatas itu, satu hal yang saya percayai adalah bahwa baik Mataram atau Mangir adalah sama-sama korban. Korban ambisi dan pertikaian elit pantai utara Jawa abad keenambelas. Kepahlawanan Senapati yang menaklukkan Arya Penangsang (kalau peristiwa itu benar terjadi karena de Graaf tidak mepercayai kebenarannya) tidak ada artinya bagi orang pantai Selatan Jawa bagian Tengah. Pertikaian antaran Penangsang dan orang-orang yang memusuhinya adalah pertikaian orang pantai utara Jawa sama-sama keturanan atau keluarga Raja Demak. Mataram dan Mangir sama-sama korban maka membenturkan kata Mataram dengan Mangir seperti dalam karya Pramoedya tidaklah tepat.

1 komentar:

  1. Berapa banyak orang Jawa yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah kepengecutan P.Senopati, padaha Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://pembayun-mangir.blogspot.com/ , akan anda temui kejuatan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang

    BalasHapus