Sabtu, 08 Januari 2011

"Saya ini Ksatria..."

Di dalam ilmu marketing, guna memudahkan penetrasi pasar dibuatlah kategori konsumen berdasarkan pengeluarannya menjadi kelas A, B, C, D, dan E. Kelas A paling tinggi pengeluarannya sehingga sering disebut kelas premium. Demikian dalam ilmu marketing. Pengkategorian seperti itu wajar kalau hanya digunakan dalam lingkup terbatas di kalangan profesi marketer. Akan sangat berbahaya kalau pengkategorian seperti itu terbawa sampai dalam pergaulan sosial sehari-hari dalam bermasyarakat dan bernegara. Jauh lebih berbahaya dari sistem kasta. Mengapa?

Pengkategorian konsumen di atas berdasarkan pengeluarannya yang berkorelasi juga dengan besarnya kekayaan atau pendapatannya. Sementara sistem kasta tidak berdasarkan kekayaan. Kasta tertinggi brahmana tidak otomatis paling kaya. Kasta ksatria meskipun bisa memegang jabatan pemerintahan sebagai raja tidak ditempatkan di atas kasta brahmana (maka jaman dulu di P Jawa tidak ada tradisi pendeta menyembah raja). Seorang pedagang atau saudagar bisa lebih kaya dari kasta ksatria tetapi tidak di tempatkan di atas kasta ksatria. Maka pengkategorian kelas berdasarkan kekayaan seperti kadang dipraktekkan oleh sebagian orang dalam bermasyarakat dan bernegara sangatlah berbahaya karena akan menjadikan uang/harta sebagai penguasa yang sulit dikontrol. Mungkin kelakuan seperti ini yang terjadi pada kasus penyelewengan pajak Gayus.

Seorang pejabat publik seharusnya berdiri tegak di hadapan para pemilik modal yang jauh lebih kaya dari padanya bukan karena pejabat tadi adalah kasta ksatria tetapi karena ia pejabat publik yang bertanggung jawab pada kepentingan publik. Kita patut prihatin melihat pejabat publik yang tidak bisa berdiri tegak di hadapan pemilik modal. Kita prihatin melihat pejabat publik yang menghamba pada pemilik modal.

Di dalam pilpres 2009 ada seorang calon presiden yang karena merasa dirinya dikroyok kemudian mengatakan:"Saya ini ksatria...."
Kini rakyat sedang menunggu janji-janji kampanye termasuk keberaniannya untuk berdiri tegak di hadapan pemilik modal yang membandel tidak mau membayar pajak atau berusaha menurunkan kewajibannya membayar pajak. Kalau tidak rakyat akan sinis. Ksatria kok menghamba pada pemilik modal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar