Selasa, 20 Juli 2010

Kekonyolan itu Jangan Lagi Terjadi

Saat ini kalau ada suatu kelompok, entah kelompok keagamaan, kelompok adat, atau komunis mau melenyapkan laba atau kekayaan harus berpikir seribu kali Dahulu mungkin memang tidak disadari bahwa tindakan itu adalah tindakan konyol. Tetapi kini kita bisa mengetahui bahwa tindakan seperti itu adalah tindakan konyol karena laba atau kekayaan (akumulasi laba ) ternyata tidak bisa dilenyapkan. Kekayaan hanya berpindah dari satu orang ke orang lain tetapi tidak bisa dilenyapkan. Ada yang untung ada yang rugi.

Kalau ada orang yang kaya raya membagikan hampir 100% kekayaannya, maka kekayaan orang itu akan berkurang drastis dalam catatan asetnya. Tetapi kekayaan itu tidak hilang dari sistem, hanya berpindah ke orang lain atau pihak lain. Efek dari berbagi kekayaan itu adalah ada orang lain yang dulunya hanya bisa makan sekali kemudian bisa makan tiga kali sehari. Orang yang dulunya makan tanpa lauk-pauk hewani maka sekarang bisa makan dengan lauk protein hewani. Orang yang dulunya hanya bisa membeli rumah tipe 36/90m2 (luas bangunannya 36m2) sekarang bisa membeli rumah tipe 70/110m2 misalnya. Apakah orang-orang yang bertambah kesejahteraannya atau kekayaannya itu pantas dijebloskan ke dalam neraka karena dianggap tidak asketis atau dianggap memuja mamon dewa uang? Bukankah orang-orang itu bertambah kesejahteraan atau kekayaannya karena ada orang lain yang mau membagikan kekayaannya sebagaimana diajarkan Tuhan? Cobalah kita renungkan.

Kekayaan yang merupakan akumulasi laba ternyata tidak bisa dilenyapkan. Buat apa energi disia-siakan hanya untuk melenyapkan laba dan kekayaan? Kita memang perlu berdamai dengan laba dan kekayaan dan meletakkan duduk perkaranya secara cerdas. Gerakan konsumen sosial yang berlandaskan biososioekonomi tidak bermaksud meniadakan laba tetapi bermaksud mengembalikan laba_ yang terakumulasi menjadi kekayaan pada segelintir orang_kepada banyak orang. Biososioekonomi tidak anti bisnis privat. Berbagi kekayaan atau daur ulang kekayaan pribadi dalam biososioekonomi tidak akan diikuti dengan larangan berbisnis. Kekayaan tidak lenyap dari sistem tetapi mengalami sirkulasi yang sehat. Demikian juga biososioekonomi tidak akan melarang perusahaan atau individu untuk memperoleh laba dalam kegiatannya.

Revolusi komunis memang sukses meredistribusikan aset. Tetapi kekayaan yang memang tidak bisa dilenyapkan itu juga dinikmati pejabat pemerintah dan petinggi partai komunis yang korup. Ada yang berkurang kekayaannya tetapi ada yang bertambah kekayaannya antara lain petinggi pemerintah dan partai komunis yang korup itu. Berbeda dengan komunisme, biososioekonomi menyadari bahwa kekayaan (yang notabene adalah akumulasi laba) tidak bisa dilenyapkan. Biososioekonomi menyarankan sirkulasi kekayaan yang sehat tanpa diikuti pelarangan berbisnis, suatu aktivitas yang bisa mendapatkan laba.

Komunisme lahir dalam perjalanan sejarah peradaban Barat. Menurut hemat saya komunisme lahir karena kesalahpahaman terhadap Yesus Kristus atau Injil, seolah-olah Yesus Kristus mau melenyapkan laba dan kekayaan. Di sisi lain Kristianitas pada jaman Marx tidak memahami sabda Yesus: "Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah" (Luk 12:33-34 atau Luk 18:22). Kristianitas pada jaman Marx tidak tahu bagaimana sabda seperti itu harus diimplementasikan?

Sabda itu tidak berarti Yesus Kristus anti peningkatan pendapatan tidak pula anti pasar atau mau melenyapkan pasar karena harta itu dijual juga di pasar. Dan dengan berbagi kekayaan akan menyebabkan orang lain meningkat pendapatan, kesejahteraan, atau kekayaannya. Menurut hemat saya seseorang bisa saja membagikan hampir seratus persen kekayaannya tanpa harus mengubah profesinya sebagai pebisnis misalnya. Tidak setiap pebisnis adalah pemuja mamon kalau ia siap dengan sukarela dan gembira berbagi harta sampai akhirnya kekayaannya mendekati nol. Budaya Barat memang merancukan mana yang netral (uang) dan mana yang berhala (mamon) karena secara linguistik money memang berkonotasi dengan mamon. Padahal antara uang dan mamon jelas berbeda. Uang bisa dipakai untuk berbuat kedosaan atau untuk menolong sesama yang miskin, jadi bersifat netral.

Yesus Kristus memang marah dengan para penjual di rumah ibadah tetapi di luar rumah ibadah apakah dagang juga dilarang? Usaha dagang adalah usaha yang bisa dengan mudah diakses oleh rakyat kecil. Apakah Yesus Kristus akan sekejam itu dengan melarang rakyat kecil berdagang?

Bahwa ada sekelompok orang entah biarawan atau komunitas adat (sedulur sikep atau samin) yang memang pantang berdagang harus kita apresiasi dan kita hormati. Tetapi hal semacam itu tidak bisa diterapkan pada semua orang. Dalam tradisi Jawa Kuno brahmana dihormati melebih pedagang atau ksatria bahkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar