Selasa, 04 Januari 2011

Menyambut Jaman Baru dengan Sama-sama Belajar

Ketika kalender menunjukkan tanggal 1 Januari 2011 kita memasuki tahun baru. Suatu pergantian tahun yang sangat jelas bagi semua orang. Berbeda dengan tahun baru, jaman baru tidak mudah dikenali atau ditentukan. Memang baik kearifan lokal maupun Kitab Suci memberi petunjuk akan adanya peralihan jaman. Tanda-tanda yang menyertai peralihan jaman itu adalah gunung meletus, gempa bumi, tsunami, hujan es, hujan-angin salah musim, kelaparan dan sebagainya. Meskipun demikian tidak sedikit yang mengabaikan atau tidak mempercayai hal-hal seperti itu, yang terjadi selama 10 tahun terakhir dan terutama sepanjang tahun 2010 ini, sebagi tanda-tanda peralihan jaman. Memang kita tidak bisa memastikan apakah segala kejadian itu adalah puncaknya atau masih akan ada yang lebih dahsyat lagi. Tetapi dibanding jaman baru, tahun baru lebih mudah dikenali atau ditentukan.

Tahun baru disambut dengan pesta kembang api dan hura-hura. Tetapi mengyambut jaman baru? Banyak orang yang belum memiliki sikap dan tindakan menyambut jaman baru. Tidak sedikit orang yang menganggap biasa saja, business as usual. Pesta kembang api tahun baru adalah pesta rutin menyambut tahun baru. Kemudian orang kembali pada rutinitas, business as usual.

Beberapa orang memang peka terhadap tanda-tanda jaman dan siap menyambut jaman baru dengan partisipasi aktif. Jaman baru memang menuntut partisipasi semua orang tetapi tidak tergantung pada orang karena kuasa Tuhan bisa datang ke bumi memberi penghukuman demi tegaknya jaman baru yang dipenuhi kedamaian, kesejahteraan bagi semua orang dan suka cita.

Jaman baru menuntut kita meninggalkan pradigma ekonomi lama yang tidak pro rakyat dan tidak pro ekologi. Semua itu menuntut kita meninggalkan textbook lama yang bagi kebanyakan orang sudah tertanam di otak. Bagi kebanyakan orang tidak mudah mempelajari hal-hal baru apalagi pola belajar sebagian orang adalah mendengar penuturan guru/dosen di kelas dan kemudian menghapalnya tanpa pemahaman. Dan yang sering kali terjadi adalah orang berhenti belajar stelah lulus. Textbook yang sudah usang atau salah itu juga masih tertanam di kepala dan tercermin dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Penemuan besar tidak dihasilkan oleh orang-orang yang pola belajarnya adalah menghapal tanpa pemahaman.

Saya berani membuat prosedur analisa sendiri sewaktu menghadapi tugas skripsi S1 karena saya telah meninggalkan cara belajar menghapal. Demikian juga saya berani merumuskan teori ekonomi makro biososioekonomi karena pola belajar saya tidak menghapal tetapi membaca dan memahami. Dan setelah saya lulus S1 saya tidak berhenti belajar. Beruntung ketika duduk di bangku SMA (SMA I BOPKRI Yogyakrta) saya bertemu dengan guru bahasa Indonesia (Bp. Drs. Soetrisno Martoatmodjo) yang mengajari saya membaca dengan memahami isinya bukan dengan menghapal. Setelah itu banyak pelajaran yang bisa saya pahami dan saya cerna dengan belajar dan membaca sendiri berbagai buku. Saya kadang prihatin kalau melihat atau bertemu dengan orang yang bergelar doktor tetapi pola belajarnya adalah mengapal dan tidak berani keluar dari textbook yang salah.

Jaman baru menuntut kita untuk belajar terus menerus setelah kita lulus sekolah. Justru ketika kita lulus sekolah, kita memiliki kesempatan emas untuk belajar dengan cara memahami pelajaran bukan menghapal. Marilah kita sama-sama belajar untuk menyambut jaman baru yang tidak mungkin dihindari. Seorang doktor seharusnya tidak perlu malu kalau harus belajar lagi. Saya juga akan tetap belajar. Banyak hal yang harus saya pelajari, computer, internet dan teknologi informasi misalnya. Marilah sama-sama belajar dengan benar-benar memahami isi pelajaran yang kita pelajari.

Selamat Tahun Baru 1 Januari 2011, selamat menyongsong jaman baru. Semoga sukses dan tidak digilas jaman baru yang segera datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar