Jumat, 31 Desember 2010

Refleksi Akhir Tahun: Menanyakan Masyarakat Terbuka

Masyarakat terbuka atau open society sebagaiamana dirumuskan Karl Popper adalah masyarakat yang percaya pada akal, kebebasan, dan persaudaraan antar umat manusia. Salah satu ciri masyarakat terbuka adalah rasional kritis. Berikut ini saya kutipkan dari buku saya halaman 88-89:

"Masyarakat terbuka memiliki ciri sikap rasional kritis, yang dibedakan dengan rasional tidak kritis. Di dalam rasionalisme tidak kritis seseorang 'tidak siap menerima sesuatu yang tidak dapat dipertahankan oleh argumen atau pengalaman'. Kerendahan hati merupakan inti dari rasionalisme kritis. Rasionalisme kritis adalah kesadaran mengenai keterbatasan seseorang, kerendahan hati intelektual orang yang mengetahui betapa seringnya mereka khilaf, dan betapa mereka banyak tergantung pada orang lain demi pengetahuan. Dalam rasionalisme kritis terkandung sikap mengakui bahwa 'saya mungkin salah dan anda mungkin benar, dan dengan suatu ikhtiar kita mungkin bisa menemukan kebenaran'. Ketulusan dan kejujuran merupakan syarat menemukan kebenaran". Saya perlu garisbawahi bagian terakhir: "saya mungkin salah dan anda mungkin benar, dan dengan suatu ikhtiar kita mungkin bisa menemukan kebenaran" Masyarakat terbuka adalah masyarakt yang terbuka terhadap koreksi demi
lebih mendekati kebenaran juga selalu berikhtiar untuk dekat sedekat mungkin dengan kebenaran. Apa yang selama ini dianggap benar mungkin saja salah. Di dalam masyarakat tertutup, orang tidak siap menerima sesuatu yang tidak bisa lagi dipertahankan dengan argumen atau pengalaman. Tidak siap menerima bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai kebenaran ternyata sudah tidak bisa lagi dipertahankan sebagai kebenaran.

Berbagai kejadian di Indonesia dan dunia yang terjadi sepanjang tahun 2010 mengantarkan kita pada pertanyaan reflektif: di mana masyarakat terbuka saat ini? Apakah orang menjadi tertutup dan tidak siap menerima kebenaran baru? Sebagian orang dan aktivis sebagaimana saya lihat di situs jejaring sosial seperti facebook masih berpegang pada Marx bahwa laba adalah hasil eksploitasi buruh. Pandangan itu dipatahkan oleh teori ekonomi makro biososioekonomi bahwa laba berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang). Konsumen membayar lebih tinggi dari biaya produksi, distribusi, dan pajak sehingga tercipta margin laba. Namun kenyataannya masih saja sebagian orang dan aktivis mempertahankan pandangan Marx dengan sepak terjang organisasi buruhnya. Sementara biososioekonomi yang menawarkan gerakan konsumen sosial yang inklusif tanpa sekat masih belum diterima banyak orang.

Demikian juga mazab ekonomi konvensional yang mempersyaratkan pertumbuhan PDB (GDP) tinggi sebagai ukuran kesejahteraan ekonomi dan syarat tidak terjadinya krisis ekonomi. Pandangan seperti itu juga dipatahkan oleh biososioekonomi. PDB adalah penjumlahan pendapatan individual tahunan sedangkan kenaikan PDB adalah kenaikan total pendapatan individual. Pendapatan individual tidak otomatis menjadi pendapatan publik, justru peningkatan total pendapatan individual itu akan meningkatkan aset individual total, dan aset individual adalah liabilitas bagi publik. Maka pandangan mazab konvensional itu seharusnya tidak bisa diterima oleh logika akuntansi yang sehat. Mengapa masih
Dipertahankan!??

Gejala-gejala seperti itu mengindikasikan adanya masyarakat tertutup yang tidak siap atau belum siap menerima kebenaran atau mungkin sengaja mau menenggelamkan kebenaran demi kepentingan kelompok. Kondisi seperti itu bisa diperparah oleh sepak terjang media konvensional (cetak dan tv) yang juga tidak terbuka pada kebenaran. Celakanya justru pengaruh media seperti ini masih cukup besar sehingga berpotensi membutakan mata banyak orang.

Masyarakat ilmiah seharusnya adalah bagian dari open society yang terbuka pada kebenaran baru dan terbuka terhadap koreksi untuk selalu lebih dekat dengan kebenaran. Kejujuran seharusnya menjiwai masyarakat ilmiah. Keberanian masyarakat ilmiah memang sedang dituntut untuk menyuarakan kebenaran. Tanpa keberanian dan kejujuran masyarakat ilmiah bisa jatuh menjadi Mafia Berkeley atau OTB (Organisasi Tanpa Bentuk, menurut istilahnya Kwik) yang menyengsarakan rakyat dan merusak lingkungan.

Akhir tahun adalah saat yang tepat melakukan refleksi diri, sejauh mana kita bersikap terbuka terhadap kebenaran? Sejauh mana kita siap meninggalkan kebenaran lama yang sudah tidak bisa lagi dipertahankan baik dengan argumen maupun pengalaman. Melangkahkan kaki meninggalkan tahun 2010 seharusnya juga kita siap meninggalkan hal-hal keliru atau salah yang tidak bisa lagi dianggap sebagai kebenaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar